Cari Blog Ini

Kamis, 06 November 2014

Pelan-Pelan

Suatu kali Charles Swindoll (80 tahun), pendidik, penulis, dan pengkhotbah asal Texas, Amerika Serikat, harus menyelesaikan berbagai pekerjaan yang mendesak. Ia menjadi tegang dan terburu-buru. Saat makan malam, ia segera menghabiskan makanannya dan membentak-bentak istrinya.

"Begitulah gejala lazim orang yang jengkel," kenang Swindoll, "Tak lama kemudian, semua orang di rumah takut padaku. Kedamaian di rumah pun lenyap."

Suatu malam, saat makan bersama, anak perempuan Swindoll yang masih kecil tampak ingin mengatakan sesuatu. Dengan wajah serius dan tampak cemas, gadis kecil itu mendekat ke Swindoll dan berkata, "Ayah, ada sesuatu yang menarik terjadi di sekolah hari ini. Bolehkah aku menceritakannya dengan sangat cepat?"

Sebuah kesadaran baru muncul dalam hati Swindoll. Ia memeluk putrinya dan berujar, "Ceritakan semuanya, sayang. Kau tak perlu terburu-buru. Ceritakan pelan-pelan saja."

Putrinya menanggapi, "Baiklah, aku akan menceritakannya pelan-pelan. Tetapi, apakah Ayah yakin bisa mendengarkan secara pelan-pelan?"

Betapa banyak kegembiraan-kegembiraan kecil dalam hidup ini hilang begitu saja, karena kita tidak bisa berjalan, berbicara, berpikir, atau mendengarkan secara pelan-pelan!

(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar