Cari Blog Ini

Senin, 27 Mei 2013

Kelekatan dan Penderitaan


Ketika penderitaan datang, sering kali orang menyalahkan situasi, orang lain, atau diri sendiri. Apa salahnya kalau Anda menderita? Penderitaan adalah sifat hakiki dari eksistensi kita sebagai manusia. Tetapi kita sering menolak penderitaan. Kita sering bertanya, “Mengapa aku menderita?” “Aku merasa penderitaanku paling berat.” “Mengapa orang lain tidak menderita seberat aku?”

Kita berpikir, “Kalau aku tidak berbuat ini atau itu, mungkin aku tidak menderita.” Kita sering berpikir, “Kalau aku melakukan ini atau itu atau memiliki ini atau itu, barangkali aku akan bahagia.” Penderitaan dan kebahagiaan itu seperti ayunan bandul yang terus bergerak, datang silih berganti.  Seolah-olah dualitas ini merupakan kenyataan hidup.

Saat kita berada dalam kesadaran meditatif, kita melihat bahwa dualitas itu sesungguhnya semu belaka. Penderitaan dan kebahagiaan ditentukan oleh faktor keinginan. Orang sering kali mengalami penderitaan, kalau tidak mendapatkan apa yang diinginkan; dan mengalami kebahagiaan, kalau keinginan tercapai.

Mari kita lihat bersama akar penderitaan yang adalah keinginan atau kelekatan. Kelekatan menyebabkan penderitaan. Mengapa demikian? Ketika batin mencari pemuasan dari segala sesuatu yang pada hakikatnya tidak memuaskan, maka di situ terjadi konflik, pergulatan, dan penderitaan. Penderitaan pertama-tama bukanlah segala sesuatu yang pada hakikatnya tidak memuaskan, melainkan keinginan atau kelekatan akan pemuasan terhadap segala sesuatu yang tidak memuaskan.

Kalau Anda lapar dan merasa puas setelah makan makanan enak, kepuasan seperti ini merupakan hal wajar. Tetapi, ketika batin Anda setiap kali berpikir tentang makanan yang enak dan Anda tidak mau makan selain makanan yang enak, maka kelekatan telah membuat Anda menderita.

Bagaimana kita mengenal batin kita sendiri, ketika kelekatan menyusup dalam relasi-relasi kita dengan orang, barang, gagasan, dan hal-hal lain? Sering kali kita tidak sadar akan gerak kelekatan itu, sebelum terjadi sesuatu dalam relasi tersebut.

Ketika muncul rasa luka, benci, takut, lelah, barulah kita merasa betapa sakitnya hidup dalam kelekatan. Umumnya kita sadar akan kelekatan-kelekatan itu, karena implikasi yang ditimbulkan pada momen akhir geraknya. Tantangannya adalah bisakah kita menyadari bukan pada akhir, tetapi menyadari keseluruhan gerak kelekatan itu dari awal hingga akhir – mulai dari saat muncul sampai konsekuensi yang ditimbulkan?

Lihatlah kesepian-kesepian batin dan gerak pelarian dengan mencari pemuasan. Lihatlah gerak pikiran yang suka mengingat-ingat kenikmatan-kenikmatan yang sudah lewat. Lihatlah keinginan untuk menikmati kembali kesenangan yang pernah didapat. Lihatlah munculnya hasrat akan pemuasan. Lihatlah ketakutan, konflik, pergulatan, dan rasa sakit yang mengiringi gerak pelarian dari realitas kesepian Anda.

Pencarian pemuasan menciptakan lebih banyak ketakutan dan penderitaan. Kalau Anda betul-betul sadar akan sakitnya suatu kelekatan, bukankah momen kesadaran itu sendiri mengakhiri kelekatan seketika?

Hidup adalah penderitaan. Penderitaan perlu diselami atau dipahami ketika ia muncul. Pemahaman terhadap penderitaan hanya mungkin, kalau pikiran tidak menggangu pengamatan. Penderitaan bisa diakhiri dengan mencabut akar penderitaan yang adalah kelekatan. Kelekatan bisa berakhir dengan memahami seluruh gerak kelekatan itu.

(Dari: Buku Pencerahan - Kebenaran, Cinta, dan Kearifan Melampaui Dogma, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar