Cari Blog Ini

Rabu, 26 Oktober 2016

Pemeriksaan Batin

Malam tiba. Kata Paus Fransiskus, malam adalah saat yang indah, di mana kita semua boleh pulang ke rumah. Di rumah, kita duduk bersama di sekitar meja, di sana kita saling memberikan diri, membagikan pengalaman yang kita lalui sepanjang hari. Kita merasa saling didukung oleh anggota keluarga.

Pada saat inilah, kita dihangatkan kembali: hati yang mungkin sempat dingin karena pengalaman yang kurang mengenakkan, atau karena kesedihan yang menimpa kita.

Tetapi, malam juga merupakan saat yang sangat sulit bagi kita yang menderita kesepian. Pada malam itulah terputar kembali segala kepedihan dan impian-impian kita yang gagal.

* Manakah jalan buntu yang aku jumpai? Adakah aku menyerah menghadapinya, atau malah itu menjadi kesempatan bagiku untuk lebih bangkit dan bersemangat?

* Apakah aku dapat menerima beban hidup yang diberikan padaku, atau aku memprotes dan menggerutu karenanya?

* Apakah aku dapat menanggung beban hidupku, semata-mata karena aku merasa kuat dan mampu menanggungnya, atau karena tak ada jalan lain sehingga tak dapat melarikan diri dari beban ini?

* Atau, apakah aku dapat menanggung semuanya itu karena aku merasa ada "Seseorang" yang selalu menemani aku dalam segala kesulitanku, dan Dia berkata kepadaku, "Aku menguatkanmu."

Berhentilah pada pokok-pokok itu. Rasakanlah apa yang terasa dalam pikiran dan hati kita. Lalu, mohonlah kepada Tuhan agar kita dapat tidur dengan tenang dan percaya bahwa besok pagi kita memperoleh kekuatan untuk menghadapi hari yang harus kita lalui.

(Dikutip dari buku Memetik Keheningan - Persembahan Harian 2016. Penerbit Sekretariat Nasional Kerasulan Doa Indonesia)

Senin, 17 Oktober 2016

Keheningan dan Damai



The fruit of SILENCE is Prayer
The fruit of PRAYER is Faith
The fruit of FAITH is Love
The fruit of LOVE is Service
The fruit of SERVICE is Peace   

Buah dari KEHENINGAN adalah Doa
Buah dari DOA adalah Iman
Buah dari IMAN adalah Cinta
Buah dari CINTA adalah Pelayanan
Buah dari PELAYANAN adalah Damai   

                                  - St. Teresa of Calcutta (1910-1997)
 

Minggu, 09 Oktober 2016

Ular dan Gergaji

Seekor ular masuk ke gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Tukang kayu itu terbiasa membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan di lantai.

Ketika ular merayap masuk, ia tak menyadari dirinya berada di atas gergaji. Mata gergaji yang tajam menyebabkan perut ular terluka. Ular menganggap gergaji itu telah menyerangnya. Ia membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali.

Serangan ular yang bertubi-tubi menimbulkan luka parah di mulutnya. Ia semakin marah dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengalahkan "musuh"-nya. Ular berusaha melilitkan tubuhnya ke gergaji. Belitan itu malah membuat tubuh ular semakin terluka parah.

Keesokan pagi, tukang kayu menemukan bangkai ular di dekat gergajinya. 

***  

Di saat emosi memuncak, kita cenderung melukai orang lain. Setelah peristiwa berlalu, kita baru menyadari sebenarnya yang terluka adalah diri kita sendiri.

Amarah dan dendam bagaikan ular yang membelit gergaji. Segala pikiran negatif yang muncul akan menusuk dan melukai batin kita sendiri. Belajarlah melepaskan hal-hal negatif, sehingga batin kita bersih.

(Dari seorang teman melalui media sosial)
 

Rabu, 21 September 2016

Bahagia

Being happy doesn't mean that everything is perfect. It means that you've decided to look beyond the imperfections. 
                                                                                                                     - unknown

Bahagia bukan berarti segala sesuatu tampak sempurna. Bahagia berarti Anda melihat ketidaksempurnaan secara menyeluruh.
 
Wisdom
Hanya dengan menikmati setiap keadaan, kita dapat merasa bahagia. Bukan bila segala sesuatu terjadi secara sempurna dan sesuai dengan keinginan kita, namun bila kita dapat menerima dengan ikhlas dan memandang ketidaksempurnaan sebagai bagian dari apa yang sejatinya ada atau terjadi, sebagai bagian dari episode kehidupan; maka kita akan menemukan kebahagiaan sejati.

(Dari: Buku Timeless Wisdom for Mother, karya Lita Ariani S. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2012)

Sabtu, 10 September 2016

Inilah Aku


Tuhan,
aku di sini, inilah aku,
tapi pikiranku masih melekat padaku,
dan melayang-layang di hari-hariku.

Tuhan,
aku di sini, inilah aku,
aku ingin sekali menjadi tenang,
tapi ketidaktenangan merajai diriku.

