Cari Blog Ini

Jumat, 06 Januari 2012

Seperti Anak Kecil

Yang paling menyentuh dari tatapan mata seorang anak adalah kepolosannya, kesederhanaannya, dan ketidakmampuannya untuk berbohong, bertopeng, atau berpura-pura. Hanya orang dewasa yang dapat berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Ketika seorang anak dihukum dan dipaksa agar mengakui kesalahannya atau mengemukakan alasan dan perasaannya, anak itu belajar berpura-pura dan kepolosannya dihancurkan. Mereka belajar menyembunyikan jati diri mereka dari orang lain dan lama kelamaan mereka menyembunyikannya dari diri mereka sendiri. Maka, bertambahlah orang yang tak mengenal diri sendiri.

Sejauh mana kepolosan masa kanak-kanak masih ada dalam diri Anda? Masih adakah orang yang sedemikian rupa, sehingga di hadapannya Anda bersikap sungguh-sungguh apa adanya, terbuka, dan polos bagaikan seorang anak?

Kepolosan masa kanak-kanak dapat hilang dengan cara lebih halus, ketika anak dipengaruhi oleh keinginan menjadi orang lain - "seseorang" yang sukses, terkenal, dan berkuasa. Mereka ingin menjadi sesuatu yang menghasilkan kejayaan dan pengembangan diri, bukan yang menghasilkan pemenuhan diri.

Lihatlah kehidupan Anda sehari-hari. Adakah pikiran, kata, atau tindakan Anda yang bersih dari keinginan untuk menjadi "seseorang," juga seandainya yang Anda kejar itu hanya kesuksesan dalam hidup kerohanian atau sekadar menjadi seorang saleh yang tak terkenal?

Orang-orang dewasa yang mempertahankan kepolosan mereka akan menyerah pada dorongan alam tanpa memikirkan untuk menjadi seseorang atau membangkitkan kekaguman orang lain. Tetapi, berbeda dengan anak kecil yang menyandarkan diri pada naluri, orang-orang dewasa menyandarkan diri pada kesadaran terus-menerus akan sesuatu di dalam dan di luar diri mereka. Kesadaran itu melindungi mereka dari kejahatan dan menghasilkan pertumbuhan seperti yang dikehendaki alam, bukan seperti yang dirancang oleh ego yang ambisius.

(Dari: Buku Dipanggil untuk Mencinta - Kumpulan Renungan, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Kanisius, 1997)

Kamis, 05 Januari 2012

Membuka Pintu Hati

Waktu itu aku membutuhkan cinta, tanpa sadar aku mencarinya dengan sia-sia.
Bagaimana aku bisa mendapatkannya?

Aku hanya mampu melihat diriku sendiri dengan persoalan-persoalanku,
ketidaksenanganku, dan kegelisahanku...
Bagaimana aku mungkin memberikan cinta, bila aku memusatkan perhatian pada diriku sendiri?

Perlahan aku berjalan menyusuri suatu jalan besar. Betapa banyak orang lalu-lalang dengan wajah muram dan sedih. Mereka memikirkan sesuatu yang tak berarti bagiku.

Mereka semua sedang memikirkan persoalan-persoalan mereka, seperti aku memikirkan persoalan sendiri. Mereka lalu-lalang seperti bayang-bayang saja, tanpa menyadari bahwa di samping mereka ada orang-orang yang ingin mendengar sapaan mereka...

Tak kudapati cinta pada wajah mereka yang kujumpai.
Aku ingin berhadapan muka dengan cinta,
aku merasa mampu mendapatkannya.

Aku memasuki jalan ke luar kota. Di sana juga banyak orang lalu-lalang, entah ke mana. Kulihat seorang kakek buta duduk di kaki lima di samping anjingnya. Ia berbicara dengan anjingnya, entah apa yang dibicarakannya. Orang tak punya waktu untuk berhenti dan bertukar kata dengan kakek itu.

Pemandangan ini mengena di hatiku. Aku terdorong mendekati kakek itu dan menyapanya. Wajah si kakek menjadi cerah, ketika didengarnya suara manusia. Ia mulai mencurahkan isi hatinya.

Tak terkatakan betapa gembira aku malam itu.
Aku sadar ada seseorang di dunia ini yang membutuhkanku.
Aku tidak seorang diri.

