Cari Blog Ini

Rabu, 01 Februari 2012

Yang Kita Miliki

Blanca lahir di Satmar, kota kecil di pinggiran Hungaria, sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Hidup dalam keluarga besar di kota yang banyak anak kecil, menjadikan Blanca tak begitu menonjol. Ia bukan murid teladan, tak punya bakat khusus, dan tidak terlalu populer di kalangan teman-temannya.

Tak seorang pun memberi perhatian khusus kepada Blanca, kecuali Sergi, anak lelaki yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Sejak kecil mereka sering bermain bersama di pekarangan rumah dan lapangan tepi kota. Sampai remaja, mereka masih tetap senang bermain dan bercanda. Sergi mengatakan kepada ibunya, "Aku akan menikah dengan Blanca suatu saat nanti."

Bagi kedua remaja itu, kehidupan terasa indah, tetapi tak berlangsung lama karena pecah Perang Dunia II. Untuk mengantisipasi keadaan terburuk, keluarga Blanca pindah ke Amerika. Kepindahan itu sangat sulit dan tak menyenangkan bagi Blanca, tetapi ia tak punya pilihan lain. Meski mereka tetap ingin menjalin komunikasi, perang yang sedang berkobar tak memungkinkan hal itu.

Ketika Blanca berusia 18 tahun, orangtuanya mengatur pertemuan dengan seorang pemuda yang bereputasi baik. Walau hati Blanca masih tertuju kepada Sergi, ia bisa dibujuk untuk melupakan masa lalunya. Ia menikah dengan pemuda itu dan punya lima anak. Dengan berlalunya waktu, kenangan akan Sergi memudar, tetapi tak benar-benar terlupakan.

Tahun 1995, Blanca kembali ke tanah airnya. Ia telah menjadi nenek dari 10 cucu. Dari seorang kerabat jauh, ia dengar Sergi masih tetap tinggal di Satmar. Blanca ingin mengatakan kepada Sergi, ia tetap menyimpan kenangan manis mereka dan tak pernah berhenti mencintai Sergi.

Setiba di Satmar, Blanca memanggil taksi. "Bisakah Anda mengantar saya ke alamat ini?" tanya Blanca. "Ah, sahabat saya, Sergi," kata sopir taksi. "Anda ingin bertemu dengannya?" Blanca mengangguk. "Anda belum dengar?" sopir taksi berkata dengan suara rendah, "Kemarin Sergi meninggal."

Blanca tidak berkesempatan menyampaikan isi hatinya. Ia mengunjungi makam Sergi dan meletakkan karangan bunga di batu nisannya.

Kita mengira selalu masih ada hari esok, jadi untuk apa melakukannya sekarang? Padahal, yang kita miliki hanyalah hari ini: apa yang kita cintai, apa yang kita rasakan, dan apa yang nyata. Esok semua bisa berubah.

(Dari: Buku Small Miracles - 68 Kisah Nyata tentang Kebetulan-Kebetulan Tak Terduga yang Memperkaya Jiwa, karya Yitta Halberstam & Judith Leventhal. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2000)

Selasa, 31 Januari 2012

Titik Tolak Cinta Kasih

"Saling mencintai seperti Aku mencintai kalian." Kata-kata itu janganlah hanya merupakan sinar untuk kita, melainkan suatu bara api yang membakar habis cinta diri kita.

Kita tidak dapat melihat Tuhan, kita tidak dapat menyatakan cinta kita kepadaNya, tetapi tetangga-tetangga kita selalu dapat dilihat, dan kita dapat berbuat sesuatu untuk mereka seperti apa yang kita ingin perbuat kepada Tuhan seandainya kita bisa melihatNya.

Allah menganugerahkan kepada kita kekuatan dan kegembiraan yang besar untuk mencintai mereka. Apakah kita menggunakannya? Di mana kita mulai menggunakannya? Tuhan mengatakan agar kita mencintai satu sama lain - saudaraku, tetanggaku, suamiku, istriku, anakku, dan kaum tua.

Para suster kami bekerja di seluruh dunia, dan saya telah melihat kesusahan, kesengsaraan, dan penderitaan. Dari manakah datangnya semua itu? Datangnya dari kurang cinta kasih dan kurang berdoa. Tidak ada waktu untuk berkumpul di dalam keluarga, berdoa bersama, tinggal bersama.

Cinta kasih dimulai dari rumah kita sendiri, dan mungkin akan kita temukan yang miskin di dalam rumah kita sendiri. Kami mempunyai rumah di London. Di sana suster-suster kami bekerja pada malam hari. Suatu malam, mereka pergi keluar untuk membawa orang-orang yang ada di jalan-jalan.

Mereka melihat seorang anak muda. Ia berbaring di jalanan. "Seharusnya kau tidak di sini. Seharusnya kau ada di rumah dengan orangtuamu," kata salah seorang suster. "Kalau aku pulang, ibuku tidak mau menerima aku, karena rambutku panjang. Setiap kali pulang, aku disuruh keluar rumah," ujarnya lirih. Ketika para suster kembali ke tempat itu, anak muda tersebut telah meminum obat berlebihan dan harus dibawa ke rumah sakit.

Saya tak habis pikir, kemungkinan ibu anak muda itu sangat sibuk dengan kelaparan yang dialami orang-orang di India. Padahal, justru anaknya sendiri yang lapar akan dia, lapar akan cinta kasih ibunya, lapar akan pemeliharaannya, dan sang ibu menolak memberikannya.

Memang, lebih mudah mencintai orang di tempat yang jauh. Sering kali lebih sulit mencintai orang yang dekat dengan kita. Lebih mudah memberi semangkuk nasi untuk mengatasi rasa lapar, daripada meringankan kesepian dan rasa sakit dari seseorang yang tidak dicintai di rumahnya sendiri.

Tumbuhkanlah cinta kasih di dalam rumah Anda, karena di situlah titik tolak cinta kasih untuk sesama.

(Dari: Buku Di Dalam Keheningan Hati - Renungan Ibu Teresa dari Calcutta Bersama Kerabat Kerjanya, disusun Kathryn Spink. Penerbit Yayasan Hidup Kristiani, 1987)

Senin, 30 Januari 2012

Suamiku Tak Tertarik Padaku Lagi

Ada kisah luar biasa yang diceritakan kepada saya di Singapura mengenai seorang konsultan pernikahan yang sangat piawai. 

Seorang klien datang padanya dan berkata bahwa ia telah menikah bertahun-tahun. "Tapi suami saya tidak tertarik pada saya lagi. Dia sering pulang terlambat dari kantor. Saya tak tahu pasti, namun dia mungkin sedang menjalin hubungan dengan wanita lain. Saya ingin cerai dengannya."

Konsultan pernikahan ini sangat cerdas. "Dengar," katanya, "Suami Anda mungkin justru ingin Anda menuntut cerai darinya. Jadi, jika Anda cerai dengan dia, Anda malah melakukan persis seperti yang dia inginkan. Dai akan bilang, 'Yes!' Anda mau 'kan membalas perbuatannya, dengan cara jangan cerai dulu?"

"Sebaiknya Anda pergi ke salon kecantikan, percantik diri Anda, beli baju bagus. Lalu, upayakan suami Anda jatuh cinta lagi kepada Anda. Ini mungkin makan waktu beberapa lama, tetapi bisa dilakukan. Bersikap ramah dan baik terhadapnya. Perbuatlah yang bagus-bagus, yang dia senangi. Rencananya, ketika dia mulai menyukai Anda lagi, terutama ketika dia mulai jatuh cinta lagi kepada Anda, saat itu... ceraikan dia!"

Klien itu menuruti saran konsultannya. Setiap satu atau dua minggu ia berkonsultasi melaporkan perkembangannya. "Sesuai rencana, dia mulai pulang lebih awal," lapor si istri. "Bagus! Lanjutkan!" kata konsultannya. Kemudian, selama dua minggu berikutnya, sang suami mulai lebih baik terhadapnya, lebih lembut, lebih mencintai. Rencana itu berjalan lancar!

Sampai suatu ketika, klien itu tak datang lagi untuk sesi konseling selama sebulan. Konsultan meneleponnya, "Apa yang terjadi? Anda belum memberitahu. Apakah dia jadi lebih baik?" 
"Oh, ya. Tentu!"
"Dia jadi lebih lembut dan sayang kepada Anda?"
"Ya, ya, ya..."
"Apakah dia sudah jatuh cinta kepada Anda?"
"Sudah..."
"Kalau begitu, sekarang saatnya menceraikan dia!"
"Oh, tidaaaak! Dia begitu baik kepada saya!"

