Bersikap lembut, bermula dari diri sendiri. Jangan sedih dengan ketidaksempurnaanmu. Kecewa karena kegagalan sangat bisa dimengerti,
namun jangan sampai berubah menjadi kepahitan atau kebencian pada dirimu sendiri.
Itu merupakan salah besar - karena tidak ada gunanya - menjadi marah karena engkau merasa marah, kesal karena engkau merasa kesal, kecewa karena engkau merasa kecewa.
Jangan membodohi diri sendiri. Engkau tidak bisa membetulkan kesalahan dengan mengulangi kesalahan yang sama. Kemarahan bukan cara untuk mengatasi kemarahan. Hanya akan menimbulkan kemarahan dalam bentuk baru.
Jangan membodohi diri dengan berpikir bahwa menyalahkan diri sendiri merupakan suatu tanda kebajikan. Itu merupakan tanda cinta diri. Engkau tidak sempurna.
Pandanglah dirimu dengan tenang, lembut. Dengan penyesalan dan pikiran yang tenang. Penyesalan yang diam-diam dan mantap adalah jauh lebih efektif daripada penyesalan yang emosional. Hal itu masuk jauh lebih dalam dan bertahan jauh lebih lama.
(Dari: Buku Bebaskan Hatimu - 30 Hari Bersama Mahaguru Spiritual Fransiskus dari Sales, editor serial John Kirvan. Penerbit Obor, 2012)
Cari Blog Ini
Selasa, 31 Juli 2012
Minggu, 29 Juli 2012
Harta di Surga
Seorang hartawan terbaring di ranjang kematiannya. Seluruh hidupnya telah dipusatkan hanya untuk uang. Ia menganggap, dalam kehidupan yang akan datang pun, uang tetap akan menjadi segalanya. Karena itu, ia memberi perintah agar sebuah kantong berisi keping-keping uang emas ditempatkan di sisi jenazahnya. Keinginan terakhir itu dipenuhi.
Di dunia lain, ia mengambil buku pedoman sepanjang masa untuk menemukan namanya dalam salah satu buku kehidupan. Karena pencarian nama itu membutuhkan waktu sangat lama, ia menjadi lapar dan haus. Ia memandang sekeliling dan melihat hidangan sangat lezat di sebuah restoran yang tak jauh dari situ. Ia berniat membelanjakan sedikit uang emasnya.
Tetapi, ketika akan membayar, pelayan restoran mengatakan, uang yang dibawanya tak bernilai di sana. Uang yang bernilai justru adalah uang yang ia berikan kepada sesamanya selagi masih hidup di dunia. Orang kaya itu berusaha mengingat berapa banyak uang yang telah diberikannya kepada orang-orang lain, tetapi ia tak dapat mengingat satu pun.
Di pusara seorang pria Inggris tertulis:
Saya memiliki yang saya dermakan,
saya kehilangan yang saya pelihara,
saya menerima yang saya berikan.
(Sebagian disadur dari Leo Tolstoy)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Di dunia lain, ia mengambil buku pedoman sepanjang masa untuk menemukan namanya dalam salah satu buku kehidupan. Karena pencarian nama itu membutuhkan waktu sangat lama, ia menjadi lapar dan haus. Ia memandang sekeliling dan melihat hidangan sangat lezat di sebuah restoran yang tak jauh dari situ. Ia berniat membelanjakan sedikit uang emasnya.
Tetapi, ketika akan membayar, pelayan restoran mengatakan, uang yang dibawanya tak bernilai di sana. Uang yang bernilai justru adalah uang yang ia berikan kepada sesamanya selagi masih hidup di dunia. Orang kaya itu berusaha mengingat berapa banyak uang yang telah diberikannya kepada orang-orang lain, tetapi ia tak dapat mengingat satu pun.
Di pusara seorang pria Inggris tertulis:
Saya memiliki yang saya dermakan,
saya kehilangan yang saya pelihara,
saya menerima yang saya berikan.
(Sebagian disadur dari Leo Tolstoy)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Sabtu, 28 Juli 2012
Kebenaran Iman Sejati
Selama si aku masih ada, Allah tidak ada. Kebenaran iman yang sejati terlahir ketika kebenaran iman intelektual runtuh seluruhnya.
- J. Sudrijanta, S.J.
(Dari: Buku Titik Hening - Meditasi Tanpa Objek hal. 23, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2012)
- J. Sudrijanta, S.J.
(Dari: Buku Titik Hening - Meditasi Tanpa Objek hal. 23, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2012)
Kamis, 26 Juli 2012
Persatuan dengan Allah
Persatuan jiwa dengan Allah adalah sesuatu di luar jangkauan indera-indera dan kemampuan manusia. Untuk mencapainya, jiwa harus mengosongkan diri sepenuhnya dan dengan rela - dari segala perkara duniawi dan surgawi yang dapat ditangkapnya.
Seperti seorang buta, jiwa harus bersandar pada iman yang gelap, menerimanya sebagai pemandu dan terang, serta tidak berpegang pada apa pun yang dipahaminya, dirasakannya, dirabanya, maupun dibayangkannya. Iman mengatasi segala pengertian, selera, perasaan, dan imajinasi. Kalau jiwa tidak membutakan dirinya terhadap hal-hal tersebut dan tidak tinggal dalam kegelapan total, maka jiwa tidak akan mencapai yang lebih tinggi, yaitu ajaran iman.
Segala yang dapat dirasakan dan dikecap dari Allah dalam hidup ini - tak terhingga jauhnya dari Allah dan dari memiliki Dia dengan murni.
Maka, jelas, orang terhambat dalam mencapai tingkat persatuan yang tinggi dengan Allah, apabila ia lekat pada pikiran, perasaan, imajinasi, pendapat, keinginan atau caranya sendiri, ataupun pada karya-karya atau persoalan-persoalannya yang lain, serta kalau ia tidak tahu bagaimana menyangkal dan mengosongkan diri dari penghalang-penghalang itu. Tujuan yang akan dicapai melampaui semua ini, bahkan melampaui objek yang paling mulia yang bisa diketahui atau dialami, karena itu orang harus melalui semua ini menuju ketidaktahuan.
Jalan ke persatuan dengan Allah berarti meninggalkan jalannya sendiri dan masuk ke dalam sesuatu yang tidak ada caranya, yaitu Allah. Kalau orang cukup berani melewati batas-batas jasmani dan rohani dari kodratnya, ia akan masuk dalam batas-batas adikodrati yang tidak punya cara, namun dalam substansi yang memiliki segala cara.
(Dari: Buku Mendaki Gunung Karmel hal. 81-83, karya St. Yohanes dari Salib. Penerbit Pertapaan Shanti Bhuana, 2011)
Senin, 23 Juli 2012
Melepaskan Genggaman
Di Afrika, orang punya cara tersendiri untuk menangkap kera. Hewan yang tinggi kewaspadaannya ini sangat suka akan beras. Maka, untuk menangkap kera-kera itu, para petani setempat memasukkan sedikit beras ke dalam tempurung kelapa yang dilubangi cukup sebesar tangan kera.
Beberapa perangkap seperti itu ditempatkan di sekeliling pusat desa. Setiap perangkap diikatkan ke tiang rumah.
Terangsang oleh bau beras, serombongan kera mendekat. Mereka memasukkan tangan ke dalam lubang tempurung kelapa. Ketika gengaman tangan mereka penuh beras, kera-kera itu tak dapat menarik keluar tangan mereka.
Para pemburu kemudian mendekat dan dengan mudah menangkap kera-kera itu. Sebenarnya, jika kera-kera tersebut mau melepaskan beras dalam genggaman tangan mereka, dengan mudah tangan mereka dapat lolos dari perangkap. Tetapi mereka terlampau rakus, tak rela melepaskan beras yang ada dalam genggaman - walau nyawa mereka dalam bahaya.
Demikian pula dengan Kebenaran. Tangan yang tertutup, tak dapat menerimanya.
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Beberapa perangkap seperti itu ditempatkan di sekeliling pusat desa. Setiap perangkap diikatkan ke tiang rumah.
Terangsang oleh bau beras, serombongan kera mendekat. Mereka memasukkan tangan ke dalam lubang tempurung kelapa. Ketika gengaman tangan mereka penuh beras, kera-kera itu tak dapat menarik keluar tangan mereka.
Para pemburu kemudian mendekat dan dengan mudah menangkap kera-kera itu. Sebenarnya, jika kera-kera tersebut mau melepaskan beras dalam genggaman tangan mereka, dengan mudah tangan mereka dapat lolos dari perangkap. Tetapi mereka terlampau rakus, tak rela melepaskan beras yang ada dalam genggaman - walau nyawa mereka dalam bahaya.
Demikian pula dengan Kebenaran. Tangan yang tertutup, tak dapat menerimanya.
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Sabtu, 21 Juli 2012
Batu Besar dan Batu Kecil
Dua pendosa mengunjungi seorang saleh dan meminta nasihatnya. "Kami telah melakukan kesalahan, suara hati kami terganggu. Apa yang harus kami lakukan agar diampuni?"
