Cari Blog Ini

Selasa, 27 Agustus 2013

Kebenaran Melampaui Pengetahuan


Kebanyakan orang menjalani kehidupan yang menyangkut hubungan-hubungan satu sama lain dengan berpusat pada pemikiran atau pengetahuan. 

Pemikiran atau pengetahuan teknis punya tempat sendiri dalam kehidupan. Tetapi, menggunakan  pemikiran atau pengetahuan untuk memahami hal-hal spiritual tidak membawa orang melihat Kebenaran. Justru sebaliknya pemikiran atau pengetahuan itu menjadi perintang utama untuk melihat Kebenaran.

Marilah kita belajar melihat Kebenaran dalam hubungan satu dengan yang lain. Bagaimana Anda melihat pasangan hidup Anda? Apakah Anda melihat pasangan hidup Anda dalam kejernihan atau Anda melihat melalui latar belakang pengalaman?

Anda memiliki pengalaman kenikmatan dan kesakitan berhubungan dengan pasangan hidup Anda. Pengalaman kenikmatan dan kesakitan dari masa lampau itu terus Anda bawa sampai sekarang dan menjadi pengetahuan. Anda memiliki citra atau gambaran tertentu tentang pasangan hidup Anda.

Lewat citra itu Anda berhubungan dengan pasangan hidup Anda. Citra yang adalah pengalaman, pemikiran, atau pengetahuan tidak bisa membuat Anda melihat secara langsung pasangan hidup Anda. Latar belakang pengalaman membuat Anda tidak bisa melihat Kebenaran dalam relasi Anda dengan pasangan hidup Anda.

Anda bisa memeriksa batin Anda dalam hubungan dengan orang-orang lain di sekitar Anda seperti anak, orangtua, adik, kakak, sahabat, majikan, bawahan, rekan kerja, tetangga, dan orang-orang lain di sekitar Anda. Bagaimana Anda bertemu dengan mereka setiap hari? Apakah Anda bertemu secara langsung tanpa perantaraan citra, pemikiran, atau pengetahuan, sehingga Anda bertemu secara langsung dengan mereka dalam kejernihan?

Lihatlah masalah-masalah kejiwaan yang sering mendera Anda seperti kecemasan, kegelisahan, ketakutan, kebencian, kemarahan, keserakahan, kemalasan, kelekatan, dan seterusnya. Bisakah Anda melihat masalah-masalah kejiwaan tanpa teori-teori atau pengetahuan apa pun di benak Anda, dan Anda secara langsung menatap setiap masalah tanpa keinginan untuk mengubah, menolak, menekan, menerima, dan seterusnya?

Lihatlah hubungan Anda dengan apa yang oleh pikiran disebut dengan Brahman, Tuhan, Nibana, Tao, Diri Sejati, dan seterusnya. Lihatlah hubungan Anda dengan apa yang oleh pikiran disebut kebenaran. Selama Anda mendekati semua itu dengan pikiran, maka Anda tidak keluar dari penjara pemikiran. Meskipun Anda menyebut semua itu berada di luar pikiran atau tidak bisa dijangkau oleh pikiran, selama Anda masih mendekatinya dengan pikiran, maka Anda belum keluar dari penjara keterbatasan. 

Kebenaran yang sesungguhnya hanya terlihat atau tersingkap kalau segala pemikiran berakhir. Kebenaran seperti ini sangat halus, sukar untuk dilihat dan dipahami, kecuali oleh batin yang bebas dari penjara pikiran.

Kalau kita masuk dalam keheningan meditasi, pikiran sepenuhnya berakhir, otak diam membeku. Realitas yang diciptakan pikiran runtuh sama sekali. Dunia atau Tuhan yang diciptakan pikiran lenyap. Gerak keinginan berhenti. Si aku atau orang yang mengalami tidak ada lagi. Pada momen itulah muncul sesuatu yang lain dan Kebenaran tersingkap.

Selama orang secara psikologis melekat pada pandangan-pandangan teoretis (pemikiran, doktrin, kepercayaan) maupun melekat dengan kuat secara emosional pada kekuatan-kekuatan batin pada lapisan yang halus, mereka tetap hidup dalam ketidaktahuan (ignorance). Pengetahuan adalah sumber ketidaktahuan. Bisakah kita menembus pengetahuan tanpa instrumen ide atau pengetahuan apa pun? 

(Dari: Buku Pencerahan - Kebenaran, Cinta, dan Kearifan Melampaui Dogma hal. 35-40, penulis J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2013)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar