Cari Blog Ini

Rabu, 05 Oktober 2011

Kekuatan yang Bijaksana

Pengetahuan membantu kita memahami apa yang ada di luar diri kita, sementara hikmat yang timbul dari pusat kita membantu kita mengasihi.

Menguasai sesama membutuhkan paksaan, menguasai diri membutuhkan kekuatan.

Ambisi bisa membuat kita menyimpang,
sementara kecukupan diri adalah mengetahui bahwa kita sudah cukup.

Hikmat, kekuatan, dan kecukupan diri,
adalah seperti sumsum dalam tulang kita,
sementara mengasihi akan menunjang dan memupuk struktur kita.

(Dari: Buku Tao Kehidupan yang Bertujuan, karya Judith Morgan & Andre de Zanger. Penerbit Lucky Publishers, 2003)

Tak Pernah Terpikirkan

Potret Diri Paul Cezanne
Selama 30 tahun, Paul Cezanne (1839-1906) hidup tersembunyi. Ia menghasilkan karya-karya lukis bernilai tinggi yang diberikan secara cuma-cuma kepada para tetangganya. Begitu besar kecintaan Cezanne terhadap seni lukis, sehingga ia tak pernah memikirkan untuk mendapat pengakuan. Ia pun tak pernah menduga, suatu ketika ia akan dipandang sebagai bapak seni lukis modern. 

Cezanne menjadi sohor tatkala seorang pedagang di Paris kebetulan menjumpai lukisannya. Pedagang itu lalu mengumpulkan beberapa lukisan Cezanne dan menggelar pameran pertama karya Cezanne. Dunia kagum atas keberhasilan menemukan seorang guru dan ahli seni lukis. 

Sementara itu, Cezanne sendiri tak kurang kagumnya saat ia berada di ruang pameran. Ia heran melihat sejumlah lukisannya dipamerkan. Berpaling kepada putranya, ia berkata, "Lihat, mereka memberi bingkai pada lukisan-lukisanku." 

Seperti nama besar, sering kali kesucian tidak disadari.

(Dari: Buku Doa Sang Katak 1 - Meditasi dengan Cerita, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Kanisius, 1991)

Selasa, 04 Oktober 2011

Cara Menghadapi Omelan

Ini kisah tentang seorang pastor yang hidup di Italia sekitar 600-700 tahun lalu. Suatu hari pengikut Fransiskus dari Asisi ini sedang berkeliling menerima derma makanan. Lalu, ia melihat seorang pengemis yang meminta makan kepadanya. Tetapi sang pastor belum mendapat derma apa-apa. Ia berkata, “Aku hanya punya jubahku.” Pengemis menjawab, “Itu juga boleh.”

Kembali ke biara dalam keadaan telanjang, ia sempat ditolak para pastor. Setelah tahu ia memberikan jubahnya kepada pengemis, ia diberi jubah pengganti. Beredar cerita dari mulut ke mulut di antara para pengemis tentang kedermawanan sang pastor. Keesokan hari, pengemis lain meminta jubah pastor itu lagi. Ia pun memberikannya.

Tiga kali hal tersebut terjadi, kepala biara lalu memanggilnya. “Perbuatanmu sangat baik, tetapi para pengemis kemudian mengambil keuntungan darimu. Kita tak punya persediaan jubah yang banyak. Jangan kamu lakukan lagi!” pesan kepala biara.

Pastor itu tidak berdebat atau membela diri. Ia hanya tunduk mendengarkan. Setelah satu jam lebih berlalu, “Sekarang kamu boleh pergi,” kata kepala biara. Pastor itu pergi. Sejam kemudian, ia datang kembali ke ruang kepala biara dengan semangkuk sup. “Untuk apa sup ini?” Pastor itu menjawab, “Anda tadi menegur saya dengan begitu keras, tentu tenggorokan Anda kering, maka saya buatkan sup ini…”

Ia sungguh tulus. Ia begitu welas asih hingga tak memikirkan dirinya sendiri. Bukankah ini luar biasa? Saya benar-benar terinspirasi dengan kisah tersebut. Itulah cara menghadapi omelan orang lain. Anda tidak mengizinkan orang lain membuat Anda marah, Anda pun tidak menghukum. Begitulah welas asih sejati. Orang yang benar-benar perkasa dan baik, tidak akan pernah marah.      

(Dari: Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! – 108 (Lagi) Cerita Pembuka Pintu Hati, karya Ajahn Brahm. Penerbit Awareness Publication, 2011)

Kegembiraan Sejati

Jika seorang datang dan berkata bahwa semua guru di universitas Paris bergabung dalam perkumpulan kita, atau seorang saudara kita telah mengubah orang-orang yang tidak percaya menjadi percaya, atau saya memiliki anugerah Ilahi sehingga saya dapat menyembuhkan orang sakit dan melakukan keajaiban – saya katakan itu semua bukanlah kegembiraan sejati.

Kegembiraan sejati adalah ketika saya kembali dari Perugia dan tiba di Portiuncula pada tengah  malam di musim dingin, di mana butiran es berkumpul di tepi jubah saya dan menyayat kaki sampai berdarah. 

Saya menuju pintu masuk biara, mengetuk dan berteriak minta dibukakan pintu. Tetapi seorang saudara yang ada di dalam tidak mengenali dan berkali-kali menolak membukakan pintu. “Pergi! Kamu orang tolol, idiot. Kami sudah punya banyak saudara di sini dan tak butuh satu lagi seperti kamu!” 

Jika saya dapat menjaga kesabaran saya melalui semua itu dan tidak cepat kecewa, maka itulah kegembiraan sejati.   

-                                                                                           - St. Fransiskus Asisi (1181-1226)

(Dari: Buku Sepanjang Tahun bersama Fransiskus – Meditasi Harian dari Perkataan dan Hidupnya, karya Murray Bodo. Penerbit Bina Media Perintis, 2006)

Senin, 03 Oktober 2011

Layar Putih dan Dayung Kayu


Di sebuah sungai yang lebar tampak sebuah perahu nelayan menggunakan layar putih mengikuti angin menuju ke hilir. Layar putih menerima tiupan angin yang mengantar perahu berlayar maju. Sang layar sangat mengagumi bayangannya yang terlihat di permukaan air – seperti kupu-kupu raksasa putih yang mengepakkan sayapnya. Begitu indah, begitu gagah!

Ia menertawai dayung kayu yang tersimpan di pinggir perahu. “Hai Dayung, kamu benda yang malas dan tak berguna. Perahu melaju cepat karena saya. Sedang kamu? Tak mengerjakan apa-apa, hanya bermalas-malasan di sana!” kata si Layar. Dayung tidak membalas sepatah kata pun.

Ketika senja, perahu bersiap untuk kembali ke daratan. Nelayan melepaskan tali lalu menggulung layar dari atas ke bawah. Lalu, nelayan mengambil dayung kayu dan mulai mendayung. Perahu pun bergerak menuju tepian.

Si Layar berteriak ke nelayan, “Mengapa saya digulung? Mengapa kau menggunakan dayung kayu yang tak berguna itu?”

“Ha.. ha.. sekarang kamu mengerti kan?” tanggap si Dayung. “Kamu merasa bangga dan hebat ketika sedang mengikuti angin. Sedangkan aku, walaupun kemampuanku tak besar, justru aku bisa digunakan untuk melawan angin!”

Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan. Pada saat diri sendiri berjaya, janganlah memandang rendah orang lain. Hanya dengan mengenal diri sendiri secara tepat dan berjiwa besar menghadapi kehidupan, barulah kita dapat menikmati kegembiraan hidup.

(Dari: Buku 200 Kisah Terindah Sepanjang Masa dari China, karya Din Man. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2011)

Minggu, 02 Oktober 2011

Hidup dengan Kesadaran Murni

Banyak orang mencari Allah jauh di luar. Mereka melakukan peziarahan rohani ke berbagai tempat, berdoa dengan khusuk di tempat-tempat ibadah. Mereka mencari guru-guru spiritual yang bisa memuaskan keinginan mereka. Dengan berziarah dan berdoa, mereka bisa mengalami perasaan dekat dengan Allah.

