Cari Blog Ini

Selasa, 10 Februari 2015

Gemuk karena Uang Rakyat

Ketika warga High Wycombe di Inggris - sebuah kota di Buckinghamshire, 29 mil dari London - akan memilih walikota baru, semua anggota dewan kota ditimbang di depan umum, mengikuti suatu tradisi kuno.

Para anggota dewan kota yang berat badannya kurang atau tidak bertambah berat dari berat badan mereka ketika pertama kali menduduki jabatan itu, diberi tepuk tangan oleh warga. Artinya, anggota-anggota dewan kota tersebut tidak bertambah gemuk dengan menggunakan uang rakyat.

Lebih mudah memulai daripada mempertahankan. Pastikan Anda tetap dikenal sebagai orang yang setia mengabdi pada Kebenaran.

(Dari: Buku 100 Kisah Karakter, karya Djohan Handojo. Penerbit Light Publishing, 2013)

Minggu, 08 Februari 2015

Jejak Sepatu di Karpet

Seorang ibu rumah tangga mengurus rumahnya dengan baik. Rumah selalu tampak rapi dan bersih. Ia sangat marah kalau melihat ada jejak-jejak sepatu di atas karpet. Dengan keberadaan 4 anak lelaki, tentu ini bukanlah hal mudah.

Ia lalu menemui Virginia Satir, psikolog, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan keluhan si ibu, sang psikolog berkata, "Ibu, tutuplah mata Ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan."

"Bayangkan rumah Ibu yang rapi dengan karpet bersih tanpa jejak-jejak sepatu. Bagaimana perasaan Ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum Ibu merekah. Ia tampak senang dengan gambaran yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan, "Tetapi, itu berarti tidak ada seorang pun di rumah Ibu. Tak ada suami dan anak-anak. Tak terdengar canda dan tawa mereka. Rumah Ibu sepi dan kosong, tanpa orang-orang yang Ibu cintai." Seketika, raut wajah si ibu berubah keruh. 

"Sekarang, lihat kembali karpet itu. Ibu melihat jejak-jejak sepatu di sana. Artinya, suami dan anak-anak ada di rumah. Kehadiran mereka menghangatkan hati Ibu." Ibu itu mulai tersenyum kembali. Ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.

"Sekarang, bukalah mata Ibu." Si Ibu membuka matanya. "Apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat Ibu?" Si Ibu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sejak saat itu, si Ibu tak pernah lagi mengeluhkan karpetnya yang kotor.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder dan John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming). Teknik tersebut dinamai reframing - bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita, sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif.

Beberapa contoh lain pengubahan sudut pandang: Saya bersyukur:

- untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton tv, karena itu berarti ia berada di rumah bukan di bar atau kafe.

- untuk tagihan pajak yang cukup besar, karena itu berarti saya ada pekerjaan dan memperoleh gaji yang tinggi.

- untuk rasa lelah di penghujung hari, karena itu berarti saya masih mampu bekerja keras.

- untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu berarti masih ada kebebasan berpendapat.

- untuk setiap permasalahan hidup yang saya alami, karena itu berarti Tuhan sedang membentuk dan menempa saya untuk menjadi lebih baik lagi.

(Dari: Buku 100 Inspiring Stories - Kisah-kisah Kehidupan yang Menginspirasi, Menghibur, dan Menyejukkan Jiwa Anda, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit Andi, Yogyakarta, 2012)   

Kamis, 05 Februari 2015

Pilih yang Mana?

Dua butir telur sedang berdiskusi mau jadi apa mereka kelak. Telur pertama mengatakan, ia ingin menjadi tiram. Ia hanya diam di dalam air, makanan akan datang sendiri seiring arus laut. Ia tak perlu bersusah payah berinisiatif, mengambil keputusan, juga tidak perlu bertanggung jawab terhadap siapa pun.

Telur kedua tidak sependapat. Ia ingin menjadi elang. Ia bisa bebas pergi ke mana pun, bisa mengambil keputusan dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Seekor elang tidak mengikuti arus laut, tetapi bisa mengatur arahnya dan kadang kala malah melawan arus angin.

Kita pilih yang mana? Tiram yang hanya dapat pasrah dan merasa puas dengan keadaannya; atau elang yang bebas menentukan hidupnya?
Seorang pemenang akan berkata, "Memang tidak mudah, tetapi bisa!"
Namun, seorang pecundang akan berkata, "Memang bisa, tetapi tidak mudah!"

(Dari: Buku 85 Mutiara Hidup - Belajar Bijak dari Binatang dan Tumbuhan, karya Yustinus Sumantri Hp, S.J. Penerbit Fidei Press, 2008) 

Selasa, 03 Februari 2015

Bersikap Murni

Kemurnian kita adalah salah satu hadiah terindah yang bisa kita berikan kepada dunia. Mencapai kemurnian adalah mencapai kemahiran, sebab kita tak perlu pergi ke mana pun; hal itu selalu terjadi di tempat kita berada.

Kemurnian berarti tidak perlu lagi menghukum diri sendiri atau membuktikan diri sendiri. Begitu kita mengetahui kemurnian kita, kita terbebas dari lingkaran sakit hati dan kompensasi; kita memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk menerima dan mengundang dunia ke dalam hati kita.

Kemurnian memungkinkan kita untuk memberi hadiah terbaik dari hidup ini melalui keberadaan kita. Kemurnian menyenangkan dan yang paling penting, itu adalah hal yang sebenarnya tentang kita. Begitu kita bersedia menjalani kebenaran ini, kita menciptakan kekuatan yang menjadi sumber penyembuhan bagi dunia.

Latihan

Hari ini, coba lepaskan semua yang menghalangi kemurnian Anda. Pejamkan mata Anda dan bayangkan Anda berdiri di hadapan Yang Mahakuasa, yang tahu bahwa Anda sungguh-sungguh murni.

Sebab, Kasih hanya tahu Kasih, dan yang murni hanya tahu kemurnian. Semakin Anda murni, semakin Anda bisa memberi dan menerima seluruh cinta di sekeliling Anda.

(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Utama, 2013).

Kamis, 29 Januari 2015

Bersih

Bayangkan ada dua gelas di hadapan Anda. Yang satu terbuat dari kristal dengan ukiran cantik. Mahal, tetapi bagian dalamnya kotor dan berdebu. Yang satu lagi gelas plastik murah, tetapi dicuci bersih. 

Jika Anda ingin minum, gelas mana yang akan Anda pakai? Saya yakin, Anda tentu akan memilih gelas plastik yang murah tetapi bersih! Gelas semewah apa pun, jika dalamnya kotor dan berdebu, tidak berguna.

Masih adakah 'kotoran' yang menempel di hati Anda? Bentuknya bisa berupa dendam, amarah, nafsu yang merusak, niat jahat, atau kebiasaan dosa yang terus dipelihara. 

Sering-seringlah membersihkan hati, membuatnya tetap murni, sehingga Tuhan dapat terus memakai kita menjadi saluran rahmatNya. Sayang, jika kita hanya menjadi gelas kristal yang indah, tetapi kotor dan tak berguna.

Ibadah yang sejati tampak dalam hidup sehari-hari.

(Dari: Buku Renungan Harian, Mei 2008. Penerbit Yayasan Gloria, Yogyakarta)

Minggu, 25 Januari 2015

Sentuhlah

Sentuhan itu mengonfirmasi, memvalidasi, dan menyembuhkan. Ketika kita berada di tengah adu kekuasaan, lalu menyentuh pasangan kita, artinya kita menyatakan kembali bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada salah pengertian.

Semakin kita bisa menyentuh pasangan kita, semakin kita bisa menciptakan keterhubungan. Sentuhan kita sangat menyembuhkan dan menegaskan bahwa sentuhan itu menciptakan keintiman yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah. Sentuhan kita memberikan harapan.

Latihan

Hari ini, cobalah sentuh pasangan Anda, anak-anak Anda, orangtua Anda, dan teman-teman Anda. Bersalamanlah, peluklah, atau sekadar letakkan tangan Anda di bahu seseorang; mengonfirmasi apa yang dibawa oleh sentuhan itu. Berikan sentuhan yang menghidupkan kembali.

(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)  
 

Rabu, 21 Januari 2015

Penilaian

Penilaian hanya bisa muncul jika kita memandang tubuh, kepribadian, atau kesalahan seseorang. Jika kita melihat lebih jauh dari itu, yakni ke esensi dan bakat orang itu, serta sifat-sifatnya yang disukai; penilaian kita akan runtuh.

Ketika kita menyimak apa yang kita apresiasi, penilaian kita tak berlaku. Melihat dan mendukung bagian mereka ini, berarti membebaskan diri kita sendiri. Penilaian selalu merupakan pedang bermata dua yang kita gunakan untuk menyerang orang lain, dan pada saat yang sama menyerang diri kita sendiri.

Latihan

Hari ini, cobalah pikirkan seseorang yang pernah Anda nilai. Pejamkan mata dan bayangkan diri Anda melampaui tubuh, kepribadian, dan kesalahan orang itu; beralih ke arah apa yang bisa Anda apresiasi dari dirinya.

Kemudian, lihatlah lebih jauh pada apa yang telah diberikannya untuk Anda. Sekarang, pandang lebih jauh lagi melampaui pemberiannya, lihatlah ke dalam diri orang itu di mana cahayanya bersinar.

Duduklah di depan cahaya itu sejenak. Temukan bahwa Anda tak bisa menilainya, ketika Anda memandang cahayanya. Dengan melihat bagian ini, Anda membebaskan diri Anda sendiri.

(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)