Cari Blog Ini

Senin, 26 November 2012

Sifat Orang Kuat

The weak can never forgive. 
Forgiveness is the attribute of the strong.

Orang lemah tak pernah bisa memaafkan.
Memaafkan merupakan sifat orang kuat.

                   - Mahatma Gandhi (1869-1948)
               
(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)

Sabtu, 24 November 2012

Bebas dari Kemelekatan

Anda tidak bisa melenyapkan ego atau kemelekatan. Keinginan untuk melenyapkan ego atau kemelekatan adalah bentuk lain ego atau kemelekatan. Semakin besar keinginan untuk berubah, justru menjadi perintang perubahan.

Gerak keinginan untuk melepas, justru memperkuat energi bagi ego atau kemelekatan. Jangan ada upaya untuk melepas. Pelepasan tidak akan terjadi kalau Anda melepas dengan memegang harapan bebas dari kemelekatan.

Alih-alih, sadari saja ketika itu muncul. Ketika kemarahan, luka penderitaan muncul kembali, sadari lagi. Jangan lelah untuk menyadari hingga semua itu berhenti dengan sendirinya.


Kuncinya adalah batin yang diam. Batin yang terus bergerak dengan memegang harapan, keinginan, daya upaya, justru memberi energi pada objeknya. Kalau batin diam, objek tidak mendapatkan pasokan energi darinya dan ikut diam. Kembali lihatlah batin dan tataplah objeknya sekaligus dalam titik diam, hingga objeknya berhenti bergerak dan lenyap.  

(Dari: Buku Titik Hening - Meditasi Tanpa Objek hal. 91-92, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2012)

Kamis, 22 November 2012

Berada di Sini Sekarang

Hambatan utama dalam menghargai setiap momen adalah pikiran kita sendiri. Pikiran kita senantiasa bercakap-cakap dengan dirinya sendiri dan ini sulit dihentikan. 

Ketika kita sedang dilanda sebuah masalah - apalagi bila masalahnya cukup berat - pikiran kita akan melakukan self talk secara berulang-ulang. Kita disibukkan dengan perdebatan yang terjadi dalam pikiran kita sendiri, sehingga kita akan sulit merasakan hal-hal yang ada di sekitar kita.

Hambatan yang lain adalah kebiasaan kita melakukan sesuatu secara otomatis dan tanpa kesadaran penuh. Kita juga sering ingin menyelesaikan apa pun yang kita lakukan secepat-cepatnya. Padahal, keindahan segala sesuatu senantiasa terletak pada prosesnya bukan pada hasilnya. 

Mana yang lebih nikmat, menyaksikan pertandingan sepak bola atau mengetahui hasil akhirnya? Menikmati makanan satu demi satu atau merasakan perut yang telah kenyang? Menikmati sebuah film atau mengetahui akhir ceritanya?  

Hidup yang indah terletak pada menjalani prosesnya satu demi satu dengan penuh kesadaran. Kita melakukan satu hal di satu waktu. Kita menyatukan badan, pikiran, dan jiwa kita di satu tempat. Dengan demikian kita selalu akan memiliki energi baru dan hidup di setiap momen.

Kita bisa melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya karena energi kita akan terpusat. Kita pun akan memperoleh kedamaian dalam setiap apa pun yang kita lakukan.

(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)

Selasa, 20 November 2012

Kiamat

Menjelang Desember, bermunculan ramalan seputar "akhir zaman." Ada ilmuwan menafsirkan teks pada sebuah prasasti dari suku Maya yang mendiami Meksiko selatan, menyebutkan kiamat bakal terjadi tanggal 21 Desember 2012. Sementara ilmuwan lain meramalkan bumi akan mengalami kegelapan total (blackout) pada 23-25 Desember 2012.

Berita-berita seperti itu menimbulkan keresahan pada sebagian besar penghuni bumi. Mengapa orang begitu mudah ditakuti oleh ramalan-ramalan yang belum pasti terjadi? 

Sejatinya, masih banyak orang yang belum hidup pada saat sekarang. Mereka dibebani pikiran akan masa depan yang merupakan misteri. Kedahsyatan berbagai bencana yang menghancurkan bumi seperti digambarkan dalam film-film bertema kiamat itulah yang merajalela dalam benak. Ilusi-ilusi yang diciptakan pikiran tentang masa depan itu begitu mencekam, sehingga orang tidak bisa lagi menikmati keindahan saat ini. 

Ketakutan akan bakal terjadinya kejadian-kejadian yang mengacaukan dunia semakin menumpuk karena kelekatan orang terhadap kenyamanan hidup yang selama ini dirasakannya. Orang takut kehilangan keluarga dan mereka yang dikasihi, takut kehilangan benda-benda yang dimiliki, takut kehilangan posisi dan pekerjaan, takut kehilangan segalanya.

