Mereka menghujat-Nya sebagai seorang biadab, Anak turunan rakyat jelata, Manusia yang keras dan kasar.
Mereka berkata bahwa hanya angin yang menyisir rambut-Nya, hanya hujan yang memberi-Nya pakaian dan membentuk tubuh-Nya.
Mereka menganggap-Nya Orang gila dan perkataan-Nya berasal dari setan.
Namun lihatlah, Manusia yang dihujat itu telah memaklumkan tantangan dan gemuruh suara itu takkan berhenti.
Ia melantunkan nyanyian, dan tak ada orang yang sanggup menghentikan melodi itu. Senandung-Nya mengambang dari generasi ke generasi, bergaung dari ruang ke ruang mengingatkan Dia adalah seorang asing.
Ya, Dia adalah Orang asing. Seorang pengembara menuju jalan suci-Nya, Seorang pendatang yang mengetuk pintu rumah, tamu dari negeri yang jauh.
Tetapi karena tiada seorang pun menerima-Nya, Dia pun kembali pulang.
(Dari: Buku Yesus Sang Anak Manusia, karya Kahlil Gibran. Penerbit Yayasan Bentang Budaya, 1999)
Cari Blog Ini
Kamis, 17 Mei 2012
Senin, 14 Mei 2012
Uang Temuan
Beberapa tahun yang lalu, kakak perempuan saya, Marjorie, dan saya sedang berjalan-jalan di daerah tempat tinggal kami - sepanjang tepi danau Crystal, Michigan, sambil membicarakan peristiwa-peristiwa hari itu. Marjorie melihat sesuatu di pasir, ia berhenti dan mengamati lebih dekat. Kami sangat terkejut, karena itu ternyata segumpal lembaran uang US$20.
Dengan sedikit iri, saya diam-diam bertanya apa yang akan ia lakukan dengan uang itu. Untunglah, saya tak perlu merasa iri terlalu lama, karena hanya beberapa meter dari sana saya melihat segumpal lembaran uang US$20 yang lain!
Kami bergembira atas keberuntungan kami. Sepanjang jalan ke rumah kami berbincang tentang "uang temuan" kami.
Setiba di rumah, saya tak dapat berhenti berpikir tentang apa yang akan saya belanjakan dengan uang itu. Saya akan membelanjakannya untuk sesuatu yang seluruhnya hanya untuk diri saya sendiri! Dengan hati-hati saya menyimpan uang itu di sudut laci dan berulang kali mengatakan dalam hati, saya akan bersenang-senang dengan uang itu.
Hari Minggu berikutnya, di gereja saat kotak persembahan sedang diedarkan, saya mengintip Marjorie mengeluarkan gumpalan uang US$20-nya dan memasukkan ke dalam kotak. Hari itu, saya menyadari perbedaan sesungguhnya antara saya dan kakak saya. Rasanya saya akan merendahkan hati selamanya. Anehnya, saya pun tidak dapat mengingat apa yang saya beli dengan uang itu. (Dikisahkan oleh Sue Freshour untuk mengenang Marjorie)
(Dari: Buku Chicken Soup for the Christian Soul - 57 Kisah untuk Membuka Hati dan Membangkitkan Semangat, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Patty Aubery & Nancy Mitchell. Penerbit Dabara Publishers, 1999)
Dengan sedikit iri, saya diam-diam bertanya apa yang akan ia lakukan dengan uang itu. Untunglah, saya tak perlu merasa iri terlalu lama, karena hanya beberapa meter dari sana saya melihat segumpal lembaran uang US$20 yang lain!
Kami bergembira atas keberuntungan kami. Sepanjang jalan ke rumah kami berbincang tentang "uang temuan" kami.
Setiba di rumah, saya tak dapat berhenti berpikir tentang apa yang akan saya belanjakan dengan uang itu. Saya akan membelanjakannya untuk sesuatu yang seluruhnya hanya untuk diri saya sendiri! Dengan hati-hati saya menyimpan uang itu di sudut laci dan berulang kali mengatakan dalam hati, saya akan bersenang-senang dengan uang itu.
Hari Minggu berikutnya, di gereja saat kotak persembahan sedang diedarkan, saya mengintip Marjorie mengeluarkan gumpalan uang US$20-nya dan memasukkan ke dalam kotak. Hari itu, saya menyadari perbedaan sesungguhnya antara saya dan kakak saya. Rasanya saya akan merendahkan hati selamanya. Anehnya, saya pun tidak dapat mengingat apa yang saya beli dengan uang itu. (Dikisahkan oleh Sue Freshour untuk mengenang Marjorie)
(Dari: Buku Chicken Soup for the Christian Soul - 57 Kisah untuk Membuka Hati dan Membangkitkan Semangat, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Patty Aubery & Nancy Mitchell. Penerbit Dabara Publishers, 1999)
Sabtu, 12 Mei 2012
Memulai Langkah Pertama
Mungkin kita akan merasa kecewa, bila memikirkan kekurangan-kekurangan diri kita, dan membayangkan diri bagaikan seorang bayi yang baru mulai belajar berdiri di atas kakinya sendiri, tetapi bertekad kuat untuk menaiki tangga supaya bisa bertemu dengan sang bunda.
Perlahan-lahan, sang anak mulai mengangkat kakinya yang mungil, memulai langkah pertamanya, meski setiap kali ia terantuk dan jatuh.
Lakukanlah seperti yang diperbuat si anak kecil itu.
Dengan menghayati segala kebajikan, tetap melangkahkan kaki memanjat tangga-tangga kesempurnaan.
Tetapi, jangan membayangkan dengan kekuatanmu sendiri akan berhasil memulai langkah pertama menaiki tangga.
Yang Tuhan minta darimu hanyalah kehendak baikmu. Dengan tatapan penuh kasih sayang Ia memandangmu dari puncak tangga. Saat itu, Ia terharu melihat upayamu, Ia akan menggendongmu ke dalam kerajaanNya, agar tidak meninggalkan Dia lagi.
Namun, bila engkau tidak mencoba untuk memulai langkah pertama, engkau akan tetap tinggal di tanah untuk selamanya.
(Dari: Buku Berpasrah Penuh - 30 Hari Bersama Mahaguru Spiritual Theresia dari Lisieux, editor serial John Kirvan. Penerbit Obor, 2012)
Perlahan-lahan, sang anak mulai mengangkat kakinya yang mungil, memulai langkah pertamanya, meski setiap kali ia terantuk dan jatuh.
Lakukanlah seperti yang diperbuat si anak kecil itu.
Dengan menghayati segala kebajikan, tetap melangkahkan kaki memanjat tangga-tangga kesempurnaan.
Tetapi, jangan membayangkan dengan kekuatanmu sendiri akan berhasil memulai langkah pertama menaiki tangga.
Yang Tuhan minta darimu hanyalah kehendak baikmu. Dengan tatapan penuh kasih sayang Ia memandangmu dari puncak tangga. Saat itu, Ia terharu melihat upayamu, Ia akan menggendongmu ke dalam kerajaanNya, agar tidak meninggalkan Dia lagi.
Namun, bila engkau tidak mencoba untuk memulai langkah pertama, engkau akan tetap tinggal di tanah untuk selamanya.
(Dari: Buku Berpasrah Penuh - 30 Hari Bersama Mahaguru Spiritual Theresia dari Lisieux, editor serial John Kirvan. Penerbit Obor, 2012)
Selasa, 08 Mei 2012
Tangan Ibu
Beberapa tahun yang lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya berbelanja bersama, karena ia membutuhkan gaun baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama orang lain, dan saya bukan orang yang sabar. Walau demikian, kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan.
Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita. Ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Saya mulai lelah dan ibu mulai frustasi.
Di toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba sebuah gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi leher. Karena saya tidak sabar, kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu di dalam ruang ganti pakaian.
Saya melihat bagaimana ibu menjajal pakaian itu, dan dengan susah mencoba mengikat tali di bagian tepi leher. Ternyata, tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi. Seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang mendalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang mengalir keluar tanpa saya sadari.
Setelah saya tenang, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun itu. Pakaian tersebut begitu indah dan ibu membelinya. Perjalanan belanja kami berakhir, tetapi kejadian itu terukir dan tak dapat terlupakan.
Sepanjang sisa hari itu, saya teringat kejadian di dalam ruang ganti pakaian. Terbayang kedua tangan ibu yang penuh kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya. Terlebih dari semua itu, berdoa untuk saya.
Sore harinya, saya pergi ke kamar ibu dan memegang kedua tangannya. Saya menciumnya dan mengatakan kepadanya, bagi saya kedua tangan itu adalah tangan yang paling indah di dunia.
Saya sangat bersyukur, Tuhan telah membuat saya melihat dengan mata saya yang baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa, suatu hari kelak, tangan dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.
(Dari: Buku Chicken Soup for the Christian Soul - 57 Kisah untuk Membuka Hati dan Membangkitkan Semangat, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Patty Aubery & Nancy Mitchell. Penerbit Dabara Publishers, 1999)
Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita. Ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Saya mulai lelah dan ibu mulai frustasi.
Di toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba sebuah gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi leher. Karena saya tidak sabar, kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu di dalam ruang ganti pakaian.
Saya melihat bagaimana ibu menjajal pakaian itu, dan dengan susah mencoba mengikat tali di bagian tepi leher. Ternyata, tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi. Seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang mendalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang mengalir keluar tanpa saya sadari.
Setelah saya tenang, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun itu. Pakaian tersebut begitu indah dan ibu membelinya. Perjalanan belanja kami berakhir, tetapi kejadian itu terukir dan tak dapat terlupakan.
Sepanjang sisa hari itu, saya teringat kejadian di dalam ruang ganti pakaian. Terbayang kedua tangan ibu yang penuh kasih, yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya. Terlebih dari semua itu, berdoa untuk saya.
Sore harinya, saya pergi ke kamar ibu dan memegang kedua tangannya. Saya menciumnya dan mengatakan kepadanya, bagi saya kedua tangan itu adalah tangan yang paling indah di dunia.
Saya sangat bersyukur, Tuhan telah membuat saya melihat dengan mata saya yang baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa, suatu hari kelak, tangan dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.
(Dari: Buku Chicken Soup for the Christian Soul - 57 Kisah untuk Membuka Hati dan Membangkitkan Semangat, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Patty Aubery & Nancy Mitchell. Penerbit Dabara Publishers, 1999)
Minggu, 06 Mei 2012
Terbang Sebelum Memiliki Sayap
Semangat yang lebih besar dituntut dari orang-orang yang memulai perjalanan menuju kesempurnaan, daripada orang-orang yang tiba-tiba menjadi martir, karena kesempurnaan tidak dapat diperoleh hanya dalam waktu semalam.
Engkau masih harus memerangi perasaan-perasaanmu. Misalnya, engkau menyadari sedang berdoa kepada Tuhan, tetapi di saat yang sama jiwamu merasakan kesedihan mendalam. Banyak orang yang berbalik arah pada titik ini, karena mereka tidak tahu bagaimana harus membantu diri mereka sendiri.
Banyak orang ingin terbang, sebelum Tuhan memberikan mereka sayap. Mereka mengawali dengan kemauan baik, dengan semangat dan tekad yang kuat, supaya maju dalam kebajikan.
Ada orang-orang yang mengorbankan segalanya demi Tuhan. Lalu mereka memerhatikan orang-orang yang sudah jauh berjalan - memiliki kebajikan-kebajikan yang luar biasa dan menjadi inspirasi bagi mereka. Mereka membaca buku-buku doa dan kontemplasi - tentang semua yang harus mereka lakukan demi mencapai tujuan spiritualnya, kemudian hati mereka menjadi tawar.
Jangan terganggu. Bila engkau mau melakukan kehendak Tuhan, berdoalah dan berharaplah kepada Tuhan. Lakukanlah apa yang bisa engkau kerjakan sendiri, maka Tuhan akan memberikan segala yang engkau inginkan dalam hatimu.
Kodrat kita yang lemah harus mempunyai keyakinan yang cukup besar dan jangan dibuat cemas. Hendaknya kita yakin, bila kita melakukan yang terbaik, kita akan menjadi pemenang.
(Dari: Buku Jangan Biarkan Apa pun Mengganggumu - 30 Hari Bersama Mahaguru Spiritual Teresa dari Avila, editor serial John Kirvan. Penerbit Obor, 2012)
Engkau masih harus memerangi perasaan-perasaanmu. Misalnya, engkau menyadari sedang berdoa kepada Tuhan, tetapi di saat yang sama jiwamu merasakan kesedihan mendalam. Banyak orang yang berbalik arah pada titik ini, karena mereka tidak tahu bagaimana harus membantu diri mereka sendiri.
Banyak orang ingin terbang, sebelum Tuhan memberikan mereka sayap. Mereka mengawali dengan kemauan baik, dengan semangat dan tekad yang kuat, supaya maju dalam kebajikan.
Ada orang-orang yang mengorbankan segalanya demi Tuhan. Lalu mereka memerhatikan orang-orang yang sudah jauh berjalan - memiliki kebajikan-kebajikan yang luar biasa dan menjadi inspirasi bagi mereka. Mereka membaca buku-buku doa dan kontemplasi - tentang semua yang harus mereka lakukan demi mencapai tujuan spiritualnya, kemudian hati mereka menjadi tawar.
Jangan terganggu. Bila engkau mau melakukan kehendak Tuhan, berdoalah dan berharaplah kepada Tuhan. Lakukanlah apa yang bisa engkau kerjakan sendiri, maka Tuhan akan memberikan segala yang engkau inginkan dalam hatimu.
Kodrat kita yang lemah harus mempunyai keyakinan yang cukup besar dan jangan dibuat cemas. Hendaknya kita yakin, bila kita melakukan yang terbaik, kita akan menjadi pemenang.
(Dari: Buku Jangan Biarkan Apa pun Mengganggumu - 30 Hari Bersama Mahaguru Spiritual Teresa dari Avila, editor serial John Kirvan. Penerbit Obor, 2012)
Kamis, 03 Mei 2012
Kata-Kata Sederhana
Hati, otak, dan lidah setuju bahwa mereka tidak akan membuat kata-kata sederhana lagi. Hati berkata, "Kata-kata remeh itu hanya membuat saya kadang gelisah dan kadang lembut. Sekarang, setiap orang harus keras."
Lalu otak menambahkan, "Ide, perumusan, dan spekulasi yang bagus - hal itu yang memberi hasil. Kata-kata sederhana hanya merupakan pemborosan waktu." Lidah menyambung, "Saya ahli dalam istilah-istilah teknis, kata-kata asing, dan pidato-pidato hebat. Saya tidak mau disibukkan lagi dengan kata-kata sederhana."
Jadi, hati mulai mengirim kata-kata hebat saja kepada lidah. Otak hanya menciptakan kata-kata yang terpelajar, dan lidah membuat pidato-pidato yang hebat. Tidak ada lagi kata-kata sederhana yang muncul dari bibir. Dunia menjadi dingin dan tak berpengharapan.
Tetapi, ada sejumlah orang yang tetap mengingat kata-kata sederhana. Mereka mulai mencari kata-kata itu dalam sejarah masa lalu. Awalnya, mereka merasa takut ditertawakan. Namun, kata-kata sederhana yang mengandung kegembiraan itu mulai merambat dari mulut ke mulut, dari kepala ke kepala, dari hati ke hati, dan dalam waktu singkat kata-kata itu sudah meluas. Dunia kembali menjadi tempat yang bersahabat.
(Beberapa kata sederhana yang remeh itu antara lain: terima kasih, maaf, semoga Anda baik-baik saja, bagus!, ada yang bisa saya bantu?, hebat!, teruskan pekerjaan yang baik ini!) (Willi Hoffsuemmer)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-1, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2009)
Lalu otak menambahkan, "Ide, perumusan, dan spekulasi yang bagus - hal itu yang memberi hasil. Kata-kata sederhana hanya merupakan pemborosan waktu." Lidah menyambung, "Saya ahli dalam istilah-istilah teknis, kata-kata asing, dan pidato-pidato hebat. Saya tidak mau disibukkan lagi dengan kata-kata sederhana."
Jadi, hati mulai mengirim kata-kata hebat saja kepada lidah. Otak hanya menciptakan kata-kata yang terpelajar, dan lidah membuat pidato-pidato yang hebat. Tidak ada lagi kata-kata sederhana yang muncul dari bibir. Dunia menjadi dingin dan tak berpengharapan.
Tetapi, ada sejumlah orang yang tetap mengingat kata-kata sederhana. Mereka mulai mencari kata-kata itu dalam sejarah masa lalu. Awalnya, mereka merasa takut ditertawakan. Namun, kata-kata sederhana yang mengandung kegembiraan itu mulai merambat dari mulut ke mulut, dari kepala ke kepala, dari hati ke hati, dan dalam waktu singkat kata-kata itu sudah meluas. Dunia kembali menjadi tempat yang bersahabat.
(Beberapa kata sederhana yang remeh itu antara lain: terima kasih, maaf, semoga Anda baik-baik saja, bagus!, ada yang bisa saya bantu?, hebat!, teruskan pekerjaan yang baik ini!) (Willi Hoffsuemmer)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-1, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2009)
Selasa, 01 Mei 2012
Berdiam Diri
Memang, praktik berdiam diri lebih menenangkan dan menyembuhkan daripada kebanyakan obat-obatan.
Pascal, seorang ilmuwan terkemuka, berkata, "Setelah mengamati manusia selama bertahun-tahun, saya mengambil kesimpulan bahwa salah satu kesulitan terbesar manusia adalah ketidakmampuannya untuk berdiam diri." (Charles L. Allen)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-1, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2009)
Langganan:
Postingan (Atom)






