Berbeda dari yang disampaikan berbagai lagu, buku, dan fiksi kepada kita; jika menyakitkan maka itu bukan cinta. Hanya kebutuhan kita yang menyakitkan, hanya tidak mendapatkan yang kita inginkan itu yang menyakitkan.
Cinta tak mungkin menyakiti, karena cinta adalah perasaan terhubung yang membawa sukacita. Jika kita menyusut, mengerut, atau menjauh - itulah yang menyakitkan. Jika kebutuhan kita tidak terpenuhi, rasanya sakit. Jika sesuatu dalam hubungan menimbulkan luka lama, kita merasa sakit.
Cinta tidak menyakiti kita, cinta justru memperluas kita. Kadang kala, jika hati kita meluas, rasanya seperti "sedikit sakit," tetapi itu sebenarnya kekayaan hati kita yang bertumbuh dalam cinta dan apresiasi. Hati Anda mulai menari kembali, setelah lumpuh beberapa lama. Ada nuansa manis yang sesungguhnya, ketika hati kita meluas bersama cinta.
Latihan
Hari ini cobalah simak situasi di mana Anda berusaha mengukur cinta Anda dengan sakit hati yang Anda rasakan. Apakah Anda menutupi kebutuhan Anda sebagai cinta, dan berusaha agar orang lain merespons dengan cara yang sama? Bersediakah Anda menyingkirkan semua kebutuhan itu, sehingga Anda bisa bergerak maju dan membangun relasi tidak sebagaimana yang Anda inginkan dari mereka, tetapi sebagaimana diri mereka adanya?
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Cari Blog Ini
Kamis, 15 Mei 2014
Senin, 12 Mei 2014
Menangkap Pencuri Kebajikan
Untuk maju dalam hidup doa, jiwa perlu menangkap pencuri kebajikan. Pencuri paling jahat yang aku maksudkan adalah diri sendiri.
Kalau jiwa tidak waspada melawan kehendaknya sendiri, akan terjadi banyak hal yang justru melenyapkan kebebasan rohnya yang suci.
Satu bantuan untuk melawan kehendak sendiri yang sering kali liar itu ialah selalu memusatkan perhatian pada yang tak pernah berakhir, dan mengingat betapa fana semua karena segalanya akan berakhir. (St. Teresa Avila)
(Dari: Buku Kerinduan yang Menantang - Seri ke-1 Pengalaman Mistik St. Teresa Avila, karya Inocens Ruben Heru. Penerbit Kanisius, 2007)
Kalau jiwa tidak waspada melawan kehendaknya sendiri, akan terjadi banyak hal yang justru melenyapkan kebebasan rohnya yang suci.
Satu bantuan untuk melawan kehendak sendiri yang sering kali liar itu ialah selalu memusatkan perhatian pada yang tak pernah berakhir, dan mengingat betapa fana semua karena segalanya akan berakhir. (St. Teresa Avila)
(Dari: Buku Kerinduan yang Menantang - Seri ke-1 Pengalaman Mistik St. Teresa Avila, karya Inocens Ruben Heru. Penerbit Kanisius, 2007)
Sabtu, 10 Mei 2014
Penghemat Waktu yang Tidak Menghemat Waktu
Banyak yang beranggapan, kemajuan akan membuat orang punya lebih banyak waktu. Namun, ternyata sebaliknyalah yang terjadi. Kemajuan memang memberi kita segala sesuatu yang semakin banyak dan semakin cepat. Waktu kita pun dengan sendirinya menjadi lebih banyak terkonsumsi.
Untuk setiap jam yang dihemat oleh kemajuan teknologi, ada dua jam lebih yang dipakai untuk menerima akibat-akibat dari aktivitas ini, secara langsung maupun tidak langsung. Karena kenyataan tersebut tidak sejalan dengan intuisi dan tidak terlihat jelas, kita tidak sadar hal ini sedang terjadi.
Teknologi berperan dalam hampir setiap bentuk kelebihan beban hidup di masa kini. Contohnya, kelebihan beban akses hanya mungkin terjadi karena teknologi pengakses sekarang mobilitasnya tinggi dan bentuknya mini, sehingga kita tak lagi punya alasan untuk tidak menerima panggilan telepon dari segala penjuru dunia.
Kelebihan beban media telah meledak, justru karena teknologi memberi kita revolusi telekomunikasi yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah manusia. Sekarang, bahkan ada pesawat televisi yang bisa dipasang di kepala.
Perkembangan-perkembangan tersebut mengejutkan. Kini kita dihadapkan dengan kondisi baru: teknologi penghemat waktu sebenarnya tidak menghemat waktu. Sebaliknya, teknologi ini malah memadatkan waktu dan memakan banyak waktu.
