Seorang CEO (Chief Executive Officer) hendak mewariskan perusahaan besar kepada karyawan terbaik. Untuk itu, ia memanggil semua eksekutifnya. Ia memberikan sebutir benih kepada masing-masing dan berkata, "Sirami dengan teratur, rawat, dan kembalilah setahun dari sekarang."
Salah seorang eksekutif, Joko, pulang ke rumah dan menanam benih itu. Ia merawatnya setiap hari. Setelah enam bulan, para eksekutif lain saling bicara tentang tanaman mereka di kantor, sedangkan Joko tidak melihat perubahan apa pun pada benih miliknya. Ia merasa gagal.
Setahun berlalu. Semua eksekutif menghadap CEO untuk memperlihatkan hasil benih tersebut. Memasuki ruang rapat, Joko hanya membawa pot berisi tanah. Seluruh mata memandangnya dengan rasa kasihan.
Ketika CEO memasuki ruangan, ia memandang keindahan semua tanaman yang ada, sampai akhirnya berhenti di depan pot milik Joko. CEO lalu meminta Joko menceritakan tragedi yang menimpanya. Selesai bercerita, CEO berseru,"Berikan tepuk tangan meriah untuk Joko, CEO baru kita!"
Ternyata, CEO itu memberikan sebutir benih yang sebelumnya telah disiram air panas, sehingga tidak mungkin bertumbuh. "Melihat benih yang kuberikan tidak tumbuh, kalian menukarnya dan berbohong kepadaku. Berbeda dengan Joko, ia menceritakan dengan jujur hal sebenarnya," ujar CEO.
Orang yang mati nuraninya, tidak akan menghasilkan buah yang menghidupkan." - Xavier Quentin Pranata
(Dari: Buku 100 Inspiring Stories - Kisah-kisah Kehidupan yang Menginspirasi, Menghibur, dan Menyejukkan Jiwa Anda, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit Andi-Yogyakarta, 2012)
Cari Blog Ini
Kamis, 28 Februari 2013
Selasa, 26 Februari 2013
Memberi Lebih Dulu
Seorang pria paruh baya mempunyai toko makanan ternak yang tidak begitu laku. Semakin lama, semakin sedikit orang yang membeli pakan ternak. Pria itu lalu punya ide "gila," menginvestasikan 50 dollar - uang yang cukup banyak pada zaman itu - untuk membeli 1.000 ekor anak ayam.
Para tetangganya mengejek: jual pakan ayam saja tidak bisa, apalagi sekarang jual anak ayam. Mereka lebih heran lagi, ketika tahu bahwa pria tersebut tidak menjual anak-anak ayamnya. Ia memberikan anak-anak ayam itu secara gratis kepada para pembeli pakan ternaknya.
Para tetangganya berpikir: toko sudah mau bangkrut, malah beli banyak anak ayam, lalu dibagi-bagikan gratis. Ternyata, program anak ayam gratis malah membuat banyak orang mulai berdatangan ke tokonya. Semakin hari, tokonya semakin laris.
Setelah diselidiki, para pembeli pakan ternak yang menerima anak ayam gratis, datang kembali berbelanja ke toko tersebut untuk membeli makanan bagi anak ayam gratisan tersebut.
(Dari: Buku 100 Inspiring Stories - Kisah-kisah Kehidupan yang Menginspirasi, Menghibur, dan Menyejukkan Jiwa Anda, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit Andi-Yogyakarta, 2012)
Para tetangganya mengejek: jual pakan ayam saja tidak bisa, apalagi sekarang jual anak ayam. Mereka lebih heran lagi, ketika tahu bahwa pria tersebut tidak menjual anak-anak ayamnya. Ia memberikan anak-anak ayam itu secara gratis kepada para pembeli pakan ternaknya.
Para tetangganya berpikir: toko sudah mau bangkrut, malah beli banyak anak ayam, lalu dibagi-bagikan gratis. Ternyata, program anak ayam gratis malah membuat banyak orang mulai berdatangan ke tokonya. Semakin hari, tokonya semakin laris.
Setelah diselidiki, para pembeli pakan ternak yang menerima anak ayam gratis, datang kembali berbelanja ke toko tersebut untuk membeli makanan bagi anak ayam gratisan tersebut.
(Dari: Buku 100 Inspiring Stories - Kisah-kisah Kehidupan yang Menginspirasi, Menghibur, dan Menyejukkan Jiwa Anda, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit Andi-Yogyakarta, 2012)
Minggu, 24 Februari 2013
Membagi Kehangatan
Lilin yang menyala mengatakan kepada kita, "Engkau telah menyalakan aku, kini engkau menatap apiku. Engkau menikmati kehangatan dan terang yang kupancarkan. Aku bahagia bisa berguna dan dibakar demi engkau. Jika tidak, aku hanya berbaring di kotak yang tersimpan di lemari. Aku hanya punya arti, saat aku sedang menyala. Walaupun aku sadar, semakin lama aku terbakar, semakin pendek tubuhku, dan semakin dekat pula aku mencapai akhir hayatku."
Kita manusia juga seperti lilin itu. Apakah kita akan terus menutup "kotak" kita, ataukah kita berbaur dengan masyarakat, membagikan kehangatan dan cinta yang memberi makna kepada hidup kita?
Baroness de Hueck (1896-1985), aktivis sosial dan penulis kelahiran Rusia, mengatakan, "Sebuah lonceng bukanlah lonceng hingga engkau membunyikannya. Lagu bukanlah lagu hingga engkau menyanyikannya... Cinta dalam hatimu tidak dianugerahkan untuk disimpan: Cinta bukanlah Cinta hingga engkau menyalurkannya." (saduran Tanget)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Kita manusia juga seperti lilin itu. Apakah kita akan terus menutup "kotak" kita, ataukah kita berbaur dengan masyarakat, membagikan kehangatan dan cinta yang memberi makna kepada hidup kita?
Baroness de Hueck (1896-1985), aktivis sosial dan penulis kelahiran Rusia, mengatakan, "Sebuah lonceng bukanlah lonceng hingga engkau membunyikannya. Lagu bukanlah lagu hingga engkau menyanyikannya... Cinta dalam hatimu tidak dianugerahkan untuk disimpan: Cinta bukanlah Cinta hingga engkau menyalurkannya." (saduran Tanget)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Sabtu, 23 Februari 2013
Jalan Masing-Masing
Tidak setiap orang mengetahui bagaimana orang lain harus berhasil mencapai tujuan perjalanan rohaninya. Juga, tidak setiap orang memiliki roh yang begitu sempurna, sehingga ia mengetahui bagaimana jiwa harus dihantar dan dibimbing dalam masing-masing tahap hidup rohani.
Seperti dalam membuat patung. Tidak setiap orang yang mempunyai pengetahuan tentang kayu dan mampu memahat sebuah patung, sanggup menyelesaikan dan menggosok patung itu sampai sempurna. Tidak setiap orang yang dapat menggosok patung itu sampai mengkilap dapat merancangnya, dan tidak setiap orang yang bisa merancangnya dapat menyelesaikan karya itu hingga utuh-sempurna. Masing-masing orang hanya dapat melakukan pada patung itu pekerjaan yang ia kuasai. Bila ia mau berbuat lebih, ia justru merusak patung tersebut.
Allah membimbing masing-masing jiwa melalui jalan yang berbeda-beda. Hampir tidak ada satu orang pun yang memperoleh bimbingan - separuhnya saja - sama dengan bimbingan kepada orang lain.
(Dari: Buku Nyala Cinta yang Hidup hal. 106-107, karya St. Yohanes dari Salib. Penerbit Karmelindo, 2007)
Seperti dalam membuat patung. Tidak setiap orang yang mempunyai pengetahuan tentang kayu dan mampu memahat sebuah patung, sanggup menyelesaikan dan menggosok patung itu sampai sempurna. Tidak setiap orang yang dapat menggosok patung itu sampai mengkilap dapat merancangnya, dan tidak setiap orang yang bisa merancangnya dapat menyelesaikan karya itu hingga utuh-sempurna. Masing-masing orang hanya dapat melakukan pada patung itu pekerjaan yang ia kuasai. Bila ia mau berbuat lebih, ia justru merusak patung tersebut.
Allah membimbing masing-masing jiwa melalui jalan yang berbeda-beda. Hampir tidak ada satu orang pun yang memperoleh bimbingan - separuhnya saja - sama dengan bimbingan kepada orang lain.
(Dari: Buku Nyala Cinta yang Hidup hal. 106-107, karya St. Yohanes dari Salib. Penerbit Karmelindo, 2007)
Kamis, 21 Februari 2013
Dengarkan Hati Anda
Salah satu pemimpi terbesar abad ke-20 adalah Walt Disney. Ia yang pertama kali menciptakan kartun bersuara dan berwarna, serta film animasi. Tetapi mahakarya visi Walt yang terbesar adalah Disneyland dan Walt Disney World. Ternyata, visi itu datang dari tempat yang tak disangka-sangka.
Ketika kedua putri Walt masih kecil, ia suka mengajak mereka ke taman hiburan di Los Angeles pada Sabtu pagi. Mereka senang sekali. Yang terutama menarik hati Walt ialah permainan karusel. Ia melihat gambar-gambar cemerlang yang samar berpacu dengan musik yang riang.
Tetapi, ketika ia semakin dekat dan karusel berhenti, ia sadar bahwa matanya terkecoh. Yang ia lihat hanya kuda-kuda dengan cat sudah memudar. Selain itu, hanya kuda-kuda di lingkaran luar yang bergerak naik-turun, sedangkan kuda-kuda di bagian dalam disekrup ke panggung karusel.
Kekecewaan itu memberi inspirasi suatu visi besar: membuat taman hiburan di mana anak-anak maupun orang dewasa bisa menikmati suasana karnaval sesungguhnya. Impian itu melahirkan Disneyland.
Benih impian bagi kebanyakan orang muncul secara alami dari pengalaman sehari-hari. Bukalah mata dan telinga, dengarkan hati Anda. Bersikaplah terbuka terhadap segala kemungkinan.
"Kalau Anda bisa memimpikannya, Anda tentu bisa mewujudkannya. Jangan pernah melupakan fakta bahwa semua ini bermula dari seekor tikus"
- Walt Disney
(Dari: Buku Kerja Sama Membuat Impian Menjadi Kenyataan, karya John C. Maxwell. Penerbit Interaksara, 2003)
Ketika kedua putri Walt masih kecil, ia suka mengajak mereka ke taman hiburan di Los Angeles pada Sabtu pagi. Mereka senang sekali. Yang terutama menarik hati Walt ialah permainan karusel. Ia melihat gambar-gambar cemerlang yang samar berpacu dengan musik yang riang.
Tetapi, ketika ia semakin dekat dan karusel berhenti, ia sadar bahwa matanya terkecoh. Yang ia lihat hanya kuda-kuda dengan cat sudah memudar. Selain itu, hanya kuda-kuda di lingkaran luar yang bergerak naik-turun, sedangkan kuda-kuda di bagian dalam disekrup ke panggung karusel.
Kekecewaan itu memberi inspirasi suatu visi besar: membuat taman hiburan di mana anak-anak maupun orang dewasa bisa menikmati suasana karnaval sesungguhnya. Impian itu melahirkan Disneyland.
Benih impian bagi kebanyakan orang muncul secara alami dari pengalaman sehari-hari. Bukalah mata dan telinga, dengarkan hati Anda. Bersikaplah terbuka terhadap segala kemungkinan.
"Kalau Anda bisa memimpikannya, Anda tentu bisa mewujudkannya. Jangan pernah melupakan fakta bahwa semua ini bermula dari seekor tikus"
- Walt Disney
(Dari: Buku Kerja Sama Membuat Impian Menjadi Kenyataan, karya John C. Maxwell. Penerbit Interaksara, 2003)
Selasa, 19 Februari 2013
Keyakinan
Seorang wiraniaga perlengkapan kantor berhasil membujuk seorang pemilik toko untuk memesan lima ratus pen. Ia sedang menulis pesanan di bukunya, ketika sang pemilik toko tiba-tiba berseru, "Sebentar! Saya batalkan pesanan." Pemilik toko tersebut lalu kembali melayani pelanggan yang berbelanja di tokonya.
Setelah wiraniaga pergi, salah seorang penjaga toko bertanya kepada majikannya, "Mengapa tuan membatalkan pesanan pen itu?"
Dengan tenang pemilik toko menjawab, "Ia bicara setengah jam tentang kehebatan pen yang dijualnya. Tetapi, ia menulis pesananku di bukunya dengan pensil. Perbuatannya tidak sejalan dengan perkataannya. Saya tidak percaya pada orang seperti itu." (Quote)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Setelah wiraniaga pergi, salah seorang penjaga toko bertanya kepada majikannya, "Mengapa tuan membatalkan pesanan pen itu?"
Dengan tenang pemilik toko menjawab, "Ia bicara setengah jam tentang kehebatan pen yang dijualnya. Tetapi, ia menulis pesananku di bukunya dengan pensil. Perbuatannya tidak sejalan dengan perkataannya. Saya tidak percaya pada orang seperti itu." (Quote)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Minggu, 17 Februari 2013
Seperti Pensil
Pensil mempunyai lima kualitas yang bisa membuat orang tenang dalam menjalani hidup, jika berpegang pada prinsip-prinsip berikut ini:
Kualitas pertama, jangan pernah lupa selalu ada tangan yang membimbing langkah kita, layaknya sebuah pensil ketika dipakai untuk menulis. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya.
Kualitas kedua, dalam proses menulis, beberapa kali kita harus berhenti dan meraut pensil. Rautan ini pasti membuat pensil menderita. Namun, setelah diraut, pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Penderitaan dan kesulitan dalam hidup akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik.
Kualitas ketiga, pensil selalu memberi kita kesempatan untuk menggunakan penghapus jika ada kata-kata yang salah tulis. Memperbaiki kesalahan kita dalam hidup dapat membantu kita tetap berada di jalan yang benar.
Kualitas keempat, bagian terpenting dari pensil bukanlah bagian luar, melainkan arang yang ada di dalamnya. Sadarilah selalu hal-hal dalam diri kita, jangan terburu-buru menyalahkan orang lain.
Kualitas kelima, pensil selalu meninggalkan tanda atau goresan. Apa yang kita perbuat dalam hidup ini pun akan meninggalkan kesan. Berhati-hatilah dan sadarilah semua tindakan kita, agar tidak menyakiti orang lain.
(Dari: Buku 100 Inspiring Stories - Kisah-kisah Kehidupan yang Menginspirasi, Menghibur, dan Menyejukkan Jiwa Anda, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit Andi-Yogyakarta, 2012)
Kualitas pertama, jangan pernah lupa selalu ada tangan yang membimbing langkah kita, layaknya sebuah pensil ketika dipakai untuk menulis. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya.
Kualitas kedua, dalam proses menulis, beberapa kali kita harus berhenti dan meraut pensil. Rautan ini pasti membuat pensil menderita. Namun, setelah diraut, pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Penderitaan dan kesulitan dalam hidup akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik.
Kualitas ketiga, pensil selalu memberi kita kesempatan untuk menggunakan penghapus jika ada kata-kata yang salah tulis. Memperbaiki kesalahan kita dalam hidup dapat membantu kita tetap berada di jalan yang benar.
Kualitas keempat, bagian terpenting dari pensil bukanlah bagian luar, melainkan arang yang ada di dalamnya. Sadarilah selalu hal-hal dalam diri kita, jangan terburu-buru menyalahkan orang lain.
Kualitas kelima, pensil selalu meninggalkan tanda atau goresan. Apa yang kita perbuat dalam hidup ini pun akan meninggalkan kesan. Berhati-hatilah dan sadarilah semua tindakan kita, agar tidak menyakiti orang lain.
(Dari: Buku 100 Inspiring Stories - Kisah-kisah Kehidupan yang Menginspirasi, Menghibur, dan Menyejukkan Jiwa Anda, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit Andi-Yogyakarta, 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)






