Cari Blog Ini

Selasa, 07 Februari 2012

Kanker dan Keheningan

Saya selalu ingat seorang pria yang mengikuti retret saya di Sydney bertahun-tahun lalu. Dalam retret meditasi, peserta seharusnya diam ketika bermeditasi, namun pria ini terus menarik dan menghembuskan napas lewat mulutnya dengan berisik.

Ada peserta yang menghadap saya dan mengeluhkan hal itu. Saya berkata, "Ia punya tumor di saluran pernapasannya yang memblokir kedua lubang hidungnya. Dokter-dokter sudah menyerah melakukan pengobatan. Ia datang ke sini sebagai upaya terakhir."

Pria dengan tumor itu kemudian memberitahu saya di hari terakhir retret, ia tengah bernapas keras, tanpa berpikir, hening, ketika ia mendengar bunyi "pop." Saat itu ia bisa bernapas lagi dengan hidungnya. Saluran hidungnya terbuka, namun hanya sekitar 5-10 menit, lalu menutup lagi. Betapa pun, hal itu luar biasa.

Saya tak mengira ia akan bertahan hidup. Beberapa tahun kemudian, saat mengajar meditasi di Sydney, pria ini datang dan berkata, "Ajahn ingat saya?" "Tentu saja tidak. Siapa, ya?" saya harus jujur mengatakannya.

Ternyata, ia berhasil mengatasi penyakitnya dengan meditasi. Saluran napas di hidungnya telah membuka. Lalu, ia berkeliling mengajar orang-orang bagaimana menjadi damai, hening, karena kankernya telah mengalami penyusutan, padahal ia seharusnya telah meninggal bertahun-tahun lalu.

Keheningan seperti itu sangat ampuh bagi tubuh kita. Ketika kita berpikir, kita menciptakan ketegangan bagi diri sendiri dan malah memberi makan penyakit kita. 

(Dari: Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! - 108 (Lagi!) Cerita Pembuka Pintu Hati, karya Ajahn Brahm. Penerbit Awareness Publication, 2011)

Senin, 06 Februari 2012

Bergerak dalam Keheningan

Kita perlu menemukan Allah,dan kita tidak dapat menemukanNya dalam kegaduhan dan kesibukan. Lihatlah bagaimana pohon-pohon, bunga-bunga, dan rumput tumbuh dalam keheningan. Lihatlah bintang-bintang, bulan, dan matahari - bagaimana mereka bergerak dalam keheningan. 

Keheningan memberi kita pandangan baru atas segala sesuatu. Di dalam keheningan kita menemukan tenaga baru dan kesatuan yang sejati. Kekuatan Allah menjadi milik kita untuk berbuat segala sesuatu dengan baik. Keselarasan pikiran kita dengan pikiran Allah, keselarasan doa kita dengan kehendak Allah, keselarasan karya kita dengan kehidupan Allah. (Ibu Teresa dari Calcutta) 

(Dari: Buku Di Dalam Keheningan Hati - Renungan Ibu Teresa dan Kerabat Kerjanya, penyusun Kathryn Spink. Penerbit Yayasan Hidup Kristiani, 1987)

Minggu, 05 Februari 2012

Keheningan Batin

Keheningan batin membuat batin tidak terganggu dengan segala sesuatu. Kalau Anda duduk meditasi dan merasa terganggu dengan suara-suara gaduh di luar, lalu Anda berjuang menolak atau menerima suara-suara itu, batin Anda tidak hening. Siapa yang mengganggu - suara di luar mengganggu Anda atau Anda mengganggu suara di luar?

Gangguan tidak disebabkan oleh suara dari luar, melainkan reaksi batin kita sendiri terhadap datangnya suara-suara itu. Kalau batin Anda hening, tidak menolak atau menerima, Anda mendengar suara apa adanya, tanpa merasa terganggu.

Orang yang tercerahkan, batinnya tidak terganggu atau tidak mudah terganggu oleh segala sesuatu. Batinnya hening. Keheningan seperti itu tidak bisa dipupuk, tidak bisa dicari, tidak bisa dikejar dengan daya upaya. Keheningan muncul sendiri, kalau kegaduhan batin dipahami.

(Dari: Buku Meditasi sebagai Pembebasan Diri, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2011)

Mati terhadap Masa Lampau

Kesadaran meditatif membantu kita memahami siapa diri kita yang adalah kumpulan dari semua pengalaman masa lampau dan mengakhirinya. Apakah Anda mau membawa-bawa terus arus masa lampau itu sampai mati? Saatnya sekarang kita perlu mati setiap hari, mati terhadap masa lampau, sehingga setiap saat dapat hadir secara baru.

                                                       - J. Sudrijanta, S.J.

(Dari: Buku Meditasi Sebagai Pembebasan Diri, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2011)

Sabtu, 04 Februari 2012

Melampaui Bunganya

Seseorang, yang mengikuti jalan sejatinya,
secara alami kreatif, tampaknya tidak berbuat apa-apa,
ia tidak membiarkan apa pun tak terlaksana.

Seseorang yang telah kehilangan arah,
berusaha kreatif, selalu berbuat, 
tetapi tidak pernah menyelesaikan apa-apa.

Seseorang yang berada di jalannya,
tidak memusingkan soal keuntungan,
dan tidak perlu pura-pura.
Mereka tidak memusingkan kekuasaan,
dan tidak perlu meyakinkan.

Ketika orang kehilangan arah,
mungkin ia dengarkan nabi-nabi palsu,
yang mengajarkan metode-metode yang berbunga-bunga,
menyatakan jalan yang benar;
pertama kebaikan, dan ketika kebaikan hilang,
moralitas, dan ketika moralitas hilang, ritual,
dan ketika ritual hilang, kekuasaan.

Sementara orang yang sungguh-sungguh menjalani kehidupannya,
melampaui bunganya hingga ke buahnya,
ia hidup di dalam kenyataannya sendiri,
ia tahu apa yang berkenan baginya,
dan ia berusaha sebisanya. 

(Dari: Buku Tao Kehidupan yang Bertujuan, karya Judith Morgan & Andre de Zanger. Penerbit Lucky Publishers, 2003)

Jumat, 03 Februari 2012

Dibutuhkan: Pria dan Wanita Berkepribadian

Dunia membutuhkan pria dan wanita ....

Yang tidak dapat dibeli;
Yang setia terhadap kata-katanya;
Yang menempatkan kepribadian di atas kekayaan;
Yang memiliki pendapat dan kehendak yang kuat;
Yang lebih daripada pekerjaannya;
Yang tidak ragu mengambil risiko;
Yang tak kehilangan identitasnya di tengah orang banyak;
Yang jujur dalam perkara kecil, seperti dalam perkara besar;
Yang tak akan berkompromi dengan kesalahan;
Yang ambisinya tak terkungkung pada keinginan diri sendiri;
Yang tak akan mengatakan bahwa ia melakukan sesuatu "karena setiap orang melakukannya";
Yang setia kepada teman-temannya dalam keadaan baik maupun buruk;
Yang tidak percaya bahwa kelicikan dan keras kepala merupakan sifat terbaik untuk mencapai kesuksesan;
Yang tak malu atau takut membela kebenaran walau tidak disukai;
Yang dengan mantap dapat berkata "tidak", meskipun seluruh dunia berkata "ya". 

(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna - 100 Cerita Bijak jilid ke-6, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2004)

Kamis, 02 Februari 2012

Jangan Menoleh

Mencintai berarti menjadi peka terhadap kehidupan, terhadap orang lain, terhadap segala sesuatu; menaruh simpati tanpa pengecualian. Pengecualian adalah hasil pengerasan hati dan penutupan pintu hati. Saat Anda mengeraskan hati, kepekaan Anda pun mati.

Sesungguhnya tidak sulit bagi Anda untuk menemukan contoh-contoh kepekaan macam itu dalam hidup Anda. Pernahkah Anda berhenti untuk memindahkan batu atau paku di tengah jalan, supaya orang yang lewat tidak terluka? Anda tak peduli tindakan Anda tidak diketahui siapa pun dan tidak mendapat penghargaan apa pun. Anda melakukannya hanya karena kebajikan dan kemurahan hati. Di saat seperti itulah cinta muncul dalam kehidupan Anda. Itu berarti, cinta senantiasa ada dalam diri Anda dan menunggu untuk dibebaskan.

