Seorang anak laki-laki terlahir dengan cacat fisik. Salah satu kakinya begitu lemah, sehingga harus dipasang logam penopang. Awalnya, ia tidak merasa terganggu sama sekali dengan cacatnya itu. Namun, ketika ia bersekolah, kesedihan mulai mengusiknya. Ia tidak bisa berlari, memanjat pohon, dan bermain seperti semua anak laki lainnya.
Merasakan kemuraman anaknya, sang ayah memutuskan membawanya ke sebuah kuil terkenal di luar kota. Konon, berbagai mukjizat terjadi pada mereka yang berdoa di kuil itu.
Setiba di sana, ayah dan anak berdoa sangat khusyuk memohon kesembuhan kaki sang anak. Seketika, anak itu merasakan kehangatan begitu indah dalam hatinya. Ia membuka mata dan bangkit berdiri. Tetapi, kakinya masih lemah seperti sebelumnya. "Tak ada gunanya kita ada di sini," kata si anak kepada ayahnya. "Ayo, kita pergi, Ayah. Tuhan tidak mendengarkan doa kita."
Ketika hampir tiba di gerbang kuil, suatu perasaan luar biasa menyergap anak itu. Seolah satu tangan besar melewatinya. Ia berteriak, "Ayah, Ayah benar! Aku sembuh! Aku sembuh!"
Terkejut luar biasa, sang ayah menatap kaki anaknya. Ia tidak melihat tanda-tanda kesembuhan. Logam penopang kaki masih terpasang erat di tempatnya.
"Ayah, bukan logam penopang ini yang telah Tuhan ambil dariku," jelas sang anak, "tetapi logam penopang yang tertanam dalam pikiranku! Aku tidak lagi merasa cacat. Aku tidak lagi merasa rendah diri!"
(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Cari Blog Ini
Selasa, 28 Oktober 2014
Minggu, 26 Oktober 2014
Menguji Hati
Setiap jalan orang adalah lurus
menurut pandangannya sendiri,
tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
- Salomo/Sulaiman bin Daud (+ 975-935 SM)
(Amsal 21:2)
Rabu, 22 Oktober 2014
Konflik adalah Kesempatan
Arah gerak kita berkaitan langsung dengan sikap kita terhadap sesuatu. Jika kita memandang konflik sebagai akhir dari suatu hubungan, itu pula yang akan terjadi. Namun, jika kita memandang konflik sebagai titik peluang untuk penyembuhan, kita akan mencapai tingkat kedekatan dan integrasi baru dalam hubungan kita.
Kita menyimpan berbagai macam konflik di dalam diri kita. Jika kita sungguh berniat menyembuhkan setiap konflik di dalam diri kita, konflik di luar diri kita juga akan pulih. Kita mendapatkan jawaban bagi teman, rekan, dan keluarga kita.
Saat kita bergerak maju, kita menjauh dari konflik pribadi dalam hubungan kita, sama seperti yang dialami teman, rekan, dan keluarga kita. Dengan bersikap semakin dewasa, kita semakin mampu menghadapi tingkatan konflik yang lebih dalam. Kita sadar, konflik merupakan kesempatan besar bagi kita untuk belajar dan bertumbuh.
Latihan
Hari ini, cermatilah area konflik yang ada dalam diri Anda. Jadikanlah konflik-konflik itu sebagai karunia bagi Anda. Begitu Anda mengubah sikap Anda dalam menghadapi konflik, maka konflik itu akan mulai menunjukkan jalan keluar alami untuk Anda.
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Kita menyimpan berbagai macam konflik di dalam diri kita. Jika kita sungguh berniat menyembuhkan setiap konflik di dalam diri kita, konflik di luar diri kita juga akan pulih. Kita mendapatkan jawaban bagi teman, rekan, dan keluarga kita.
Saat kita bergerak maju, kita menjauh dari konflik pribadi dalam hubungan kita, sama seperti yang dialami teman, rekan, dan keluarga kita. Dengan bersikap semakin dewasa, kita semakin mampu menghadapi tingkatan konflik yang lebih dalam. Kita sadar, konflik merupakan kesempatan besar bagi kita untuk belajar dan bertumbuh.
