Cari Blog Ini

Sabtu, 10 September 2011

Dusta Putih

Kadang orang bertanya, "Apakah kejujuran bisa melukai orang lain? Apakah berbohong demi kebaikan itu baik? Jika saya tidak berbohong, ada orang yang akan mati." 

Di situlah letak lereng terjal dan licin dari penalaran ini, sebab akan mudah sekali, dan sebentar saja, berkembang menjadi, "Jika saya memberitahu istri saya, saya akan mati. Jika saya bilang ke orang lain, saya akan malu. Jika saya membertahu masyarakat, saya akan kehilangan pekerjaan dan jabatan politik saya. Saya melakukannya benar-benar demi kebaikan negara saya." Bisakah Anda melihat lereng licin itu? Ketika mengalami pembenaran di satu tempat, dengan segera hal itu dibenarkan pula di tempat lain.

Begitu pula dengan istilah dusta putih (white lie). Di situlah tempat keangkuhan kita berada, ketika kita mulai mengatakan bahwa boleh mengucapkan dusta asal demi kebaikan. Betapa pun, itu tetap saja dusta dari awalnya. Sesungguhnya, tidak ada yang namanya dusta putih, apalagi jika diucapkan kepada pasangan Anda. Semakin sering digunakan, dusta putih akan menjadi dusta abu-abu, dan ketika makin sering lagi akan menjadi dusta hitam, yang pasti menghancurkan hubungan Anda.

Sekali Anda mengucapkan dusta putih, Anda mengucapkan dusta putih kepada diri sendiri pula, dan itu menjadi abu-abu. Ketika Anda mulai mengelabui diri sendiri, maka Anda akan mulai masuk ke dalam masalah besar.

Ada kisah dari Perang Dunia II yang diceritakan oleh seorang biksu Jerman di Melbourne. Ternyata, ada seorang Buddhis di Jerman yang menyembunyikan beberapa orang Yahudi pada masa Perang Dunia II. Ketika polisi rahasia Nazi datang dan menanyakan apakah ada orang Yahudi bersembunyi di sana, umat Buddha ini berkata, "Lihat saja sendiri." Justru karena sifat keterbukaannya, para polisi malah meninggalkannya dan pergi. Mungkin saja ia dilindungi karena ia berkata jujur, tak berdusta.

(Dari: Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! - 108 (Lagi) Cerita Pembuka Pintu Hati, karya Ajahn Brahm. Penerbit Awareness Publication 2011)

Jumat, 09 September 2011

Belenggu Masa Lampau

Sungguh menyenangkan mengingat-ingat pengalaman bagus atau sesuatu yang pernah Anda miliki di masa lampau. Namun, ada juga bahayanya - Anda terhenti pada 'penyakit' yang disebut nostalgia, sehingga Anda berhenti hidup! 

Bernostalgia mungkin dapat menghancurkan masa sekarang. 
Anda tidak merasa bebas lagi. Pengalaman masa lampau telah membelenggu Anda.

Nostalgia itu bisa berupa pengalaman dengan beberapa orang yang Anda cintai dan kini tidak bersama Anda lagi, atau beberapa milik Anda di masa lalu - sesuatu yang telah Anda jaga seperti masa muda, kekuatan, kecantikan.

Bagaimana Anda membebaskan diri dari semua itu? Ada sebuah metode yang mungkin sangat menyakitkan. Melahirkan sebuah kehidupan baru memang menyakitkan. Namun,jika Anda memang mau, katakan kepada orang-orang atau hal-hal yang pernah Anda miliki di masa lampau, "Aku merasa beruntung kau pernah hadir dalam hidupku. Kalau aku terlalu mengikatkan diriku kepadamu, aku tidak akan belajar mencintai masa sekarang."

Banyak orang kehilangan masa-masa terindah dari hidup mereka dan masa tua mereka, karena mereka terlalu terpaku pada masa lampau. Seekor burung yang terluka tidak dapat terbang, begitu pula burung yang tersangkut di dahan pohon. Lepaskanlah diri dari masa lampau! Peribahasa Hindu berbunyi, "Air dimurnikan dengan mengalir, manusia dimurnikan dengan tetap bergerak maju." 