Pandanganku diperluas. Aku kembali dilimpahi kehidupan.
Aku hidup karena cinta, aku telah menemukannya,
justru dalam diri kakek buta yang malang itu.

Aku menghirup kesegaran hidup ini,
ketika aku membuka pintu hatiku untuk cinta.

(Dari: Buku Gairah Masa Remaja, saduran dari buku Life, Love, Lifts oleh Staf Cipta Loka Caraka, 1980)

Rabu, 04 Januari 2012

Yang Manakah Aku?

Ada orang yang menjalani kehidupan dan menyukainya,
mereka yang membenci kehidupan dan bermain-main dengan maut,
serta mereka yang hanya melalui kelahiran hingga kematian tanpa hidup.

Yang manakah aku selama ini? Yang manakah seharusnya aku sekarang?

Aku mulai menekuni jalan pencerahan,
di mana kuterima hidup maupun mati sebagai tatanan alami dari segalanya.

Kehidupanku akan terbebaskan dari takut mati, kebosanan, kekerasan, dan kepengecutan, serta akan dipenuhi dengan keindahan, kedamaian, dan sukacita spontan.

Masa silam telah lewat, masa depan ada di sini, sekarang...
aku sudah siap.

(Dari: Buku Tao Pemulihan, karya Jim McGregor. Penerbit Lucky Publishers, 2003)

Selasa, 03 Januari 2012

Bebas dari Rasa Takut

Bebas dari rasa takut bukan lawan dari ketakutan, bukan pula identik dengan keberanian.

Bebas dari rasa takut membuat batin terbuka tanpa batas, dan peka terhadap kehidupan yang lebih luas. 

Batin seperti ini tidak lagi berpusat pada diri sendiri. 
Batin yang bebas secara total dari rasa takut adalah 
batin yang hidup dalam kasih seutuhnya. 

                                                   - J. Sudrijanta, S.J.

(Dari: Buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2009)

Adakah Awan Lain?

.... Kau berkata bahwa aku adalah pelukis dan penyair. Aku bukan pelukis, May, juga bukan penyair. Aku menghabiskan hari-hariku untuk melukis dan menulis, namun aku tidak menyatu dengan hari-hariku. 

Aku adalah awan, May, awan yang membaur dengan benda-benda, namun tak pernah menyatu dengannya. Akulah sang awan, dan dalam awan itu terdapat kesunyianku, kesendirianku, lapar dan hausku.  

Tetapi yang membuat duka hatiku ialah bahwa awan itu, yang menjadi kenyataan diriku, merindukan seseorang yang berkata, "Di dunia ini engkau tidak sendiri, tetapi kita bersama. Aku tahu siapa dirimu."

Katakanlah, May, adakah di sana seseorang lain yang mampu dan rela mengatakan kepadaku, "Akulah sang awan yang lain. Wahai, awan, marilah kita menebarkan diri di atas bukit-bukit dan di lembah-lembah. Marilah kita berjalan-jalan di atas pepohonan dan di sela-selanya, marilah menutup batu-batu karang yang tinggi, marilah menembus hati umat manusia, marilah mengembara ke tempat-tempat jauh yang tak dikenal dan berpagar benteng." (Surat Kahlil Gibran kepada May Ziadah, tahun 1926)

*Catatan: Kahlil Gibran (1883-1931) seniman dan penulis asal Lebanon yang tinggal di New York City, Amerika Serikat, menjalin kasih lewat surat-menyurat selama 19 tahun dengan May Ziadah (1886-1941) penyair, esais, dan penerjemah asal Lebanon di Mesir, tanpa pernah bertatap muka sekali pun.   

(Dari: Buku Potret Diri Kahlil Gibran, diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh M. Ruslan Shiddieq. Penerbit Pustaka Jaya, 1997)

Senin, 02 Januari 2012

Jalan Sempit

Sekali peristiwa, Tuhan mengingatkan rakyat akan datangnya gempa bumi yang akan menghabiskan seluruh air yang ada di suatu negeri. Air yang kemudian datang menggantikan, bisa membuat setiap orang menjadi gila.

Hanya nabi yang menanggapi Tuhan dengan serius. Ia mengusung air banyak-banyak ke guanya di gunung, sehingga cukup sampai hari kematiannya.

Ternyata benar, gempa bumi sungguh terjadi. Air menghilang dan air yang baru mengisi parit, danau, sungai, serta kolam. Beberapa bulan kemudian, nabi turun ke lembah untuk melihat apa yang terjadi. Memang, semua orang telah menjadi gila. Mereka menyerang dan tidak peduli kepada nabi. Mereka semua yakin, justru dialah yang sudah menjadi gila.

Nabi lalu pulang ke guanya di gunung. Ia senang, ia masih menyimpan banyak air. Tetapi, lama-kelamaan ia merasakan kesepian yang tak tertahankan lagi. Ia ingin sekali bergaul dengan sesama manusia.  Maka, ia turun ke bawah. Sekali lagi ia diusir orang banyak, karena ia begitu berbeda dari mereka semua.

Nabi lalu mengambil keputusan. Ia membuang seluruh air yang disimpannya. Ia minum air baru dan bergabung dengan orang-orang lain, sehingga sama-sama menjadi gila.

Jika engkau mencari kebenaran, engkau akan berjalan sendirian. Jalan ini terlalu sempit untuk kawan seperjalanan. Siapakah yang dapat tahan dalam kesendirian itu?

(Dari: Buku Burung Berkicau, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka, 1984)

Minggu, 01 Januari 2012

Keindahan Tersembunyi

Saya adalah temanmu dan cinta saya kepadamu begitu dalam. Tak ada sesuatu pun yang belum kau miliki yang saya bisa berikan kepadamu. Tetapi, ada banyak, sangat banyak hal yang di satu sisi saya tidak bisa berikan, namun bisa kau ambil.

Tak ada surga yang bisa mendatangi kita, jika hati kita tidak menemukan kedamaian hari ini. Ambillah surga itu! Tak ada kedamaian di masa depan yang tak tersembunyi di masa sekarang dan saat ini. Ambillah kedamaian itu! 

Kemuraman dunia hanya sebuah bayangan. Di belakangnya, dan masih dalam jangkauanmu, ada kegembiraan. Ada pancaran dan kejayaan dalam kegelapan yang hanya bisa kita lihat kalau kita mengarahkan pandangan. Saya minta dengan sangat, agar engkau mengarahkan pandanganmu kepadanya!

Kehidupan adalah pemberi yang sangat pemurah. Tetapi kita memberi penilaian atas hadiah yang diberikan oleh kehidupan hanya lewat kulitnya, mencampakkannya sebagai hal yang jelek, berat, atau sulit. Singkirkanlah kulitnya dan di baliknya engkau akan mendapatkan keindahan yang hidup, berjalin dengan cinta, kebijakan, dan kekuatan. 

Sambutlah, genggamlah hadiah itu dan kau pun menyentuh tangan malaikat yang membawanya untukmu. Segala sesuatu yang kita sebut sebagai cobaan, kesedihan, atau kewajiban, percayalah di sana ada tangan malaikat. Hadiahnya ada di sana, begitu juga keajaiban akan sebuah kehadiran yang membuat hal lain menjadi lebih tidak penting. 

Demikian pula, janganlah memandang kegembiraan itu sebagai kesenangan saja. Kegembiraan juga menyimpan karunia-karunia Ilahi. Kehidupan begitu penuh makna dan tujuan, begitu penuh keindahan - di bawah kulit luarnya - sehingga bumi tak lain merupakan jubah surgamu.

Karena itu, milikilah keberanian untuk mendapatkannya; cuma itu. Kita semua adalah pengembara suci yang berjalan melalui negeri asal yang tak dikenal.

Saya ucapkan selamat kepadamu. Sama sekali bukan seperti dunia mengirimkan ucapan selamat - tetapi dengan rasa hormat luar biasa dan doa bahwa siang hari akan datang dan bayang-bayang akan pergi menjauh untukmu sekarang dan selamanya. (Ditulis oleh Bruder Giovanni, tahun 1513)

(Dari: Buku Hati yang Bijaksana - Renungan untuk Kehidupan yang Lebih Berarti, karya Alan Cohen. Penerbit Interaksara, 2005)