Cari Blog Ini

Selasa, 14 April 2015

Terbang Bebas

Sebuah rumah baru, kolam renang di belakang rumah, dua mobil bagus di halaman parkir, dan anak pertama yang akan lahir. Setelah 9 tahun menikah, aku telah mempunyai segalanya - atau setidaknya begitulah pikirku.

Hanya beberapa hari menjelang kelahiran anak pertamaku, terjadi percakapan dengan suamiku yang menggoncang dunia yang aku hidupi. "Saya ingin berada di sini demi si bayi, tetapi saya pikir saya tak lagi mencintaimu," katanya.

Aku tak bisa memercayai apa yang kudengar. Ia memang terasa semakin jauh saat aku sedang hamil. Tetapi, aku pikir itu hanya kekhawatiran seorang calon ayah.

Ketika aku meminta penjelasannya, ia mengatakan pernah memiliki wanita idaman lain sekitar 5 tahun lalu. Mengingat anak kami, aku berusaha keras menyelamatkan pernikahan kami. Kukatakan kepadanya, aku bisa memaafkannya dan berharap semuanya kembali baik seperti semula.

Aku bersemangat menyambut bayiku, sekaligus begitu khawatir kehilangan suamiku. Ketika anakku, TJ, berumur 4 minggu, aku baru tahu alasan sebenarnya dari sikap suamiku. Bukan hanya ia punya affair 5 tahun lalu, tetapi ia memulai affair lain saat kehamilanku.

Aku meninggalkan rumah, segala isinya, dan semua impian yang hancur. Aku dan TJ pindah ke apartemen di kota lain. Aku tenggelam dalam depresi - menghabiskan jam demi jam dengan seorang bayi. Tiga bulan pertama kehidupan TJ kulalui dengan linangan air mata. Aku lalu kembali bekerja dan mencoba menyembunyikan dari setiap orang apa yang sedang aku alami.

Ketika TJ berumur 4 bulan, aku berbicara penuh emosi kepada suamiku. Ia menghambur keluar dengan marah dari apartemenku. Aku berteriak keras, "Aku tak ingin hidup lagi!" Setelah itu, sebuah kesunyian mencekam.

Aku percaya, Tuhan ada bersamaku hari itu. Aku duduk terdiam beberapa saat, membiarkan air mata mengalir. Entah berapa lama waktu berlalu. Tetapi sesuatu dari dalam diriku membangkitkan kekuatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Saat itu dan di tempat itu, aku memutuskan untuk mengendalikan hidupku. Aku tak mau lagi memberikan kekuasaan kepada suamiku untuk memengaruhi hidupku dengan sikap negatifnya. Aku sadar, dengan memusatkan perhatian begitu banyak pada kelemahannya, aku membiarkan kelemahan itu menghancurkan hidupku.

Setelah mengubah pusat perhatianku pada hal-hal positif, betapa beda dampaknya bagi hidupku. Aku bisa tertawa lagi dan menikmati kehadiran orang-orang di sekitarku. Aku memulai proses menemukan pribadi yang tersembunyi dalam diriku - proses yang masih aku nikmati sampai hari ini.

Aku mengikuti konseling beberapa bulan. Ketika aku tak lagi merasa membutuhkan konseling, aku ingat pertanyaan terakhir yang diajukan konselorku, "Apa yang telah kamu pelajari?" Tanpa ragu aku menjawab, "Saya belajar bahwa kebahagiaan saya harus datang dari dalam."

Itulah pelajaran yang aku ingat setiap hari dan ingin kubagikan kepada orang-orang lain. Aku telah melakukan kesalahan dalam hidupku dengan mendasarkan jati diriku pada pernikahan dan semua barang materi yang melingkupi hubungan itu. Aku bertanggung jawab atas hidup dan kebahagiaanku sendiri.

Ketika aku memusatkan hidupku pada orang lain, dan mencoba membangun kebahagiaanku di sekitar orang ini, aku sesungguhnya tak lagi hidup. Untuk bisa hidup dengan benar, aku perlu membiarkan roh di dalam diriku bebas dan bergembira dengan keunikannya. Dalam keadaan inilah, cinta orang lain akan menjadi kebahagiaan dan bukan sesuatu yang membuat kita takut kehilangan. 
Semoga roh Anda bebas dan terbang tinggi! (Laurie Waldron)

(Dari: Buku Chicken Soup for the Woman's Soul, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Jennifer Read Hawthorne, dan Marci Shimoff. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1997)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar