Cari Blog Ini

Senin, 04 April 2011

Perhatian Penuh Kesadaran


Tanpa perhatian penuh kesadaran, tentu saja kebahagiaan atau kedamaian tidak akan hadir. Perhatian penuh kesadaran mengingatkan kita untuk kembali ke saat ini. Apa pun yang kita cari telah ada di sini dan di saat ini.

Jika kita mengizinkan diri kita untuk kembali ke saat ini, kita memiliki kemampuan untuk menyentuh hal-hal yang menakjubkan. Tetapi, jika kita tidak mengizinkan diri kita berada di saat ini, kita akan terus-menerus bergumul.

Perhatian penuh kesadaran membantu kita untuk hidup lebih bahagia dan melihat keindahan segala sesuatu lebih mendalam. Tanpa perhatian penuh kesadaran, Anda tidak benar-benar hidup. 

Berada dalam keadaan sadar membuat apa pun yang sedang Anda lakukan lebih cerah, lebih indah.

(Dari: Buku Di Bawah Pohon Jambu Air, karya Thich Nhat Hanh. Penerbit Yayasan Karaniya, 2008)

Minggu, 03 April 2011

Olah Kesadaran, Bukan Olah Pikiran

Olah kesadaran dapat dilakukan dalam  kesibukan sehari-hari. Anda bisa mulai dengan menyadari mengapa Anda berpikir dengan cara tertentu, mengapa Anda merasa dengan cara tertentu. Jangan menganalisis, jangan menilai, jangan mengubah, jangan mengharuskan!

Sadari saja setiap gerak pikiran atau perasaan yang datang dan pergi. Setiap pikiran dan perasaan yang tidak disadari membuat batin gelap. Saat Anda tidak sadar, Anda terjebak pada arus pikiran dan waktu. Anda merasa kurang sempurna, takut, gelisah, mudah marah, benci, terluka, dan seterusnya.

Sebaliknya, setiap pikiran dan perasaan yang disadari memungkinkan pikiran dan perasaan yang tidak sungguh kita pakai berhenti. Kalau Anda sadar, Anda bebas dari mesin pikiran dan waktu. Batin lalu menjadi hening, jernih. Dalam keheningan itu, terlahir sesuatu yang lain.

(Dari: Buku Revolusi Batin Adalah Revolusi Sosial, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2009)

Spiritualitas

Spiritualitas berbicara tentang hubungan manusia dan Tuhan secara rohani. Anda tidak membutuhkan agama dalam hal ini. Agama dan spiritualitas seperti kulit pisang dan isinya. Anda mengupas pisang untuk mendapatkan isi, bukan kulitnya!

                                                                                  - Vikas Malkani
(Dari: Buku A Pearl of Awareness – Rahasia Membuka Pintu Kesadaran Anda, karya Vikas Malkani. Penerbit Bhuana Ilmu Populer, 2005)

Sabtu, 02 April 2011

Terang Batiniah

Kehidupan paling baik ketika seseorang mengetahui bahwa terang itu 
ada di dalam,
tidak begitu baik ketika seseorang melihatnya sebagai di luar dirinya,
dan paling buruk ketika 
terang itu disangkal.

 Ketika seseorang ada di jalannya, ia sedikit berbicara,
dan setelah pekerjaannya rampung, perjalanannya tuntas,
ia merasa satu dengan alam semesta,
damai dan mencukupkan diri, katanya, itu terjadi secara alami.

(Dari: Buku Tao Kehidupan yang Bertujuan, karya Judith Morgan & Andre de Zanger. Penerbit Lucky Publishers, 2003)

Bersikeras Benar

Hampir setengah jam remaja itu mengerjakan satu soal matematika, namun jawaban yang tepat tak kunjung ditemukan. Ia bersikeras sudah menerapkan langkah-langkah pengerjaan soal yang benar, karena soal tersebut pernah dikerjakan sebelumnya. Waktu itu dengan mudah ia menemukan jawabannya, mengapa kali ini soal yang sama tetapi tidak ada pilihan jawabannya?

Ia terus berkutat, tanpa menemukan jawaban. Kekesalan muncul. “Cobalah tenang. Lepaskan segala keruwetan dengan soal itu. Ambil jarak beberapa saat, lalu kerjakan soal dari awal tanpa terpaku pada langkah-langkah pengerjaan yang tadi dibuat,” sebuah saran terlontar.

Remaja itu mengikuti saran yang diberikan. Tak lama berselang, terdengar tawa berderai. Jawaban soal ditemukan! Ternyata, pada pengerjaan pertama ada satu tanda minus yang terlewat.     
 
Sering kali dalam kehidupan kita bersikeras, meyakini kita telah berada di jalan yang benar. Sungguhkah demikian? 

Jumat, 01 April 2011

Kekosongan

Alkisah seorang profesor keagamaan asal Inggris ingin memperdebatkan kitab suci dengan seorang guru Zen terkenal. Meskipun sang guru sangat memahami bahwa spiritualitas bukan sesuatu yang pantas diperdebatkan, ia menyatakan kesetujuannya.

Pada hari yang telah disepakati, profesor datang dan dipersilakan masuk ke ruang pribadi guru Zen itu. Sang guru lalu mengambil sebuah cangkir kosong dan menaruhnya di depan profesor. Katanya, “Maukah kau minum teh bersamaku?” Profesor mengangguk. 

Sang guru mengambil sepoci teh dan menuangkan isinya ke dalam cangkir. Ia terus menuang hingga cangkir penuh. Teh tumpah ke meja, lalu membasahi pangkuan profesor. Si profesor bangun dan berkata, “Apa yang kau lakukan? Tolong hentikan.” Sang guru bertanya, “Mengapa?” Profesor itu menjawab, “Cangkir itu sudah penuh, sehingga isinya tumpah.”

Saat itulah sang guru berkata, “Seperti halnya cangkir ini, pikiranmu penuh dengan berbagai pikiran, gagasan, dan pengetahuanmu sendiri. Masih adakah tempat bagiku untuk menambahkan sesuatu? Semua akan tumpah.”

Selama kita masih penuh dengan pemikiran, gagasan, prakonsep kita sendiri tentang kehidupan, orang, bahkan tentang Tuhan; maka tidak ada tempat untuk Tuhan di dalam diri kita. Jika Anda dapat mengosongkan diri dan menciptakan ruang untuk menerima Tuhan, maka Anda akan mengalaminya.

(Dari: Buku A Pearl of Awareness – Rahasia Membuka Pintu Kesadaran Anda, karya Vikas Malkani. Penerbit Buana Ilmu Populer, 2005)

Pendalaman

Para murid terlibat dalam debat gencar mencari penyebab mengapa manusia menderita.
Ada yang menyebut sebabnya adalah cinta diri. Yang lain, mengatakan hal itu berasal dari rayuan khayal. Murid lain berujar karena orang tidak bisa membedakan yang benar ada dan yang semu.

Ketika Sang Guru ditanya, ia menjawab, "Semua penderitaan disebabkan ketidakmampuan manusia duduk diam seorang diri."

(Dari: Buku Sejenak Bijak, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Kanisius 1987)