Cari Blog Ini

Selasa, 27 Desember 2011

Tak Pernah Kesepian

Beberapa tahun silam, saya kebetulan menyeberangi sebuah desa dan memasuki sebuah gubuk yang sangat reot. Seorang wanita tua yang buta duduk di lantai gubuk yang bobrok itu. Ia juga menderita cacat dan hidup dalam kepapaan.

Karena saya menemukannya dalam keadaan sangat mengenaskan seperti itu tanpa seorang pun menemaninya, saya berkata kepadanya, "Ibu, engkau pasti merasa sangat kesepian." "Oh, sama sekali tidak," jawabnya dengan suara bening yang jelas. "Tetangga-tetangga sekitar sini mencintai saya dan melakukan semua hal yang saya butuhkan."

"Tetapi Bu, di malam hari, bagaimana Ibu bisa hidup sendiri di tengah badai yang mengamuk dan di bawah cucuran air hujan yang masuk lewat atap gubuk ini?" tanya saya penuh keheranan. Sekali lagi ia berkata, "Saya tidak merasa kesepian. Saya bahagia, pada hari cerah maupun pada saat hujan. Tetangga-tetangga yang baik memenuhi keperluan saya yang tak terlalu banyak."

Ada sesuatu yang terkandung dalam kata-katanya, membuat saya merasa wanita miskin yang buta ini memiliki rahasia kebahagiaan tersembunyi. Saya kemudian duduk bersimpuh di dekat kakinya. Saya menatap wajahnya yang berseri-seri. Saya terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, agar ia membuka rahasianya kepada saya.

Akhirnya ia berkata, "Saya tak merasa kesepian karena Sang Sumber Kasih selalu menyertai. Di tengah malam, ketika semua orang tidur, saya memanggilNya dan Ia datang. Dengan suara langkah kaki yang tak terdengar Ia selalu datang. Saya berbicara kepadaNya, dan Ia berbicara kepada saya. Dengan memilikiNya, saya tak lagi membutuhkan apa pun. Ia adalah segalanya bagi saya. Sesungguhnya, Ia adalah Sang Mahatunggal dalam segala sesuatu."

Saat saya mendengarkan kata-kata bijaknya, saya membungkuk untuk membersihkan butiran-butiran debu yang menempel di kedua kakinya. Kedua mata saya terasa hangat oleh air mata. Suara saya tercekat emosi saya sendiri. Bagi ibu ini, Allah merupakan kenyataan hidup.

"Apa pun yang saya perlukan untuk kebaikan saya, Allah selalu mengirimkannya untuk saya. Dan apa pun yang datang kepada saya, berasal dari Allah untuk kebaikan saya," lanjutnya. "Tak akan pernah ada kebahagiaan sejati tanpa Allah. Di dalam kehendakNya, kita dapatkan kedamaian. Semakin kita memasrahkan diri kepada kehendakNya, jiwa kita semakin dipenuhi sukacita," tambahnya.

Wanita miskin dan buta itu adalah seorang pencinta Allah yang sejati. Ia tinggal dan bergerak di dalam kehadiran Allah, Kekasihnya. Kenyataan itu membuatnya bebas dari sakit dan kecemasan akan hidup, bebas dari rasa takut, nafsu, dan kemarahan, bebas dari semua perasaan ke-aku-an. Ia telah menemukan rumahnya di dalam Sang Sumber Kasih.

(Dari: Buku Saat Chung Tzu Kehilangan Istri - Kumpulan Kisah Bijak, karya J.P. Vaswani. Penerbit Kanisius 2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar