Cari Blog Ini

Selasa, 21 April 2015

Terburu-Buru

Aku sedang terburu-buru. Aku berlari lewat ruang makan kami dengan pakaian terbaikku, memusatkan perhatian agar siap untuk pertemuan pagi ini. Gillian, putraku yang berusia 4 tahun, menari-nari sambil mendengarkan lagu kesayangannya.

Aku nyaris terlambat. Tetapi, ada suara kecil dalam diriku yang berkata, "Stop!" Aku berhenti, melihat putraku. Aku meraih tangannya, memutar-mutarnya berkeliling. 

Anakku yang berusia 7 tahun, Caitlin, bergabung. Kami bertiga berdansa di sekeliling ruang makan dan ruang duduk. Kami tertawa dan berputar-putar. Tarian kami berakhir bersama dengan selesainya lagu itu. Aku menepuk bokong mereka dan meminta mereka mandi.

Mereka naik tangga, tawa mereka menggema di dinding. Aku kembali ke urusanku. Aku sedang membungkuk memasukkan kertas-kertas kerja ke dalam tas, ketika aku mendengar Gillian berkata kepada kakaknya, "Caitlin, bukankah mama kita adalah yang terbaik?"

Aku terpaku. Andaikan tadi aku terburu-buru pergi kerja, tentu aku kehilangan kebersamaan dengan kedua anakku. Ingatanku melayang ke piagam demi piagam dan diploma yang memenuhi dinding ruang kerjaku. Tak ada piagam dan penghargaan yang kuperoleh mampu menandingi perkataan putraku, "Bukankah mama kita adalah yang terbaik?"

Anakku mengatakannya pada saat ia berusia 4 tahun. Aku tak mengharapkan ia mengatakan hal itu pada usia 14 tahun. Tetapi, ketika ia berusia 40 tahun, saat ia membungkuk di atas peti kayu untuk mengucapkan selamat jalan kepadaku, aku ingin ia mengatakan hal itu lagi, "Bukankah mama kita adalah yang terbaik?"

Perkataan tersebut tak bisa dimasukkan ke dalam curriculum vitae-ku, tetapi aku ingin itu dituliskan pada batu nisanku. (Gina Barrett Schlesinger)

(Dari: Buku Chicken Soup for the Woman's Soul, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Jennifer Read Hawthorne, Marci Shimoff. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1997)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar