Suatu hari saat berjalan melintasi halaman vihara, saya menemukan sebuah palu tergeletak di sana. Palu itu jelas sudah cukup lama berada di situ, kelihatan dari karatnya. Saya sangat kecewa dengan kecerobohan rekan-rekan biksu. Segala yang kami gunakan adalah sumbangan. Maka, sungguh tak benar memperlakukan pemberian para penyokong dengan seenaknya.
Saya menghadiahi pecutan lidah kepada rekan-rekan biksu. Mereka perlu diberi pelajaran, agar menjaga barang-barang. Ketika saya selesai mengoceh, semua biksu duduk tegak, diam dengan muka kelabu. Saya menunggu sejenak, berharap si terdakwa mengakui perbuatannya. Tetapi tak seorang pun mengaku.
Saat saya berjalan keluar aula, tiba-tiba saya tersentak sadar mengapa tak seorang pun dapat dimintai pertanggungjawaban. Saya segera kembali ke aula. "Para biksu," saya mengumumkan, "Saya telah menemukan siapa yang meninggalkan palu di halaman. Orang itu adalah... saya!"
Saya benar-benar lupa, saya pernah bekerja memakai palu itu, tetapi karena tergesa-gesa, saya meninggalkan palu di halaman. Bahkan selama berkata-kata pedas tadi, ingatan saya masih kabur. Baru setelah selesai bicara, semua kembali kepada saya. Saya telah bertindak ceroboh. Ooooh, betapa memalukan!
Untunglah, di vihara kami ada kebijakan bahwa para biksu dimaklumi jika melakukan kesalahan. Kita semua melakukan kesalahan dari waktu ke waktu. Hidup adalah pembelajaran untuk terus mengurangi kesalahan.
(Dari: Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya - 108 Cerita Pembuka Pintu Hati, karya Ajahn Brahm. Penerbit Awarness Publication, 2011)
Cari Blog Ini
Kamis, 11 Agustus 2011
Rabu, 10 Agustus 2011
Musuh Terbesar
Jika perang terbesar adalah perang terhadap diri sendiri, maka musuh terbesar adalah kemarahan. Kemarahan dikendalikan oleh ego. Kemarahan tumbuh dengan subur di atas keterikatan diri. Seseorang yang benar-benar rendah hati, tidak bisa marah.
Dunia Keheningan tidak mengendalikan kemarahan, melainkan melepaskan diri Anda dari kemarahan, memberi Anda ruang yang cukup untuk menanganinya. Dengan menyelami keheningan di dalam diri Anda, tidak peduli betapa arogan dan egoisnya Anda, Anda akan mengalami kesulitan untuk marah. Sesungguhnya, Anda menemukan diri melangkah mundur dan tertawa sambil berkata, “Saya marah. Kenapa, ya?”
(Dari: Buku Dalam Dunia Keheningan, karya Vijay Eswaran. Penerbit Bhuana Ilmu Populer, 2010)
Selasa, 09 Agustus 2011
Membuka "si Aku"
Dulu, ada seorang hakim Arab yang terkenal karena kebijaksanaannya. Suatu hari, seorang pemilik toko datang melapor, ada barang dicuri dari tokonya, tetapi ia tak dapat menangkap pencurinya.
Hakim memerintahkan agar pintu toko dilepas dari engselnya, dibawa ke tengah pasar dan dicambuki lima puluh kali, karena tidak melakukan kewajiban menahan pencuri masuk toko.
Banyak orang berkumpul melihat hukuman aneh yang sedang berjalan. Ketika cambukan sudah dijalankan, hakim membungkuk dan bertanya kepada pintu, siapa pencurinya. Lalu, ia menempelkan telinganya ke pintu, agar dapat mendengar lebih baik apa yang dikatakan pintu.
Kemudian hakim mengumumkan, "Pintu menyatakan bahwa pencurian itu dilakukan seseorang yang membawa sarang laba-laba di atas serbannya." Segera tangan orang tertentu di tengah massa itu meraba serbannya. Rumah orang tersebut lalu diperiksa, dan barang curian ditemukan.
Yang diperlukan hanya kata yang menyanjung atau celaan untuk membuka "si aku."
(Dari: Buku Doa Sang Katak 1 - Meditasi dengan Cerita, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Kanisius, 1991)
Senin, 08 Agustus 2011
Niat Murni
Sebuah berita di vivanews.com mengusik nurani: Para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta menerima THR (Tunjangan Hari Raya) atau gaji ke-13 berkisar Rp 7 ribu sampai dengan Rp 15 ribu. Kebijakan pemberian THR mulai diberlakukan sejak tahun lalu.
Memang, sebesar itulah gaji mereka setiap bulan. Kalau piket (jaga) di Keraton selama 12 hari mendapat tambahan uang Rp 500 - jumlah ini sudah mengalami kenaikan, sebelumnya hanya memperoleh Rp 100!