Semua negara dengan teknologi yang paling bisa menghemat waktu adalah negara-negara yang memiliki paling banyak ketegangan. Jam dinding, jam tangan, alarm, komputer, telepon seluler, e-mail, mesin penjawab telepon, voice-mail, dan perangkat modern lainnya, masing-masing memiliki peranan dalam perkembangan ini, gunakanlah semua dengan bijak.
Ingatlah bahwa teknologi sangat bertanggung jawab atas kelaparan waktu dan kelebihan beban hidup yang kita alami. Karena itu, sangatlah menolong kalau kita ingat di mana letak tombol "off." Anda bisa menggunakan teknologi secara selektif, dan Anda juga bisa menghentikannya secara selektif. Cobalah melepaskan diri dari perangkat-perangkat modern itu selama sehari, atau selama akhir pekan, atau bahkan selama seminggu.
(Dari: Buku A Minute of Margin - 180 Inspirasi Harian Mengembalikan Keseimbangan kepada Hidup yang Sibuk, karya Richard A. Swenson, M.D. Penerbit Pionir Jaya, 2007)
Untuk setiap jam yang dihemat oleh kemajuan teknologi, ada dua jam lebih yang dipakai untuk menerima akibat-akibat dari aktivitas ini, secara langsung maupun tidak langsung. Karena kenyataan tersebut tidak sejalan dengan intuisi dan tidak terlihat jelas, kita tidak sadar hal ini sedang terjadi.
Teknologi berperan dalam hampir setiap bentuk kelebihan beban hidup di masa kini. Contohnya, kelebihan beban akses hanya mungkin terjadi karena teknologi pengakses sekarang mobilitasnya tinggi dan bentuknya mini, sehingga kita tak lagi punya alasan untuk tidak menerima panggilan telepon dari segala penjuru dunia.
Kelebihan beban media telah meledak, justru karena teknologi memberi kita revolusi telekomunikasi yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah manusia. Sekarang, bahkan ada pesawat televisi yang bisa dipasang di kepala.
Perkembangan-perkembangan tersebut mengejutkan. Kini kita dihadapkan dengan kondisi baru: teknologi penghemat waktu sebenarnya tidak menghemat waktu. Sebaliknya, teknologi ini malah memadatkan waktu dan memakan banyak waktu.
Semua negara dengan teknologi yang paling bisa menghemat waktu adalah negara-negara yang memiliki paling banyak ketegangan. Jam dinding, jam tangan, alarm, komputer, telepon seluler, e-mail, mesin penjawab telepon, voice-mail, dan perangkat modern lainnya, masing-masing memiliki peranan dalam perkembangan ini, gunakanlah semua dengan bijak.
Ingatlah bahwa teknologi sangat bertanggung jawab atas kelaparan waktu dan kelebihan beban hidup yang kita alami. Karena itu, sangatlah menolong kalau kita ingat di mana letak tombol "off." Anda bisa menggunakan teknologi secara selektif, dan Anda juga bisa menghentikannya secara selektif. Cobalah melepaskan diri dari perangkat-perangkat modern itu selama sehari, atau selama akhir pekan, atau bahkan selama seminggu.
(Dari: Buku A Minute of Margin - 180 Inspirasi Harian Mengembalikan Keseimbangan kepada Hidup yang Sibuk, karya Richard A. Swenson, M.D. Penerbit Pionir Jaya, 2007)
Kamis, 08 Mei 2014
Menakhlukkan Kemarahan
Elizabeth Kenny, seorang perawat Australia yang menciptakan metode Kenny untuk merawat penderita polio, suatu hari ditanya oleh sahabatnya bagaimana ia bisa selalu gembira dan tersenyum?
Elizabeth mengakui, sewaktu ia masih remaja, ia sering marah. "Suatu hari, ketika sedang marah kepada seorang teman karena masalah sepele, ibuku memberi nasihat yang sampai sekarang tetap melekat dan menjadi pedoman hidupku sejak saat itu. Ibuku berkata, 'Elizabeth, orang yang bisa membuatmu marah, berarti ia telah menakhlukkanmu.'"
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-1, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2009)
Selasa, 06 Mei 2014
Bangunlah Jembatan
Sering kali dalam sebuah relasi, kita merasa jika kita bergerak mendekati dan menyerahkan diri sepenuhnya pada pasangan kita, malah maksud yang ingin kita sampaikan menjadi samar.
Sebaliknya, jika kita membangun jembatan menuju pasangan kita, maksud kita akan terintegrasi dengan maksud pasangan kita. Yang terpenting dalam hal ini bukanlah mempertahankan sisi kita dalam relasi tersebut, tetapi membangun jembatan yang menghubungkan kita dengan pasangan kita.
Segera setelah kita melakukannya, setiap pihak akan merasa didengarkan dan diperhatikan. Masing-masing puas, karena muncul bentuk relasi yang baru dari kedua sisi, yang menciptakan relasi dua arah.
Latihan
Ingatlah seseorang yang menurut Anda selama ini relasinya jauh dari Anda. Bayangkan Anda membangun jembatan yang menghubungkan Anda dengan orang itu.
Pada saat jembatan telah terbangun, bayangkan ia menyongsong Anda dan Anda mendekatinya. Rasakan energi dari orang itu yang bertemu dengan Anda dan energi Anda. Rasakan betapa indahnya hal ini.
Perhatikan hasilnya, saat penyatuan tersebut dimulai dan terus meningkat bagi Anda berdua. Hal ini akan mengubah keadaan sebelumnya.
Ketika Anda membangun sebuah jembatan, Anda tidak hanya mendapatkan sisi Anda, tetapi Anda berdua mendapatkan kedua sisi, dan itu sama artinya dengan mendapatkan seluruh sungai.
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Sebaliknya, jika kita membangun jembatan menuju pasangan kita, maksud kita akan terintegrasi dengan maksud pasangan kita. Yang terpenting dalam hal ini bukanlah mempertahankan sisi kita dalam relasi tersebut, tetapi membangun jembatan yang menghubungkan kita dengan pasangan kita.
Segera setelah kita melakukannya, setiap pihak akan merasa didengarkan dan diperhatikan. Masing-masing puas, karena muncul bentuk relasi yang baru dari kedua sisi, yang menciptakan relasi dua arah.
Latihan
Ingatlah seseorang yang menurut Anda selama ini relasinya jauh dari Anda. Bayangkan Anda membangun jembatan yang menghubungkan Anda dengan orang itu.
Pada saat jembatan telah terbangun, bayangkan ia menyongsong Anda dan Anda mendekatinya. Rasakan energi dari orang itu yang bertemu dengan Anda dan energi Anda. Rasakan betapa indahnya hal ini.
Perhatikan hasilnya, saat penyatuan tersebut dimulai dan terus meningkat bagi Anda berdua. Hal ini akan mengubah keadaan sebelumnya.
Ketika Anda membangun sebuah jembatan, Anda tidak hanya mendapatkan sisi Anda, tetapi Anda berdua mendapatkan kedua sisi, dan itu sama artinya dengan mendapatkan seluruh sungai.
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Minggu, 04 Mei 2014
Kisah Henry Crowell
Ketika Henry Parsons Crowell (1855-1943) berumur 9 tahun, ayahnya meninggal karena tuberkulosis (TBC). Delapan tahun berselang, Henry tertular penyakit itu.
Suatu kali dalam keadaan sekarat, Henry menghadiri pertemuan keagamaan. Ia mendengar sang pembicara mengatakan, "Dunia masih akan melihat apa yang dapat dilakukan Tuhan melalui orang yang sepenuhnya mengabdi kepadaNya."
Henry bertekad menjadi orangnya Tuhan. Ia berangsur sembuh dan mulai mengikuti naluri bisnisnya. Dengan cerdik ia menginvestasikan kekayaan keluarga melalui sejumlah perusahaan.
Ketika penggilingan milik keluarga Quakers ditawarkan, Henry membelinya. Ia memimpikan produk sereal modern bagi keluarga-keluarga Amerika. Lahirlah Quaker Oats Company. Uang mengalir masuk. Secara konsisten Henry menyumbangkan 65-70% pemasukannya untuk amal.
Dalam pidato terakhirnya, Crowell mengingatkan, "Semakin kompeten Anda, semakin kuat godaan untuk menyerah pada aktivitas yang bertumpuk. Godaannya itu adalah mencuri waktu yang seharusnya untuk beribadah menjadi untuk aktivitas. Ada yang harus dilepaskan. Dengan berat hati dan perlahan-lahan, Anda akan mengurangi waktu beribadah. Janganlah mengurangi waktu beribadah pribadi Anda, sekuat apa pun tekanannya."
Setelah kematiannya, keluarga menemukan sehelai kartu di mejanya. Kartu itu ditulis 40 tahun silam dan disimpan di sakunya selama tahun-tahun itu. Pada kartu tersebut tertera falsafah hidupnya: jika hidupku bisa selalu dijalankan untuk menyenangkanNya, aku akan sangat bahagia.
(Dari: Buku Real Stories for the Soul jilid ke-1, karya Robert J. Morgan. Penerbit Gospel Press, 2003)
Suatu kali dalam keadaan sekarat, Henry menghadiri pertemuan keagamaan. Ia mendengar sang pembicara mengatakan, "Dunia masih akan melihat apa yang dapat dilakukan Tuhan melalui orang yang sepenuhnya mengabdi kepadaNya."
