Cari Blog Ini

Selasa, 31 Januari 2017

Merobohkan Hidup Rohani yang Nyaman

Inilah yang biasa kita lakukan dalam membangun hidup rohani dan batin kita: membentuk dan menjalankan hidup rohani itu sesuai dengan rencana yang menyenangkan diri kita.

Bangunan hidup rohani kita bentuk sesuai kemampuan kita, minat, dan sarana-sarana yang kita punyai. Dengan demikian, kita dapat hidup aman, nyaman, dan menyenangkan.

Tetapi, tiba-tiba Tuhan datang dan lewat. Dengan sekali sentuh, Ia mengambrukkan seluruh bangunan rohani itu, yang mungkin benar dan tak membahayakan, namun sesungguhnya hanya menjadikan kita "tanggung" dan setengah-setengah saja.

Ketika Tuhan lewat menghampiri kita, kita merasa sedikit sekalilah gunanya segala teori hidup rohani yang indah-indah, yang mungkin juga mengajarkan kepada kita untuk mengingkari diri dan menarik diri dari kesenangan-kesenangan kita.

Ketika Tuhan mengambrukkan bangunan rohani kita, kita merasa semua yang indah tak ada gunanya, jika itu tidak dipraktikkan dan diwujudkan dalam hidup kita yang nyata.

Begitulah sesungguhnya kesucian bisa diraih. Tak seorang pun bisa menjadi suci hanya dengan program dan rencana rohaninya sendiri. Ia harus membalikkan semua rencana, program, dan proyek rohaninya secara total.

Proses ini pahit, terpaksa mengusik kemapanan dan kenyamanan hidup rohani. Tetapi tampaknya tak ada jalan untuk menjadi suci, kecuali dengan rela menerima "paksaan" Tuhan, agar kita mau meninggalkan dan merobohkan bangunan hidup rohani kita, yang kita kira telah kita bangun dengan susah payah, padahal sebenarnya hanya kita bangun sesuai dengan rencana dan rasa kenyamanan kita, serta kita rancang seturut kekerdilan diri kita.

Tuhan menginginkan yang lebih besar, karena itu Ia merombak dan merobohkan apa yang tanggung dan setengah-setengah saja.

                                                              (Abbes Cecile Bruyere, OSB)  

(Dari: Buku Laksana Rusa Mendamba Air - Persembahan Harian 2017. Penerbit Sekretariat Nasional Kerasulan Doa Indonesia)
 

Rabu, 18 Januari 2017

Berani Memaafkan

Tuhan, aku tahu, tak mungkin ada kehidupan bersama, tanpa ada kemauan untuk saling memaafkan.

Tuhan, aku pun tahu, betapa sulit memaafkan teman-teman yang hidup bersama aku dan dekat dengan aku.

Sering, mereka yang kuanggap lawan itu tidaklah datang dari kejauhan, tetapi dari lingkungan yang paling dekat dengan aku.

Orang-orang dekat selingkaran sering bisa saling menyerang dan menjatuhkan, jauh lebih keras dan brutal daripada orang-orang yang saling bermusuhan di kejauhan.

Aku pun mengalami, teman-teman dekat itu sering justru menjadi beban yang tak tertanggungkan bagiku.Sebaliknya, aku jugalah yang sering membuat mereka sedih,marah, dan menderita.

Adakah hal itu wajar, ya Tuhan, sampai Nabi Yusuf pun dibenci dan dibuang oleh saudara-saudaranya sendiri? 

Namun, Kau tak membuat Yusuf jadi pembenci atau pembalas dendam. Yusuf menjadi pemaaf, serta rela memberi makan dan tumpangan bagi saudara-saudaranya yang dulu membenci dan membuangnya. Hatinya tak tega melihat saudara-saudaranya yang terkena bencana kelaparan.

Pada Yusuf, Kau telah membuat yang baik dari yang jahat, untuk menunjukkan, kejahatan itu adalah sia-sia dan akan kalah.

Tuhan, sadarkanlah aku, jika aku membenci, bukan orang lain tetapi aku sendirilah yang akan merugi.

Hidupku jadi tidak tenang karena ingin membalas dendam, tidurku akan terganggu karena setiap kali memikirkan bagaimana aku bisa menderitakan orang yang membenci aku.

Berilah aku rahmat untuk mengerti, ya Tuhan, dengan mengampuni dan memaafkan, bukan orang lain tetapi aku sendirilah yang pertama-tama akan diuntungkan. 

Hidupku tak lagi dijerat dan dibebani dengan bayang-bayang, kapan aku bisa membalas dendam. Aku akan tidur dengan tenang, karena pelbagai beban dendam dan kebencian diam-diam telah terangkat pergi, dan aku menjadi lega sekali.

Tuhan, berilah aku kerahiman-Mu, hingga aku benar-benar sadar dan bisa menjalankan anjuran-Mu: hendaknya aku mengampuni sesamaku tidak hanya tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh. Kuserahkan pada-Mu ya Tuhan, dendam dan kebencianku. Berilah aku pengampunan-Mu. Amin.

                                                                              (Georg Magirius) 

(Dari: Buku Laksana Rusa Mendamba Air - Persembahan Harian 2017. Penerbit Sekretariat Nasional Kerasulan Doa Indonesia)

Senin, 09 Januari 2017

Kisah "Post-It Notes"

Art Fry dan Post-It Notes
Perusahaan 3M mendorong kreativitas dengan memberi kebebasan kepada  para penelitinya menggunakan 15% waktu mereka untuk proyek tertentu yang menarik minat mereka. Kebijakan ini membawa manfaat fantastis bukan hanya bagi para pekerja, melainkan juga kepada perusahaan. Sering kali tercetus gagasan yang melahirkan produk sukses, sehingga secara mengagumkan meningkatkan keuntungan perusahaan 3M.

Art Fry salah seorang ilmuwan di kantor 3M, memanfaatkan waktu kreatif tersebut. Ia anggota paduan suara gereja yang kerap menandai halaman yang dipilih di buku nyanyiannya dengan secarik kertas. Tetapi, potongan kertas itu berulang kali jatuh ke lantai.

Suatu hari, Fry mendapat inspirasi. Ia ingat sejenis perekat yang dikembangkan Spencer Silver, koleganya di perusahaan 3M. Perekat itu dianggap gagal karena tidak merekat dengan baik. 

Fry memanfaatkan perekat itu di kertas penanda halaman buku nyanyiannya. "Ternyata kertas itu bukan hanya menjadi penunjuk halaman yang baik, tetapi juga baik untuk mencatat sesuatu di atasnya. Kertas itu akan tetap di tempatnya selama engkau suka. Engkau dapat memindahkan atau membuangnya tanpa merusak buku," kenang Fry.  

Fry mendapat hadiah besar. Produk kreasinya yang disebut Post-It Notes menjadi salah satu produk 3M yang sangat sukses.  Apa yang pernah dianggap sebagai kegagalan oleh banyak orang, menjadi keberhasilan karena pemikiran kreatif dengan memanfaatkan kesempatan baru.

(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna jilid 5 - 100 Cerita Bijak, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2002)    

Minggu, 01 Januari 2017

Melampaui Dunia


Kita tidak tahu dan tidak boleh bertanya sebelum waktunya: 
ke mana perjalanan di dunia ini akan membawa kita? 

Ini saja yang perlu kita ketahui:
bagi mereka yang mencintai Tuhan, segalanya akan menguntungkan. Dan selanjutnya, Sang Penyelamat akan membawa kita ke jalan-jalan yang mengarah kepada hal-hal yang jauh melampaui dunia ini.  

Edith Stein/St. Teresa Benedikta dari Salib (1891-1942)

Selamat Tahun Baru 2017

Senin, 26 Desember 2016

Tidur Ketika Angin Bertiup

Seorang pemuda menanggapi iklan lowongan kerja di sebuah usaha pertanian. Ia menceritakan pengalaman kerja sebelumnya kepada pemilik pertanian, lalu menambahkan, "Saya bisa tidur ketika angin bertiup." Pernyataan itu membingungkan si petani, tetapi karena ia butuh bantuan, ia mempekerjakan pemuda tersebut.

Selama beberapa bulan pemuda itu mengerjakan dengan baik semua tugas yang diberikan kepadanya. Petani merasa puas. 

Suatu malam, angin badai luar biasa besar bertiup dari barat melintasi daratan itu. Jam dua dini hari, petani bangun lalu mengenakan pakaian, dan berlari keluar. Ia ingin menyelamatkan apa saja yang perlu diselamatkan.

Ia memeriksa gudang. Pintu dan jendela-jendela tertutup rapat, hewan-hewan terikat baik di kandang mereka. Kemudian, si petani memeriksa penampungan air, pompa, mesin, truk, dan garasi. Semua aman.