(Dari: Buku Berjalan di Atas Air - Menemukan Tuhan di Dalam Hidup Kita, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Erlangga, 2001)

Kamis, 08 September 2011

Pohon Pemberi

Sebuah pohon tumbuh di luar pintu gerbang suatu kota di padang gurun. Pohon itu berasal dari zaman dahulu. Ia dapat menghasilkan buah tanpa henti. Kendati usianya sudah tua, dahan-dahannya terus-menerus penuh dengan buah. Ratusan orang yang lewat di situ menyegarkan diri dengan memakan buah pohon itu.

Kemudian, seorang pedagang membeli tanah di mana pohon itu tumbuh. Ia melihat ratusan orang lewat memunguti buah-buah dari pohon miliknya, maka ia membangun pagar yang tinggi mengelilingi pohon tersebut.

Orang-orang yang lewat memohon kepada pemilik baru untuk membagikan buah-buah pohon itu, tetapi pedagang yang tamak itu berkata, “Pohon ini milik saya, begitu pula buah-buahnya telah dibeli dengan uang saya.”

Terjadilah sesuatu yang mengherankan: tiba-tiba pohon tua itu mati! Agaknya hukum memberi diperkirakan sama dengan hukum gravitasi – mengungkap prinsip yang abadi: ketika berhenti memberi, berhenti juga menghasilkan buah, dan kematian mengikuti.  

(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna – 100 Cerita Bijak jilid ke-4, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2002)

Ibarat Ikan

Mereka yang tertarik pada yang lahiriah, ibarat ikan di luar air. 
Tetapi orang yang tetap di dalam batinnya,
mengalir bersama air itu, mengikuti sifat segalanya, 
mengetahui bahwa ibarat seekor ikan,
ia paling baik berada di dalam kedalamannya sendiri.

(Dari: Buku Tao Kehidupan yang Bertujuan, karya Judith Morgan & Andre de Zanger. Penerbit Lucky Publishers, 2003)

Rabu, 07 September 2011

Orang Miskin dan Harta Karun

Dahulu ada seorang yang sangat miskin. Utangnya menumpuk, karena tak mampu membayar, ia lari ke desa. Di tepi jalan yang tak ada orang, ada sebuah peti harta. Di dalamnya terdapat banyak harta karun, tetapi di atas harta ada sebuah cermin.

Si miskin kebetulan lewat di jalan itu. Melihat kanan-kiri tak ada orang, ia mendekati peti dan membukanya. "Aku kaya sekarang!" seru si miskin dalam hati. Saat sedang bergembira, tiba-tiba ia melihat ke dalam cermin, ada 'orang!' Ia sangat terkejut dan meminta maaf kepada 'orang' itu. "Saya kira peti ini kosong, ternyata ada Anda di dalam. Jangan salah paham, saya tak bermaksud mengambil barang Anda," katanya.

Segera orang miskin itu kabur. Padahal, yang dilihatnya adalah bayangan dirinya sendiri di dalam cermin. Tetapi, karena ia tak mengenalinya, ia kehilangan harta yang sebenarnya bisa diambil begitu saja.

Jika tak dapat mengenali diri sendiri dengan baik, sekali pun menemukan kesempatan yang sulit didapat, tetap saja tak dapat menggenggamnya. Kenalilah diri sendiri, barulah dapat mengubah dunia. Bukalah mata, lihatlah keadaan yang sebenarnya. Bersihkanlah diri, rasakan, dan temukan jalan terang yang dapat membimbing diri sendiri dalam melangkahkan kaki dengan mantap dan menikmati kehidupan yang penuh kebahagiaan.

(Dari: Buku 200 Kisah Terindah Sepanjang Masa dari China, karya Din Man. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2011)

Selasa, 06 September 2011

Perubahan Radikal dalam Batin


Orang tahu bumi semakin rusak, kekacauan ada di panggung politik, eksploitasi masif di bidang ekonomi, kekerasan dan kejahatan tumbuh subur di tengah masyarakat, konflik selalu ada dalam hubungan antarpribadi. Orang bertanya, apa yang bisa dilakukan? 

Pertanyaan itu telah melahirkan berbagai teori dan sistem ideologi. Lahirlah gerakan-gerakan sosial kiri atau kanan, liberal atau konservatif, religius atau sekuler. Alih-alih menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat, gerakan-gerakan ini justru menambah konflik yang ada. Perubahan sosial atau revolusi sosial yang sesungguhnya tidak pernah terjadi. Kondisi zaman sekarang tidak berbeda dari zaman-zaman sebelumnya.

Perubahan yang sesungguhnya tidak datang dari gagasan, sistem ideologi, teori, tetapi dari pemahaman diri secara total. Pertanyaan kita bukanlah apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah dunia, tetapi bisakah kita hidup betul-betul berbeda dari hari kemarin? 

Apa yang kita lihat di luar - kekacauan, eksploitasi, konflik, kekerasan, kejahatan - ada di dalam batin kita. Bisakah kekacauan batin kita berhenti seketika? Bisakah kita mengalami perubahan radikal dari batin yang kacau menjadi batin yang tertib, suatu revolusi batin seketika? Bisakah kita hidup tanpa kepentingan pribadi, tanpa keinginan, tanpa kemauan, tanpa belenggu, tanpa diri? Bisakah kita hidup di tengah dunia, tetapi bukan dengan semangat dari dunia? 

Kalau batin tertib, maka mungkin akan ada ketertiban di luar; sebab diri tidak terpisah dari dunia, diri identik dengan dunia. Dunia yang kita kenal seperti panggung perluasan diri. Dunia penuh dengan warna-warni kenikmatan dan kesakitan, dualitas konflik dan kompromi. Semua itu tidak berbeda dari diri.  

Orang-orang yang bangun, sadar, waspada, bukan berarti menjadi a-sosial atau a-politik. Mereka tidak menjauhi realitas sosial atau politik, tetapi berelasi secara baru dengan realitas sosial, politik, ekonomi, agama, dan dalam hubungan antarpribadi. Keterlibatan sosial dan politik atau keterlibatan dalam hubungan pribadi tidak lagi berpusat pada ambisi kepentingan pribadi.

Kalau diri berakhir, maka ada sesuatu yang lain, sesuatu Yang Kudus; dan Yang Kudus ini menggerakkan tindakan kita dalam relasi satu dengan yang lain. 
 
(Dari: Buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2009)

Senin, 05 September 2011

Berbuat Sesuatu

Seorang mistik Arab menceritakan sebuah dongeng:

Seseorang sedang melewati hutan melihat seekor serigala yang lumpuh keempat kakinya. Ia ingin tahu, bagaimana serigala itu dapat hidup terus. Ia melihat seekor harimau datang dengan membawa kijang hasil buruannya. Harimau itu makan sepuasnya dan meninggalkan sisa bagi serigala.

Hari berikutnya, Tuhan memberi makan serigala dengan perantaraan harimau yang sama. Orang itu pun mulai mengagumi kebaikan Tuhan dan berkata dalam hati, "Aku akan menganggur di rumah saja, dengan kepercayaan penuh kepada Tuhan, karena Ia akan mencukupi segala kebutuhanku."

Ia melakukan niatnya berhari-hari, tetapi tak terjadi apa-apa. Ketika orang itu sudah hampir mati, terdengar Suara: "Hai, engkau orang yang sesat, bukalah matamu pada kebenaran! Ikutilah teladan harimau dan berhentilah meniru serigala yang lumpuh!

Di jalan aku melihat seorang gadis kecil menggigil kedinginan dalam pakaian yang tipis. Tak ada harapan baginya untuk mendapat cukup makanan. Aku menjadi marah dan bertanya kepada Tuhan, "Mengapa hal ini Kau biarkan? Mengapa Engkau tidak berbuat sesuatu?"

Sementara waktu Tuhan tidak berkata apa-apa. Malamnya, Ia menjawab dengan sangat tiba-tiba, "Aku telah berbuat sesuatu. Aku menciptakan engkau."  

(Dari: Buku Burung Berkicau, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka, 1984)