"Katakan padaku, perbuatan-perbuatan salah apa yang telah kamu lakukan," kata orang saleh itu.
"Aku melakukan satu dosa berat dan mematikan," ujar pria pertama.
"Aku melakukan beberapa dosa ringan yang tak perlu dicemaskan," kata pria kedua.
"Baiklah," kata orang saleh itu, "Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa."
Pria pertama kembali dengan memikul satu batu amat besar. Sedangkan pria kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil.
"Sekarang," kata orang saleh itu, "Pergilah dan kembalikan semua batu ke tempat kamu mengambilnya."
Pria pertama mengangkat batu besar dan memikulnya lagi ke tempat ia menemukannya. Pria kedua tak dapat mengingat lagi semua tempat ia memungut batu-batu kecil. Ia menyerah. Sebagian batu dibiarkan tetap dalam tasnya.
"Dosa seperti batu-batu itu," kata orang saleh tersebut. "Jika seseorang melakukan suatu dosa berat, hal itu seperti sebuah batu besar dalam suara hatinya. Tetapi, dengan penyesalan sejati, kesalahan itu akan diampuni seluruhnya. Sementara orang yang melakukan dosa-dosa ringan, ia tahu hal itu salah, tetapi ia tetap menyimpannya, membuat suara hatinya beku. Ia tidak menyesal sedikit pun." (Tony Castle)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
"Katakan padaku, perbuatan-perbuatan salah apa yang telah kamu lakukan," kata orang saleh itu.
"Aku melakukan satu dosa berat dan mematikan," ujar pria pertama.
"Aku melakukan beberapa dosa ringan yang tak perlu dicemaskan," kata pria kedua.
"Baiklah," kata orang saleh itu, "Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa."
Pria pertama kembali dengan memikul satu batu amat besar. Sedangkan pria kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil.
"Sekarang," kata orang saleh itu, "Pergilah dan kembalikan semua batu ke tempat kamu mengambilnya."
Pria pertama mengangkat batu besar dan memikulnya lagi ke tempat ia menemukannya. Pria kedua tak dapat mengingat lagi semua tempat ia memungut batu-batu kecil. Ia menyerah. Sebagian batu dibiarkan tetap dalam tasnya.
"Dosa seperti batu-batu itu," kata orang saleh tersebut. "Jika seseorang melakukan suatu dosa berat, hal itu seperti sebuah batu besar dalam suara hatinya. Tetapi, dengan penyesalan sejati, kesalahan itu akan diampuni seluruhnya. Sementara orang yang melakukan dosa-dosa ringan, ia tahu hal itu salah, tetapi ia tetap menyimpannya, membuat suara hatinya beku. Ia tidak menyesal sedikit pun." (Tony Castle)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Rabu, 18 Juli 2012
Angkatlah Kepalamu
Seorang anak muda berjalan di trotoar dan menemukan kepingan uang logam seratus rupiah. Sejak saat itu, ia selalu mengarahkan matanya ke tanah ketika berjalan kaki. Setelah beberapa tahun, ia berhasil mengumpulkan barang-barang ini: koin-koin senilai Rp 10.000, 18.203 kancing, dan 34.309 peniti.
Akibat kebiasaan berjalan menunduk, punggung anak muda itu menjadi bungkuk. Ia kehilangan keindahan cahaya matahari, senyum para sahabat, keindahan warna bunga dan pepohonan, langit biru dan awan putih, serta segala yang menjadikan hidup ini terasa lebih bermakna.
Bukalah matamu, angkatlah kepalamu. Engkau mungkin akan kehilangan beberapa keping uang logam di tanah, tetapi engkau akan menyaksikan semua keindahan yang membuat hidup ini menjadi sebuah petualangan yang menakjubkan. (Bruno Hagspiel)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Akibat kebiasaan berjalan menunduk, punggung anak muda itu menjadi bungkuk. Ia kehilangan keindahan cahaya matahari, senyum para sahabat, keindahan warna bunga dan pepohonan, langit biru dan awan putih, serta segala yang menjadikan hidup ini terasa lebih bermakna.
Bukalah matamu, angkatlah kepalamu. Engkau mungkin akan kehilangan beberapa keping uang logam di tanah, tetapi engkau akan menyaksikan semua keindahan yang membuat hidup ini menjadi sebuah petualangan yang menakjubkan. (Bruno Hagspiel)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Langganan:
Postingan (Atom)