Petani tetap gelisah dan berlari ke sana-kemari. Ia yakin sesuatu pasti ada yang terlepas, terbuka, atau tertiup badai. Tetapi, segala sesuatu aman di tempat masing-masing. 

Kemudian, petani pergi ke rumah tingkat untuk mengucapkan terima kasih kepada pekerjanya itu. Ia menemukan sang pekerja tidur dengan lelap. Teringatlah petani akan pernyataan yang pernah dikatakan pemuda itu, "Saya bisa tidur ketika angin bertiup."

Petani tersenyum. Pemuda itu telah mengerjakan segala sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik, sehingga ia dapat tetap tidur ketika angin bertiup. 

(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna jilid 5 - 100 Cerita Bijak, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2002)   

Senin, 19 Desember 2016

Kepekaan Rasa

The principle of compassion lies at the heart of all religious, ethical and spiritual traditions, calling us always to treat all others as we wish to treated ourselves. (From Charter for Compassion)

Prinsip kepekaan rasa merupakan fondasi ajaran semua agama, etika, dan tradisi spiritual, yang memanggil kita untuk selalu memperlakukan orang lain seperti kita sendiri ingin diperlakukan.

Wisdom:

Terlepas dari apa pun agama atau kepercayaan yang kita anut, seperti apa pun bentuk tradisi dan budaya spiritual yang dijalani, setiap manusia memiliki persamaan mendasar, yakni kepekaan rasa.

Semua agama didasari prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama. Setiap ajaran spiritual pun demikian, didasari prinsip mengasihi untuk mencapai suatu tingkat, yakni kebahagiaan dan kedamaian. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki hati dan jiwa yang sangat murni.  

(Dari: Buku Timeless Wisdom for Mother, karya Lita Ariani S. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2012)

Selasa, 13 Desember 2016

"Pendebat" vs "Pencekik"

Ada sekelompok anak muda yang cerdas di sebuah universitas di daerah barat. Mereka punya bakat sastra yang menakjubkan. Agaknya mereka bakal jadi penyair dan novelis.

Anak-anak muda ini bertemu secara teratur untuk membaca dan mengritik karya-karya mereka satu sama lain. Mereka benar-benar mengritik sampai membedah ungkapan terkecil menjadi ratusan penggalan.

Dalam mengritik mereka sangat dingin dan kasar. Tetapi mereka melakukannya demi menggali karya sastra terbaik. Orang-orang yang tidak termasuk kelompok itu menyebut mereka "pencekik."

Karena tak mau kalah, beberapa perempuan berbakat sastra dari universitas yang sama membuat kelompok mirip dengan "pencekik." Mereka menyebut diri sebagai "pendebat." Mereka membaca karya-karya mereka, tetapi ada perbedaan dalam memberi tanggapan.

Kelompok "pendebat" lebih halus dalam menyampaikan kritik, lebih positif dan mendorong; bahkan, kadang tak ada kritik sama sekali. Setiap usaha paling kecil pun, dipuji dan disemangati.

Dua puluh tahun kemudian, pengurus alumni universitas itu membuat sebuah studi lengkap tentang karier para alumninya. Ternyata, ada perbedaan besar dalam karya literatur yang dihasilkan kelompok "pencekik" dengan "pendebat."

Dari semua anak muda yang cerdas dan berbakat dalam kelompok "pencekik," tak satu pun menghasilkan karya literatur yang berarti. Sementara dari kelompok "pendebat" muncul enam atau lebih penulis yang berhasil. 

Bakat anak-anak muda di kedua kelompok itu mungkin sama. Tingkat pendidikan mereka juga tidak banyak berbeda. Namun, "pencekik" mematikan, sedangkan "pendebat" terpanggil untuk memberi dorongan satu sama lain. (Ted Engstrom)

(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna jilid 5 - 100 Cerita Bijak, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2002)    

Kamis, 01 Desember 2016

Kehidupan yang Bermakna


 If you are not doing something with your life, then it doesn't matter how long you live. If you are doing something with your life, then it doesn't matter how short your life may be. A life is not measured by years lived, but by its usefulness. If you are giving, loving, serving, helping, encouraging, and adding value to others, then you are living a life that counts!  (John C. Maxwell)


Jika kita tidak melakukan sesuatu (yang bermanfaat) dalam hidup kita, tidak jadi masalah berapa lama kita hidup. Namun, jika kita melakukan sesuatu (yang bermanfaat) dalam hidup kita, tidak jadi masalah betapa pun singkat hidup kita. Kehidupan tidak diukur dari berapa lama kita hidup, melainkan dari kemanfaatannya. Jika Anda memberi, mencintai, melayani, menolong, membesarkan hati, dan menghargai orang lain, maka Anda memiliki kehidupan yang bermakna! 

(Dari: Buku Timeless Wisdom for Mother, karya Lita Ariani S. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2012)

Kamis, 24 November 2016

Memaafkan dan Melupakan

The infinite patience and tolerance are hard to find. But once you find them deep in your soul, life seems to be beyond the horizon of peace.

Kesabaran dan toleransi tak terbatas memang tidak mudah ditemukan. Namun, jika kita berhasil menempuhnya, hidup kita akan terasa menembus batas horison kedamaian.

Wisdom:

Dari berbagai pengalaman, memaafkan dan melupakan merupakan dua hal yang tidak mudah; tetapi sesungguhnya dapat memberikan energi yang luar biasa kepada kita. Dengan memaafkan dan melupakan, kita melepaskan diri kita dari kemarahan yang membelenggu dan menyiksa hati.   

Kadang kala, kita masih bisa memaafkan seseorang atau suatu kejadian, tetapi masih sulit melupakannya. Namun jika kita bulatkan tekad untuk berusaha melakukannya, sesungguhnya kita bisa. Ada kekuatan sangat besar dalam diri kita, bila kita mau mengupayakannya. 

Ketika kita sudah berhasil, kita akan merasakan sebuah kedamaian yang luar biasa, yang membuat hati kita menjadi ringan dan pandangan kita lebih cerah untuk menatap ke depan. 

(Dari: Buku Timeless Wisdom for Mother, karya Lita Ariani S. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2012)

Senin, 14 November 2016

Kejayaan Terbesar


The greatest glory in living lies not in never falling, but in rising every time we fall. 
                                                                                           - Nelson Mandela (1918-2013)

Kejayaan terbesar dalam hidup bukan terletak pada keadaan tak pernah "jatuh," tetapi pada kemampuan untuk bangkit kembali setiap kali kita "jatuh."

Wisdom:
Sering kali kita memandang kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan. Mengapa? Karena kita menganggap kegagalan menunjukkan kita lemah. Padahal, ketika kita bangkit dari sebuah kegagalan, di sanalah letak kekuatan yang dimiliki oleh pemenang sejati. Orang yang berhasil bangkit dari kegagalan berarti telah teruji kemampuannya karena ia telah berhasil melalui sebuah perjuangan besar yang hanya dapat ditempuh oleh orang-orang bermental baja.


(Dari: Buku Timeless Wisdom for Mother, karya Lita Ariani S. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2012)

Kamis, 03 November 2016

Belas Kasih

Suatu hari, tiga pria tua datang menemui Achilles. Salah seorang di antaranya memiliki reputasi sangat buruk. 

Pria tua pertama minta kepada Achilles untuk dibuatkan sebuah jaring ikan. "Aku tidak akan membuatkannya untukmu," kata Achilles. Kemudian datang pria kedua berkata, "Tolong buatkan jaring ikan, supaya kami memiliki kenang-kenangan darimu." Tetapi Achilles menjawab, "Aku tidak punya waktu."  

Kemudian, pria ketiga yang mempunyai reputasi buruk berkata, "Buatkanlah aku sebuah jaring ikan." Achilles segera menjawab, "Aku akan membuatkannya untukmu."

Kedua pria tua yang terdahulu merasa bingung. Secara pribadi mereka bertanya kepada Achilles, "Mengapa Anda tidak mau meluluskan permintaan kami berdua? Sebaliknya, Anda berjanji kepadanya untuk memberikan apa yang dimintanya?"

Achilles menjawab, "Ketika aku mengatakan kepadamu bahwa aku tidak mau membuatkan jaring ikan, kamu berdua tidak kecewa, karena kamu berpikir aku benar-benar tidak punya waktu. 

Tetapi kalau aku tidak memenuhi permintaan pria itu, ia akan berpikir, 'Achilles pasti sudah mendengar tentang keburukanku, maka ia tidak mau membuatkan apa pun untukku.' Dengan demikian, relasi kami terputus. Tetapi sekarang, aku telah membangkitkan semangatnya, sehingga ia tidak sedih karena reputasi buruknya."

(Dari: Buku Tidak Ada Makan Siang Cuma-Cuma - 75 Kumpulan Cerita Bijak, karya Yustinus Sumantri Hp., SJ. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama, 2006) 

Rabu, 26 Oktober 2016

Pemeriksaan Batin

Malam tiba. Kata Paus Fransiskus, malam adalah saat yang indah, di mana kita semua boleh pulang ke rumah. Di rumah, kita duduk bersama di sekitar meja, di sana kita saling memberikan diri, membagikan pengalaman yang kita lalui sepanjang hari. Kita merasa saling didukung oleh anggota keluarga.

Pada saat inilah, kita dihangatkan kembali: hati yang mungkin sempat dingin karena pengalaman yang kurang mengenakkan, atau karena kesedihan yang menimpa kita.

Tetapi, malam juga merupakan saat yang sangat sulit bagi kita yang menderita kesepian. Pada malam itulah terputar kembali segala kepedihan dan impian-impian kita yang gagal.

* Manakah jalan buntu yang aku jumpai? Adakah aku menyerah menghadapinya, atau malah itu menjadi kesempatan bagiku untuk lebih bangkit dan bersemangat?

* Apakah aku dapat menerima beban hidup yang diberikan padaku, atau aku memprotes dan menggerutu karenanya?

* Apakah aku dapat menanggung beban hidupku, semata-mata karena aku merasa kuat dan mampu menanggungnya, atau karena tak ada jalan lain sehingga tak dapat melarikan diri dari beban ini?

* Atau, apakah aku dapat menanggung semuanya itu karena aku merasa ada "Seseorang" yang selalu menemani aku dalam segala kesulitanku, dan Dia berkata kepadaku, "Aku menguatkanmu."

Berhentilah pada pokok-pokok itu. Rasakanlah apa yang terasa dalam pikiran dan hati kita. Lalu, mohonlah kepada Tuhan agar kita dapat tidur dengan tenang dan percaya bahwa besok pagi kita memperoleh kekuatan untuk menghadapi hari yang harus kita lalui.

(Dikutip dari buku Memetik Keheningan - Persembahan Harian 2016. Penerbit Sekretariat Nasional Kerasulan Doa Indonesia)

Senin, 17 Oktober 2016

Keheningan dan Damai



The fruit of SILENCE is Prayer
The fruit of PRAYER is Faith
The fruit of FAITH is Love
The fruit of LOVE is Service
The fruit of SERVICE is Peace   

Buah dari KEHENINGAN adalah Doa
Buah dari DOA adalah Iman
Buah dari IMAN adalah Cinta
Buah dari CINTA adalah Pelayanan
Buah dari PELAYANAN adalah Damai   

                                  - St. Teresa of Calcutta (1910-1997)
 

Minggu, 09 Oktober 2016

Ular dan Gergaji

Seekor ular masuk ke gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Tukang kayu itu terbiasa membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan di lantai.

Ketika ular merayap masuk, ia tak menyadari dirinya berada di atas gergaji. Mata gergaji yang tajam menyebabkan perut ular terluka. Ular menganggap gergaji itu telah menyerangnya. Ia membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali.

Serangan ular yang bertubi-tubi menimbulkan luka parah di mulutnya. Ia semakin marah dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengalahkan "musuh"-nya. Ular berusaha melilitkan tubuhnya ke gergaji. Belitan itu malah membuat tubuh ular semakin terluka parah.

Keesokan pagi, tukang kayu menemukan bangkai ular di dekat gergajinya. 

***  

Di saat emosi memuncak, kita cenderung melukai orang lain. Setelah peristiwa berlalu, kita baru menyadari sebenarnya yang terluka adalah diri kita sendiri.

Amarah dan dendam bagaikan ular yang membelit gergaji. Segala pikiran negatif yang muncul akan menusuk dan melukai batin kita sendiri. Belajarlah melepaskan hal-hal negatif, sehingga batin kita bersih.

(Dari seorang teman melalui media sosial)
 

Rabu, 21 September 2016

Bahagia

Being happy doesn't mean that everything is perfect. It means that you've decided to look beyond the imperfections. 
                                                                                                                     - unknown

Bahagia bukan berarti segala sesuatu tampak sempurna. Bahagia berarti Anda melihat ketidaksempurnaan secara menyeluruh.
 
Wisdom
Hanya dengan menikmati setiap keadaan, kita dapat merasa bahagia. Bukan bila segala sesuatu terjadi secara sempurna dan sesuai dengan keinginan kita, namun bila kita dapat menerima dengan ikhlas dan memandang ketidaksempurnaan sebagai bagian dari apa yang sejatinya ada atau terjadi, sebagai bagian dari episode kehidupan; maka kita akan menemukan kebahagiaan sejati.

(Dari: Buku Timeless Wisdom for Mother, karya Lita Ariani S. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2012)

Sabtu, 10 September 2016

Inilah Aku


Tuhan,
aku di sini, inilah aku,
tapi pikiranku masih melekat padaku,
dan melayang-layang di hari-hariku.

Tuhan,
aku di sini, inilah aku,
aku ingin sekali menjadi tenang,
tapi ketidaktenangan merajai diriku.

Tuhan,
aku di sini, inilah aku,
aku ingin sekali berdoa,
tapi aku tak menemukan kata-kata.

Tuhan,
aku di sini, inilah aku,
aku ingin sekali mendengarkan-Mu,
tapi demikian banyak suara gaduh meramai dalam diriku.

Tuhan,
di sinilah aku, inilah aku 
dengan seluruh hidupku,
hari-hariku, ketidaktenanganku, 
kebisuanku, kegaduhanku, yang membuat telingaku tuli.

Engkau menerima dan mengambil aku,
seperti apa adanya aku.
Tuhan, di sinilah aku,
inilah aku.

(Andrea Schwarz)

(Dikutip dari buku Memetik Keheningan - Persembahan Harian 2016. Penerbit Sekretariat Nasional Kerasulan Doa Indonesia)

Rabu, 31 Agustus 2016

Melihat ke Luar


It is not what we get, but who we become, what we contribute... that gives meaning to our lives.
                                                               
                                                    - Tony Robbins (wirausahawan, penulis, filantropis) 

Bukanlah apa yang kita raih, melainkan menjadi siapa kita, apa yang dapat kita berikan.... itulah yang menjadikan hidup kita bermakna.

Wisdom:
Dalam hidup setiap orang pasti punya impian dan cita-cita. Namun, sering kali kita terlalu fokus pada sesuatu yang ingin kita raih. Prestasi, penghargaan, gelar, jabatan, kekayaan, dan segala atribut yang menjadikan seseorang memiliki nilai "lebih tinggi" dalam konteks kehidupan sosial. 

Sementara, kita lupa di sekeliling kita masih ada (bahkan mungkin banyak) orang yang membutuhkan perhatian atau uluran tangan kita. Padahal, yang membuat hidup kita bermakna bukanlah materi atau predikat yang kita miliki, tetapi sesuatu yang dapat kita berikan, yang bermanfaat bagi kehidupan secara universal. Sudahkah kita melihat ke luar?

(Dari: Buku Timeless Wisdom for Mother, karya Lita Ariani S. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2012) 

Kamis, 25 Agustus 2016

Kopi di Dinding

Seorang wisatawan tengah menikmati kopi di sebuah kafe terkenal di Venesia, Italia. Tak lama kemudian, datang seorang pria paruh baya. Ia memanggil pramusaji dan memesan: “Kopi dua cangkir. Yang satu cangkir untuk di dinding.”

Sang wisatawan merasa heran mendengar kalimat tersebut. Apalagi pria itu hanya disuguhi secangkir kopi, namun setelahnya ia membayar untuk dua cangkir.

Segera setelah pria itu pergi, pramusaji menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan "Segelas Kopi" di dinding kafe. Suasana kafe kembali hening.

Tak lama kemudian, masuk dua orang pria. Mereka memesan tiga cangkir kopi.
Dua cangkir di meja, satu lagi untuk di dinding. Mereka pun membayar tiga cangkir kopi sebelum pergi. Setelah mereka berlalu, pramusaji melakukan hal yang sama: menempelkan kertas bertulis "Segelas Kopi" di dinding.

Pemandangan tidak lazim di kafe sore itu membuat sang wisatawan heran. Ia meninggalkan kafe dengan menyimpan pertanyaan dalam hatinya. 

Beberapa hari kemudian, wisatawan tersebut mampir kembali di kafe yang sama. Ia melihat, seseorang lelaki tua berpakaian lusuh masuk ke kafe. Setelah duduk, ia melihat ke dinding dan berkata kepada pelayan, “Satu cangkir kopi dari dinding."

Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopinya, lelaki itu pergi tanpa membayar. Pramusaji lalu menarik satu lembar kertas yang bertuliskan "Segelas Kopi" dari dinding dan membuangnya ke tempat sampah.

Pertanyaan sang wisatawan terjawab. Agaknya, seperti itulah cara penduduk setempat menolong sesamanya yang kurang beruntung, dengan tetap menaruh rasa hormat kepada orang yang ditolongnya.

Kaum papa bisa menikmati secangkir kopi tanpa perlu merendahkan harga diri untuk mengemis secangkir kopi. Bahkan mereka pun tidak perlu tahu siapa yang menraktir mereka.

Secangkir kopi di dinding adalah wujud Cinta yang ikhlas kepada kaum papa, tanpa memperlakukan kaum papa dengan cara arogan: "Akulah yang memberikannya kepadamu...." 

Sesungguhnya kita tak dapat hidup lebih baik, tanpa memberi dan menerima cinta, perhatian, dan bantuan dari orang lain. Terlalu sering kita meremehkan kekuatan sebuah sentuhan, sekilas senyuman, serangkaian kata, pujian tulus, telinga dan hati yang mendengarkan, atau tindakan kecil untuk membantu orang lain; padahal semua itu punya kekuatan untuk mengubah kehidupan. 

(Dari seorang teman melalui media sosial)
 

Kamis, 11 Agustus 2016

Orang Rohani

Orang rohani harus benar-benar memerhatikan agar hati dan sukacitanya jangan melekat pada barang fana. Ia harus khawatir kalau-kalau kelekatannya yang kecil makin lama makin besar.  
St. Yohanes dari Salib (1542-1591)



(Dari: Buku Ajaran Yohanes dari Salib - Tantangan Kita Dewasa Ini hal. 150, karya Leonard Doohan. Penerbit Karmelindo, 2015)

Senin, 25 Juli 2016

Bendahara yang Baik

Ada seorang raja yang baru saja memecat bendahara kerajaannya karena ia tidak jujur. Raja lalu mulai mencari siapa yang dapat menduduki jabatan sangat penting itu.

Setelah melalui seleksi sangat ketat, raja mengangkat seorang rakyat sederhana untuk menjabat bendahara kerajaan karena kejujuran orang itu.

Tentu saja jabatan baru ini membawa perubahan besar. Semula bendahara baru itu dan keluarganya tinggal di pondok kecil; kini sesuai kedudukannya, ia tinggal di rumah besar dan mewah, tidak kekurangan apa pun. Keadaan ini berlangsung selama kurang lebih setahun, sampai ada laporan kepada raja.

Laporan itu menyatakan, pengawal yang menjaga gedung perbendaharaan kerajaan melihat sang bendahara keluar dari gedung dengan membawa sebuah bungkusan. Hal ini bukan satu dua kali saja, tetapi setiap kali masuk dan keluar gedung perbendaharaan kerajaan, ia selalu membawa bungkusan.

Keesokan hari, raja mengeluarkan perintah untuk menangkap bendahara itu saat ia pulang kerja. Ketika dibawa menghadap raja, sang bendahara memang membawa sebuah bungkusan.

Kecurigaan raja semakin besar, ia memerintahkan agar bungkusan itu dibuka. Apa yang ada dalam bungkusan? Emas, perak, atau berlian? Ternyata, isinya hanya pakaian tua yang sudah robek. Raja sangat heran dan bertanya, "Apa maksudmu membawa pakaian itu saat masuk dan keluar gedung?"

Jawab sang bendahara, "Baginda raja, pakaian ini adalah pakaian yang dulu saya pakai sebelum baginda mengangkat saya sebagai bendahara kerajaan. Setiap kali saya masuk gedung perbendaharaan kerajaan, saya melihat begitu banyak emas, berlian, dan permata. Dengan melihat pakaian tua ini, saya selalu ingat dulu saya hanya seorang miskin. Berkat kemurahan baginda saya diangkat menjadi orang terhormat. Segala ketamakan saya hilang, berganti rasa syukur."

(Dari: Buku Tidak Ada Makan Siang Cuma-Cuma - 75 Kumpulan Cerita Bijak, karya Yustinus Sumantri Hp., SJ. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama, 2006)