Cari Blog Ini

Kamis, 21 Agustus 2014

Harta Karun dalam Diri

Ada sebuah cerita Ibrani kuno tentang Rabbi Eizik, seorang rabbi Yahudi miskin yang tinggal di Krakow, Polandia. Suatu malam ia bermimpi, seorang malaikat memerintahkannya mencari harta karun terpendam di bawah jembatan menuju istana raja di Praha, Ceko. Rabbi Eizik pun berangkat ke Praha, bertekad menemukan harta karun itu.

Hatinya kecewa mendapati jembatan tersebut dijaga prajurit siang dan malam. Mustahil ia mengeduk-ngeduk tanah untuk mencari harta karun. Pasti ia akan langsung ditangkap.

Ia menunggu dekat jembatan, berjalan mondar-mandir dari matahari terbit sampai terbenam. Menjelang malam, kapten penjaga mendekatinya dan bertanya dengan ramah, "Apa yang merisaukan hati Bapak?" Bisa saya bantu?"

Keramahan sang kapten membesarkan hati rabbi Eizik. Ia bercerita tentang mimpinya yang telah membawanya dari Krakow ke Praha. 

Sang kapten tertawa tanpa maksud mengejek. "Untuk mengejar mimpi itu Bapak sudah membuat kulit sepatu Bapak aus dengan datang jauh-jauh ke Praha. Saya juga pernah bermimpi yang mirip, Pak. Seandainya saya percaya pada mimpi seperti Bapak, tentu saya sudah pergi ke Krakow mencari harta karun yang terpendam di bawah tungku dapur rumah seorang Yahudi bernama rabbi Eizik," kata sang kapten.

Rabbi Eizik berterima kasih kepada sang kapten atas kebaikan hatinya dan pulang. Ia mulai menggali tanah di bawah tungku dapur. Benar! Ia menemukan harta karun yang teronggok di sana.

Dengan uang yang ia temukan, rabbi Eizik membangun rumah ibadah. Setiap hari ia bersyukur atas petunjuk yang diberikan Tuhan, sehingga ia mengerti bahwa harta karun yang ia cari bukan berada di tempat yang jauh, melainkan di tempatnya berada.

Banyak di antara kita yang haus akan sesuatu yang jauh dan belum jelas, sementara segala yang kita butuhkan sebenarnya telah ada dalam diri kita. 

Hakikat pengembaraan untuk menemukan hal baru bukan berupa usaha mencari pemandangan baru, melainkan upaya memiliki cara pandang baru. (Marcel Proust, 1871-1922, penulis terkenal asal Perancis)

(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)

Senin, 18 Agustus 2014

Ide Sederhana yang Mendunia

Ketika berusia 29 tahun, Levi Strauss ingin mencari penghidupan lebih baik di kota San Francisco. 

Dari New York ia membawa banyak barang dagangan untuk mendirikan sebuah toko kecil di San Francisco. Ia menjual aneka barang, termasuk kain layar.

Saat sedang merapikan kain layar di tokonya, seorang pekerja tambang emas lewat dan bertanya, "Mau diapakan kain itu?" Levi menjawab, "Saya ingin menjualnya di daerah tambang emas untuk dijadikan tenda."

Pekerja tambang emas itu mengusulkan, "Jangan dijadikan tenda, tapi coba dibuat menjadi celana. Saat kami menggali tambang, celana kami sering robek. Karena itulah, kami selalu butuh celana yang kuat dan tahan lama."

Setelah mempertimbangkan ide tersebut, ia pergi ke penjahit dan mulai membuatkan celana dari kain layar. Ia memutuskan memberi nama Levi untuk produk celananya.

Pekerja tambang mulai memakai celana yang kuat dan menunjukkannya kepada banyak orang. Dalam waktu singkat, Levi mendapat pesanan sangat banyak, sehingga ia kewalahan memesan kain layar sebagai bahan utama.

Kejelian dan kecerdasan Levi menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar membuatnya mampu menuai sukses besar. Pernah diberitakan, begitu kuatnya mutu celana buatan Levi, sampai bisa digunakan untuk menarik mobil keluar dari kubangan lumpur.

Tahun 1899, celana Levi dicelupkan ke dalam air, dililit, dan dijadikan tali yang kuat untuk diikatkan di antara gerbong salah satu kereta api yang terputus. Usaha itu ternyata berhasil, kereta api bisa meneruskan perjalanan sejauh 16 km menuju kota Flagstaff. Celana jeans Levi's menjadi terkenal di seluruh dunia.

Sebuah ide sederhana mampu membuat pencapaian luar biasa - asalkan kita jeli mencermatinya. 

(Dari: Buku Pembelajaran Moral dari Sifat Binatang - 50 Tip Motivasi dari 10 Binatang yang akan Membangun Kepribadian Anda!, karya Judirman Djalimin. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2010) 

Kamis, 14 Agustus 2014

Masalah Besar atau Kecil?

Seekor jerapah betina dewasa akan melahirkan anaknya setelah hamil sekitar 15 bulan. Umumnya bayi jerapah lahir dengan berat 70 kg dan tinggi kira-kira 1,5 meter. 

Induk jerapah melahirkan bayinya dalam posisi berdiri. Bayi jerapah jatuh dengan keras dari ketinggian sekitar 2 meter, mendarat ke tanah dengan bagian belakangnya.

Ketika bayi jerapah yang baru lahir berusaha berdiri dengan baik, induk jerapah akan menendang tubuh bayinya. Tendangan ini membuat bayi jerapah terpelanting beberapa meter. Pada saat bayi jerapah berusaha kembali untuk berdiri karena kaki-kakinya masih lemah, sang induk sudah bergerak ke belakang bayinya dan kembali menendangnya.

Hal tersebut dilakukan berpuluh kali, sampai bayi jerapah berhasil berdiri dengan kaki-kaki kuat dan kokoh. Mengapa induk jerapah melakukan tindakan yang kelihatannya keras dan kejam itu?

Jerapah dewasa benar-benar sadar, untuk dapat bertahan hidup di alam liar bayinya harus cepat belajar berdiri dan berjalan dengan kaki-kakinya sendiri. Kalau tidak, bayi jerapah akan mudah diserang dan dimangsa binatang-binatang buas di sekitarnya.

Menurut suatu survei, hanya sekitar 30-50% bayi jerapah yang bisa bertumbuh sampai dewasa. Umumnya seekor jerapah bisa bertahan hidup sampai usia 28 tahun di alam liar.

Sering kali kita mendengar orang-orang mengeluh akan hidup yang begitu keras dan menyiksa, sehingga mereka tak kuat dan tak tahan lagi. Banyak orang mengalami berbagai masalah yang dianggap berat seperti kendala dalam studi, percintaan, keluarga, pekerjaan, usaha, perekonomian, dan sebagainya. Sebagian dari mereka mengaku tidak sanggup mengatasi masalah-masalah hidup, sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidup.

Masalah-masalah yang kita hadapi dalam hidup adalah masalah-masalah biasa. Ketika Anda menganggap suatu masalah itu besar, berarti Anda sedang memposisikan diri Anda menjadi kecil. Sebaliknya, jika Anda bisa memposisikan diri Anda jauh lebih besar daripada masalah yang dihadapi, maka masalah tersebut tampak kecil atau biasa. 

(Dari: Buku Pembelajaran Moral dari Sifat Binatang - 50 Tip Motivasi dari 10 Binatang yang akan Membangun Kepribadian Anda!, karya Judirman Djalimin. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2010) 

Minggu, 10 Agustus 2014

Tuhan Menjawab Doaku

Seorang perempuan saleh sedang bercakap-cakap dengan keponakannya tentang keampuhan doa. Tiba-tiba anak kecil itu bertanya, "Jika aku memohon kepada Tuhan agar Ia membantu menemukan kelereng-kelerengku, apakah Ia akan menjawab doaku?"

"Tentu saja," kata perempuan itu meyakinkan keponakannya. "Ia selalu menjawab doa-doa kita."

Segera anak itu berlutut di kursi, menutup mata, dan berdoa dalam hati. Kemudian, ia bangkit dan mulai mencari kelereng-kelerengnya lagi dengan gembira.

Keesokan hari, perempuan itu bertanya kepada keponakannya, apakah ia telah menemukan kelereng-kelerengnya? Perempuan itu berharap, iman sederhana anak kecil itu tidak menghadapi cobaan yang berat.

"Belum, Bibi. Aku belum menemukan kelereng-kelerengku, jawab anak itu, "Tetapi Tuhan telah membuatku tidak ingin lagi menemukan kelereng-kelereng itu!"

Tuhan tidak selalu menjawab doa-doa kita sesuai keinginan atau harapan kita. Namun, jika kita tulus, Ia akan menghapus dari kita keinginan yang tidak sesuai dengan kehendakNya.

(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)

Kamis, 07 Agustus 2014

Yang Kutentang dari Orang Lain adalah Yang Kutentang terhadap Diri Sendiri

Yang tidak kita sukai pada orang lain adalah yang tidak kita sukai dalam diri kita sendiri. Pertentangan kita memperlihatkan kepada kita apa yang terjadi di dalam alam bawah sadar kita; dan menunjukkan apa yang kita nilai tentang diri kita sendiri dan terkubur di dalam.

Kita menolak sebagian dari diri kita dan kemudian memproyeksikannya kepada orang lain. Jika kita bersedia menghentikan pertentangan ini dan memahaminya, orang lain akan terlihat berubah di mata kita. Kita lalu akan menemukan bahwa kita dan orang lain itu maju bersama.

Latihan

Hari ini, cermati pertentangan Anda terhadap orang lain. Bersedialah untuk mengakui bahwa pertentangan Anda sebenarnya adalah sebagian dari Anda menentang bagian diri Anda yang lain. Kenali bagian Anda yang telah terkubur ini. Rasakan keberadaannya di dalam diri Anda dan teruslah akui sampai ketidaknyamanan Anda bergerak menjadi penerimaan. Begitu Anda menerimanya, Anda akan merasa bebas, demikian juga orang lain.

(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses hal. 307, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
  

Selasa, 05 Agustus 2014

Bagaimana Bersikap

Dr. S. Radhakrishnan, seorang filsuf besar dan mantan Presiden India, melakukan kunjungan perdana ke Amerika Serikat di masa pemerintahan Presiden John F. Kennedy. Saat itu cuaca gelap dan badai tengah melanda Washington DC. Ketika Dr. Radhakrishnan turun dari pesawat, hujan lebat mengguyur.

Presiden Kennedy menyambut sejawatnya dengan jabat tangan erat dan senyum hangat. "Mohon maaf, cuaca sangat buruk bertepatan dengan kunjungan Bapak," sapa Presiden Kennedy dengan sopan.

Sang filsuf dan negarawan India itu tersenyum, "Kita tak bisa mengubah hal-hal buruk yang harus terjadi, Bapak Presiden," balasnya, "Tetapi kita bisa mengubah cara kita menyikapinya."

Ada kisah lain tentang seorang pria yang saya temui di Pune, India. Pria itu duduk di tepi jalan, ia cacat mulai dari pinggang ke bawah. Kakinya hanya sepenggal. "Apa yang terjadi dengan Anda?" tanya saya.

"Tidak ada!" jawabnya. "Saya terlahir seperti ini."

"Maafkan atas pertanyaan saya. Siapa yang merawat Anda?" tanya saya lagi.

"Ibu saya, dan terutama, Tuhan."

"Apakah Anda mengalami kesulitan untuk bergerak?" saya ingin tahu.

"Apakah Anda mengalami kesulitan karena Anda tidak memiliki sayap?" ia balik bertanya, "Bukankah akan lebih baik jika Anda bisa terbang daripada harus menunggu jam keberangkatan pesawat?"

"Hidup adalah soal kebiasaan," tambahnya, "Jika Anda mulai berkeluh-kesah, akan ada begitu banyak hal untuk dikeluhkan. Bagaimana cara Anda menyikapi hidup, itulah yang terpenting."

(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)

Minggu, 03 Agustus 2014

Menggandakan Masalah

Seorang malaikat bertemu dengan seorang pria yang memanggul karung berat di punggungnya. "Apa yang kau bawa di atas punggungmu, wahai sahabat?" tanya malaikat.
"Seluruh kekhawatiranku," keluh pria tersebut. "Karung ini luar biasa berat bagiku."
"Turunkan karung itu," kata malaikat. "Izinkan aku melihat kekhawatiranmu."

Saat karung dibuka, ternyata isinya kosong!

Pria itu tercengang. Selama ini ia terbebani dua kekhawatiran besar: kekhawatiran tentang hari kemarin - yang sekarang dilihatnya telah berlalu; dan kekhawatiran tentang hari esok - yang sebenarnya belum terjadi.

Sang malaikat berkata, "Kamu tidak memiliki alasan untuk khawatir. Buanglah karung itu."

Tuhan tinggal dalam hati dan menganugerahkan kita cara dan kemampuan untuk menjalani hidup keseharian kita. Mencemaskan masalah yang belum tentu terjadi hanya akan menimbulkan kekhawatiran yang tak perlu.

Sedikit rasa khawatir boleh jadi berguna, karena akan membuat kita selalu waspada dan siap bertindak. Sebaliknya, kekhawatiran yang berlebihan akan memperkeruh pandangan kita, melumpuhkan, dan membuat kita tak kuasa bertindak.

Menjadikan suatu masalah sebagai beban pikiran, sama saja dengan menggandakan masalah yang ada.

(Dari: Buku Menulis di Atas Pasir - 75 Kisah tentang Keberanian dan Keteguhan Iman, karya J.P. Vaswani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)