 |
| Amy Biehl |
Ketika sedang melakukan kegiatan kemanusiaan di Afrika Selatan, Amy Biehl (1967-1993) - mahasiswi pascasarjana program Fulbright di Stanford University dan aktivis anti-apartheid, dibunuh secara mengenaskan oleh empat pemuda pada 25 Agustus 1993.
Orangtua Amy, Linda dan Peter Biehl, yang tinggal di California, Amerika Serikat, kemudian mendatangi lokasi tempat Amy terbunuh. Guguletu di Afrika Selatan adalah daerah sangat kumuh, kampung halaman para pembunuh Amy.
Pasangan Biehl sadar, kondisi lingkungan seperti itu dapat memengaruhi para pemuda di sana untuk melakukan tindak kriminal. Untuk mengenang Amy, orangtuanya mendirikan Yayasan Amy Biehl yang bertujuan memberi berbagai pelatihan bagi pemuda-pemudi di Guguletu, agar mereka bisa tumbuh menjadi manusia yang punya kualitas hidup lebih baik dan mencegah terjadinya tindak kekerasan.
Sementara itu, keempat pemuda yang membunuh Amy dijatuhi hukuman penjara selama 18 tahun. Tetapi, setelah menjalani masa tahanan selama 4 tahun, terjadi perubahan politik sehingga mereka mendapat amnesti.
Tahun 1998, dengan hati lapang Peter dan Linda menerima Easy Nofomela dan Ntebecko Penny - dua dari empat pemuda yang membunuh Amy, di tempat pelatihan mereka.
Ketika Peter ditanya oleh wartawan tentang tindakannya tersebut, Peter menjawab, "Dengan memaafkan, kami telah membebaskan diri kami sendiri."
Ketika Anda memaafkan dan tidak menaruh dendam kepada siapa pun, jiwa Anda akan tenang dan bebas dari kemelut permusuhan. (Anonim)
(Dari: Buku Pembelajaran Moral dari Sifat Binatang - 50 Tip Motivasi dari 10 Binatang yang akan Membangun Kepribadian Anda, karya Judirman Djalimin. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2010)
Burung merpati termasuk salah satu makhluk hidup yang tidak punya kantong empedu. Makhluk hidup yang tak memiliki kantong empedu, tidak akan pernah bisa merasakan sakit hati, kesal, marah, balas dendam, dan sebagainya. Karena itu, burung merpati digambarkan sebagai lambang ketulusan.
Agama-agama selalu mengajarkan kepada kita untuk mengasihi sesama dan menghilangkan sifat-sifat negatif seperti benci, kesal, tawar hati, dan balas dendam. Kita perlu belajar dari merpati, sehingga kita bisa menerapkan forgive and forget - memaafkan dan melupakan.
Ketika kita memiliki hati yang bersih, Tuhan akan selalu membuka jalan dan mencurahkan berkah karunia-Nya kepada kita.
(Dari: Buku Pembelajaran Moral dari Sifat Binatang - 50 Tip Motivasi dari 10 Binatang yang akan Membangun Kepribadian Anda, karya Judirman Djalimin. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2010)
Burung rajawali adalah burung yang paling panjang usianya di antara semua jenis burung. Seekor rajawali bisa mencapai umur 70 tahun. Tetapi, ketika memasuki umur 40 tahun, rajawali harus membuat perubahan besar dan mengambil keputusan yang menyangkut hidup atau mati.
Di usia 40 tahunan, paruh rajawali bertambah panjang dan membengkok hampir mencapai dada, sehingga tidak bisa memangsa makanannya. Cakarnya semakin tua dan melemah, sehingga mengurangi daya cengkeram terhadap mangsanya. Bulunya bertambah lebat dan berat, sehingga sulit terbang tinggi.
Di saat itulah, rajawali harus meluangkan waktu untuk membarui dirinya. Rajawali punya dua pilihan: mati kelaparan atau harus menjalankan dan melalui proses perubahan yang sangat menyakitkan.
Untuk menjalani proses perubahan, rajawali harus terbang ke puncak gunung. Di sana ia harus mematahkan paruhnya dengan cara menghantamkannya berulang-ulang ke batu yang keras. Selain itu, rajawali juga harus mencabuti cakar dan bulu-bulunya, agar kuku dan bulu baru bisa tumbuh kembali.
Rajawali harus menanti dengan sabar proses pertumbuhan paruh, cakar, dan bulunya. Ia perlu sinar matahari untuk mempercepat penyembuhan dan pertumbuhan bulu-bulunya. Proses perubahan yang sangat menyiksa dan menyakitkan itu harus dijalani seekor rajawali selama enam bulan. Tetapi, setelah melalui proses perubahan untuk pembaruan ini, rajawali mampu hidup 30 tahun lagi.
Jika kita perhatikan dengan saksama, proses perubahan yang dialami rajawali sangat mirip dengan proses perubahan yang dialami manusia. Namun, kenyataannya banyak orang tidak mau dan tidak tahan menjalani proses perubahan; walaupun mereka sadar, dengan melakukan perubahan, mereka akan menjadi manusia yang lebih baik.
(Dari: Buku Pembelajaran Moral dari Sifat Binatang - 50 Tip Motivasi dari 10 Binatang yang akan Membangun Kepribadian Anda, karya Judirman Djalimin. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2010)
Yang kita terima dalam hubungan kita memungkinkan kita untuk mengenali apa yang kita berikan. Karena kita ingin yang terbaik dalam hubungan kita, kita pun memberikan yang terbaik.
Dengan memberikan yang terbaik dari diri kita, kita dapat menikmati yang terbaik dari orang lain. Memberikan yang terbaik dalam diri kita akan membuka pintu dan memberikan kesempatan untuk pemberian baru, kesenangan baru, dan kenikmatan baru dalam hubungan kita.
Latihan
Hari ini, cobalah berikan yang terbaik. Berikan hati Anda, berupayalah sekuat mungkin, dan temukan betapa indahnya hari ini.
(Dari: Buku Kalau Sakit, Bukan Cinta - 366 Rahasia Hubungan yang Sukses hal. 307, karya Chuck Spezzano, Ph.D. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
 |
| Corrie Ten Boom |
Dalam buku The Hiding Place, penulis Corrie Ten Boom (1892-1983) mengisahkan masa penuh ketegangan yang dialami keluarganya di Belanda selama invasi Jerman.
Suatu malam, saat Corrie berbaring gelisah di tempat tidurnya, para pengebom perang terbang dengan suara bergemuruh, meriam meletus di dekat sana. Corrie juga mendengar suara saudara perempuannya di dapur lantai bawah.
Tak dapat tidur, Corrie bergabung dengan Betsie untuk minum secangkir teh. Keduanya berbincang sampai larut malam, hingga suara pengebom berangsur menghilang. Mereka tahu, ledakan-ledakan telah mencabik-cabik sebuah daerah dekat rumah mereka, namun semua sekarang sudah senyap.
Corrie berjalan tersandung-sandung dalam gelap, kembali ke tempat tidurnya. Ia menjulurkan tangan untuk menepuk-nepuk bantalnya sebelum membaringkan diri. Sesuatu yang tajam menggores tangannya. Benda itu adalah logam bergerigi sepanjang 25 cm! Ia berteriak memanggil saudaranya, bergegas turun tangga dengan memegang pecahan meriam tersebut.
Sewaktu Betsie membalut luka di tangan saudaranya, Corrie berujar, "Betsie, kalau aku tidak mendengarmu di dapur dan minum teh bersamamu...." Betsie menyergah, "Tidak ada 'kalau' dalam dunia Tuhan. KehendakNya adalah keselamatan kita." Corrie kemudian meneruskannya ke seluruh dunia, "Kehendak Tuhan adalah tempat perlindungan kita."
Saya lebih memilih berjalan dengan Tuhan dalam kegelapan daripada pergi sendirian dalam terang.
(Dari: Buku Kisah-Kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Pemimpin, editor Dr. Lyndon Saputra. Penerbit Gospel Press, 2002)
Setiap hari dunia semakin rumit. Arah kemajuan yang otomatis adalah menuju peningkatan kerumitan. Kecenderungan ini kebanyakan kita sukai, karena kita menyukai perangkat keras yang canggih dan keren seperti pesawat ulang-alik, komputer super, jantung buatan, GPS (Global Positioning System).
Namun, kerumitan bisa menjadi berkah, bisa pula sangat mengganggu. Sebagai contoh, dunia medis menjadi luar biasa kompleks. Ketika buku referensi kedokteran pertama kali muncul tahun 1947, buku itu hanya berisi 300 halaman. Kini, buku itu setebal 3.000 halaman, dan tak ada seorang dokter pun di dunia yang mengetahui semua jenis pengobatan tersebut.
Kartu kredit Discover dan perusahaan telepon interlokal Sprint bersama-sama mengiklankan layanan mereka untuk telepon interlokal: "Menelepon dengan kartu kredit Anda itu mudah, yang perlu Anda lakukan hanyalah menekan 42 angkanya!"
Semua teknologi ada dampak positif dan negatif yang berkaitan dengan kompleksitas. Tanggung jawab kita memahami dinamika ini, kemudian setiap hari membuat keputusan yang berkaitan dengan dampak paling dominan.
Tidak cukup hanya melihat berapa banyak kecenderungan teknologis ini bisa membantu. Yang lebih penting, kita perlu memahami seberapa banyak teknologi ini bisa merusak. Janganlah hal-hal trendi atau gemerlapan menggoda kita untuk menerima kompleksitas, bila itu membahayakan dimensi-dimensi kehidupan yang sangat penting dalam emosi, relasi, dan spiritual.
Meskipun di sekeliling kita hidup ini menjadi lebih ruwet, upayakan agar kehidupan spiritual kita tidak menjadi lebih ruwet.
(Dari: Buku A Minute of Margin - Mengembalikan Keseimbangan kepada Hidup yang Sibuk, karya Richard A. Swenson, M.D. Penerbit CV Pionir Jaya, 2007)
Seseorang tidak dapat hidup tanpa mengambil risiko. Risiko terjalin dalam setiap aspek pengalaman kita sehari-hari:
Tertawa, berarti mengambil risiko kelihatan bodoh.
Menangis, berarti mengambil risiko kelihatan sensitif.
Mengulurkan tangan kepada orang lain, berarti mengambil risiko terlibat.
Menunjukkan perasaan, berarti mengambil risiko memperlihatkan diri kita kepada orang lain.
Mengasihi, berarti mengambil risiko tidak mendapat balasan kasih.
Hidup, berarti mengambil risiko mati.
Berharap, berarti mengambil risiko putus asa.
Mencoba, berarti mengambil risiko gagal.
(Anonim)
Meski demikian, bahaya terbesar dalam kehidupan adalah tidak mengambil risiko sama sekali. Orang yang tidak mengambil risiko:
- Tidak meraih apa pun,
- Tidak memiliki apa pun,
- Tidak merasakan apa pun,
- Tidak menjadi siapa pun.
Jangan takut mengambil risiko yang sudah diperhitungkan. Risiko itu penting bagi pertumbuhan dalam setiap areal kehidupan.
Lebih baik mengambil risiko sekarang, daripada selalu hidup dalam ketakutan.
(Dari: Buku Kisah-Kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Pemimpin, editor Dr. Lyndon Saputra. Penerbit Gospel Press, 2002)