Namun begitu ke luar dari tempat ibadah, kembali dari peziarahan, mereka lupa di mana Allah mereka. Hidup kembali didera konflik dan penderitaan harian. Orang tetap saja dengan enak terlibat praktik korupsi, pemiskinan, kekerasan, pelecehan, ketidakadilan, perusakan lingkungan, dan seterusnya. Tuhan hanya hidup di tempat-tempat ibadah, tempat doa dan ziarah. Di luar itu semua, Tuhan berada jauh dari tengah kehidupan manusia yang penuh konflik dan kekerasan.

Tuhan yang dicari di luar diri, tidak cukup mampu mengubah wajah manusia, masyarakat, dan lingkungan hidup. Pencarian akan Tuhan di luar sesungguhnya merupakan pelarian diri dari berbagai konflik kehidupan. Pencarian semacam itu justru semakin mengasingkan diri dari sejatinya diri.

Hubungan manusia dengan Tuhan sebenarnya begitu dekat satu sama lain. Seperti kesatuan antara es dengan air, begitulah kesatuan antara manusia dengan Tuhan. Anda tidak bisa meminum es yang bebas air. Air adalah substansi dari es. Tuhan adalah Jati Diri manusia, tak terpisahkan.

Kesatuan manusia dengan Tuhan melampaui batas ruang dan waktu. Kalau orang merasa jauh dari Tuhan, itu hanyalah produk dari pikiran. Pikiran manusia inilah yang membuat jarak dan pemisahan. Semua itu bergerak dalam ruang dan waktu. Namun yang sesungguhnya nyata adalah Tuhan tak terpisah dari manusia. Kalau orang tidak menyadarinya, itu persoalan lain.

Hidup dengan Kesadaran Murni akan membuat pertemuan dengan Tuhan di dalam. Kalau orang hidup dalam keadaan sadar terus-menerus, barangkali ia tahu apa artinya kepenuhan hidup. Kepenuhan hidup tersebut bisa dialami sekarang, bukan merupakan akumulasi pencapaian olah spiritual setelah sekian lama. Saat ini pula, kalau Kesadaran Murni mekar dalam diri Anda, Anda mungkin mengalami kepenuhan hidup.   

(Dari: Buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2009)

Sabtu, 01 Oktober 2011

Engkau Mendengar Burung Berkicau?

Orang Hindu memiliki gambaran indah tentang hubungan antara Tuhan dan ciptaanNya. Tuhan 'menarikan' ciptaanNya. Ia adalah Sang Penari dan ciptaan adalah tarianNya. Suatu tarian tidak bisa ada, jika yang menarikannya juga tidak ada. Engkau tak dapat membungkus tarian itu dan membawanya pulang, jika engkau menyukainya. Begitu gerak penari terhenti, tariannya pun tak ada lagi. 

Dalam usaha mencari Tuhan, manusia terlalu banyak berpikir, merenung, dan berbicara. Bahkan ketika memandang tarian yang kita sebut ciptaan, manusia masih saja terus berpikir, berbicara dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain, merenung, menelaah, serta berfilsafat. Kata-kata, kata-kata, kata-kata belaka. Suara-suara, suara-suara, suara-suara belaka.

Diam dan lihatlah tarian itu. Hanya melihat saja: sebuah bintang, sekuntum bunga, sehelai daun layu, seekor burung, sebongkah batu.... Satu lambaian tarian saja sudah cukup. Lihatlah. Dengarlah. Hiruplah. Sentuhlah. Nikmatilah. Dan kiranya tak lama kemudian, engkau akan menjumpaiNya. Sang Penari sendiri.

Seandainya engkau sungguh-sungguh pernah mendengarkan kicauan seekor burung, pernah memandang sebatang pohon..., engkau sudah mengerti - melampaui segala perkataan dan pemikiran.

Apa katamu? Engkau telah mendengar puluhan burung berkicau dan melihat ratusan batang pohon? Apakah yang kau lihat itu sungguh sebatang pohon atau hanya 'pohon-pohon'? Jika engkau memandang sebatang pohon, tetapi hanya melihat sebatang pohon, sebenarnya kau belum melihat pohon itu. Jika engkau memandang pohon dan melihat keajaiban, nah, barulah engkau - akhirnya - melihat pohon! Pernahkah hatimu dipenuhi rasa kagum yang tak terhingga, ketika mendengar seekor burung berkicau?

(Dari: Buku Burung Berkicau, karya A. de Mello, S.J. Penerbit Yayasan Cipta Loka Caraka, 1994)