Cari Blog Ini

Kamis, 13 September 2012

Teladan

Seorang ibu yang risau datang bersama putrinya menemui Mahatma Gandhi. Ia menuturkan, putrinya punya kebiasaan makan jajanan manis berlebihan. "Dapatkah Guru berbicara kepada anakku dan meyakinkannya, agar mau menghentikan kebiasaan yang tidak sehat itu?" sang ibu memohon.

Gandhi diam sejenak, kemudian berkata, "Bawalah kembali putrimu setelah tiga minggu. Saya akan berbicara kepadanya." Ibu itu pergi dan melakukan seperti yang dikatakan Gandhi.  

Kali ini Gandhi dengan tenang mendekati anak itu dan dengan beberapa kata sederhana menunjukkan dampak buruk makan terlalu banyak jajanan manis. 

Sambil berterima kasih kepada Gandhi atas nasihat bijaknya, ibu itu bertanya, "Mengapa Guru tidak menasihatinya tiga minggu lalu?"

"Tiga minggu lalu, saya sendiri masih ketagihan makan jajanan manis. Bagaimana mungkin saya menasihati putrimu?" (Donald Nichol)

(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)

Selasa, 11 September 2012

Berjalan dengan Penuh Kesadaran

Cinta dan kepercayaanku kepada Tuhan tak pernah berhenti bertumbuh, sejak saat pertama kali aku menyadari bahwa meskipun Ia Tuhan, Ia juga manusia. Ia tidak terkejut oleh kerapuhan kita atau kegagalan kita yang terus terjadi.

Aku berbicara denganNya sebagai seorang sahabat, walaupun Ia adalah Tuhanku. Aku tidak menganggapnya sebagai salah satu dewa dunia ini, yang memperdengarkan diri hanya pada saat tertentu dan berbicara hanya kepada orang tertentu. Bila seorang manusia berurusan dengan dewa-dewa, harus melalui berbagai pendekatan, meminta bantuan para perantara, dan sebelumnya melaksanakan berbagai upacara yang rumit. 

Tetapi Tuhanku tidak memerlukan perantara, ketika kita memperkenalkan diri  kepadaNya. Kita tak perlu merasa takut pada apa pun, bila berjalan dalam kebenaran di hadapan yang Mahakuasa dengan penuh kesadaran.

(Dari: Buku Jangan Biarkan Apa pun Mengganggumu - 30 Hari Bersama Mahaguru Spiritual Teresa dari Avila, editor serial John Kirvan. Penerbit Obor, 2012)
 

Sabtu, 08 September 2012

Jangan Terlalu

Sederet anak tangga yang panjang mengakhiri suatu pendakian ke puncak sebuah gunung di China. Selama lebih dari seribu tahun banyak peziarah datang dan pergi, sehingga anak-anak tangga itu menjadi licin dan berbahaya. Sejumlah peziarah terjatuh dan terluka.

Penduduk sekitar telah meminta para rahib untuk membangun kembali anak-anak tangga itu, karena khawatir usaha mereka menyediakan penginapan bagi para peziarah terancam gulung tikar. Tetapi pemimpin biara itu menolak.

"Sungguh patut disesalkan," kata pemimpin biara. "Beberapa peziarah telah menderita luka. Hal ini terjadi tak lain karena mereka menengadahkan kepala mereka terlalu tinggi. Mereka telah belajar bahwa dalam hidup ini orang harus melangkah dengan hati-hati, mengangkat kepala sedikit tinggi, tetapi jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat melihat perangkap; namun jangan juga menundukkan kepala terlalu rendah sehingga kehilangan pandangan ke langit. (Tom Robertson)

(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)

Kamis, 06 September 2012

Kejujuran

Sekelompok guru yang masih berusia muda sedang menjalani ujian rutin. Di salah satu bagian tes, mereka menemukan daftar panjang judul buku-buku berikut pengarangnya. Peserta ujian diminta memberi tanda pada judul buku-buku yang telah dibacanya.