Latihan
Hari ini, cermatilah area konflik yang ada dalam diri Anda. Jadikanlah konflik-konflik itu sebagai karunia bagi Anda. Begitu Anda mengubah sikap Anda dalam menghadapi konflik, maka konflik itu akan mulai menunjukkan jalan keluar alami untuk Anda.
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Senin, 20 Oktober 2014
Bukan untuk Saya!
Robert Edward Lee (1807-1870), jenderal pemimpin pasukan Konfederasi Amerika Serikat di zaman perang saudara, suatu hari naik kereta api disertai beberapa perwira dan prajuritnya.
Di sebuah stasiun kecil di rute yang mereka lewati, seorang perempuan miskin naik ke atas kereta. Ia kurus dan berpakaian lusuh. Tak seorang pun tentara yang menawarkan kursinya kepada perempuan itu. Sia-sia ia mencari tempat duduk, gerbong sudah penuh sesak.
Ketika perempuan itu mendekati kursi Lee, sang jenderal dengan sigap bangkit berdiri. Ia meminta perempuan itu duduk di kursinya. Segera para perwira Lee bersaing satu sama lain untuk menawarkan kursi mereka kepada sang jenderal.
"Tidak, Bapak-bapak," kata Lee tegas. "Jika Anda tidak bisa memberikan kursi Anda untuk seorang perempuan miskin, Anda tidak bisa juga memberikannya kepada saya!"
(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Di sebuah stasiun kecil di rute yang mereka lewati, seorang perempuan miskin naik ke atas kereta. Ia kurus dan berpakaian lusuh. Tak seorang pun tentara yang menawarkan kursinya kepada perempuan itu. Sia-sia ia mencari tempat duduk, gerbong sudah penuh sesak.
Ketika perempuan itu mendekati kursi Lee, sang jenderal dengan sigap bangkit berdiri. Ia meminta perempuan itu duduk di kursinya. Segera para perwira Lee bersaing satu sama lain untuk menawarkan kursi mereka kepada sang jenderal.
"Tidak, Bapak-bapak," kata Lee tegas. "Jika Anda tidak bisa memberikan kursi Anda untuk seorang perempuan miskin, Anda tidak bisa juga memberikannya kepada saya!"
(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Sabtu, 18 Oktober 2014
Melukiskan Kaki pada Ular
Seorang seniman yang sangat terkenal melukis seekor ular. Lukisan itu begitu hidup, begitu nyata. Mereka yang melihatnya memuji lukisan itu.
Terbuai pujian dan keberhasilannya sendiri, seniman itu melengkapi lukisannya. Ia menambahkan goresan kuas pada sosok ular tersebut, membuat mata ular lebih bersinar, mempertegas taringnya, bahkan ia menambahkan kaki pada ular!
Masyarakat China mengenal pepatah "melukiskan kaki pada ular," yang digunakan untuk menggambarkan situasi sederhana, namun justru dibuat rumit oleh orang yang tidak tahu kapan dan di mana harus berhenti.
Ketika hidup menjadi rumit oleh kekuasaan dan harta, kita bergerak menjauh dan semakin menjauh dari kegembiraan sederhana dan kenikmatan hidup. Kita tidak lagi sempat memandangi rerumputan hijau dan bunga-bunga di pagi yang segar. Kita tidak punya waktu untuk mendengar burung berkicau, atau menyaksikan senyum ceria anak-anak kita. Kita semakin jauh dari sifat polos seperti anak-anak, yang sebenarnya merupakan sifat dasar manusia.
(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Terbuai pujian dan keberhasilannya sendiri, seniman itu melengkapi lukisannya. Ia menambahkan goresan kuas pada sosok ular tersebut, membuat mata ular lebih bersinar, mempertegas taringnya, bahkan ia menambahkan kaki pada ular!
Masyarakat China mengenal pepatah "melukiskan kaki pada ular," yang digunakan untuk menggambarkan situasi sederhana, namun justru dibuat rumit oleh orang yang tidak tahu kapan dan di mana harus berhenti.
Ketika hidup menjadi rumit oleh kekuasaan dan harta, kita bergerak menjauh dan semakin menjauh dari kegembiraan sederhana dan kenikmatan hidup. Kita tidak lagi sempat memandangi rerumputan hijau dan bunga-bunga di pagi yang segar. Kita tidak punya waktu untuk mendengar burung berkicau, atau menyaksikan senyum ceria anak-anak kita. Kita semakin jauh dari sifat polos seperti anak-anak, yang sebenarnya merupakan sifat dasar manusia.
(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Senin, 13 Oktober 2014
Penyakit Milenium Baru
Kondisi kehidupan di zaman modern ini menelan margin, yaitu ruang antara beban kita dan batas-batas kita.
Kondisi kehidupan yang tidak bermargin tercermin dalam contoh berikut: Anda terlambat 30 menit dari jadwal Anda bertemu dokter, karena Anda terlambat 20 menit keluar dari salon. Hal itu terjadi akibat Anda terlambat 10 menit mengantar anak-anak ke sekolah, mobil Anda kehabisan bensin, dan Anda lupa membawa dompet.
Kehidupan tanpa margin tampak ketika Anda harus menangani bayi yang sedang menangis, sekaligus menjawab telepon yang berdering. Atau, Anda diminta mengangkat beban yang lebih berat dari batas beban yang mampu Anda angkat.
Zaman kita dapat digambarkan sebagai zaman yang dipenuhi stres. Hal ini merupakan kejutan tak menyenangkan, padahal kita memiliki begitu banyak kelebihan. Kemajuan zaman memberi kita kemakmuran, pendidikan, teknologi, hiburan, dan kenyamanan yang tak ada di zaman-zaman sebelumnya.
Kalau begitu, mengapa banyak di antara kita merasa seperti menjadi para pengawas lalu lintas di udara yang kehilangan kendali? Agaknya kita tidak berkembang seperti yang diharapkan, sejalan dengan banyaknya kemudahan yang ada di zaman modern.
Gaya hidup tak bermargin merupakan penemuan yang relatif baru, salah satu gagasan yang paling tidak masuk akal dari kemajuan zaman. Tak seorang pun kebal. Penyakit ini tak hanya menyerang kalangan sosio-ekonomi tertentu atau tingkat pendidikan tertentu. Bahkan orang-orang dengan kehidupan iman yang dalam pun tidak dapat menghindarinya. Rasa sakitnya menyerang siapa saja tanpa kecuali - setiap orang bisa kena.
Kehidupan yang tak bermargin bisa diobati, dan kesehatan Anda mungkin bisa dipulihkan. Seberapa besar kehidupan tak bermargin (berkelebihan beban) yang masih bisa diterima dalam kehidupan Anda?
Sebagian orang menikmati kehidupan yang dipicu stimulasi tinggi untuk mengerjakan berbagai tugas terus-menerus. Sebagian orang lain lebih suka laju kehidupan yang lebih tenang dan bisa dikendalikan.
Setelah Anda memahami kecenderungan Anda, usahakanlah tetap berada dalam jangkauan toleransi kemampuan Anda. Jika Anda melampauinya, Anda akan berada pada titik berbahaya yang dapat mengakibatkan keletihan.
(Dari: Buku A Minute of Margin - Mengembalikan Keseimbangan kepada Hidup yang Sibuk, karya Richard A. Swenson, M.D. Penerbit CV Pionir Jaya, 2007)
Kondisi kehidupan yang tidak bermargin tercermin dalam contoh berikut: Anda terlambat 30 menit dari jadwal Anda bertemu dokter, karena Anda terlambat 20 menit keluar dari salon. Hal itu terjadi akibat Anda terlambat 10 menit mengantar anak-anak ke sekolah, mobil Anda kehabisan bensin, dan Anda lupa membawa dompet.
Kehidupan tanpa margin tampak ketika Anda harus menangani bayi yang sedang menangis, sekaligus menjawab telepon yang berdering. Atau, Anda diminta mengangkat beban yang lebih berat dari batas beban yang mampu Anda angkat.
Zaman kita dapat digambarkan sebagai zaman yang dipenuhi stres. Hal ini merupakan kejutan tak menyenangkan, padahal kita memiliki begitu banyak kelebihan. Kemajuan zaman memberi kita kemakmuran, pendidikan, teknologi, hiburan, dan kenyamanan yang tak ada di zaman-zaman sebelumnya.
Kalau begitu, mengapa banyak di antara kita merasa seperti menjadi para pengawas lalu lintas di udara yang kehilangan kendali? Agaknya kita tidak berkembang seperti yang diharapkan, sejalan dengan banyaknya kemudahan yang ada di zaman modern.
Gaya hidup tak bermargin merupakan penemuan yang relatif baru, salah satu gagasan yang paling tidak masuk akal dari kemajuan zaman. Tak seorang pun kebal. Penyakit ini tak hanya menyerang kalangan sosio-ekonomi tertentu atau tingkat pendidikan tertentu. Bahkan orang-orang dengan kehidupan iman yang dalam pun tidak dapat menghindarinya. Rasa sakitnya menyerang siapa saja tanpa kecuali - setiap orang bisa kena.
Kehidupan yang tak bermargin bisa diobati, dan kesehatan Anda mungkin bisa dipulihkan. Seberapa besar kehidupan tak bermargin (berkelebihan beban) yang masih bisa diterima dalam kehidupan Anda?
Sebagian orang menikmati kehidupan yang dipicu stimulasi tinggi untuk mengerjakan berbagai tugas terus-menerus. Sebagian orang lain lebih suka laju kehidupan yang lebih tenang dan bisa dikendalikan.
Setelah Anda memahami kecenderungan Anda, usahakanlah tetap berada dalam jangkauan toleransi kemampuan Anda. Jika Anda melampauinya, Anda akan berada pada titik berbahaya yang dapat mengakibatkan keletihan.
(Dari: Buku A Minute of Margin - Mengembalikan Keseimbangan kepada Hidup yang Sibuk, karya Richard A. Swenson, M.D. Penerbit CV Pionir Jaya, 2007)
Sabtu, 11 Oktober 2014
Tersambung dengan Tuhan
Seorang pria menemui guru spiritualnya, mengeluhkan kelelahan luar biasa yang dirasakannya. Sang guru mengajaknya masuk ke ruang dalam, memperlihatkan dua jam yang ada di atas meja.
Kedua jam berdetak tak henti. Yang satu adalah jam mekanis, harus diputar setiap hari. Sedangkan yang lain adalah jam listrik terus tersambung dengan kabel.
"Aku harus datang ke ruang ini setiap pagi untuk memutar jam mekanis ini. Jika tidak, jam ini akan melambat dan berhenti berdetak," kata sang guru. Kemudian, ia beralih ke jam listrik, "Jam ini terhubung ke sumber listrik yang besar. Dengan menggunakan energi yang bersumber dari sana, jam ini terus berdetak."
Pria itu menatap kedua jam, tetapi tidak mampu mencerna maksud gurunya. "Anda harus menyambungkan diri Anda dengan Tuhan - Sumber energi terbesar, termurni, dan terbaik di alam semesta ini. Tak seorang pun harus memutar Anda atau memberi Anda tambahan tenaga. Anda akan mampu mengambil semua energi dan kebijaksanaan dari alam semesta melalui ketersambungan Anda dengan Tuhan," jelas sang guru.
Dunia tampak suram dan menyedihkan bagi mereka yang kelelahan. Berilah tubuh Anda istirahat yang cukup, isi ulang hati dan jiwa Anda dengan menyambungkan diri dengan Tuhan terus-menerus.
(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Kedua jam berdetak tak henti. Yang satu adalah jam mekanis, harus diputar setiap hari. Sedangkan yang lain adalah jam listrik terus tersambung dengan kabel.
"Aku harus datang ke ruang ini setiap pagi untuk memutar jam mekanis ini. Jika tidak, jam ini akan melambat dan berhenti berdetak," kata sang guru. Kemudian, ia beralih ke jam listrik, "Jam ini terhubung ke sumber listrik yang besar. Dengan menggunakan energi yang bersumber dari sana, jam ini terus berdetak."
Pria itu menatap kedua jam, tetapi tidak mampu mencerna maksud gurunya. "Anda harus menyambungkan diri Anda dengan Tuhan - Sumber energi terbesar, termurni, dan terbaik di alam semesta ini. Tak seorang pun harus memutar Anda atau memberi Anda tambahan tenaga. Anda akan mampu mengambil semua energi dan kebijaksanaan dari alam semesta melalui ketersambungan Anda dengan Tuhan," jelas sang guru.
Dunia tampak suram dan menyedihkan bagi mereka yang kelelahan. Berilah tubuh Anda istirahat yang cukup, isi ulang hati dan jiwa Anda dengan menyambungkan diri dengan Tuhan terus-menerus.
(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)






