Suatu hari, Tuhan memberi aku tugas membawa keong berjalan-jalan. Aku tak dapat berjalan cepat, padahal keong sudah berusaha keras merangkak.
Setiap kali bergerak, keong hanya beralih sangat sedikit. Aku mendesak, menghardik, dan memarahinya. Keong memandangku dengan pandangan minta maaf, seakan berkata, "Aku sudah berusaha sekuat tenaga!"
Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak keong berjalan-jalan. Aku biarkan saja keong merangkak di depan, sedangkan aku kesal di belakang. Pelankan langkah, tenangkan hati....
Tiba-tiba, tercium aroma bunga-bunga. Aku merasakan hembusan lembut angin. Aku pun mendengar suara kicau burung-burung. Mengapa sebelumnya aku tidak merasakan semua ini?
Ternyata, Tuhan meminta keong untuk menuntunku berjalan-jalan, sehingga aku dapat memahami dan merasakan keindahan taman bunga yang tak pernah aku alami, saat aku cepat-cepat berjalan sendiri.
Seberapa banyak hal kita lewatkan karena kita menjalani hidup terlalu cepat? Dalam film Click, digambarkan seorang yang memiliki universal remote control, yang bisa dipakai untuk memperlambat atau mempercepat kehidupannya. Ketika hidupnya sedang kacau, ia mempercepat proses, sehingga segera melewati bagian-bagian sulit dalam hidupnya. Tanpa ia sadari, justru proses itulah yang mendewasakannya. Saat menyadarinya, ia sudah tua. Waktu memang tak bisa diulang kembali.
(Dari: Buku 100 Inspiring Stories - Kisah-kisah Kehidupan yang Menginspirasi, Menghibur, dan Menyejukkan Jiwa Anda, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit Andi-Yogyakarta, 2012)
Cari Blog Ini
Senin, 14 Januari 2013
Sabtu, 12 Januari 2013
Melihat Tanpa Tabir Pikiran
Orang memiliki mata untuk melihat. Tetapi kebanyakan orang tidak sungguh melihat secara utuh apa yang dilihatnya, karena orang melihat lebih cepat melalui pikirannya atau gambarannya daripada dengan mata dan batinnya yang polos.
Marilah kita lihat bersama kebiasaan umum kita melihat. Ketika kita melihat suatu objek, misalnya lukisan tertentu di depan kita, kita cenderung melihat melalui gambaran-gambaran yang sudah ada di benak kita. Lalu kita berpikir, menilai, mengapresiasi objek yang baru saja kita lihat.
Melihat dengan cara demikian tidak membuat suatu objek yang dilihat bisa ditangkap keutuhannya, karena sebenarnya kita hanya melihat gambaran kita sendiri tentang objek tersebut. Gambaran itu lalu kita proyeksikan ke luar pada objek yang kita lihat. Karena itu, apa yang kita lihat sebenarnya bukan objeknya itu sendiri, melainkan gambaran-gambaran kita sendiri.
Kalau mata Anda mengamati suatu objek dan batin yang mengamati tidak terseret pada objek tersebut, maka mata dan batin mampu melihat tanpa melibatkan pikiran atau si pemikir. Diam atau bergeraknya saraf-saraf mata memengaruhi diam atau bergeraknya otak; dan diamnya otak memengaruhi intensitas batin yang mampu melihat tanpa si pelihat.
Bisakah kita melihat segala sesuatu – misalnya alam semesta, pasangan atau sahabat, masalah-masalah kita - dari batin yang hening, tanpa intervensi ide-ide, tanpa harapan, tanpa ketakutan, tanpa keinginan, tanpa ingatan kenikmatan atau kepahitan, tanpa masa lampau?
Batin yang hening melihat segala sesuatu secara langsung dan bertindak seketika. Ia bertindak bukan untuk mencari sesuatu yang lain, kecuali bertindak dengan penuh perhatian seolah-olah sedang bertindak untuk pertama kalinya. Bisakah dengan batin yang hening dan mata terbuka Anda melihat alam semesta, sahabat, atau masalah-masalah Anda seolah baru pertama kali melihatnya?
