Salah satu saat terbesar dalam pengalaman perkembangan setiap orang adalah
ketika ia tidak lagi mencoba bersembunyi dari dirinya sendiri, tetapi bertekad berkenalan dengan dirinya yang sebenarnya.
(Dari: Buku Berpikir Positif Setiap Hari, karya Norman Vincent Peale. Penerbit Interaksara, 2001)
Cari Blog Ini
Selasa, 26 Januari 2016
Senin, 18 Januari 2016
Setiap Trauma Menawarkan Pilihan
Sebagian besar dari kita pernah mengalami trauma. Kita punya pilihan tentang pengalaman traumatis itu akan menjadi apa bagi diri kita.
Apakah kita memilih untuk menjadikannya sebagai hal yang melukai begitu dalam, sampai akhirnya membunuh kita karena kita tak pernah mengatasinya? Atau kita memilih menjadikan pengalaman traumatis itu butiran pasir yang akan menghasilkan mutiara yang menakjubkan?
Ada hikmah tersembunyi di balik setiap trauma. Namun, diperlukan visi yang lebih dalam untuk melihatnya. Jika kita memandang trauma masa lalu dengan sudut pandang baru, kita akan melihat hikmah yang ditawarkan. Jika kita tak menerima hikmahnya, trauma itu akan menjadi bagian dari pertahanan kita, pelindung karakter diri kita.
Kesediaan kita melihat hikmah dari trauma memungkinkan kita menyingkirkan pelindung karakter diri kita. Energi lalu mengalir, sehingga bisa digunakan untuk kesehatan dan kebahagiaan kita.
Latihan
Hari ini, bayangkan Anda mengambil trauma yang pernah Anda alami, lalu menyerahkan trauma itu kepada Tuhan. Rasakanlah hikmah yang menghampiri Anda. Terimalah hikmah, kedamaian, dan pemahaman baru ini. Anda akan merasakan sebuah hidup baru muncul kembali.
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Apakah kita memilih untuk menjadikannya sebagai hal yang melukai begitu dalam, sampai akhirnya membunuh kita karena kita tak pernah mengatasinya? Atau kita memilih menjadikan pengalaman traumatis itu butiran pasir yang akan menghasilkan mutiara yang menakjubkan?
Ada hikmah tersembunyi di balik setiap trauma. Namun, diperlukan visi yang lebih dalam untuk melihatnya. Jika kita memandang trauma masa lalu dengan sudut pandang baru, kita akan melihat hikmah yang ditawarkan. Jika kita tak menerima hikmahnya, trauma itu akan menjadi bagian dari pertahanan kita, pelindung karakter diri kita.
Kesediaan kita melihat hikmah dari trauma memungkinkan kita menyingkirkan pelindung karakter diri kita. Energi lalu mengalir, sehingga bisa digunakan untuk kesehatan dan kebahagiaan kita.
Latihan
Hari ini, bayangkan Anda mengambil trauma yang pernah Anda alami, lalu menyerahkan trauma itu kepada Tuhan. Rasakanlah hikmah yang menghampiri Anda. Terimalah hikmah, kedamaian, dan pemahaman baru ini. Anda akan merasakan sebuah hidup baru muncul kembali.
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Selasa, 12 Januari 2016
Anda Luar Biasa!!!
Suatu hari Minggu, saya mendapat sebuah buku dari Uni - panggilan akrab Ibu Eni Kusuma. Judul bukunya Anda Luar Biasa!!! Begitu luar biasanya sampai tanda serunya ada tiga! Mengapa buku itu saya sebut LUAR BIASA?
Pertama, penulisnya memang luar biasa. Ia seorang asisten rumah tangga - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong yang berasal dari keluarga miskin. Rumahnya dekat tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Tetapi, sampah justru menjadi gudang ilmu yang tak pernah kering bagi Uni. Di TPA itu ia menemukan banyak buku bekas dan kartu-kartu motivasi terbitan Harvest.
Untuk membantu biaya hidup keluarganya, Uni menitipkan kue buatan ibunya ke kantin dan membantu ayahnya membuat kerupuk. Berkat kegigihannya, ia lulus SMA Negeri 1 Banyuwangi. Tak ada kata "menyerah" dalam dirinya. Lewat perjuangan panjang, ia berhasil menjadi TKI di Hongkong.
Kedua, pujian untuk buku tersebut datang dari 27 orang top di Tanah Air maupun mancanegara. "Buku ini merupakan wujud kemampuan seorang Eni Kusuma yang berhasil mengembangkan talenta yang dipunyainya dengan baik. Saya ucapkan selamat! Sungguh, Anda Luar Biasa! Untuk membuktikannya, silakan baca buku ini. Salam sukses luar biasa," tulis Andrie Wongso, motivator terkemuka di Indonesia.
Tung Desem Waringin pun berkomentar, "Sudah saya baca. DAHSYAT! Sudah saatnya Eni memilih pekerjaan atau bisnis yang lebih dahsyat. Yes, Eni pasti bisa! Pasti bisa! Sudah bisa!"
Ketiga, buku ini merupakan kumpulan tulisan Eni di situs Pembelajar.com asuhan teman saya, Andrias Harefa. Si Manusia Pembelajar ini sangat bangga kepada Eni, "Saya merasa ada api yang menyala dalam diri penulis buku ini. Buat Eni, saya kira ia bergerak ke arah judul buku yang ditulisnya sendiri, ke arah kesadaran akan keluarbiasaan dirinya sebagai sosok manusia ciptaan Tuhan. Bacalah buku ini, dan bersiap-siaplah untuk terguncang karenanya!"
Keempat, saat saya membaca "buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hongkong" (begitu catatan di bawah judul buku tersebut), saya semakin sadar bahwa kesuksesan seseorang bukan didasarkan pada latar belakang seseorang, tetapi tekadnya untuk mau belajar terus-menerus.
Kelima, mau bertindak. Eni Kusuma bukan orang yang NACO (No Action Concept Only), NADO (No Action Dream Only), NATO (No Action Talk Only); tetapi benar-benar seorang high achiever dan high performer! Mau ikuti teladannya?
(Dari: Buku Love is Beautiful - Ketika Iman Bersanding Cinta, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit PT BPK Gunung Mulia, 2009)
Pertama, penulisnya memang luar biasa. Ia seorang asisten rumah tangga - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong yang berasal dari keluarga miskin. Rumahnya dekat tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Tetapi, sampah justru menjadi gudang ilmu yang tak pernah kering bagi Uni. Di TPA itu ia menemukan banyak buku bekas dan kartu-kartu motivasi terbitan Harvest.
Untuk membantu biaya hidup keluarganya, Uni menitipkan kue buatan ibunya ke kantin dan membantu ayahnya membuat kerupuk. Berkat kegigihannya, ia lulus SMA Negeri 1 Banyuwangi. Tak ada kata "menyerah" dalam dirinya. Lewat perjuangan panjang, ia berhasil menjadi TKI di Hongkong.
Kedua, pujian untuk buku tersebut datang dari 27 orang top di Tanah Air maupun mancanegara. "Buku ini merupakan wujud kemampuan seorang Eni Kusuma yang berhasil mengembangkan talenta yang dipunyainya dengan baik. Saya ucapkan selamat! Sungguh, Anda Luar Biasa! Untuk membuktikannya, silakan baca buku ini. Salam sukses luar biasa," tulis Andrie Wongso, motivator terkemuka di Indonesia.
Tung Desem Waringin pun berkomentar, "Sudah saya baca. DAHSYAT! Sudah saatnya Eni memilih pekerjaan atau bisnis yang lebih dahsyat. Yes, Eni pasti bisa! Pasti bisa! Sudah bisa!"
