Cari Blog Ini

Kamis, 15 Desember 2011

Sering Melakukannya

Suamiku selalu melakukan perbuatan baik di mana pun ia berada, bahkan untuk orang-orang yang tak dikenalnya. 

Aku bangga dan bersyukur menikah dengannya, namun terkadang aku kesal kalau kebaikannya berlebihan. "Hm...," gerutuku, "bagus sekali perbuatanmu, tetapi kapan kau melakukan seperti itu untukmu atau untukku?" 

Minggu lalu pertanyaanku itu dijawab oleh alam semesta yang ternyata jauh lebih bijaksana daripadaku.

Suatu hari, kami sedang berjalan-jalan di kawasan perniagaan yang sibuk. Mobil-mobil diparkir sepanjang trotoar, bersebelahan dengan meteran parkir. Kami melihat seorang petugas parkir datang memeriksa, siap menuliskan denda.

Suamiku langsung mengeluarkan semua uang receh di kantongnya, lalu berlari mendahului si petugas. Ia buru-buru memasukkan uang ke semua meteran parkir yang waktunya sudah habis. Ketika petugas menyusulnya dengan wajah cemberut, suamiku tersenyum.

Orang-orang yang mobilnya ia selamatkan dari tilang itu tentu tak akan pernah tahu siapa yang menolong mereka. Mungkin mereka malah tidak tahu telah ditolong.

Keesokan hari, aku pergi berbelanja di daerah berbeda. Mobil kuparkir di samping sebuah meteran. Di toko pakaian, aku lupa waktu. Ketika melihat jam tangan, kusadari waktu parkirku pasti sudah habis. Aku bergegas menuju mobilku yang diparkir satu blok dari toko pakaian.

Kulihat petugas parkir tinggal beberapa meter dari mobilku. Tak mungkin aku bisa mendahuluinya. Aku hampir menangis karena kesal. Sekonyong-konyong, seorang lelaki menyeberangi jalan, bergegas ke arah meteranku dan memasukkan uang receh. Lalu ia berjalan cepat, menjauh.

Aku mengejarnya untuk mengucapkan terima kasih, sambil ingin tahu siapa dia? "Terima kasih Anda telah menolong saya. Apakah Anda mengenal suami saya atau mobil kami? Mengapa Anda melakukan itu?" tanyaku ramah.

"Oh, saya tak kenal suami Anda, juga mobil Anda," katanya. "Saya hanya kebetulan melihat petugas meteran itu datang. Saya pikir... kasihan sekali wanita itu akan ditilang. Padahal, cuma perlu dua puluh lima sen untuk menyelamatkan Anda dari tilangan dua puluh lima dollar."

Aku sangat terharu dan tak tahu mesti berkata apa. "Oh, itu bukan apa-apa," ujar pria tersebut, "Saya sering melakukannya." (Yitta Halberstam)

(Dari: Buku Small Miracles - 68 Kisah Nyata tentang Kebetulan-Kebetulan Tak Terduga yang Memperkaya Jiwa, karya Yitta Halberstam & Judith Leventhal. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2000)

1 komentar:

  1. Slamat mlm... salam kenal. Dei chria di karawaci
    Klo bole sy nanya apakah masi ada buku 68 small mirackes ?

    BalasHapus