Kita banyak menghabiskan masa hidup kita dengan menempatkan diri di tengah kontradiksi besar. Di satu pihak kita memiliki rasa yang kuat tentang mana yang benar dan mana yang salah.
Kita merasa heran, mengapa banyak orang tidak menanggung akibat dari perbuatan mereka? Mengapa si penjahat kembali ke jalan untuk merampok? Mengapa sang politikus licik bisa berulang kali terpilih kembali? Mengapa si pengusaha curang bisa menjadi sangat kaya?
Di pihak lain, apabila Anda seperti saya, Anda sering melanggar aturan-aturan "kecil" seperti batas kecepatan kendaraan dan nilai moral Anda sendiri, lalu memohon pada penguasa untuk membebaskan Anda. Dengan kata lain, kebanyakan kita menginginkan balasan setimpal bagi orang lain dan pengampunan bagi kita sendiri.
St. Fransiskus Assisi mengajarkan pendekatan yang sama sekali berbeda. Ia tidak memandang kegagalan orang lain sebagai kesempatan untuk duduk di kursi hakim dan melontarkan vonis-vonis berat bagi para penjahat di dunia ini. Ia malah mengajarkan, apabila ada orang lain yang terjatuh, kita harus membungkuk dan membantu mereka berdiri.
Sebelumnya, Fransiskus tumbuh dengan rasa benci terhadap para penyandang lepra. Tetapi, ketika ia mulai mengarahkan hatinya kepada Allah, semua berubah. Suatu hari, ketika berpapasan dengan seorang penyandang lepra, Fransiskus mendekati dan menciumnya.
Sesuatu yang lebih dalam telah terjadi, saat Fransiskus pertama kali mencium si penyandang lepra. Dengan mendengarkan hatinya, bukan rasa takutnya, ia mengambil risiko keluar dari lingkungan amannya dan mengulurkan tangan kepada sesama dalam cinta.
Setelah satu kali melakukan hal tersebut, menjadi mudah untuk melakukannya lagi dan lagi. Segera saja Fransiskus belajar mengungkapkan kedermawanan yang sama kepada orang-orang miskin, orang-orang tersingkir, orang-orang kesepian, dan lainnya. Lambat laun kasih Allah melimpah dalam hidupnya dan kasih tersebut mengalahkan rasa perlindungan dirinya.
Bagaimana dengan kita? Apakah cinta kasih dan kedermawanan hanya milik para kudus, sementara kita memandang secara egois terutama pada diri kita? Batas pelindung apa yang telah kita dirikan, sehingga menghalangi kita melihat penderitaan sesama, mendengarkan tangisan mereka minta tolong, atau mengulurkan tangan dalam kasih dan ketulusan doa?
Bukalah mata dan hati Anda ketika mengemudikan mobil atau saat berjalan melintasi kota. Mungkin Allah memanggil Anda untuk mengasihi seseorang yang Anda anggap tidak pantas dikasihi.
(Dari:
Buku Ajaran-Ajaran St. Fransiskus –
Bagaimana Membawa Kesederhanaan dan Kerohanian ke dalam Hidup Anda Sehari-hari,
karya John Michael Talbot dan Steve Rabey. Penerbit Bina Media Perintis, Medan
2007)
Cari Blog Ini
Sabtu, 08 Juni 2013
Cermin
Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.
- Salomo/Sulaiman bin Daud
(+ 1000 SM)
(Dari: Kitab Amsal 27:19)
- Salomo/Sulaiman bin Daud
(+ 1000 SM)
(Dari: Kitab Amsal 27:19)
Rabu, 05 Juni 2013
Ke-aku-an
Seekor burung gagak sambil berkoak-koak terbang dari utara ke selatan. Di tengah perjalanan ia merasa capek dan hinggap di dahan sebuah pohon besar untuk beristirahat. Ternyata, ada seekor burung merpati juga sedang beristirahat di situ.