Ketika tim penguji memeriksa lembaran-lembaran jawaban para guru itu, mereka menemukan bahwa sepertiga dari para guru telah membaca hampir semua buku yang ada dalam daftar tersebut. Bahkan ada beberapa guru yang telah membaca semua buku yang terdaftar di situ.

Hal ini sama sekali tidak membuktikan bahwa para guru tersebut adalah pembaca yang baik. Malah justru membuktikan, kebanyakan dari mereka adalah pembohong. Sebab, 25 dari 50 judul buku yang ada dalam daftar itu sebenarnya tidak pernah ada. Separuh dari judul buku-buku tersebut semata hasil rekaan para penguji untuk mengetahui kejujuran para guru.

(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)

 

Selasa, 04 September 2012

Menjadi Sahabat

Restoran Maxim, Paris
Suatu malam sekitar tahun 1900, sepasang suami istri asal Hungaria yang baru menikah bersantap malam di sebuah restoran kecil di Paris. 

Ketika hendak membayar, sang suami sangat terkejut mengetahui dompetnya telah dicuri. Tiket kapal untuk kembali ke Wina juga ikut raib. Pelayan resto tak percaya kepada mereka dan menghadirkan pemilik resto.

Ada sesuatu dalam diri sang suami yang membuat pemilik resto percaya. Bahkan ia membelikan mereka tiket kapal untuk pulang ke Wina. Pemuda ini lalu berkata, "Tuan, Anda tidak pernah akan menyesali kemurahan hati Anda ini. Saya berjanji akan membuat Anda dan resto Anda terkenal. Saya akan menulis sebuah opera dan memasukkan resto Anda di dalamnya." Pemilik resto itu tersenyum. Ia berkata sudah senang jika uangnya kembali.

Pemuda tersebut, Franz Lehar, komposer opera (1870-1948) memegang teguh janjinya. Ia menulis opera berjudul The Merry Widow yang kemudian terkenal dengan salah satu lagu terkait resto Maxim di dalamnya. 

Opera The Merry Widow masih terus ditonton setelah 90 tahun digelar. Dan karena opera itu, hingga sekarang orang-orang yang berkunjung ke Paris menyempatkan mampir ke restoran Maxim. Semua itu terjadi karena pemilik resto yang hidup kira-kira seratus tahun silam mau menjadi sahabat bagi komposer asing yang sedang tak punya uang sepeser pun. (Romance, Rhytm and Ripley)

(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
 

Minggu, 02 September 2012

Menghargai dengan Lebih Baik

Seorang filsuf, keliru menggunakan palu, mencederai salah satu ibu jarinya. "Kejadian yang buruk," kata temannya. Tetapi sang filsuf menanggapi, "Sama sekali tidak buruk, justru hal terbaik yang pernah terjadi atas diri saya. Kejadian  ini mengajarkan saya untuk menghargai ibu jari saya. Sesuatu yang tidak saya sadari sebelumnya. Setelah ibu jari saya terluka, saya hitung ada 257 hal yang saya lakukan dengan ibu jari saya setiap hari dalam hidup saya, tanpa berpikir. Sekarang saya sadar, sesungguhnya ibu jari tak terpisahkan dari saya."

Sering kali kita tidak menghargai anugerah-anugerah paling sederhana dalam hidup kita, sampai kita kehilangan semua itu. Mungkin baik jika segala sesuatu yang kita miliki lenyap untuk beberapa waktu, kemudian kita mendapatkannya kembali. Dengan demikian kita akan menghargai hal-hal yang hilang itu dengan lebih baik. (Sunshine)

(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)  
 

Sabtu, 01 September 2012

Memahami Diri

Memahami "diri" adalah mengubah. Kalau sungguh ada pemahaman akan "diri," maka pemahaman itu sendiri mengubah.

Pemahaman yang dimaksud di sini bukan pemahaman intelektual, tetapi pemahaman yang hanya muncul kalau ada kesadaran (awareness) dan kesadaran hanya mungkin muncul kalau batin diam.

                                              - J. Sudrijanta, S.J.

(Dari: Buku Titik Hening - Meditasi Tanpa Objek hal. 27, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2012)