Cari Blog Ini

Minggu, 19 Mei 2013

Sukacita

Setiap kita mengalami kesedihan dan penderitaan dalam hidup. Tidak ada yang bisa lolos dari hal itu, meskipun para "suhu" pertolongan-diri mengajarkan kepada kita bahwa kita dapat mengatasi apa pun dengan sikap mental yang benar.

Apabila Anda ingin mengalami sukacita yang mendalam, janganlah mencari kesenangan dari hiburan yang hanya sebatas kulit atau perlindungan semu atas segala tragedi. Melainkan, carilah perspektif Ilahi yang memberi kita kejelian untuk membedakan antara yang cepat berlalu dengan yang abadi, antara yang dangkal dengan yang mendalam.

Bayangkanlah sekuntum bunga. Bila ia menerima cukup cahaya matahari, ia tumbuh dan berkembang. Tetapi bila cahaya diputus, ia akan layu dan mati. Sama halnya dengan kita. Sukacita merupakan bahan penting untuk bertahan hidup dan berjuang dalam dunia yang dipenuhi kegelapan dan berita buruk ini.

Kita kerap bergelut dengan kekecewaan, suatu wabah yang dapat menumbuhkan karat menetap di hati kita. Upaya untuk mengendalikan hidup dan mewujudkan kebahagiaan bisa mengarah pada rasa frustasi, kesedihan, dan kemarahan. St. Fransiskus Assisi (1181-1226) mengajarkan, sukacita datang dari penyerahan diri ke dalam tangan Allah.

Meskipun sukacita tidak bisa dibuat atau diciptakan, beberapa hal berikut yang telah teruji-waktu, dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kemungkinan Anda menjumpai sukacita dalam hidup:

- Jangan khawatirkan hari esok
Hal ini tidak berarti orang tidak boleh memiliki rencana atau harapan untuk hari esok. Tetapi, banyak dari kita terlalu terbeban oleh hari esok. Rangkullah masa kini. Berlatihlah hidup di sini dan saat ini - ketika Anda mencuci piring, memotong rumput, berendam di bak mandi, atau saat membuang sampah. 

- Bersyukurlah
Apa yang terlintas dalam benak Anda saat bangun di pagi hari dan akan tidur malam hari? Apakah umpatan karena Anda kedinginan, betapa lelahnya Anda, betapa was-was Anda akan tugas-tugas hari itu? Cobalah mengawali dan menutup setiap hari dengan doa syukur kepada Tuhan atas berkat (dan cobaan) yang dialami hari itu. Bila Anda membuka dan menutup hari dengan ucapan syukur, Anda akan heran mendapati bahwa sikap bersyukur juga akan merayapi seluruh hari Anda.

- Suka mengampuni
Banyak orang pergi ke sana-kemari di tengah mendung yang mereka ciptakan sendiri. Sebagian dari mendung tersebut berisi rasa sesal atas kegagalan diri atau ketidaksetiaan kepada orang lain. Kabar baiknya, Allah dapat mengampuni kita atas kegagalan ini dan memberi kita nurani yang bersih untuk awal baru.

Terlalu banyak dari kita menghabiskan hidup kita untuk mengejar hal-hal yang tidak berguna, serta menerima akibat berupa kesedihan dan penderitaan. Mengapa tidak mulai mengejar sukacita, yang akan mengarahkan kita menuju cara hidup yang lebih mendalam dan memuaskan?

(Dari: Buku Ajaran-Ajaran St. Fransiskus – Bagaimana Membawa Kesederhanaan dan Kerohanian ke dalam Hidup Anda Sehari-hari, karya John Michael Talbot dan Steve Rabey. Penerbit Bina Media Perintis, Medan 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar