Setiap orang yang mengunjungi museum, pasti menginjakkan kaki di hamparan lantai marmer sambil melihat dengan penuh kekaguman pada patung marmer di dekat pintu.
Pemandangan yang terjadi setiap hari ini membuat lantai marmer marah kepada patung marmer.
"Ini tidak adil! Setiap hari aku diinjak-injak orang seperti keset. Padahal, kita berasal dari tempat yang sama. Tetapi, coba lihat. Kamu selalu dikagumi orang, sedangkan aku tidak diacuhkan," kata lantai marmer kepada patung marmer.
"Sobat," tanggap patung marmer, "Kita memang berasal dari batu gunung yang sama. Mungkin kamu sudah lupa dengan apa yang terjadi setelah itu? Ketika sang pemahat memotong kita dari lereng gunung, kemudian kamu menolak peralatan pahat yang hendak mengukirmu."
"Tentu saja aku tidak mau. Tindakan itu menyakitkan. Aku tidak perlu dibentuk," kata lantai marmer.
"Itulah. Karena kamu melawan ketika hendak dipahat, akhirnya sang pemahat memilih aku. Aku bersedia menanggung segala penderitaan dan rasa perih akibat pahat," ujar patung marmer.
"Wah, aku tidak terpikir sampai ke situ," kata lantai marmer lagi.
"Kamu menyerah di tengah jalan. Makanya, sekarang tak perlu menyesal. Jangan salahkan aku dan orang-orang yang menginjakmu," tandas patung marmer.
(Dari: Buku Tidak Ada Makan Siang Cuma-Cuma - 75 Kumpulan Cerita Bijak, karya Yustinus Sumantri Hp., S.J. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama, 2006)
Cari Blog Ini
Selasa, 23 April 2013
Minggu, 21 April 2013
Orang Miskin
Orang yang benar-benar miskin
bukanlah orang yang kekurangan uang, tetapi orang yang kekurangan kegembiraan batin.
Swami Chinmayananda (1916-1993), Guru Spiritualitas asal India
(Dari: Buku Untaian 1000 Kata Bijak, karya Dr. Rm. Sudi Yatmana. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama, 2007)
bukanlah orang yang kekurangan uang, tetapi orang yang kekurangan kegembiraan batin.
Swami Chinmayananda (1916-1993), Guru Spiritualitas asal India
(Dari: Buku Untaian 1000 Kata Bijak, karya Dr. Rm. Sudi Yatmana. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama, 2007)
Cantik dari Hatimu
Ada kenalan baru yang ingin bertemu untuk membicarakan suatu hal. Karena anaknya sedang dirawat di rumah sakit, kami berjanji bertemu di sana.
Setiba di kamar perawatan, tampak seorang perempuan sedang bersama anak itu. Karena belum pernah bertatap muka, aku mengira perempuan itu adalah ibu si anak kelas 1 SMA yang sedang sakit.
Saat memperkenalkan diri dengan memanggilnya "ibu," perempuan itu marah besar. Dengan ketus ia berkata, "Sudah jelas situ lebih tua dari saya!" Rupanya, ia tak mau dipanggil dengan sebutan ibu, karena ternyata ia adalah guru les yang sedang memberikan kursus kepada anak yang sedang sakit tersebut.
Sama sekali tak menduga, di rumah sakit - ketika pasien seharusnya beristirahat, masih bisa digelar kursus. Beberapa menit kemudian, kursus berakhir. Si nona pengajar kursus berkemas, bergegas meninggalkan kamar perawatan tanpa menoleh, apalagi tersenyum.
Baru kali ini ada orang yang begitu marah dipanggil "ibu." Sebegitu berartikah penampilan dan kecantikan lahiriah? Bukankah kelak ia pun akan dipanggil dengan sebutan "ibu"?
"You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik, cantik dari hatimu...." senandung sekelompok remaja putri dari girl band Cherry Belle. Seandainya si nona tadi tersenyum dan dengan lembut mengatakan, "Maaf, saya bukan ibunya...," tentu sinar keindahan batinahnya akan memancar dan menambah kecantikan lahiriahnya.
(Pengalaman seorang sahabat)
Setiba di kamar perawatan, tampak seorang perempuan sedang bersama anak itu. Karena belum pernah bertatap muka, aku mengira perempuan itu adalah ibu si anak kelas 1 SMA yang sedang sakit.
Saat memperkenalkan diri dengan memanggilnya "ibu," perempuan itu marah besar. Dengan ketus ia berkata, "Sudah jelas situ lebih tua dari saya!" Rupanya, ia tak mau dipanggil dengan sebutan ibu, karena ternyata ia adalah guru les yang sedang memberikan kursus kepada anak yang sedang sakit tersebut.
Sama sekali tak menduga, di rumah sakit - ketika pasien seharusnya beristirahat, masih bisa digelar kursus. Beberapa menit kemudian, kursus berakhir. Si nona pengajar kursus berkemas, bergegas meninggalkan kamar perawatan tanpa menoleh, apalagi tersenyum.
Baru kali ini ada orang yang begitu marah dipanggil "ibu." Sebegitu berartikah penampilan dan kecantikan lahiriah? Bukankah kelak ia pun akan dipanggil dengan sebutan "ibu"?
"You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik, cantik dari hatimu...." senandung sekelompok remaja putri dari girl band Cherry Belle. Seandainya si nona tadi tersenyum dan dengan lembut mengatakan, "Maaf, saya bukan ibunya...," tentu sinar keindahan batinahnya akan memancar dan menambah kecantikan lahiriahnya.
(Pengalaman seorang sahabat)
Kamis, 18 April 2013
Beri Kesempatan Kepada Orang Lain
Suatu hari, seorang wanita mendekati Presiden Abraham Lincoln dengan sikap agak angkuh. "Bapak Presiden," katanya penuh semangat, "Anda harus menganugerahi pangkat kolonel kepada anak saya. Saya minta ini bukan karena kebaikan hati, tetapi sebagai hak. Mendiang kakek saya dulu bertempur di Lexington. Paman saya satu-satunya orang yang tidak lari dari Bladensburg. Ayah saya bertempur di New Orleans, dan suami saya tewas di Monterey."
"Nyonya," jawab Presiden Lincoln dengan tenang, "Keluarga Anda telah berjasa besar terhadap negeri ini. Sekarang, tiba waktunya untuk memberi kesempatan kepada orang lain." (Edmund Fuller)
(Dari: Buku Tidak Ada Makan Siang Cuma-Cuma - 75 Kumpulan Cerita Bijak, karya Yustinus Sumantri Hp., S.J. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama, 2006)
"Nyonya," jawab Presiden Lincoln dengan tenang, "Keluarga Anda telah berjasa besar terhadap negeri ini. Sekarang, tiba waktunya untuk memberi kesempatan kepada orang lain." (Edmund Fuller)
(Dari: Buku Tidak Ada Makan Siang Cuma-Cuma - 75 Kumpulan Cerita Bijak, karya Yustinus Sumantri Hp., S.J. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama, 2006)
Menjadi Berbeda
![]() |
| Katherine Mansfield |
- Katherine Mansfield,
penulis cerpen modern asal Selandia Baru (1888-1923)
(Dari: Buku Chicken Soup for the Soul - Think Positive, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Amy Newmark. Penerbit Gramedia, 2012)
Senin, 15 April 2013
Kesalahan yang Disadari
Entah mengapa, setiap kali kendaraan saya berhenti di lampu merah, selalu ada pengemudi di belakang saya yang membunyikan klakson kendaraannya seolah menyuruh pengemudi di depannya segera melaju - padahal lampu lalu lintas masih menyala merah.
Entah mengapa juga, pengemudi yang ada di bagian depan seolah menerima begitu saja perintah melalui bunyi klakson tersebut. Perlahan-lahan mereka maju, sekalipun lampu lalu lintas tampak belum berubah warna.
Tidak jarang jika saya sengaja bertahan, kendaraan saya diketuk dari luar oleh pengatur jalan amatiran yang menyuruh saya maju. Saya sangat yakin, semua pengemudi yang melanggar pastilah menyadari kesalahan yang mereka lakukan, tetapi mereka seolah memakluminya. Banyak orang menerima hal itu sebagai kesalahan yang disadari.
Ketika setiap kita tidak peduli akan pelanggaran dan kesalahan orang lain, serta membiarkannya mengulang kesalahan yang sama, hasilnya adalah kesalahan yang dilakukan bersama-sama.
Marilah kita belajar menjadi "malaikat" yang saling mengingatkan, demi menolong diri kita sendiri dan orang lain untuk menyadari kesalahan dan melakukan yang benar.
(Dari: Buku Momen Inspirasi - Renungan Bagi Kesehatan Jiwa jilid ke-3, karya Imanuel Kristo. Penerbit Andi - Yogyakarta, 2012)
Entah mengapa juga, pengemudi yang ada di bagian depan seolah menerima begitu saja perintah melalui bunyi klakson tersebut. Perlahan-lahan mereka maju, sekalipun lampu lalu lintas tampak belum berubah warna.
Tidak jarang jika saya sengaja bertahan, kendaraan saya diketuk dari luar oleh pengatur jalan amatiran yang menyuruh saya maju. Saya sangat yakin, semua pengemudi yang melanggar pastilah menyadari kesalahan yang mereka lakukan, tetapi mereka seolah memakluminya. Banyak orang menerima hal itu sebagai kesalahan yang disadari.
Ketika setiap kita tidak peduli akan pelanggaran dan kesalahan orang lain, serta membiarkannya mengulang kesalahan yang sama, hasilnya adalah kesalahan yang dilakukan bersama-sama.
Marilah kita belajar menjadi "malaikat" yang saling mengingatkan, demi menolong diri kita sendiri dan orang lain untuk menyadari kesalahan dan melakukan yang benar.
(Dari: Buku Momen Inspirasi - Renungan Bagi Kesehatan Jiwa jilid ke-3, karya Imanuel Kristo. Penerbit Andi - Yogyakarta, 2012)
Minggu, 14 April 2013
Harapan
Beberapa orang melihat ujung tanpa harapan, beberapa lainnya melihat harapan yang tak berujung.
- anonim
(Dari: Buku Chicken Soup for the Soul - Think Positive, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Amy Newmark. Penerbit Gramedia, 2012)
- anonim
(Dari: Buku Chicken Soup for the Soul - Think Positive, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Amy Newmark. Penerbit Gramedia, 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)