Apa yang dapat Anda lakukan agar memiliki cinta seperti itu? Tidak ada, karena cinta tersebut telah ada dalam diri Anda. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menyingkirkan penghalang yang Anda pasang pada kepekaan Anda, maka cinta itu akan muncul.

Ada dua penghalang kepekaan, yaitu kepercayaan dan kelekatan. 

Saat Anda berpegang pada kepercayaan Anda, Anda membentuk kesimpulan mengenai suatu hal, situasi, atau orang tertentu. Segera Anda terpancang pada kesimpulan Anda sendiri dan mulai kehilangan kepekaan. Anda berprasangka dan akan melihat orang itu menurut penilaian Anda. Lalu, Anda tak mau melihatnya lagi. Bagaimana Anda dapat menjadi peka pada seseorang, jika Anda tak mau melihat orang itu lagi?

Pandanglah dengan sungguh-sungguh kepercayaan-kepercayaan Anda. Hanya dengan menyadari bahwa mereka adalah kepercayaan, kesimpulan, dan prasangka - bukan refleksi atas realitas - maka semua itu akan hilang.

Lalu, bagaimana kelekatan terbentuk? Mulanya, terjadi hubungan dengan sesuatu yang memberikan kegembiraan pada Anda, seperti mobil, peralatan canggih yang menawan, kata pujian, dan persahabatan. Kemudian, timbul keinginan untuk mempertahankannya, mengulang perasaan senang yang disebabkan hal atau orang itu. Akhirnya, timbul keyakinan dalam diri Anda bahwa Anda tidak bahagia tanpa sesuatu atau orang itu. 

Anda telah menganggap kesenangan yang diakibatkannya sama dengan kebahagiaan. Lalu muncullah sikap tertutup terhadap yang lain, tidak peka terhadap segala sesuatu yang bukan bagian dari kelekatan Anda. Simfoni kehidupan terus berjalan, tetapi Anda tetap menoleh ke belakang, terikat pada beberapa melodi saja. Timbul ketidakselarasan antara apa yang ditawarkan kehidupan dan apa yang Anda lekati. Cinta dan kebebasan hanya dapat ditemukan bila orang menikmati setiap nada yang muncul dan kemudian membiarkannya berlalu, sehingga dapat peka dan tanggap terhadap nada-nada berikutnya.

Bagaimana cara melepaskan kelekatan? Orang mencoba melepaskannya dengan menolak atau menyangkal. Dengan menolak irama musik dan menghapuskannya dari kesadaran, Anda kembali mengeraskan diri sendiri. Anda cukup mengamati kebusukan dan kebejatan sifat kelekatan. Biarkanlah berlalu dan mengalir. Selanjutnya, Anda tidak menoleh ke masa lampau, melainkan hanyutlah dalam alunan musik "saat ini."

Lihatlah masyarakat di sekitar kita, busuk sampai ke intinya, terinfeksi oleh kelekatan. Orang-orang yang terikat pada kekuasaan, uang, kemakmuran, kemasyhuran, kesuksesan - dan mencari semua itu seolah-olah kebahagiaan mereka tergantung pada semua hal tersebut; malah dianggap sebagai anggota masyarakat yang produktif, dinamis, dan giat bekerja keras.
Mereka mengejar semua itu dengan penuh ambisi, hingga menghancurkan simfoni hidup mereka dan membuat mereka menjadi pribadi yang keras, dingin, serta tidak peka terhadap diri sendiri dan orang lain. 

Berapa banyakkah orang "terhormat" di sekitar Anda yang masih mempunyai kepekaan cinta yang hanya dapat diberikan oleh ketidaklekatan? Bila Anda merenungkan hal ini dengan sungguh-sungguh, Anda akan merasa jijik, hingga secara instingtif Anda akan membuang setiap kelekatan seperti melemparkan ular berbisa yang melilit Anda.

Anda akan memberontak dan melepaskan diri dari budaya busuk yang didasarkan pada keserakahan, kelekatan, kecemasan, kerakusan, kekerasan, dan ketidakpekaan, yang bukan cinta.

(Dari: Buku Dipanggil untuk Mencinta - Kumpulan Renungan, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Kanisius, 1997)