Cari Blog Ini

Senin, 19 Desember 2011

Membangkitkan Inteligensi


Manusia memiliki mekanisme pertahanan diri yang lebih kompleks atau lebih canggih dibandingkan binatang, karena manusia memiliki intelek. Tanpa intelek manusia tidak bisa bertahan hidup. Namun, di sisi lain, intelek menciptakan masalah-masalah psikologis yang tak terkira dampak buruknya bagi kehidupan.

Meskipun banyak bicara tentang pemecahan masalah, kesadaran, pencerahan, keselamatan, kebebasan, perdamaian, keadilan, diri, Roh, Tuhan, dan seterusnya, kebanyakan dari kita hanya berhenti pada teori atau intelek. Tetap saja kebanyakan dari kita belum menyentuh secara aktual akar dari segala kekacauan yang ada dalam batin kita sendiri. 

Akar kekacauan itu tidak lain adalah gerak intelek yang melenceng dari tempatnya yang benar. Kekacauan itu tetap ada, selama kita tidak menyadari batas-batas intelek dan mendudukkan kembali intelek pada tempatnya yang benar.

Untuk melihat kekacauan yang diciptakan intelek ini secara aktual, bukan teoretis, dibutuhkan kepekaan. Batin mesti bebas. Dengan menyadari ketidakbebasan atau keterbelengguan batin, ada kemungkinan kebebasan itu muncul.

Mari kita menyadari belenggu batin oleh intelek itu sendiri. Kita telah dididik dalam lingkungan tertentu. Kita memiliki pandangan, doktrin, kepercayaan tertentu. Kita juga memiliki kecenderungan-kecenderungan halus dalam batin yang secara emosional kita lekati. Pandangan dan sikap ini telah menjadi otoritas dalam batin sebagai penyaring atas segala sesuatu yang ingin kita terima atau kita tolak,  sesuai dengan kecenderungan pribadi. Akibatnya, realitas tidak terpahami secara langsung, karena kita memahami menurut keinginan, harapan, dan kesimpulan-kesimpulan pribadi.

Kalau itu semua dilihat secara aktual, secara langsung, tanpa intervensi pengaruh otoritas apa pun; maka pandangan dan sikap kita yang menjadi penghalang pemahaman langsung itu rontok dengan sendirinya. Dalam pemahaman langsung itu, ada kecerdasan atau inteligensi.

Ketika pikiran sepenuhnya berhenti, bukan kita buat berhenti, maka di situ ada keheningan. Dalam titik keheningan itu, muncullah inteligensi. Inteligensi ini tidak muncul dari intelek, tidak bersumber dari ingatan. Ia bukan hasil pembelajaran, bukan akumulasi pengetahuan. Ia tak terukur, di luar waktu. Ia bukan milik Anda, bukan milik saya, bukan milik siapa pun.

Ketika pikiran berhenti sepenuhnya dan hanya bekerja di tempatnya yang benar, maka tidak ada Anda, tidak ada saya. Tidak ada gambaran-gambaran psikologis tentang diri atau bukan-diri. Tidak ada konsep-konsep ideal yang justru membelenggu batin.

Keinginan untuk memahami hal-hal yang secara absolut tidak bisa dipahami merupakan kematian inteligensi. Tidak mengetahui hal-hal yang perlu untuk diketahui merupakan kematian intelek. Intelek maupun inteligensi kita butuhkan pada tempatnya. Intelek yang bekerja secara harmoni dengan inteligensi akan membuat intelek bekerja optimal dan tidak menciptakan kekacauan. Itu hanya mungkin kalau ada ruang keheningan batin.

(Dari: Buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar