Cari Blog Ini

Senin, 16 Juli 2012

Jalan Roh

Untuk mencapai kepuasan dalam semuanya, jangan menginginkan kepuasan apa pun.
Untuk dapat memiliki segalanya, jangan ingin memiliki apa-apa.
Untuk dapat menjadi segalanya, jangan ingin menjadi apa-apa.
Untuk sampai pada pengenalan akan segala sesuatu, janganlah ingin tahu apa-apa.

Untuk mencapai kesenangan yang tidak kau miliki, engkau harus melewati jalan di mana engkau tidak menikmati kesenangan.
Untuk sampai pada pengenalan yang tidak kau miliki, engkau harus melewati jalan di mana engkau tidak mengenal.
Untuk sampai pada milik yang tidak dapat kau miliki, engkau harus melewati jalan di mana engkau tidak bermilik.
Untuk menjadi apa yang bukan adamu, engkau harus melewati jalan di mana engkau bukan apa-apa.

(Dari: Buku Mendaki Gunung Karmel, karya St. Yohanes dari Salib. Penerbit Pertapaan Shanti Bhuana, 2011)
 

Sabtu, 14 Juli 2012

Menjinakkan Domba

Seorang pelancong mengunjungi pegunungan di Swiss. Suatu hari, ia mendekati tempat penggembalaan domba di suatu perbukitan. 

Ada seorang gembala dengan kawanan dombanya. Di antara setumpuk kecil rumput, berbaring seekor domba yang kelihatan sedang sakit. Ternyata, salah satu kakinya patah. Pelancong ingin tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.

Sang gembala menjawab, "Saya sengaja mematahkan kaki domba itu, agar jangan terjadi sebaliknya, kaki saya yang patah karenanya." Si gembala lalu bercerita, dari semua domba di kawanannya, domba yang satu itu paling tidak setia. Ia tak pernah mau menaati perintah gembala, berkeliaran sendiri, dan mengajak domba lain tersesat. 

Sebelumnya gembala itu pernah mengalami hal serupa. Maka, ia tahu bagaimana mencegahnya. Ia mematahkan kaki domba untuk menyelamatkannya. Di hari pertama ia mengantar makanan untuk domba yang sakit itu, domba marah dan mencoba menggigit sang gembala. "Saya membiarkannya sendirian selama beberapa hari. Ia kelaparan. Kemudian, saya kembali mengantar makanan untuknya. Sekarang, ia bukan hanya mengambil makanan itu, tetapi juga menjilati tangan saya," tutur sang gembala.

"Jika domba ini pulih nanti, ia akan menjadi domba terbaik di antara semua domba dalam kawanannya," lajut sang gembala. "Tak ada domba lain yang akan mendengar suara saya lebih cepat daripada domba yang sakit ini. Dan tak seekor domba pun yang akan mendekati saya sedemikian akrab seperti domba ini." (Bert Balling)  

(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)

Kamis, 12 Juli 2012

Dunia, Putraku Mulai Sekolah Hari Ini

"Dunia, awasilah anakku - ia mulai sekolah hari ini! Selama beberapa saat, semuanya akan menjadi aneh dan baru baginya. Aku berharap engkau akan memperlakukannya dengan lembut. 

Engkau lihat, sampai sekarang, ia telah menjadi raja. Ia menjadi bos di halaman belakang rumah. Aku senantiasa mendampinginya untuk merawat luka-lukanya. Aku selalu dekat untuk menenangkan perasaan-perasaannya.

Tetapi sekarang, segala sesuatu akan menjadi berbeda. Pagi ini ia akan berjalan menuruni tangga, melambaikan tangannya, dan memulai sebuah petualangan besar yang mungkin akan termasuk perang, tragedi, dan kesedihan.

Hidup di dunia ini memerlukan iman, kasih, dan keberanian. Jadi, Dunia, aku berharap engkau akan memegang tangannya yang masih muda dan mengajarinya hal-hal yang harus ia ketahui. Ajarilah ia - tetapi dengan lembut, jika engkau bisa.

Aku tahu, ia akan belajar bahwa tidak semua orang adil - bahwa tidak semua lelaki dan perempuan benar. Ajarilah ia bahwa untuk setiap kelompok penjahat, ada seorang pahlawan; bahwa di antara musuh, ada seorang sahabat. Biarkanlah ia belajar lebih awal bahwa para penggertak adalah orang-orang yang paling mudah dikalahkan.

Ajarilah ia sesuatu yang menakjubkan dari buku-buku. Berilah ia waktu tenang untuk merenungkan rahasia abadi dari burung-burung di udara, lebah yang beterbangan di siang hari, dan bunga-bunga di bukit yang hijau. 

Ajarilah ia bahwa jauh lebih terhormat gagal, daripada menyontek. Ajarilah ia untuk meyakini gagasan-gagasannya sendiri, walaupun setiap orang mengatakan kepadanya bahwa gagasan-gagasannya itu salah.

Berusahalah memberi anakku kekuatan untuk tidak mengikuti massa, ketika setiap orang lain mengikuti arus. Ajarilah ia mendengarkan orang lain, tetapi menyaring semua yang ia dengar dengan penapis kebenaran dan mengambil hanya yang baik.

Ajarilah ia untuk tidak menaruh kartu harga di hati dan jiwanya. Ajarilah ia untuk menutup telinganya pada 'gonggongan' orang banyak - dan untuk berdiri kokoh serta berjuang jika ia yakin ia benar. Ajarilah ia dengan lemah lembut, tetapi janganlah memanjakannya karena hanya dengan ujian api, baja menjadi bermutu baik.

Inilah pesan yang besar, Dunia. Lihatlah apa yang dapat engkau lakukan. Ia seorang anak yang baik."

Tertanda,
Abraham Lincoln

(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna - 100 Cerita Bijak jilid ke-4, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2002) 

Minggu, 08 Juli 2012

Tawaran Seorang Sahabat

Masa resesi membawa tekanan berat dalam bidang perekonomian. Robert dan saya telah bersahabat selama dua belas tahun. Kami merasa cocok, bahkan kepribadian kami memiliki kesamaan. Wajarlah bila saya menemui Robert saat saya mengalami masalah besar dalam bisnis. Dengan sabar ia mendengarkan saya selama beberapa jam.

Saya kira ia akan memberi nasihat untuk saya dalam memulihkan bisnis. Tetapi, apa yang dikatakannya sungguh tak terduga, sesuatu yang luar biasa. "Aku tidak punya jawaban terhadap masalahmu. Tetapi jika hal terburuk terjadi," kata Robert, "aku punya cukup uang untuk kita berdua. Apa pun yang kumiliki adalah milikmu juga."

Robert tidak bercanda. Ia mengatakannya dengan tulus. Tentu saja, saya tak akan begitu saja menerima tawaran Robert. Tetapi, persahabatan sejati yang ditunjukkannya mengingatkan saya akan pemeliharaan Allah.

Tiba-tiba, saya merasa masalah yang saya hadapi tampak kecil. Saya tahu, Allah akan memelihara saya. Dengan menjadi sahabat sejati bagi saya, Robert telah menunjukkan betapa besar kasih Allah kepada saya. (Patrick M. Morley)

(Dari: Buku Embun Bagi Jiwa Terluka, karya Kathy C. Miller & D. Larry Miller. Penerbit Yayasan Gloria, Yogyakarta 2001)

Kamis, 05 Juli 2012

Kerajaan dalam Hati

Mistikus dan teolog asal Jerman, Johann Tauler (1300-1361), berkisah tentang pengalamannya: Suatu hari ia bertemu seorang pengemis dan berkata, "Allah memberimu satu hari yang baik, sahabatku." Pengemis itu menanggapi, "Saya berterima kasih kepada Allah, karena saya tak pernah mengalami satu hari pun yang tidak baik."
"Semoga Allah memberimu hidup bahagia," kata Tauler lagi. "Terima kasih kepada Allah, karena saya tak pernah tidak bahagia."

Tauler heran, "Apa maksudmu?"
"Pada hari yang indah, saya bersyukur kepada Allah. Ketika hujan, saya juga bersyukur. Waktu saya mendapat banyak rezeki, saya bersyukur. Ketika lapar, saya pun bersyukur. Karena apa yang diinginkan Allah menjadi keinginan saya, bagaimana mungkin saya mengatakan saya tidak bahagia padahal saya bahagia?" ujar si pengemis.

Tauler memandang orang itu dengan kagum dan bertanya, "Siapakah Anda?"
"Aku seorang raja," kata pengemis itu.
"Di mana kerajaanmu?"
Dengan tenang pengemis itu menjawab, "Di sini, di dalam hatiku."
(saduran William Barclay)

(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)

Selasa, 03 Juli 2012

Menyadari Ketidaksempurnaan

Kedudukan terendah adalah satu-satunya posisi yang tidak menyebabkan perasaan iri di dunia. Tidak ada yang patut dibanggakan maupun menimbulkan konflik batin. 

Memang, "jalan hidup seseorang bukanlah miliknya sendiri," walau terkadang kita menginginkan kemewahan. Ketika hal itu terjadi, tak ada yang bisa dilakukan selain menyadari ketidaksempurnaan, dan melihat diri kita sendiri sebagai makhluk tak berdaya yang sangat membutuhkan pertolongan Tuhan.

Tepat pada saatnya, Tuhan melihat kita, dengan segala ketidakberdayaan kita, dan mendengar seruan kita: "Tuhan, kakiku tersandung, tetapi belas kasihMu adalah kekuatanku." Lalu, Tuhan mengulurkan tanganNya kepada kita.

Jadi, yang perlu kita lakukan adalah merendahkan diri, dan dengan sabar menanggung kelemahan kita. Di sinilah letak rahasia kita, yakni kekudusan sejati.

(Dari: Buku Berpasrah Penuh - 30 Hari Bersama Mahaguru Spiritual Theresia dari Lisieux, editor serial John Kirvan. Penerbit Obor, 2012)

Minggu, 01 Juli 2012

Nilai Penderitaan

Kesedihan dan dukacita adalah bagian yang harus dialami, agar dapat bertumbuh. Setelah melalui penderitaan, Allah akan memulihkan Anda dan memberi Anda pelajaran positif dari kejadian tertentu. Ilustrasi berikut dapat menolong Anda melihat nilai penderitaan:

Sepotong besi harganya 2,50 dollar, jika sudah ditempa menjadi ladam kuda harganya menjadi 5 dollar, jika dibuat jarum harganya 175 dollar, jika dijadikan mata pisau lipat harganya 1.625 dollar, sedangkan jika dibuat menjadi pegas untuk jam tangan harganya 125.000 dollar. 

Sungguh berat "pengujian melalui api" yang harus dilalui oleh potongan besi itu, agar dapat menjadi sedemikian berharga! Semakin banyak besi itu diolah, dipalu, serta melalui pemanasan, pukulan, tempaan, dan polesan, maka semakin tinggi nilainya. (Barbara Johnson)

(Dari: Buku Embun Bagi Jiwa Terluka, karya Kathy C. Miller & D. Larry Miller. Penerbit Yayasan Gloria Yogyakarta, 2001)