Cari Blog Ini

Minggu, 03 Juli 2011

Kemanunggalan Menakjubkan

Ketika realitas bisa diselami pada tataran tertingginya, 
seseorang telah mencapai tingkat kebijaksanaan yang  disebut 
pikiran non-diskriminatif – sebuah kemanunggalan menakjubkan,
di mana tidak ada lagi pembedaan antara subjek dan objek.

                                                                              - Thich Nhat Hanh

(Dari: Buku Keajaiban Hidup Sadar, karya Thich Nhat Hanh. Penerbit Karaniya, 2010)

Sabtu, 02 Juli 2011

Di Manakah Tuhan Ditemukan?

Dalam segala keadaan, orang mencari Tuhan. Terlebih saat orang mengalami penderitaan, kekecewaan, kegagalan, keterbatasan. Orang sering mencari Tuhan di luar dirinya, padahal Tuhan sudah ada di dalam dirinya dan melingkupi dirinya. DIAlah yang memungkinkan manusia hidup, bergerak, dan ada.


Segala sesuatu yang kita butuhkan untuk tetap hidup sudah tersedia di hadapan kita dua puluh empat jam setiap hari: udara, air, api, bumi, sinar matahari, napas, dan lainnya. Apakah kita bisa menikmati bersihnya udara, segarnya air, hangatnya sinar matahari, indahnya napas, dan seterusnya? Semuanya bergantung pada kesadaran. Kalau tak pernah sadar, maka kita tidak tahu bagaimana menikmati realitas itu. Kita belum sungguh-sungguh menikmati kehidupan dan apa yang membuat kita tetap hidup. 

Tuhan pun tersedia bagi kita dua puluh empat jam setiap hari. Olah kesadaran menghantar kita berjumpa secara langsung denganNya. Lihatlah hubungan yang begitu dekat antara ikan dengan air. Ikan  dilingkupi oleh air. Bahkan dalam diri ikan, terdapat unsur-unsur air. Tanpa air, ikan tak mungkin bisa hidup, bergerak, dan ada.

Manusia  seperti ikan dan Tuhan  seperti lautan air. Tuhan melingkupi manusia secara menyeluruh dan mendalam. Ia ada di dalam, sekaligus di luar diri manusia. Ia ada di mana-mana secara umum dan tidak ada di mana-mana secara khusus. Tanpa Tuhan, manusia tak mungkin bisa hidup, bergerak, dan ada. Bisakah kita melihat kebenaran itu secara aktual, bukan sebatas pikiran?

(Dari: Buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2009)

Jumat, 01 Juli 2011

Kios Kebenaran

Ketika aku melihat papan nama pada kios itu, hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kubaca: KIOS KEBENARAN. Mereka menjual Kebenaran di sana!

Gadis penjaga kios bertanya dengan amat sopan, “Kebenaran macam apa yang ingin dibeli? Sebagian Kebenaran atau seluruh Kebenaran?” Tentu saja, seluruh Kebenaran! Aku tak perlu menipu diri, mengadakan pembelaan diri, atau rasionalisasi lagi. Aku menginginkan kebenaranku terang, terbuka, penuh, dan utuh. Ia memberi isyarat, agar aku menuju ke bagian lain dalam kios itu, yang menjual Kebenaran yang utuh.

Pemuda penjaga kios yang ada di sana memandangiku dengan rasa kasihan dan menunjukkan daftar harga. “Harganya amat tinggi, tuan,” katanya. “Berapa?” tanyaku mantap, karena ingin mendapat seluruh Kebenaran, berapa pun harganya.

“Kalau tuan membelinya, kata penjaga kios, “Tuan akan membayarnya dengan kehilangan semua ketenangan dalam seluruh sisa hidup tuan.”

Aku keluar dari kios itu dengan rasa sedih. Aku mengira, aku dapat memperoleh seluruh Kebenaran dengan harga murah. Aku masih belum siap menerima Kebenaran. Terkadang aku mendambakan ketenangan. Aku masih perlu sedikit penipuan diri dengan membela dan membenarkan diri. Aku masih ingin berlindung di balik kepercayaan-kepercayaanku yang tak boleh dipertanyakan.  

(Dari: Buku Burung Berkicau, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka, 1984)

Kamis, 30 Juni 2011

Lima Pelajaran dari Angsa

Thomas J. Watson (1874-1956), mantan Presiden IBM yang diakui dunia sebagai wiraniaga (salesman) terhebat, pernah mengemukakan paradigma berdasarkan pengamatannya terhadap angsa yang terbang dalam suatu formasi. Ia lalu mengembangkan lima pelajaran sangat berguna dari pengamatannya itu.

Ketika setiap burung mengepakkan sayapnya, ia menciptakan suatu ketinggian bagi burung-burung lain yang mengikutinya. Dengan terbang dalam formasi berbentuk "V", seluruh kawanan burung dapat menambah jarak terbang 71% lebih jauh dibandingkan jika setiap burung terbang sendirian. Pelajaran 1: Orang-orang yang memiliki arah yang sama dan rasa kebersamaan yang tinggi, dapat mencapai tujuan dengan lebih baik dan lebih cepat.

Ketika seekor angsa keluar dari formasi, ia akan merasa ada tarikan dan perlawanan terhadap upayanya terbang sendirian. Segera ia akan kembali ke formasi untuk menimba "kekuatan tarikan" dari burung yang ada di depannya. Pelajaran 2: kita dapat tetap berada dalam formasi kita saat ini dengan mengikuti pimpinan dan memberikan diri kita bagi orang lain.

Ketika angsa yang memimpin merasa lelah, ia berputar ke belakang, masuk dalam formasi. Angsa lain mengambil alih posisi pimpinan. Pelajaran 3: Kita hendaknya selalu siap bergilir melakukan tugas sulit,  berbagi tanggung jawab.

Angsa-angsa yang ada di belakang bersuara untuk menyemangati angsa-angsa yang ada di depan, agar menjaga kecepatan. Pelajaran 4: Kita perlu memastikan, suara kita dari belakang memang benar-benar menyemangati, bukan sebaliknya.

Ketika seekor angsa sakit, terluka, atau tertembak, beberapa angsa lain tampak keluar dari formasi. Mereka terbang menurun mengikuti angsa itu untuk menolong dan melindunginya. Mereka terbang merapat sampai angsa itu mampu terbang kembali atau mati. Kemudian, mereka melanjutkan terbang dengan formasi lain atau mengejar kawanannya. Pelajaran 5: Jika kita memiliki kepekaan seperti angsa, kita juga akan berada di sisi satu sama lain pada saat-saat sulit, sehingga kita dapat saling menguatkan.
  
(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna - 100 Cerita Bijak jilid ke-6, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2004)

Rabu, 29 Juni 2011

Mencari Sesuatu untuk Ditemukan

Seorang ibu dan putrinya menyusuri gemerlapnya jalan Fifth Avenue di New York. Gadis kecil itu terus menunduk melihat ke jalan. "Mengapa engkau tidak memandangi jendela toko-toko yang semua dihiasi begitu indah?" tanya sang ibu.

"Saya sedang mencari sesuatu," jawab putrinya.

"Apa yang sedang kau cari?" tanya ibunya lagi.

"Saya mencari sesuatu untuk ditemukan."

Bukankah kita seperti putri kecil itu? Terlalu sering menapaki hidup dengan mata tertuju ke bawah, mencari sesuatu untuk ditemukan, sehingga tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekitar kita?

(Dari Buku Rangkaian Kisah Bermakna - 100 Cerita Bijak jilid ke-6, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2004) 

Kunyahlah Sendiri

Seorang murid mengeluh kepada Gurunya, “Bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami.”

Jawab Sang Guru, “Bagaimana pendapatmu, Nak, seandainya seseorang menawarkan buah kepadamu, namun mengunyahnya lebih dulu bagimu?”

Tak seorang pun dapat menemukan pengertian yang paling tepat bagi dirinya sendiri. Sang Guru pun tidak mampu.

(Dari: Buku Burung Berkicau, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka, 1984)

Yang Paling Dekat dengan Segala Pemikiran

 Kelunakan dan kelenturan air mengatasi kekerasan dan kekuatan batu. Perubahan mengatasi ketidakberubahan.

Air yang tak berbentuk mengambil bentuk segalanya. Pikiran yang tidak berubah tak dapat memahami perubahan segalanya. 

Pikiran yang bergumul tidak dapat memahami kelenturan segalanya.

Orang bijak mengetahui lebih sedikit dari siapa pun, maka paling memenuhi syarat untuk mengajar semua orang. Orang bijak tak berpegang pada satu pemikiran, paling dekat dengan semua pemikiran.

Pada mulanya, yang benar tampaknya benar. Setelah dipikirkan dengan saksama, yang benar menjadi salah. Akhirnya, segalanya tampak benar sekaligus salah, baik sekaligus buruk, betul sekaligus salah, ya sekaligus tidak. Persis di tengah-tengahnya, orang bijak mengajarkan apa yang perlu diajarkan, bukan apa yang seharusnya diajarkan.

(Dari: Buku Tao Kehidupan – Ajaran Lao Tzu yang Diadaptasi untuk Zaman Baru, karya Ray Grigg. Penerbit Lucky Publishers, 2002)