Ketiga, buku ini merupakan kumpulan tulisan Eni di situs Pembelajar.com asuhan teman saya, Andrias Harefa. Si Manusia Pembelajar ini sangat bangga kepada Eni, "Saya merasa ada api yang menyala dalam diri penulis buku ini. Buat Eni, saya kira ia bergerak ke arah judul buku yang ditulisnya sendiri, ke arah kesadaran akan keluarbiasaan dirinya sebagai sosok manusia ciptaan Tuhan. Bacalah buku ini, dan bersiap-siaplah untuk terguncang karenanya!"
Keempat, saat saya membaca "buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hongkong" (begitu catatan di bawah judul buku tersebut), saya semakin sadar bahwa kesuksesan seseorang bukan didasarkan pada latar belakang seseorang, tetapi tekadnya untuk mau belajar terus-menerus.
Kelima, mau bertindak. Eni Kusuma bukan orang yang NACO (No Action Concept Only), NADO (No Action Dream Only), NATO (No Action Talk Only); tetapi benar-benar seorang high achiever dan high performer! Mau ikuti teladannya?
(Dari: Buku Love is Beautiful - Ketika Iman Bersanding Cinta, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit PT BPK Gunung Mulia, 2009)
Rabu, 06 Januari 2016
Menebar Berkat
Ketika kita berada pada posisi berkorban, kita merasa tidak cukup layak untuk berdiri setara dalam situasi tertentu. Kita merasa harus berkorban dan hanya melakukan segala sesuatu bagi orang lain.
Memberi berkat adalah lawan dari pengorbanan. Kita berharap segala sesuatu baik bagi orang lain. Dengan memberi berkat kita sepertinya menyatakan, "Aku punya kekuatan. Aku bisa memberi dalam situasi ini. Berkatku akan mengubah situasi tertentu menjadi lebih baik. Aku tidak perlu mengorbankan diri. Aku bisa memberi berkat."
Dengan memberi energi, cinta, serta harapan agar segala sesuatu baik adanya, kita mengubah keadaan.
Latihan
Hari ini tebarkanlah berkat kepada setiap orang, terutama dalam keadaan ketika Anda tergoda untuk menilai seseorang. Singkirkanlah penilaian Anda, buanglah kecenderungan untuk mengorbankan diri. Berkatilah siapa pun yang berhubungan dengan Anda.
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Memberi berkat adalah lawan dari pengorbanan. Kita berharap segala sesuatu baik bagi orang lain. Dengan memberi berkat kita sepertinya menyatakan, "Aku punya kekuatan. Aku bisa memberi dalam situasi ini. Berkatku akan mengubah situasi tertentu menjadi lebih baik. Aku tidak perlu mengorbankan diri. Aku bisa memberi berkat."
Dengan memberi energi, cinta, serta harapan agar segala sesuatu baik adanya, kita mengubah keadaan.
Latihan
Hari ini tebarkanlah berkat kepada setiap orang, terutama dalam keadaan ketika Anda tergoda untuk menilai seseorang. Singkirkanlah penilaian Anda, buanglah kecenderungan untuk mengorbankan diri. Berkatilah siapa pun yang berhubungan dengan Anda.
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Jumat, 01 Januari 2016
Tiga Sosok dalam Satu
Kehidupan tanpa Kasih adalah seperti pohon tak berbuah.
Dan Kasih tanpa Keindahan adalah seperti
bunga tanpa semerbak dan buah tanpa biji....
Kehidupan, Kasih, dan Keindahan
adalah tiga sosok dalam satu,
yang tak dapat dipisahkan atau diubah.
(Kahlil Gibran, 1883-1931)
(Dikutip dari Penglihatan dalam buku Renungan dan Meditasi, karya Kahlil Gibran. Penerbit Classic Press, 2003)
Minggu, 27 Desember 2015
Meyakini Keajaiban
Beberapa hari sebelum Natal tahun 1924. Di luar badai salju hebat menerpa setiap baris rumah. Keluargaku baru saja pindah dari pedesaan ke kota dua bulan sebelumnya. Kami belum mengenal tetangga satu pun.
Ketika itu aku masih gadis kecil berusia lima tahun yang sedang terserang demam tinggi. Penderita satu-satunya penyakit difteri di Philadelphia.
Penyakitku sudah didiagnosis dokter dua minggu silam. Dengan segera, ayah dan kakak perempuanku diberi suntikan antitoksin, lalu diungsikan ke rumah saudara kami sampai masa penularan berlalu. Ibu menolak memasukkanku ke rumah sakit di kota yang masih asing baginya. Ia memilih tetap di rumah merawatku.
Pengurus kota menempelkan tanda peringatan berwarna kuning di pintu depan dan belakang rumah kami, tanda adanya penyakit menular. Untuk memastikan tak ada yang datang ke rumah selain dokter, dan kami tetap berada di dalam rumah, seorang polisi berjaga 24 jam di pintu rumah.
Jika kami mendapat surat, benda itu diletakkan di anak tangga; kemudian polisi mengetuk pintu dan mundur beberapa langkah. Ibu membuka pintu sedikit, lalu dengan cepat mengambil surat tersebut.
Pada masa itu persiapan Natal cukup dilakukan seminggu sebelumnya, tidak seperti sekarang belanja Natal sudah dimulai bulan Oktober. Kami menyambut Natal secara berbeda tahun itu. Karena serangan difteri, tak ada yang memikirkan Natal. Kondisi kesehatanku yang terpenting.
Sore 23 Desember, polisi mengetuk pintu. Ada surat dari saudara perempuan ibuku. Ia seorang Katolik, mengirimkan sekantong kecil medalion. "Aku tidak bisa berada bersamamu," tulisnya, "tetapi aku ingin membantu. Sematkan medalion yang telah diberkati pastor ini ke gaun tidur putrimu dan yakinlah."
Ibuku mau melakukan apa pun untuk kesembuhanku, meskipun harapannya kecil. Ia menatap pipiku yang kurus dan mengompres dahiku. Mataku terus terpejam.
Sore keesokan harinya, ibuku mendengar panggilan lirih. Ia bergegas menuju ke kamarku dan menangis bahagia. Demamku turun dan aku membuka mata. Sambil mengucap syukur, ibu berlutut dan memelukku.
Namun, rasa leganya tiba-tiba lenyap lagi ketika mendengar kata-kata pertamaku, "Mama, ini malam Natal. Apa yang akan dibawakan sinterklas?" "Bukan, bukan!" seru ibuku. "Sayang, kau sakit lama sekali. Sekarang belum malam Natal." Meskipun ibu berusaha keras meyakiniku, aku tidur malam itu dengan bayangan indah menari-nari di kepalaku.
Di lantai bawah ibuku panik. Bertahun-tahun kemudian ia bercerita, ia sempat ingin mengenakan pakaian ayahku dan mencoba menyelinap ke luar, ke toko di pojok jalan, untuk membelikanku hadiah. Tentu saja ia tak melakukannya. Ibu hanya berharap ia bisa menyakiniku bahwa Natal belum tiba.
Di pagi hari Natal, aku bangun dengan antisipasi khas anak-anak. Ibu masih setengah tertidur ketika polisi mengetuk pintu rumah kami. Ibu terkesiap kaget melihat di tangga ada sekeranjang besar berisi hidangan Natal untuk dua orang dan sejumlah mainan untuk gadis kecil berusia lima tahun.
Ibu melempar pandangan, bertanya kepada si polisi. Tetapi polisi hanya tersenyum dan angkat bahu.
Kesehatanku pulih kembali, tanpa aku menyadari ada dua keajaiban pada Natal tahun itu. Ayah dan kakak perempuanku pulang dan kami melanjutkan hidup di kota tersebut.
Seiring berjalannya waktu, ibuku menjalin persahabatan dengan tetangga - seorang perempuan Irlandia yang ramah, ibu enam anak. Mereka bersahabat selama bertahun-tahun, tetapi baru belakangan ibuku akhirnya mengetahui rahasia di balik keajaiban Natal tahun 1924.
Sahabatnya - orang Irlandia itulah - yang saat itu meski belum saling mengenal, memahami sebagai sesama ibu. Ia tahu betapa sulit situasi yang dihadapi ibuku dan berbaik hati mengirim keranjang Natal kepada kami. Berkat dirinya, aku masih percaya pada sinterklas. Kau hanya perlu mencarinya di tempat yang tepat. (Gerrie Edwards)
(Dari: Buku Chicken Soup for Every Mom's Soul - Kisah-Kisah tentang Cinta dan Inspirasi untuk Para Ibu, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Heather McNamara, Marci Shimoff. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2011)
Ketika itu aku masih gadis kecil berusia lima tahun yang sedang terserang demam tinggi. Penderita satu-satunya penyakit difteri di Philadelphia.
Penyakitku sudah didiagnosis dokter dua minggu silam. Dengan segera, ayah dan kakak perempuanku diberi suntikan antitoksin, lalu diungsikan ke rumah saudara kami sampai masa penularan berlalu. Ibu menolak memasukkanku ke rumah sakit di kota yang masih asing baginya. Ia memilih tetap di rumah merawatku.
Pengurus kota menempelkan tanda peringatan berwarna kuning di pintu depan dan belakang rumah kami, tanda adanya penyakit menular. Untuk memastikan tak ada yang datang ke rumah selain dokter, dan kami tetap berada di dalam rumah, seorang polisi berjaga 24 jam di pintu rumah.
Jika kami mendapat surat, benda itu diletakkan di anak tangga; kemudian polisi mengetuk pintu dan mundur beberapa langkah. Ibu membuka pintu sedikit, lalu dengan cepat mengambil surat tersebut.
Pada masa itu persiapan Natal cukup dilakukan seminggu sebelumnya, tidak seperti sekarang belanja Natal sudah dimulai bulan Oktober. Kami menyambut Natal secara berbeda tahun itu. Karena serangan difteri, tak ada yang memikirkan Natal. Kondisi kesehatanku yang terpenting.
Sore 23 Desember, polisi mengetuk pintu. Ada surat dari saudara perempuan ibuku. Ia seorang Katolik, mengirimkan sekantong kecil medalion. "Aku tidak bisa berada bersamamu," tulisnya, "tetapi aku ingin membantu. Sematkan medalion yang telah diberkati pastor ini ke gaun tidur putrimu dan yakinlah."
Ibuku mau melakukan apa pun untuk kesembuhanku, meskipun harapannya kecil. Ia menatap pipiku yang kurus dan mengompres dahiku. Mataku terus terpejam.
Sore keesokan harinya, ibuku mendengar panggilan lirih. Ia bergegas menuju ke kamarku dan menangis bahagia. Demamku turun dan aku membuka mata. Sambil mengucap syukur, ibu berlutut dan memelukku.
Namun, rasa leganya tiba-tiba lenyap lagi ketika mendengar kata-kata pertamaku, "Mama, ini malam Natal. Apa yang akan dibawakan sinterklas?" "Bukan, bukan!" seru ibuku. "Sayang, kau sakit lama sekali. Sekarang belum malam Natal." Meskipun ibu berusaha keras meyakiniku, aku tidur malam itu dengan bayangan indah menari-nari di kepalaku.
Di lantai bawah ibuku panik. Bertahun-tahun kemudian ia bercerita, ia sempat ingin mengenakan pakaian ayahku dan mencoba menyelinap ke luar, ke toko di pojok jalan, untuk membelikanku hadiah. Tentu saja ia tak melakukannya. Ibu hanya berharap ia bisa menyakiniku bahwa Natal belum tiba.
Di pagi hari Natal, aku bangun dengan antisipasi khas anak-anak. Ibu masih setengah tertidur ketika polisi mengetuk pintu rumah kami. Ibu terkesiap kaget melihat di tangga ada sekeranjang besar berisi hidangan Natal untuk dua orang dan sejumlah mainan untuk gadis kecil berusia lima tahun.
Ibu melempar pandangan, bertanya kepada si polisi. Tetapi polisi hanya tersenyum dan angkat bahu.
Kesehatanku pulih kembali, tanpa aku menyadari ada dua keajaiban pada Natal tahun itu. Ayah dan kakak perempuanku pulang dan kami melanjutkan hidup di kota tersebut.
Seiring berjalannya waktu, ibuku menjalin persahabatan dengan tetangga - seorang perempuan Irlandia yang ramah, ibu enam anak. Mereka bersahabat selama bertahun-tahun, tetapi baru belakangan ibuku akhirnya mengetahui rahasia di balik keajaiban Natal tahun 1924.
Sahabatnya - orang Irlandia itulah - yang saat itu meski belum saling mengenal, memahami sebagai sesama ibu. Ia tahu betapa sulit situasi yang dihadapi ibuku dan berbaik hati mengirim keranjang Natal kepada kami. Berkat dirinya, aku masih percaya pada sinterklas. Kau hanya perlu mencarinya di tempat yang tepat. (Gerrie Edwards)
(Dari: Buku Chicken Soup for Every Mom's Soul - Kisah-Kisah tentang Cinta dan Inspirasi untuk Para Ibu, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Heather McNamara, Marci Shimoff. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2011)
Selasa, 22 Desember 2015
Dibaca Jika Sedang Sendirian
Saat itu aku berusia 13 tahun. Keluargaku pindah dari Florida Utara ke California Selatan setahun sebelumnya. Aku menjadi remaja habis-habisan. Aku marah dan memberontak, tak mengindahkan kata-kata orangtuaku, terutama kalau perkataan itu menyangkut diriku.
Seperti kebanyakan remaja lain, aku berusaha melepaskan diri dari apa pun yang tidak sejalan dengan gambaranku tentang dunia. Aku menolak semua kasih yang ditawarkan. Malah, aku marah kalau kata "kasih" disebutkan.
Suatu malam, seusai hari yang sulit, aku masuk ke kamarku, menutup pintu, dan naik ke tempat tidur. Saat aku berbaring, tanganku terselip ke bawah bantal. Ada amplop, aku mengambilnya. Pada amplop itu tertulis, "Dibaca jika sedang sendirian."
Karena aku sedang sendirian, tak ada yang tahu aku membaca isinya atau tidak. Aku membuka amplop itu. Di atas secarik kertas tertulis, "Mike, Ibu tahu saat ini kehidupanmu sukar. Kau frustasi dan kami orangtuamu tak bisa membantumu dengan baik. Ibu sayang padamu sepenuh hati, apa pun yang kau lakukan atau katakan tak akan bisa mengubah itu. Ibu selalu ada untukmu kalau kau ingin mengobrol, tetapi kalau kau tidak ingin juga tak apa-apa. Pokoknya kau tahu, ke mana pun kau pergi dan apa pun yang kau lakukan dalam hidupmu, Ibu akan selalu sayang padamu dan bangga kau adalah anakku. Penuh sayang, Ibu."
Surat tersebut menjadi surat yang mengawali beberapa surat "Dibaca jika sedang sendirian." Surat-surat ini tak pernah aku ungkapkan, sampai aku dewasa.
Kini aku berkeliling dunia untuk menolong sesama. Aku sedang berada di Sarasota, Florida, mengajar di sebuah seminar. Di penghujung hari, seorang wanita menghampiriku dan menceritakan kesulitan yang dialami dengan anaknya.
Aku menuturkan kepada wanita itu tentang kasih ibuku yang tak pernah pudar dan tentang surat-surat "Dibaca jika sedang sendirian." Beberapa minggu kemudian, aku mendapat kartu pos dari wanita tersebut yang mengatakan ia telah menulis surat pertama untuk anaknya.
Malam itu, saat aku naik ke tempat tidur, aku menyelipkan tanganku ke bawah bantal dan mengenang rasa lega yang kurasakan setiap kali aku menerima surat dari ibuku. Di masa remajaku yang bergolak, surat-surat itu menjadi peneguhan yang menenangkan hati bahwa aku tetap dicintai walaupun aku anak yang sulit.
Sebelum tidur, aku bersyukur kepada Tuhan atas ibuku yang tahu apa yang dibutuhkan olehku, seorang remaja yang sedang emosi. Kini, setiap kali lautan kehidupanku dilanda badai, aku tahu di bawah bantalku ada peneguhan yang menenangkan hati - kasih yang tetap, abadi, dan tanpa pamrih - dapat mengubah hidup. (Michael Staver, konsultan/motivator)
(Dari: Buku Chicken Soup for the Mother's Soul - 73 Kisah yang Membuka Hati dan Menggugah Semangat Para Ibu, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Jennifer Read Hawthorne, Marci Shimoff. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2000)
Seperti kebanyakan remaja lain, aku berusaha melepaskan diri dari apa pun yang tidak sejalan dengan gambaranku tentang dunia. Aku menolak semua kasih yang ditawarkan. Malah, aku marah kalau kata "kasih" disebutkan.
Suatu malam, seusai hari yang sulit, aku masuk ke kamarku, menutup pintu, dan naik ke tempat tidur. Saat aku berbaring, tanganku terselip ke bawah bantal. Ada amplop, aku mengambilnya. Pada amplop itu tertulis, "Dibaca jika sedang sendirian."
Karena aku sedang sendirian, tak ada yang tahu aku membaca isinya atau tidak. Aku membuka amplop itu. Di atas secarik kertas tertulis, "Mike, Ibu tahu saat ini kehidupanmu sukar. Kau frustasi dan kami orangtuamu tak bisa membantumu dengan baik. Ibu sayang padamu sepenuh hati, apa pun yang kau lakukan atau katakan tak akan bisa mengubah itu. Ibu selalu ada untukmu kalau kau ingin mengobrol, tetapi kalau kau tidak ingin juga tak apa-apa. Pokoknya kau tahu, ke mana pun kau pergi dan apa pun yang kau lakukan dalam hidupmu, Ibu akan selalu sayang padamu dan bangga kau adalah anakku. Penuh sayang, Ibu."
Surat tersebut menjadi surat yang mengawali beberapa surat "Dibaca jika sedang sendirian." Surat-surat ini tak pernah aku ungkapkan, sampai aku dewasa.
Kini aku berkeliling dunia untuk menolong sesama. Aku sedang berada di Sarasota, Florida, mengajar di sebuah seminar. Di penghujung hari, seorang wanita menghampiriku dan menceritakan kesulitan yang dialami dengan anaknya.
Aku menuturkan kepada wanita itu tentang kasih ibuku yang tak pernah pudar dan tentang surat-surat "Dibaca jika sedang sendirian." Beberapa minggu kemudian, aku mendapat kartu pos dari wanita tersebut yang mengatakan ia telah menulis surat pertama untuk anaknya.
Malam itu, saat aku naik ke tempat tidur, aku menyelipkan tanganku ke bawah bantal dan mengenang rasa lega yang kurasakan setiap kali aku menerima surat dari ibuku. Di masa remajaku yang bergolak, surat-surat itu menjadi peneguhan yang menenangkan hati bahwa aku tetap dicintai walaupun aku anak yang sulit.
Sebelum tidur, aku bersyukur kepada Tuhan atas ibuku yang tahu apa yang dibutuhkan olehku, seorang remaja yang sedang emosi. Kini, setiap kali lautan kehidupanku dilanda badai, aku tahu di bawah bantalku ada peneguhan yang menenangkan hati - kasih yang tetap, abadi, dan tanpa pamrih - dapat mengubah hidup. (Michael Staver, konsultan/motivator)
(Dari: Buku Chicken Soup for the Mother's Soul - 73 Kisah yang Membuka Hati dan Menggugah Semangat Para Ibu, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Jennifer Read Hawthorne, Marci Shimoff. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2000)
Langganan:
Postingan (Atom)