"Engkau datang dari mana dan mau ke mana?" tanya burung merpati.
"Aku dari utara mau ke selatan, karena semua orang di utara tidak suka mendengar suaraku," jawab burung gagak dengan kesal.
"Kalau di utara orang tidak suka mendengar suaramu, apakah kau yakin di selatan orang akan menyukainya, kalau kau tidak mengubah suaramu?" tanya burung merpati lagi.
Mendengar komentar burung merpati, burung gagak membisu. Ia lalu terbang lagi sambil berkoak-koak entah ke mana.
Sering kali manusia yang berbuat salah terlalu mudah menuduh orang lain yang salah. Kalau seseorang tidak mau memperbaiki kesalahan, ke mana pun ia pergi tetap saja tidak disukai orang.
Kong Zi/Confucius (551-479 SM) memiliki empat pantangan: Tidak berprasangka, tidak mengharapkan yang terjadi harus sesuai dengan keinginan, tidak keras kepala mempertahankan pendapat, dan tidak melekat dengan ke-aku-an.
(Dari: Buku The Ancient Chinese Wisdom - Bebas dari Nafsu Keinginan Baru Bisa Hidup Tenang, karya Andri Wang. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
"Engkau datang dari mana dan mau ke mana?" tanya burung merpati.
"Aku dari utara mau ke selatan, karena semua orang di utara tidak suka mendengar suaraku," jawab burung gagak dengan kesal.
"Kalau di utara orang tidak suka mendengar suaramu, apakah kau yakin di selatan orang akan menyukainya, kalau kau tidak mengubah suaramu?" tanya burung merpati lagi.
Mendengar komentar burung merpati, burung gagak membisu. Ia lalu terbang lagi sambil berkoak-koak entah ke mana.
Sering kali manusia yang berbuat salah terlalu mudah menuduh orang lain yang salah. Kalau seseorang tidak mau memperbaiki kesalahan, ke mana pun ia pergi tetap saja tidak disukai orang.
Kong Zi/Confucius (551-479 SM) memiliki empat pantangan: Tidak berprasangka, tidak mengharapkan yang terjadi harus sesuai dengan keinginan, tidak keras kepala mempertahankan pendapat, dan tidak melekat dengan ke-aku-an.
(Dari: Buku The Ancient Chinese Wisdom - Bebas dari Nafsu Keinginan Baru Bisa Hidup Tenang, karya Andri Wang. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Tak Dikenali
Ketika orang diminta mencari Allah dalam batinnya, rasanya seperti menganjurkannya pergi ke planet lain. Apa yang lebih jauh dan lebih tak dikenali daripada dasar lubuk hatimu sendiri?
- Francois Fenelon (1651-1715), teolog dan penulis asal Perancis
(Dari: Buku Sang Pencari, Pencarian, dan Yang Kudus - Mutiara-Mutiara Pencerah untuk Menemukan Kebesaran Jiwa, karya Guy Finley. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
- Francois Fenelon (1651-1715), teolog dan penulis asal Perancis
(Dari: Buku Sang Pencari, Pencarian, dan Yang Kudus - Mutiara-Mutiara Pencerah untuk Menemukan Kebesaran Jiwa, karya Guy Finley. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2013)
Minggu, 02 Juni 2013
Tuhan dalam Bahasa Cinta
Suatu hari, seorang guru kebijaksanaan menyuruh setiap muridnya membeli seekor ayam, lalu menyembelih ayam itu di tempat tersembunyi yang tidak bisa dilihat siapa pun.
Sang guru berpesan, agar murid-muridnya kembali dengan membawa ayam sembelihan sebelum matahari terbenam.
Saat mereka kembali sore hari, semua murid membawa ayam sembelihan. Namun, murid termuda kembali dengan membawa seekor ayam yang masih hidup. Sang guru bertanya, bagaimana cara mereka menyembelih ayam? Seorang murid mengatakan, ia membawa ayam ke dalam rumah, menutup pintu, dan menyembelihnya. Murid lain pergi ke tempat gelap dan terpencil dalam hutan, lalu menyembelih ayam di sana.
Sambil memeluk ayam, murid termuda berkata, "Aku telah membawa ayam ini ke dalam rumah, tetapi Tuhan berada di segala sisi rumah. Aku pergi ke tempat paling terpencil di hutan, Tuhan tetap ikut bersamaku. Tak ada satu pun tempat di mana Tuhan tidak dapat melihatku."
Banyak orang mengartikan takwa dengan takut. Saya memaknai takwa dengan bahasa cinta. Takwa adalah merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Inilah esensi cinta yang tertinggi. Tuhan sendiri adalah sumber cinta. Saya kira bahasa cinta jauh lebih tinggi daripada bahasa takut.
Saya akan jelaskan dengan contoh lebih konkret tentang bahasa cinta. Jika Anda mencintai seseorang, Anda akan mulai dengan level pertama cinta, yaitu percaya. Dalam konteks hubungan dengan Tuhan, inilah yang disebut iman.
Dengan berbekal kepercayaan itu, Anda kemudian memasuki level kedua cinta, yaitu perbuatan atau tindakan. Anda akan melakukan tindakan-tindakan cinta untuk kekasih Anda.
Setelah itu, level ketiga cinta adalah merasakan kehadiran orang yang kita cintai di mana pun kita berada. Anda tidak akan mengkhianati orang yang Anda cintai bukan karena Anda takut kepadanya, tetapi karena cinta Anda yang begitu besar dan selalu terjalin kontak batin yang dalam.
Tuhan sungguh dekat. Tetapi, kita sering tak menyadari kedekatan-Nya. Ini seperti cerita seekor ikan kecil yang sedang mencari samudera. "Samudera adalah tempat engkau berenang sekarang," jawab ikan lain. "Hah? Ini hanya air. Yang kucari adalah samudera," sangkal ikan kecil itu. Dengan perasaan sangat kecewa, ia pergi mencari samudera di tempat lain.
Hal demikian dapat juga terjadi pada kita. Tuhan tidak perlu dicari. Ia bahkan lebih dekat daripada urat leher kita sendiri!
(Dari: Buku Life is Beautiful - Sebuah Jendela untuk Melihat Dunia, karya Arvan Pradiansyah. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2013)
Sang guru berpesan, agar murid-muridnya kembali dengan membawa ayam sembelihan sebelum matahari terbenam.
Saat mereka kembali sore hari, semua murid membawa ayam sembelihan. Namun, murid termuda kembali dengan membawa seekor ayam yang masih hidup. Sang guru bertanya, bagaimana cara mereka menyembelih ayam? Seorang murid mengatakan, ia membawa ayam ke dalam rumah, menutup pintu, dan menyembelihnya. Murid lain pergi ke tempat gelap dan terpencil dalam hutan, lalu menyembelih ayam di sana.
Sambil memeluk ayam, murid termuda berkata, "Aku telah membawa ayam ini ke dalam rumah, tetapi Tuhan berada di segala sisi rumah. Aku pergi ke tempat paling terpencil di hutan, Tuhan tetap ikut bersamaku. Tak ada satu pun tempat di mana Tuhan tidak dapat melihatku."
Banyak orang mengartikan takwa dengan takut. Saya memaknai takwa dengan bahasa cinta. Takwa adalah merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Inilah esensi cinta yang tertinggi. Tuhan sendiri adalah sumber cinta. Saya kira bahasa cinta jauh lebih tinggi daripada bahasa takut.
Saya akan jelaskan dengan contoh lebih konkret tentang bahasa cinta. Jika Anda mencintai seseorang, Anda akan mulai dengan level pertama cinta, yaitu percaya. Dalam konteks hubungan dengan Tuhan, inilah yang disebut iman.
Dengan berbekal kepercayaan itu, Anda kemudian memasuki level kedua cinta, yaitu perbuatan atau tindakan. Anda akan melakukan tindakan-tindakan cinta untuk kekasih Anda.
Setelah itu, level ketiga cinta adalah merasakan kehadiran orang yang kita cintai di mana pun kita berada. Anda tidak akan mengkhianati orang yang Anda cintai bukan karena Anda takut kepadanya, tetapi karena cinta Anda yang begitu besar dan selalu terjalin kontak batin yang dalam.
Tuhan sungguh dekat. Tetapi, kita sering tak menyadari kedekatan-Nya. Ini seperti cerita seekor ikan kecil yang sedang mencari samudera. "Samudera adalah tempat engkau berenang sekarang," jawab ikan lain. "Hah? Ini hanya air. Yang kucari adalah samudera," sangkal ikan kecil itu. Dengan perasaan sangat kecewa, ia pergi mencari samudera di tempat lain.
Hal demikian dapat juga terjadi pada kita. Tuhan tidak perlu dicari. Ia bahkan lebih dekat daripada urat leher kita sendiri!
(Dari: Buku Life is Beautiful - Sebuah Jendela untuk Melihat Dunia, karya Arvan Pradiansyah. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2013)
Rabu, 29 Mei 2013
Menemukan Yang Paling Penting
Setelah mengikuti pelatihan kepemimpinan tentang "Apa yang Paling Penting," seorang eksekutif mengirim surat ke kantor Franklin Covey di Amerika Serikat. Isinya cukup menggugah, saya menuliskan kutipannya untuk Anda.
"Saya mengikuti pelatihan Anda setahun lalu. Sebelumnya saya tidak sadar bahwa apa yang saya lakukan setiap hari haruslah didasarkan pada nilai-nilai saya. Selesai pelatihan, saya mulai menyelami nilai-nilai saya, mencari apa yang terpenting bagi saya. Dalam proses kontemplasi itu, saya menemukan bahwa satu hal terpenting adalah anak lelaki saya yang berusia 8 tahun. Saya sadar, saya belum melakukan apa-apa untuknya. Karena itu, sejak tahun lalu saya putuskan mencurahkan perhatian untuknya."
Eksekutif tersebut kemudian menceritakan beberapa kejadian menyenangkan yang ia alami bersama anaknya. Di halaman ketiga suratnya, ia mengatakan, "Minggu lalu, anak saya itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Saya sangat sedih karena kehilangan anak tercinta. Tetapi saya sama sekali tidak merasa bersalah. Untuk pertama kali, saya merasakan ketenangan batin yang dalam. Terima kasih, Anda telah mengubah hidup saya."
Langkah terpenting dalam hidup adalah menemukan apa yang paling penting. Banyak orang terlalu sibuk, sampai lupa merenungkan apa yang sebenarnya mereka cari. Mereka melakukan sesuatu yang tidak jelas tujuannya. Mereka melakukan begitu banyak hal yang tak penting dan mengorbankan hal-hal yang penting.
Hidup memang penuh kesenangan yang menipu. Karena itu, sebelum berhasil menemukan yang terpenting, Anda akan menganggap semua hal penting. Akibatnya, tak pernah cukup waktu untuk melakukan semuanya.
Orang yang melakukan hal terpenting dalam hidupnya senantiasa merumuskan tujuan dari apa pun yang dilakukannya. Lebih dari itu, Anda perlu menuliskan tujuan tersebut dengan jelas. Ini penting, karena banyak hal dapat mengganggu dan membelokkan Anda dari tujuan semula.
Contohnya, seorang kawan beserta keluarganya berlibur ke Yogya. Dulu ia pernah kuliah di sana. Sampai di Yogya, ia menghubungi teman-teman lamanya, sehingga ia sibuk dengan acara "reunian," sementara istri dan anak-anaknya dibiarkan tinggal di hotel. Alhasil, liburan keluarga justru menciptakan kesenjangan komunikasi dalam keluarga.