Henry bertekad menjadi orangnya Tuhan. Ia berangsur sembuh dan mulai mengikuti naluri bisnisnya. Dengan cerdik ia menginvestasikan kekayaan keluarga melalui sejumlah perusahaan.
Ketika penggilingan milik keluarga Quakers ditawarkan, Henry membelinya. Ia memimpikan produk sereal modern bagi keluarga-keluarga Amerika. Lahirlah Quaker Oats Company. Uang mengalir masuk. Secara konsisten Henry menyumbangkan 65-70% pemasukannya untuk amal.
Dalam pidato terakhirnya, Crowell mengingatkan, "Semakin kompeten Anda, semakin kuat godaan untuk menyerah pada aktivitas yang bertumpuk. Godaannya itu adalah mencuri waktu yang seharusnya untuk beribadah menjadi untuk aktivitas. Ada yang harus dilepaskan. Dengan berat hati dan perlahan-lahan, Anda akan mengurangi waktu beribadah. Janganlah mengurangi waktu beribadah pribadi Anda, sekuat apa pun tekanannya."
Setelah kematiannya, keluarga menemukan sehelai kartu di mejanya. Kartu itu ditulis 40 tahun silam dan disimpan di sakunya selama tahun-tahun itu. Pada kartu tersebut tertera falsafah hidupnya: jika hidupku bisa selalu dijalankan untuk menyenangkanNya, aku akan sangat bahagia.
(Dari: Buku Real Stories for the Soul jilid ke-1, karya Robert J. Morgan. Penerbit Gospel Press, 2003)
Kamis, 01 Mei 2014
Barang Dunia
Sebenarnya, bukan memiliki barang-barang duniawi yang menjadi soal, tetapi kelekatan dan keinginan yang tidak teratur akan barang-barang duniawilah yang menghambat seseorang untuk sampai pada relasi yang mendalam dengan Tuhan.
Santo Yohanes dari Salib menganjurkan, berusahalah agar engkau selalu cenderung:
Bukan untuk yang paling mudah, tetapi untuk yang paling sukar;
Bukan untuk yang paling nikmat, tetapi untuk yang paling hambar;
Bukan untuk yang paling memuaskan, tetapi untuk yang paling tidak menyenangkan;
Bukan untuk yang memberi istirahat bagimu, tetapi untuk apa yang berarti kerja keras;
Bukan untuk apa yang paling memberikan penghiburan, tetapi untuk yang paling menjemukan;
Bukan untuk yang paling besar, tetapi untuk yang paling kecil;
Bukan untuk yang paling luhur dan paling berharga, tetapi untuk yang paling rendah dan paling remeh;
Bukan untuk menginginkan sesuatu, tetapi untuk tidak menginginkan apa-apa;
Janganlah mencari barang-barang duniawi yang paling baik, tetapi yang paling jelek;
Pupuklah kerinduan untuk masuk ke dalam kehampaan, kekosongan, dan kemiskinan total dalam segala sesuatu yang menyangkut barang-barang dunia.
(Dari: Buku Cita-Cita Rohani St. Yohanes Salib, karya Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm. Penerbit Pertapaan Shanti Bhuana, 2006)
Santo Yohanes dari Salib menganjurkan, berusahalah agar engkau selalu cenderung:
Bukan untuk yang paling mudah, tetapi untuk yang paling sukar;
Bukan untuk yang paling nikmat, tetapi untuk yang paling hambar;
Bukan untuk yang paling memuaskan, tetapi untuk yang paling tidak menyenangkan;
Bukan untuk yang memberi istirahat bagimu, tetapi untuk apa yang berarti kerja keras;
Bukan untuk apa yang paling memberikan penghiburan, tetapi untuk yang paling menjemukan;
Bukan untuk yang paling besar, tetapi untuk yang paling kecil;
Bukan untuk yang paling luhur dan paling berharga, tetapi untuk yang paling rendah dan paling remeh;
Bukan untuk menginginkan sesuatu, tetapi untuk tidak menginginkan apa-apa;
Janganlah mencari barang-barang duniawi yang paling baik, tetapi yang paling jelek;
Pupuklah kerinduan untuk masuk ke dalam kehampaan, kekosongan, dan kemiskinan total dalam segala sesuatu yang menyangkut barang-barang dunia.
(Dari: Buku Cita-Cita Rohani St. Yohanes Salib, karya Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm. Penerbit Pertapaan Shanti Bhuana, 2006)
Langganan:
Postingan (Atom)