Memang, begitulah rencana besar jangka panjangnya untuk mempertahankan pernikahan mereka. 

(Dari: Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! - 108 (Lagi!) Cerita Pembuka Pintu Hati, karya Ajahn Brahm. Penerbit Awareness Publication, 2011)

Minggu, 29 Januari 2012

Energi Cinta

Taylor Caldwell
Taylor Caldwell (1900-1985), seorang pengarang di tahun 1950-1960-an. Selama puluhan tahun, roman-roman sejarah karyanya mendominasi daftar buku bestseller. Ditinjau dari sudut penjualan buku dan ketenaran, ia setara dengan Danielle Steel.

Suami Caldwell yang sudah begitu lama mendampinginya dalam pernikahan yang bahagia, meninggal mendahuluinya. Kematian datang setelah sang suami sakit berkepanjangan, dan mereka sudah mempersiapkan diri untuk hal ini.

Beberapa saat sebelum kematian suaminya, Caldwell menggenggam tangan sang suami dan memohon kepadanya, "Kalau memang ada kehidupan di dunia sana, kumohon kau memberikan tanda kepadaku. Biarkan aku tahu bahwa kau tetap bersamaku." Suaminya mengangguk.

Suatu pagi, dengan kesedihan mendalam Caldwell pergi ke kebun, mencari penghiburan dari alam, seperti yang selalu dilakukannya. "Oh, sayangku," ia berseru kepada suaminya, "Kalau saja kau mengirimkan tanda padaku, bahwa kau ada bersamaku, aku bisa menahan semua ini. Kedukaanku begitu dalam..."

Saat itu, Caldwell mendekati bagian kebun yang selama ini tanahnya tidak subur dan sulit ditanami. Ketika ia melayangkan pandang ke bagian yang gersang itu, ia terkejut. Bagian tengah tanah itu memang ditumbuhi  semak-semak rosemary, tetapi tak pernah berbunga selama tiga puluh tahun.

Sehari sebelumnya, ketika ia berjalan di tanah yang sama, dalam hati ia bergumam, "Betapa sayangnya semak-semak itu tak pernah berbunga..." Namun sekarang, entah bagaimana, semak-semak itu penuh dengan bunga mekar.

Caldwell menatap dengan takjub. Ia lama terdiam. "Terima kasih... Sekarang aku bisa bertahan, karena aku tahu kau bersamaku," ujarnya. Ia telah memperoleh tanda yang dicarinya. "Kalian tahu," katanya kepada mereka yang kemudian mewawancarainya, "Rosemary berarti kenangan."

Cinta yang kuat dan berakar kokoh memiliki energi yang tak bisa dihentikan, tidak juga oleh cengkeraman maut. Jalinan cinta melampaui waktu. Seperti sungai, cinta akan mengalir selamanya, dan cinta akan merengkuh semua yang berenang di dalam arusnya.

(Dari: Buku Small Miracles - 68 Kisah Nyata tentang Kebetulan-Kebetulan Tak Terduga yang Memperkaya Jiwa, karya Yitta Halberstam & Judith Leventhal. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2000)

Sabtu, 28 Januari 2012

Seks dan Kasih Sayang

Setiap orang memiliki hasrat seks dan mendambakan kasih sayang. Orang memang bisa menemukan kasih sayang, kemesraan, keintiman, keakraban, dan kenikmatan dalam seks. Tetapi, dalam bentangan pengalaman itu, terdapat juga ketakutan dan kepedihan. Mungkinkah kita mengalami kasih sayang sejati yang bebas dari kenikmatan dan kepedihan?

Dalam seks ada kenikmatan dan penderitaan. Sebagian orang mungkin merasa tak punya masalah dengan seks. Mereka membutuhkan seks seperti orang butuh makan. Sedangkan sebagian orang lain berkaul hidup murni. Ada yang mengutuk seks sebagai yang duniawi, rendah, dan tidak suci. Mereka berjuang mengenyahkan hasrat seks. 

Menjauhi, menolak, atau membunuh hasrat seks sama bodohnya dengan mengumbar hasrat seks. Ada seks atau tidak ada seks, kenyataannya rasa takut, sepi, dan pedih tetap ada. Meskipun orang memiliki kepuasan seks, semua perasaan itu tak bisa disembuhkan dengan seks.

Perhatikanlah muncul dan tenggelamnya hasrat atau gairah atau nafsu seks. Hubungan antara hasrat seks dan pikiran begitu dekat. Hasrat akan kenikmatan sebelum atau setelah tindakan seks tak lain merupakan pikiran. Kita menyukai kenikmatan dan pikiran membayangkan kenikmatan seks yang belum terjadi atau mengulang-ulang kenikmatan seks yang telah lewat. 

Pikiran senang melekat pada sesuatu yang membuat nikmat, dan seks salah satunya. Karena rasa takut, kita berlari dan melekatkan diri pada sesuatu. Kelekatan itu kemudian malah menciptakan lebih banyak ketakutan. Bisa jadi, seks merupakan pelarian dari rasa sepi atau kekosongan eksistensi kita.

Anda mesti melihatnya sendiri. Kalau Anda memahami seluruh gerak kenikmatan dan penderitaan, kelekatan dan ketakutan, serta pikiran dan keinginan-keinginannya yang ada di dalam batin Anda, mungkin Anda akan melihat seks secara berbeda.

Tindakan seks tak sama dengan pikiran seks. Tindakan seks bukan hanya terbatas pada hubungan intim sepasang insan, tetapi juga cara kita memperlakukan tubuh kita, relasi-relasi yang lebih luas antara laki-laki dan perempuan, cara memandang, cara mendengarkan, cara bergaul, cara bertindak, dan seterusnya.

Dalam tindakan seks mungkin ada kelembutan, keindahan, kebebasan, intensitas, kebahagiaan, cinta, atau kasih sayang yang sesungguhnya. Hal itu ada - kalau pikiran, keinginan, atau diri ini berhenti.  

Sadarilah hasrat seks seperti apa adanya, tanpa menyalahkan atau membenarkan, menerima atau menolak, melawan atau lari darinya. Dengan memahami hasrat seks dan reaksi-reaksi batin secara total - tanpa menilainya sebagai baik atau buruk, normal atau tidak normal, boleh atau tidak boleh - maka hasrat seks dengan sendirinya akan berhenti, muncullah kebebasan dan kasih sayang.

Kalau kebebasan dan kasih sayang sudah ada dalam hidup seseorang, apakah seks masih diperlukan? Hanya dalam batin yang bebas terdapat kasih sayang sejati.

(Dari: Buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2009) 

Jumat, 27 Januari 2012

Love Story - Cinta yang Tulus

Berbulan-bulan, buku Love Story karya Erich Segal (1937-2010) menjadi "best-seller." Di Amerika Serikat, negara asal sang penulis, novel itu terjual lebih dari delapan juta buku. Ketika difilmkan, bioskop-bioskop penuh sesak. Padahal, sebelumnya Segal bukan penulis tenar. 

Love Story pun merupakan kisah kasih yang biasa terpapar di sekeliling kita. Dua hati bersua, memadu kasih. Yang paling mengesankan, cara melukiskannya. Sudah sering kita membaca atau melihat film cinta yang memuncakkan kisahnya di ranjang. Cinta dan seks (perbedaan jenis kelamin) biasanya disamaratakan saja. Tetapi, Segal melihatnya secara berbeda.

Meskipun bagi Segal seks juga memegang peran penting dalam percintaan, tetapi cinta dan seks tidak identik. Karena itu, ia mau mengetengahkan cinta tanpa menonjolkan seks. Dan ini memberi suasana bebas, segar, serta justru semakin hangat. Sebuah kasih yang tidak tenggelam dalam luapan nafsu genital.

Segal mampu menghidangkan pengalaman sepasang sahabat, kekasih, tunangan, dan suami-istri yang mesra, terikat kerinduan mendalam satu sama lain untuk selalu bersatu. Persatuan yang mereka dambakan tak mutlak diwarnai persatuan fisik. Melalui tokoh utama Oliver dan Jennifer, warna dominan yang ditampilkan adalah kesamaan cita-cita, pandangan hidup, dan hati yang saling memahami.

Kedua muda-mudi ini mempertaruhkan hidup mereka satu sama lain sungguh untuk seluruh hidup. Bukan hanya selama menit-menit waktu mereka saling membelai, berpelukan, berciuman, dan seterusnya. Perhatian mereka tidak ditentukan berdasarkan keterbiusan jasmani partner mereka.

Kasih mereka merupakan kasih yang bebas dari 'keharusan' dan determinasi keterlaluan dari nafsu. Bukan berarti nafsu kelamin itu buruk. Pada waktunya memang perlu. Namun, Segal mau memperlihatkan segi cinta yang lain - cinta pria dan wanita yang tidak identik dengan seks.

Orang bisa memperoleh kepuasan seks tanpa menaruh cinta. Sebaliknya, suatu tanda cinta dapat ditunjukkan tanpa pikiran 'mau kawin dengannya.' Ciuman dan pelukan sederhana tak perlu selalu dihubungkan dengan maksud kawin. Mengapa masih ada orang yang begitu picik, sehingga mengira setiap perhatian dari jenis kelamin yang lain selalu hanya berarti mengarah ke ranjang?

Bila cinta dicampuradukkan dengan seks, biasanya orang mencintai dengan harapan mendapatkan balasan (kepuasan seks). Hanya jika orang sungguh tidak mencampuradukkan cinta dan seks serta ekspresi-ekspresinya, maka ia dapat lebih mudah memahami cinta tanpa pamrih seperti yang diperlihatkan oleh Tuhan.

Cinta tanpa pamrih mau memberikan segalanya kepada yang dicintai. Cinta jenis ini mau mengasihi para sahabatnya sampai sehabis-habisnya. Sebetulnya, cinta jenis inilah yang mendasari segala jenis cinta lain. Kesediaan untuk membahagiakan partnernya menjadi titik tolak semua jenis cinta. Kalau tidak, bukanlah cinta melainkan egoisme.

Reaksi masyarakat terhadap Love Story-nya Erich Segal menyiratkan, dalam lubuk hati manusia memang tersimpan dambaan untuk dapat mencinta tanpa pamrih. 

(Dari: Buku Dari Love Story ke Doa Rutin - Renungan-Renungan Harian, karya B.S. Mardiatmadja, S.J. Penerbit Kanisius & Nusa Indah, 1985)

Kamis, 26 Januari 2012

Empat Sifat Cinta

Apakah cinta? Lihatlah bunga mawar. Mungkinkah bunga itu mengatakan, "Aku akan memberikan keharumanku kepada orang baik dan tidak kepada orang jahat"? Dapatkah Anda membayangkan sebuah lampu menolak bersinar karena akan dipakai oleh orang jahat? Renungkanlah dengan penuh kekaguman kebaikan bunga mawar dan lampu yang demikian sempurna, inilah sifat cinta yang pertama: tidak membeda-bedakan.

Sifat cinta yang kedua adalah cuma-cuma atau tanpa pamrih. Seperti bunga mawar dan lampu, cinta memberi dan tak meminta balas jasa. Apakah Anda bersikap baik terhadap orang-orang yang memenuhi keinginan dan harapan Anda, serta sebaliknya bersikap negatif terhadap mereka yang tidak memerhatikan Anda? Untuk dapat mencinta tanpa pamrih Anda perlu melihat, apakah selama ini yang Anda sebut cinta itu hanya sebagai kamuflase atas egoisme dan keserakahan Anda. Dengan melihat, Anda mengambil langkah besar ke dalam cinta tanpa pamrih.

Sifat cinta yang ketiga adalah tidak sadar akan dirinya. Cinta begitu bahagia dengan mencinta, sehingga tak mengingat-ingat kebaikan yang pernah dilakukannya. Seperti lampu yang senantiasa bersinar tanpa peduli bermanfaat atau tidak. Seperti bunga mawar yang menebarkan keharumannya tanpa peduli ada atau tidak orang yang menciumnya. Cinta begitu saja ada, tanpa perlu memiliki objek.

Sifat cinta yang keempat adalah bebas. Saat paksaan, kendali, atau konflik muncul, cinta mati. Lampu tidak akan memaksakan cahayanya, biarpun Anda sedang terseok-seok dalam kegelapan. Setiap kali Anda menyerah pada kendali dan paksaan, Anda merusak kemampuan kodrati Anda untuk mencinta, karena Anda hanya melakukan apa yang orang lain lakukan terhadap diri Anda.

Renungkanlah semua kendali dan paksaan dalam hidup Anda. Kiranya permenungan itu akan menghancurkan kendali dan paksaan. Saat paksaan dan kendali hilang, kebebasan muncul. Kebebasan adalah kata lain untuk cinta.

Dari: Buku Dipanggil untuk Mencinta - Kumpulan Renungan, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Kanisius, 1997)