Tuhan,
aku di sini, inilah aku,
aku ingin sekali berdoa,
tapi aku tak menemukan kata-kata.

Tuhan,
aku di sini, inilah aku,
aku ingin sekali mendengarkan-Mu,
tapi demikian banyak suara gaduh meramai dalam diriku.

Tuhan,
di sinilah aku, inilah aku 
dengan seluruh hidupku,
hari-hariku, ketidaktenanganku, 
kebisuanku, kegaduhanku, yang membuat telingaku tuli.

Engkau menerima dan mengambil aku,
seperti apa adanya aku.
Tuhan, di sinilah aku,
inilah aku.

(Andrea Schwarz)

(Dikutip dari buku Memetik Keheningan - Persembahan Harian 2016. Penerbit Sekretariat Nasional Kerasulan Doa Indonesia)

Rabu, 31 Agustus 2016

Melihat ke Luar


It is not what we get, but who we become, what we contribute... that gives meaning to our lives.
                                                               
                                                    - Tony Robbins (wirausahawan, penulis, filantropis) 

Bukanlah apa yang kita raih, melainkan menjadi siapa kita, apa yang dapat kita berikan.... itulah yang menjadikan hidup kita bermakna.

Wisdom:
Dalam hidup setiap orang pasti punya impian dan cita-cita. Namun, sering kali kita terlalu fokus pada sesuatu yang ingin kita raih. Prestasi, penghargaan, gelar, jabatan, kekayaan, dan segala atribut yang menjadikan seseorang memiliki nilai "lebih tinggi" dalam konteks kehidupan sosial. 

Sementara, kita lupa di sekeliling kita masih ada (bahkan mungkin banyak) orang yang membutuhkan perhatian atau uluran tangan kita. Padahal, yang membuat hidup kita bermakna bukanlah materi atau predikat yang kita miliki, tetapi sesuatu yang dapat kita berikan, yang bermanfaat bagi kehidupan secara universal. Sudahkah kita melihat ke luar?

(Dari: Buku Timeless Wisdom for Mother, karya Lita Ariani S. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2012) 

Kamis, 25 Agustus 2016

Kopi di Dinding

Seorang wisatawan tengah menikmati kopi di sebuah kafe terkenal di Venesia, Italia. Tak lama kemudian, datang seorang pria paruh baya. Ia memanggil pramusaji dan memesan: “Kopi dua cangkir. Yang satu cangkir untuk di dinding.”

Sang wisatawan merasa heran mendengar kalimat tersebut. Apalagi pria itu hanya disuguhi secangkir kopi, namun setelahnya ia membayar untuk dua cangkir.

Segera setelah pria itu pergi, pramusaji menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan "Segelas Kopi" di dinding kafe. Suasana kafe kembali hening.

Tak lama kemudian, masuk dua orang pria. Mereka memesan tiga cangkir kopi.
Dua cangkir di meja, satu lagi untuk di dinding. Mereka pun membayar tiga cangkir kopi sebelum pergi. Setelah mereka berlalu, pramusaji melakukan hal yang sama: menempelkan kertas bertulis "Segelas Kopi" di dinding.

Pemandangan tidak lazim di kafe sore itu membuat sang wisatawan heran. Ia meninggalkan kafe dengan menyimpan pertanyaan dalam hatinya. 

Beberapa hari kemudian, wisatawan tersebut mampir kembali di kafe yang sama. Ia melihat, seseorang lelaki tua berpakaian lusuh masuk ke kafe. Setelah duduk, ia melihat ke dinding dan berkata kepada pelayan, “Satu cangkir kopi dari dinding."

Pramusaji segera menyuguhkan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopinya, lelaki itu pergi tanpa membayar. Pramusaji lalu menarik satu lembar kertas yang bertuliskan "Segelas Kopi" dari dinding dan membuangnya ke tempat sampah.

Pertanyaan sang wisatawan terjawab. Agaknya, seperti itulah cara penduduk setempat menolong sesamanya yang kurang beruntung, dengan tetap menaruh rasa hormat kepada orang yang ditolongnya.

Kaum papa bisa menikmati secangkir kopi tanpa perlu merendahkan harga diri untuk mengemis secangkir kopi. Bahkan mereka pun tidak perlu tahu siapa yang menraktir mereka.

Secangkir kopi di dinding adalah wujud Cinta yang ikhlas kepada kaum papa, tanpa memperlakukan kaum papa dengan cara arogan: "Akulah yang memberikannya kepadamu...." 

Sesungguhnya kita tak dapat hidup lebih baik, tanpa memberi dan menerima cinta, perhatian, dan bantuan dari orang lain. Terlalu sering kita meremehkan kekuatan sebuah sentuhan, sekilas senyuman, serangkaian kata, pujian tulus, telinga dan hati yang mendengarkan, atau tindakan kecil untuk membantu orang lain; padahal semua itu punya kekuatan untuk mengubah kehidupan. 

(Dari seorang teman melalui media sosial)