Cari Blog Ini

Selasa, 13 Desember 2011

Patacara

Sebagian besar orang yang mengalami banyak derita dalam hidup mereka bisa menjadi guru-guru yang besar, sebab mereka tahu bagaimana rasanya sakit dan mereka tahu apa itu derita dari pengalaman mereka. Salah satu guru hebat di zaman Buddha adalah Patacara, seorang perempuan, biksuni.

Patacara berasal dari keluarga baik dan terpandang. Ia jatuh cinta kepada seorang dari kasta lebih rendah. Kedua orangtuanya tak mengizinkan ia menikah dengan pria itu, maka ia kawin lari dan hidup di hutan. Ketika ia mengandung anak pertama, merupakan tradisi di India untuk pergi mengunjungi orangtuanya. Maka, ia pulang ke rumah orangtuanya untuk melahirkan di sana. Namun, di tengah jalan ia keburu melahirkan. Akibatnya ia terpaksa kembali ke hutan.

Kemudian saat mengandung anak kedua, ia berupaya pulang ke rumah orangtuanya, namun sekali lagi ia melahirkan di tengah jalan. Setelah melahirkan di tengah hutan, suaminya mencari kayu bakar untuk menghangatkan tubuh istri dan anaknya, tetapi seekor ular berbisa menggigit mati suaminya.

Sangat sulit untuk bisa bertahan hidup tanpa suami. Satu-satunya pilihan bagi Patacara adalah pulang ke rumah orangtuanya. Ia membawa kedua anaknya, yang sulung berumur 1-2 tahun dan yang baru lahir. Malangnya, hari itu turun hujan deras. Sungai meluap dan ia tak bisa menyeberangkan kedua anaknya dalam sekali jalan. Ia berencana membawa bayinya menyeberang dan meletakkannya di tepian seberang sungai, sebelum kembali mengarungi sungai untuk menjemput putra sulungnya.

Ketika berada di tengah sungai, mendadak seekor elang besar menyambar dan membawa bayinya. Patacara menjerit dan melambai-lambaikan tangannya, berupaya menakut-nakuti burung itu. Putra sulungnya mengira lambaian dan teriakan itu tanda untuk memintanya mendatangi sang ibu. Ia masuk ke sungai dan terseret arus deras. Dalam hitungan jam, Patacara kehilangan suami dan kedua anaknya. Seakan belum cukup, ketika ia berjalan mendekati rumah orangtuanya, ia diberitahu karena badai, pohon tumbang dan menimpa rumah orangtuanya. Keduanya tewas.

Kehilangan orangtua, dua anak, dan suami pada hari yang sama membuat Patacara kehilangan akal sehat. Ia menjadi gila, berkelana tak tentu arah, menggumam dan meracau. Karena batinnya mengalami begitu banyak tragedi, batinnya dengan sangat cepat terbuka ketika Buddha memberinya ajaran singkat. Duka yang begitu berat, rasa sakit yang begitu dahsyat, membuat Patacara bisa menjadi perempuan yang sangat tangguh, guru yang hebat.

(Dari: Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! - 108 (Lagi!) Cerita Pembuka Pintu Hati, karya Ajahn Brahm. Penerbit Awareness Publications, 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar