Cari Blog Ini

Rabu, 14 Desember 2011

Lebih dari Kata-Kata Suci

Ada seorang rahib muda duduk di luar biara, berdoa dengan tangan terkatup. Ia kelihatan sangat suci dan mendaraskan kata-kata suci sepanjang hari. Hari demi hari ia mendaraskan kata-kata itu, dan percaya bahwa ia pasti akan memperoleh rahmat.

Suatu hari, kepala biara itu duduk di sampingnya dan memungut batu bata. Kemudian, ia mulai menggosokkan satu batu bata ke batu bata lain. Dari hari ke hari ia berbuat demikian. Setelah beberapa minggu, rahib muda itu tak bisa lagi menahan keingintahuannya.

Ia bertanya, "Apa yang sedang Bapa lakukan?"
"Saya sedang mencoba membuat sebuah cermin," kata kepala biara itu.
"Tetapi, tidak mungkin," ujar rahib muda itu, "Bapa tidak bisa membuat cermin dari batu bata."
"Betul," jawab kepala biara, "juga tak mungkin bagimu memperoleh rahmat dengan tidak melakukan sesuatu yang lain daripada mendaraskan kata-kata suci sepanjang hari."

(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna - 100 Cerita Bijak jilid ke-3, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2002)

Bahasa Paling Baik

Yang paling diperlukan untuk maju ialah berdiam diri di hadapan Allah yang Mahabesar dari berbagai keinginan dan lidah kita; 
karena bahasa yang paling baik didengarNya ialah cinta kasih yang diam.

(Dari: Karya Kecil Yohanes dari Salib - Kaidah Cinta Kasih, art. 53 - Cafe Rohani November 2010)

Selasa, 13 Desember 2011

Patacara

Sebagian besar orang yang mengalami banyak derita dalam hidup mereka bisa menjadi guru-guru yang besar, sebab mereka tahu bagaimana rasanya sakit dan mereka tahu apa itu derita dari pengalaman mereka. Salah satu guru hebat di zaman Buddha adalah Patacara, seorang perempuan, biksuni.

Patacara berasal dari keluarga baik dan terpandang. Ia jatuh cinta kepada seorang dari kasta lebih rendah. Kedua orangtuanya tak mengizinkan ia menikah dengan pria itu, maka ia kawin lari dan hidup di hutan. Ketika ia mengandung anak pertama, merupakan tradisi di India untuk pergi mengunjungi orangtuanya. Maka, ia pulang ke rumah orangtuanya untuk melahirkan di sana. Namun, di tengah jalan ia keburu melahirkan. Akibatnya ia terpaksa kembali ke hutan.

Kemudian saat mengandung anak kedua, ia berupaya pulang ke rumah orangtuanya, namun sekali lagi ia melahirkan di tengah jalan. Setelah melahirkan di tengah hutan, suaminya mencari kayu bakar untuk menghangatkan tubuh istri dan anaknya, tetapi seekor ular berbisa menggigit mati suaminya.

Sangat sulit untuk bisa bertahan hidup tanpa suami. Satu-satunya pilihan bagi Patacara adalah pulang ke rumah orangtuanya. Ia membawa kedua anaknya, yang sulung berumur 1-2 tahun dan yang baru lahir. Malangnya, hari itu turun hujan deras. Sungai meluap dan ia tak bisa menyeberangkan kedua anaknya dalam sekali jalan. Ia berencana membawa bayinya menyeberang dan meletakkannya di tepian seberang sungai, sebelum kembali mengarungi sungai untuk menjemput putra sulungnya.

Ketika berada di tengah sungai, mendadak seekor elang besar menyambar dan membawa bayinya. Patacara menjerit dan melambai-lambaikan tangannya, berupaya menakut-nakuti burung itu. Putra sulungnya mengira lambaian dan teriakan itu tanda untuk memintanya mendatangi sang ibu. Ia masuk ke sungai dan terseret arus deras. Dalam hitungan jam, Patacara kehilangan suami dan kedua anaknya. Seakan belum cukup, ketika ia berjalan mendekati rumah orangtuanya, ia diberitahu karena badai, pohon tumbang dan menimpa rumah orangtuanya. Keduanya tewas.

Kehilangan orangtua, dua anak, dan suami pada hari yang sama membuat Patacara kehilangan akal sehat. Ia menjadi gila, berkelana tak tentu arah, menggumam dan meracau. Karena batinnya mengalami begitu banyak tragedi, batinnya dengan sangat cepat terbuka ketika Buddha memberinya ajaran singkat. Duka yang begitu berat, rasa sakit yang begitu dahsyat, membuat Patacara bisa menjadi perempuan yang sangat tangguh, guru yang hebat.

(Dari: Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! - 108 (Lagi!) Cerita Pembuka Pintu Hati, karya Ajahn Brahm. Penerbit Awareness Publications, 2011)

Senin, 12 Desember 2011

Hanya Bercerita

Saat Baal Shem Tov (1698-1760), rabi besar bangsa Israel melihat kemalangan yang mengancam orang-orang Yahudi, ia biasanya pergi ke suatu tempat di hutan untuk bermeditasi. Di sana, ia menyalakan api, mengucapkan doa, dan kemalangan pun teratasi.

Selanjutnya, ketika muridnya, Magid dari Mezricth (1704-1772) yang termashyur, mendapat kesempatan menyampaikan doa untuk alasan yang sama. Ia pun pergi ke suatu tempat di hutan dan berkata, "Tuhan alam semesta, aku tak tahu bagaimana menyalakan api, tetapi aku masih bisa mengucapkan doa." 

Setelah itu, Rabi Moshe-Leib dari Sasov (1745-1807), yang ingin menyelamatkan rakyatnya, pergi ke hutan dan berkata, "Aku tak tahu bagaimana menyalakan api, aku juga tidak tahu berdoa, tetapi aku tahu tempatnya. Ini pasti sudah cukup." Seperti sebelumnya, kemalangan bisa diatasi.

Kemudian, tiba giliran Rabi Israel dari Rizhyn ingin mengatasi bencana yang menimpa bangsanya. Seraya duduk di kursi dengan kedua tangan menopang kepalanya, ia berkata kepada Allah, "Aku tak bisa menyalakan api, aku pun tak tahu berdoa, aku bahkan tak tahu tempat itu di hutan. Yang dapat kulakukan hanyalah bercerita. Ini pasti sudah cukup." Dan itu memang cukup.

(Dari: Buku Percikan Kebijaksanaan - Rangkaian Kisah Keutamaan Hidup, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2003)

Bicara dalam Kebisuan

... Tak kuasa aku mengajarimu berdoa dengan kata-kata,
Tuhan tak berbahasa dalam kata-kata,
kecuali Dia sendiri mengajarkan kata-kata itu lewat bibirmu.

Pun tak kuasa aku mengajarimu doa dari samudera, doa dari gunung, dan doa dari hutan belantara.

Tetapi kau yang lahir dari perut gunung, atau hutan,
maupun dari haribaan lautan,
akan menjumpai doa mereka dalam hatimu sendiri.
Dan kalau saja kau memasang telinga pada kesunyian malam,
kau akan mendengar mereka bicara dalam kebisuan:

Tuhanku, yang Agung, kemauanMu-lah yang berlaku dalam diriku.
DoronganMu-lah, dalam diriku, yang mengubah malam milikMu,
menjadi hari, yang merupakan milikMu pula.
Kami tak kuasa meminta apa-apa,
sebab Kaulah Mahatahu akan kebutuhan kami,
bahkan sebelum kebutuhan itu lahir dalam diri:
Dikaulah kebutuhan kami,
Dikaulah pemberi kami semua.

(Dari: Buku Sang Nabi, karya Kahlil Gibran. Penerbit Pustaka Jaya, 1995)

Minggu, 11 Desember 2011

Doa

Doa bagaikan darah yang menghidupi seluruh tubuh. Doa tidak bisa dipisahkan dari gerak kehidupan umat manusia. Sadar atau tidak, manusia punya hasrat untuk menyentuh Tuhan. Dari sanalah ia berasal; di sanalah akar dan pusat hidupnya; ke sana juga ia akan kembali. Itulah mengapa manusia berdoa.

Selain itu, orang berdoa dengan harapan mendapatkan apa yang dibutuhkan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Kadang orang berdoa memohon sesuatu dan permohonannya segera dikabulkan. Ada yang harus menunggu lama, baru dikabulkan. Ada juga yang tidak dikabulkan, meskipun orang sudah berdoa tak kunjung putus.

Doa adalah komunikasi antara pendoa dengan Allah. Tidak ada yang bisa memberi jaminan bahwa apa yang didoakan pasti terkabul. Namun demikian, ada beberapa faktor yang membuat doa efektif.

Pertama, doa sangat ditentukan pada tingkat kedalamannya. Orang berdoa itu seperti orang berkomunikasi melalui telepon. Saat orang ingin berkontak langsung dengan orang lain dari jarak tertentu melalui telepon, saat itu pula kontak itu terjadi. 

Kontak dalam doa tidak membutuhkan satelit, rentang waktu, dan ruang. Menempatkan Tuhan jauh di luar diri pendoa menjadikan doa kurang efektif. Kenyataannya, Tuhan begitu dekat dengan diri pendoa bahkan tak terpisahkan darinya. Tuhan dan pendoa tidak bisa dibatasi  ruang dan waktu. Maka, berdoa kepada Tuhan yang begitu dekat  akan membuat doa menjadi lebih dalam.

Kedua, seperti halnya telepon membutuhkan energi listrik atau baterai supaya mesin telepon bisa dipakai, doa juga membutuhkan energi. Kekuatan energi doa tidak lain adalah iman, harapan, dan kasih.

Pusat dari iman, harapan, dan kasih adalah Tuhan sendiri. Berdoa dengan iman berarti berdoa dengan berpusat bukan pada diri sendiri, tetapi pada Tuhan. Kalau orang bisa menyadari kapan cinta diri, kehendak diri, kepentingan diri berhenti; dan kapan cinta Allah, kehendak Allah, kepentingan Allah mulai menguasai dirinya, orang tahu secara aktual apa artinya berdoa dengan iman.
 
Sebenarnya, doa bukan hanya ditujukan supaya orang mendapatkan sesuatu yang khusus  untuk bertahan  hidup. Lebih jauh lagi, doa merupakan perjumpaan dengan Realitas Terakhir yang disebut Allah atau Tuhan.

Orang yang sudah lebih maju dalam doa, bisa merasa terganggu dengan kata, sehingga ia lebih merasa cocok untuk berdoa dalam keheningan. Itulah yang disebut doa hening. Doa hening adalah doa yang diam dengan batin yang sungguh-sungguh hening. Segala bentuk aktivitas pikiran tidak terpakai. Dalam keheningan itu, orang menyadari dan merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya dan segala sesuatu. Doa hening juga bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

(Dari: Buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2009)

Sabtu, 10 Desember 2011

Melihat tanpa Memandang

Aku telah berkeliling dunia,
aku telah melihat segalanya tetapi tidak melihat apa-apa.

Semakin banyak yang kuketahui, semakin sedikit yang kuketahui.

Selama ini, aku melihat dan mendengar di tempat-tempat yang keliru.
Kalau bukan demikian, mengapakah aku dan teman-temanku yang mendapatkan keistimewaan berlebihan,
tidak mencukupkan diri?

Lihatlah pepohonan, lihatlah segalanya.

Dengarkanlah burung-burung dan angin yang bertiup di antara pepohonan,

dengarkanlah segala suara.

Ketika melihat ke dalam, aku menemukan kecukupan diri.

(Dari: Buku Tao Pemulihan, karya Jim McGregor. Penerbit Lucky Publishers, 2003)