(Dari: Buku Pencerahan - Kebenaran, Cinta, dan Kearifan Melampaui Dogma, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2013)
(Dari: Buku Pencerahan - Kebenaran, Cinta, dan Kearifan Melampaui Dogma, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2013)
Kamis, 10 Januari 2013
Melayani dengan Hati
![]() |
| Hotel Waldorf-Astoria, New York |
Pegawai hotel menjawab, "Semua kamar penuh karena ada tiga acara besar bersamaan di kota ini. Tetapi saya tak bisa membiarkan pasangan yang baik seperti Anda berhujan-hujan di luar pada tengah malam seperti ini. Bersediakah Anda berdua tidur di kamar saya?"
Keesokan hari, saat membayar tagihan, pria tua itu berkata kepada pegawai hotel yang melayaninya semalam, "Kamu orang yang seharusnya menjadi bos di sebuah hotel terbaik di negeri ini. Kamu melakukan pekerjaanmu dengan hati yang mau melayani. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untukmu." Pegawai hotel hanya tersenyum lebar dan melupakan kata-kata pria tua itu.
Sekitar dua tahun kemudian, ia menerima surat yang berisi tiket ke New York dengan permintaan agar ia menemui pasangan tua tersebut. Di New York, pria tua itu mengajak pegawai hotel ke sudut jalan antara Fifth Avenue Thirty-Fourth Street.
Pria tua itu lalu menunjuk sebuah bangunan baru yang luar biasa megah dan berkata, "Inilah hotel yang saya bangun untuk kamu kelola." Pegawai hotel itu adalah George Charles Boldt, yang menerima tawaran William Waldorf Astor, pria tua pemilik hotel Waldorf-Astoria yang merupakan salah satu hotel terbaik di dunia.
(Dari: Buku 100 Inspiring Stories - Kisah-kisah Kehidupan yang Menginspirasi, Menghibur, dan Menyejukkan Jiwa Anda, karya Xavier Quentin Pranata. Penerbit Andi-Yogyakarta, 2012)
Senin, 07 Januari 2013
Setiap Hari adalah Mahakarya
Tak pernah terpikir, aku akan pindah kembali ke rumah orangtuaku setelah lulus dari sekolah tinggi.
Malah sebenarnya, selama melanjutkan kuliah, aku mengatakan pada diri sendiri bahwa pindah dari budaya metropolitan Los Angeles yang menarik ke kamar tidur masa kecilku di sebuah kota pantai yang kecil bukanlah pilihan.
Maka, aku mengajukan beasiswa. Aku melamar ke universitas-universitas di berbagai penjuru negeri. Empat bulan kemudian, kotak suratku dipenuhi dengan surat penolakan.
Berminggu-minggu setelah kelulusan college, teman-temanku telah terpencar ke mana-mana. Aku mengemas barang-barangku ke dalam mobil orangtuaku dan pindah kembali ke rumah. Aku merasa seperti orang yang gagal total.
Aku memiliki ijazah college yang bergengsi, tetapi aku ada di sini, kembali ke titik di mana aku mulai empat tahun lalu. Aku merasa semua orang, kecuali diriku, melakukan hal-hal yang menyenangkan dan bermakna.
Setelah beberapa hari berduka, aku menemukan sebuah kutipan: "Jadikan setiap hari sebagai mahakaryamu." Aku sadar, aku tak perlu tinggal sendiri di sebuah kota baru yang menyenangkan untuk menjadikan hari-hariku sebagai mahakarya. Aku bisa mulai saat ini juga.
Aku menggeser cara pikirku dan mulai melihat keberadaanku di rumah sebagai hadiah, di mana aku bisa menghabiskan banyak waktu bersama orangtuaku. Relasi kami berkembang menjadi relasi yang saling menghargai dan mempertimbangkan.
Aku juga menjadi relawan di sekolah, mengajar latihan menulis dan membimbing anak-anak untuk membaca. Aku meluangkan waktu di rumah perawatan lansia, terlibat dalam kegiatan pembersihan pantai, dan acara-acara penggalangan dana.
Aku bukan orang gagal - tak pernah menjadi orang gagal. Sekarang aku sadar, cara pikir negatiflah yang telah menghalangiku. "Sukses"-ku tidak tergantung pada apa yang dipikirkan orang lain, atau apa yang dilakukan teman-temanku, atau apa yang menurutku "seharusnya" aku lakukan. Hidupku adalah sebuah kesuksesan, ketika aku menjadikan setiap hari sebagai mahakarya. (Dallas Woodburn)
(Dari: Buku Chicken Soup for the Soul - Think Positive, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Amy Newmark. Penerbit Gramedia, 2012)
Malah sebenarnya, selama melanjutkan kuliah, aku mengatakan pada diri sendiri bahwa pindah dari budaya metropolitan Los Angeles yang menarik ke kamar tidur masa kecilku di sebuah kota pantai yang kecil bukanlah pilihan.
Maka, aku mengajukan beasiswa. Aku melamar ke universitas-universitas di berbagai penjuru negeri. Empat bulan kemudian, kotak suratku dipenuhi dengan surat penolakan.
Berminggu-minggu setelah kelulusan college, teman-temanku telah terpencar ke mana-mana. Aku mengemas barang-barangku ke dalam mobil orangtuaku dan pindah kembali ke rumah. Aku merasa seperti orang yang gagal total.
Aku memiliki ijazah college yang bergengsi, tetapi aku ada di sini, kembali ke titik di mana aku mulai empat tahun lalu. Aku merasa semua orang, kecuali diriku, melakukan hal-hal yang menyenangkan dan bermakna.
Setelah beberapa hari berduka, aku menemukan sebuah kutipan: "Jadikan setiap hari sebagai mahakaryamu." Aku sadar, aku tak perlu tinggal sendiri di sebuah kota baru yang menyenangkan untuk menjadikan hari-hariku sebagai mahakarya. Aku bisa mulai saat ini juga.
Aku menggeser cara pikirku dan mulai melihat keberadaanku di rumah sebagai hadiah, di mana aku bisa menghabiskan banyak waktu bersama orangtuaku. Relasi kami berkembang menjadi relasi yang saling menghargai dan mempertimbangkan.
Aku juga menjadi relawan di sekolah, mengajar latihan menulis dan membimbing anak-anak untuk membaca. Aku meluangkan waktu di rumah perawatan lansia, terlibat dalam kegiatan pembersihan pantai, dan acara-acara penggalangan dana.
Aku bukan orang gagal - tak pernah menjadi orang gagal. Sekarang aku sadar, cara pikir negatiflah yang telah menghalangiku. "Sukses"-ku tidak tergantung pada apa yang dipikirkan orang lain, atau apa yang dilakukan teman-temanku, atau apa yang menurutku "seharusnya" aku lakukan. Hidupku adalah sebuah kesuksesan, ketika aku menjadikan setiap hari sebagai mahakarya. (Dallas Woodburn)
(Dari: Buku Chicken Soup for the Soul - Think Positive, karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Amy Newmark. Penerbit Gramedia, 2012)
Sabtu, 05 Januari 2013
Gairah Murni Kehidupan
Banyak orang bermimpi melakukan hal-hal besar, tetapi tidak pernah menyaksikan hal-hal besar itu menjadi kenyataan. Hanya sedikit orang arif yang tidak tergoda
untuk melakukan hal-hal besar, tetapi mereka melakukan segala sesuatu termasuk hal-hal paling kecil dengan gairah yang besar.
untuk melakukan hal-hal besar, tetapi mereka melakukan segala sesuatu termasuk hal-hal paling kecil dengan gairah yang besar.
Apa yang membuat Anda kurang bersemangat atau sedang bersemangat? Apa yang membuat batin bergairah atau tidak bergairah? Bukankah batin yang menemukan objek yang menyukakan hati membuatnya bergairah, dan objek yang tidak menyukakan hati membuatnya tidak bergairah?
Gairah yang kita kenal selalu memiliki objek. Karena itu ada berbagai bentuk gairah yang ditentukan oleh objeknya. Ada gairah untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan. Ada gairah untuk memuaskan kebutuhan seks atau memuaskan keinginan-keinginan indrawi. Ada gairah untuk menikmati seni atau hobi. Ada gairah untuk memiliki kesuksesan, kekayaan, kekuasaan, prestise, kehormatan. Ada gairah untuk mengumpulkan lebih banyak pengetahuan atau pengalaman.
Namun, bangkit tidaknya suatu gairah pertama-tama bukan ditentukan oleh objeknya, melainkan oleh hasrat atau keinginan. Keinginan ini diperkuat oleh gambaran atau citra tentang objeknya, entah objek fisik di luar batin maupun objek mental di dalam batin.
Ketika batin berhubungan dengan objek keinginan, muncullah sensasi tertentu. Begitu objek keinginan didapatkan, gairah lenyap seketika. Gairah akan bangkit kembali, ketika keinginan terbangkitkan.
Kalau Anda ingin membangkitkan gairah kehidupan yang bersumber dari keinginan, maka keinginan mesti dipupuk dan dikobarkan. Namun, setiap keinginan menciptakan konflik, pergulatan, dan penderitaan.
Adakah gairah yang lain yang tidak bersumber dari keinginan, bukan bersumber dari harapan, bukan emosi atau perasaan, bukan nafsu, bukan kelekatan, tidak menciptakan kenikmatan dan kesakitan? Adakah gairah kehidupan yang bebas konflik, pergulatan, dan penderitaan? Adakah gairah kehidupan yang tidak memiliki objek tertentu? Adakah gairah kehidupan tanpa sebab, sehingga bukan sebagai akibat dari sesuatu? Adakah api gairah murni yang memiliki vitalitas dan intensitas tak pernah padam, tak terkondisi oleh apa pun, mampu membakar apa yang palsu, dan membebaskan?
Gairah murni adalah energi kehidupan yang tidak bersumber dari keinginan. Karena itu, kita tidak bisa membangkitkan gairah murni dengan memupuk imajinasi, pikiran, harapan, dan keinginan. Alih-alih, kita perlu menyelami, melihat, dan memahami secara langsung apa saja yang bukan gairah murni dan membiarkan lenyap sepenuhnya.
Kalau api gairah sebagai nafsu dilihat dalam kejernihan, bukankah batin menerobos asap penderitaan, dan keluar dengan api gairah murni yang berbeda? Bisakah kita lalu membiarkan nyala api gairah murni itu bertindak dalam hubungan-hubungan kita, termasuk dalam hubungan dengan hal-hal paling kecil sekali pun?
Gairah murni adalah energi kehidupan yang tidak bersumber dari keinginan. Karena itu, kita tidak bisa membangkitkan gairah murni dengan memupuk imajinasi, pikiran, harapan, dan keinginan. Alih-alih, kita perlu menyelami, melihat, dan memahami secara langsung apa saja yang bukan gairah murni dan membiarkan lenyap sepenuhnya.
Kalau api gairah sebagai nafsu dilihat dalam kejernihan, bukankah batin menerobos asap penderitaan, dan keluar dengan api gairah murni yang berbeda? Bisakah kita lalu membiarkan nyala api gairah murni itu bertindak dalam hubungan-hubungan kita, termasuk dalam hubungan dengan hal-hal paling kecil sekali pun?
(Dari: Buku Pencerahan - Kebenaran, Cinta, dan Kearifan Melampaui Dogma, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2013)
Kamis, 03 Januari 2013
Ketenaran
![]() |
| Walt Disney |
"Enak," jawabnya, "jika ketenaran dapat membantu saya mendapatkan tempat duduk yang baik di pertandingan bola. Tetapi, ternyata ketenaran tidak pernah membantu saya dalam membuat film yang baik, tembakan yang tepat di permainan polo, atau meminta anak perempuan saya untuk patuh. Ketenaran juga tampaknya tidak mampu mengusir kutu pada anjing-anjing saya. Maka, saya kira tidak banyak gunanya menjadi seorang terkenal." (Clifton Fadiman)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-2, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2009)
Rabu, 02 Januari 2013
Kini
Jangan pernah memusingkan hari esok,
yang ada selalu hari ini.
Kemarin telah lenyap,
tak seorang pun dapat menjelaskannya.
Setiap menit harus berjaga,
buatlah itu bermakna.
Tidak ada saat yang lain,
selalu KINI.
Hanya kini kesempatan emas,
saat yang pantas untuk dibela.
Hanya kini tanpa awal,
hanya kini yang tak pernah dapat berakhir.
Jangan pernah memusingkan hari esok,
hari ini yang harus engkau isi,
dengan semua yang benar dan mulia,
waktu untuk itu adalah KINI!
(Gems of Thought)
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Ciptakanlah Makna Bagi Kehidupan
di
Tahun Baru 2013
Langganan:
Postingan (Atom)