Namun, penghasilan yang sangat minim itu tidak menyurutkan kesetiaan mereka. Meski tak cukup untuk menafkahi keluarga, salah satu abdi dalem juru kunci Keraton Yogyakarta, Mas Bekel Hastono Raharjo, mengaku TETAP MERASA BAHAGIA dan MENSYUKURI hadiah yang didapat itu. "Ini pengabdian, niatnya murni mengabdi, ikhlas," katanya.
Di tengah dunia yang semakin materialistis dewasa ini, ternyata masih ada segelintir orang yang hidup dalam semangat kesederhanaan dan ketulusan. Berkaca pada mereka, kita patut mensyukuri apa yang kita dapatkan, mencukupkan diri tanpa serakah, dan melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawab kita dengan niat murni dan ikhlas. Kebahagiaan berasal dari dalam diri, tanpa pengaruh dari luar.
Memang, sebesar itulah gaji mereka setiap bulan. Kalau piket (jaga) di Keraton selama 12 hari mendapat tambahan uang Rp 500 - jumlah ini sudah mengalami kenaikan, sebelumnya hanya memperoleh Rp 100!
Namun, penghasilan yang sangat minim itu tidak menyurutkan kesetiaan mereka. Meski tak cukup untuk menafkahi keluarga, salah satu abdi dalem juru kunci Keraton Yogyakarta, Mas Bekel Hastono Raharjo, mengaku TETAP MERASA BAHAGIA dan MENSYUKURI hadiah yang didapat itu. "Ini pengabdian, niatnya murni mengabdi, ikhlas," katanya.
Di tengah dunia yang semakin materialistis dewasa ini, ternyata masih ada segelintir orang yang hidup dalam semangat kesederhanaan dan ketulusan. Berkaca pada mereka, kita patut mensyukuri apa yang kita dapatkan, mencukupkan diri tanpa serakah, dan melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawab kita dengan niat murni dan ikhlas. Kebahagiaan berasal dari dalam diri, tanpa pengaruh dari luar.
Minggu, 07 Agustus 2011
Kecukupan Diri
Seseorang, dalam keadaannya yang paling baik adalah ibarat air, melayani sementara ia mengalir, memberikan kehidupan tanpa upaya, mengalir di segala tempat, menemukan tingkatan di mana prestasinya paling baik.
Seseorang, yang terhubungkan dengan rohnya, akan hidup dengan hati bersih dan terbuka, menemukan kecukupan diri, hanya dengan menjadi dirinya sendiri, secara intuitif ia mencari jalannya sendiri, dengan demikian membebaskan jalan semua orang lain.
(Dari: Buku Tao Kehidupan yang Bertujuan, karya Judith Morgan & Andre de Zanger. Penerbit Lucky Publishers, 2003)
Tidak Puas
Orang yang tak pernah dapat dipuaskan adalah
orang yang tak pernah puas dengan dirinya sendiri.
- Johann Wolfgang von Goethe
(1749-1832)
(Dari: Buku Percaya dalam Diri Sendiri, karya Earnie Larsen & Carol Hegarty. Penerbit Professional Books, 1997)
orang yang tak pernah puas dengan dirinya sendiri.
- Johann Wolfgang von Goethe
(1749-1832)
(Dari: Buku Percaya dalam Diri Sendiri, karya Earnie Larsen & Carol Hegarty. Penerbit Professional Books, 1997)
Sabtu, 06 Agustus 2011
Yang Terberat dalam Hidup
Orang-orang zaman sekarang terlalu banyak berpikir. Kalau saja mereka sedikit mengurangi proses berpikir mereka, barangkali hidup mereka akan mengalir jauh lebih lancar.
Seorang biksu junior kelahiran Australia diminta mencuci setumpuk jubah kepala vihara, padahal biksu junior itu sudah semalaman tidak tidur karena bermeditasi. Ia mengeluh dan memaki, merasakan ketidakadilan.
Saya yang telah menjadi biksu beberapa tahun, memahami apa yang sedang dialami biksu junior tersebut. “Memikirkannya, jauh lebih berat daripada mengerjakannya,” kata saya kepadanya. Ia terdiam dan memandang saya. Setelah hening sejenak, tanpa berkata apa-apa ia melanjutkan pekerjaannya.
Belakangan, ia menemui saya dan mengucapkan terma kasih. Ia paham, memikirkannya memang bagian yang terberat. Ketika ia berhenti mengeluh dan hanya menggarap cucian, sama sekali tak ada masalah.
Bagian terberat dari segala sesuatu dalam hidup adalah… memikirkannya.
(Dari: Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya – 108 Cerita Pembuka Pintu Hati, karya Ajahn Brahm. Penerbit Awareness Publication, 2011)
Langganan:
Postingan (Atom)