Untuk bisa sukses dalam hidup, temukanlah apa yang paling penting. Tuliskan apa yang bisa Anda lakukan, agar semua orang yang dekat dengan Anda punya kesan mendalam tentang hidup Anda. Dengan demikian Anda paham apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam hidup ini.
(Dari: Buku Life is Beautiful - Sebuah Jendela untuk Melihat Dunia, karya Arvan Pradiansyah. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2013)
"Saya mengikuti pelatihan Anda setahun lalu. Sebelumnya saya tidak sadar bahwa apa yang saya lakukan setiap hari haruslah didasarkan pada nilai-nilai saya. Selesai pelatihan, saya mulai menyelami nilai-nilai saya, mencari apa yang terpenting bagi saya. Dalam proses kontemplasi itu, saya menemukan bahwa satu hal terpenting adalah anak lelaki saya yang berusia 8 tahun. Saya sadar, saya belum melakukan apa-apa untuknya. Karena itu, sejak tahun lalu saya putuskan mencurahkan perhatian untuknya."
Eksekutif tersebut kemudian menceritakan beberapa kejadian menyenangkan yang ia alami bersama anaknya. Di halaman ketiga suratnya, ia mengatakan, "Minggu lalu, anak saya itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Saya sangat sedih karena kehilangan anak tercinta. Tetapi saya sama sekali tidak merasa bersalah. Untuk pertama kali, saya merasakan ketenangan batin yang dalam. Terima kasih, Anda telah mengubah hidup saya."
Langkah terpenting dalam hidup adalah menemukan apa yang paling penting. Banyak orang terlalu sibuk, sampai lupa merenungkan apa yang sebenarnya mereka cari. Mereka melakukan sesuatu yang tidak jelas tujuannya. Mereka melakukan begitu banyak hal yang tak penting dan mengorbankan hal-hal yang penting.
Hidup memang penuh kesenangan yang menipu. Karena itu, sebelum berhasil menemukan yang terpenting, Anda akan menganggap semua hal penting. Akibatnya, tak pernah cukup waktu untuk melakukan semuanya.
Orang yang melakukan hal terpenting dalam hidupnya senantiasa merumuskan tujuan dari apa pun yang dilakukannya. Lebih dari itu, Anda perlu menuliskan tujuan tersebut dengan jelas. Ini penting, karena banyak hal dapat mengganggu dan membelokkan Anda dari tujuan semula.
Contohnya, seorang kawan beserta keluarganya berlibur ke Yogya. Dulu ia pernah kuliah di sana. Sampai di Yogya, ia menghubungi teman-teman lamanya, sehingga ia sibuk dengan acara "reunian," sementara istri dan anak-anaknya dibiarkan tinggal di hotel. Alhasil, liburan keluarga justru menciptakan kesenjangan komunikasi dalam keluarga.
Untuk bisa sukses dalam hidup, temukanlah apa yang paling penting. Tuliskan apa yang bisa Anda lakukan, agar semua orang yang dekat dengan Anda punya kesan mendalam tentang hidup Anda. Dengan demikian Anda paham apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam hidup ini.
(Dari: Buku Life is Beautiful - Sebuah Jendela untuk Melihat Dunia, karya Arvan Pradiansyah. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2013)
Tidak Ada yang Kurang
Berpuaslah dengan apa yang kita miliki, bergembiralah dengan apa yang ada. Ketika kita menyadari bahwa tidak ada yang kurang, seluruh dunia menjadi milik kita.
- Lao Tzu (sekitar abad ke-6 SM), filsuf China
(Dari: Buku Chicken Soup for the Soul - Think Positive, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Amy Newmark. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
- Lao Tzu (sekitar abad ke-6 SM), filsuf China
(Dari: Buku Chicken Soup for the Soul - Think Positive, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Amy Newmark. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)