Salah satu definisi atau arti kata "kiamat" menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia ialah  berakhir, tidak akan muncul lagi. Dalam konteks ini, hidup di titik hening adalah "kiamat." Kita tak lagi melekat pada segala sesuatu, diri atau ego kita berakhir dan tidak muncul lagi.

Kiamat yang tidak menyenangkan itu memang harus dilalui, karena setelahnya akan muncul langit dan bumi yang baru. Begitu pula kita perlu melalui "kiamat" kematian diri atau ego, agar kita dapat mengalami sesuatu yang lain, di mana kita menjadi pribadi baru tanpa diri atau ego. Pribadi yang murni seturut gambar Sang Pencipta dan bersatu dengan Sang Pencipta.

Alamilah "kiamat" sekarang, sehingga tak ada lagi kecemasan dan ketakutan menanti kiamat di masa depan.

 

Minggu, 18 November 2012

Setiap Orang Punya Masalah

Seorang ibu kehilangan putra tunggalnya. Ia menghadap pemimpin agama di desanya dan bertanya, "Adakah sesuatu yang bisa saya lakukan untuk mengurangi penderitaan saya?"

"Pergi dan temukan biji sesawi dari sebuah rumah yang tak pernah punya masalah. Biji sesawi seperti itu dapat mencegah segala masalah. Bila engkau menemukannya, aku akan memakainya untuk menyembuhkan penderitaanmu," kata pemimpin agama tersebut.

Ibu itu pergi mendatangi sebuah rumah mewah. Kelihatannya tak ada sesuatu yang kurang dari rumah tersebut. Ia mengetuk pintu dan mengutarakan niatnya. Para penghuni rumah berkata, "Anda salah alamat." Mereka lalu menguraikan segala masalah yang mereka alami.

Ibu itu berpikir, "Mungkin saya bisa membantu mereka dengan mendengarkan." Setelah mendengar curahan hati mereka, ibu itu tetap bertekad menemukan biji sesawi tersebut. Walau sudah lama berjalan, ia tak menemukannya. Di mana saja setiap orang mempunyai masalah berbeda.

Sesungguhnya, ibu itu telah menemukan biji sesawi ajaib yang dicari. Dengan berusaha menolong orang-orang lain memecahkan berbagai masalah mereka, ibu itu telah melupakan masalah yang dialaminya.

(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)

Sabtu, 17 November 2012

Mengubah

Everybody thinks of changing the world, but nobody thinks of changing himself.

Setiap orang berpikir untuk mengubah dunia, tetapi tak ada orang yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.

                    - Leo Tolstoy (1828-1910)

(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)

Rabu, 14 November 2012

Orang Beragama atau Orang Baik?

Mengapa Indonesia yang penduduknya dikenal taat beragama juga dikenal sebagai salah satu negara terkorup di dunia?
Mengapa sering kita dengar guru agama yang memerkosa murid-muridnya? 
Mengapa ada pejabat yang hafal seluruh isi kitab suci tapi dipenjara karena kasus korupsi?
Mengapa banyak orang menyerang orang lain atas nama agama?
Mengapa agama sering gagal membuat orang menjadi baik?

Rentetan pertanyaan itu menggiring saya pada kesadaran baru, betapa anggapan kita selama ini tentang agama dan para pemeluknya bisa jadi salah. Secara umum kita sering beranggapan bahwa orang yang beragama adalah orang baik. Tapi menurut saya itu hanya teori.

Fakta di lapangan sering menunjukkan hal berbeda. Dua fenomena menarik adalah ternyata orang beragama tidak selalu baik dan ternyata orang baik itu tidak selalu beragama.

Empat alasan yang membuat kenapa orang beragama gagal menjadi orang baik:
1. Agama sering dianggap sebagai kewajiban.
2. Agama sering diajarkan dengan rasa takut.
3. Agama sering menggunakan pendekatan surga dan neraka yang bagi manusia kebanyakan terasa amat lama (kuno-red.)
4. Agama sering hanya dipahami semata-mata dari aspek ritual.

Esensi agama adalah kasih. Itulah keyakinan saya. Bukankah dalam ajaran agama apa pun selalu dikatakan: "Belum beriman seseorang sebelum ia mengasihi orang lain sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri." Bagi saya kata-kata ini sangat luar biasa. Bagaimana tidak, beriman kepada Tuhan sampai disejajarkan dengan mengasihi orang lain, bahkan mengasihi orang lain ini menjadi kunci agar seseorang bisa dikatakan beriman kepada Tuhan.

Melalui tulisan ini saya sama sekali tidak mempromosikan bahwa kita tak perlu beragama. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk berpikir mengapa agama sering gagal dalam mengubah perilaku orang menjadi lebih baik.

Di luar dua tipe manusia yang disebut di atas - orang beragama yang tidak baik dan orang baik yang tidak beragama - masih ada dua tipe manusia lain: orang yang tidak beragama sekaligus tidak baik. Orang seperti ini tentu saja tidak perlu kita diskusikan; serta orang yang beragama dan baik budinya. Ini tentu saja tipe ideal kita.

Orang yang baik dan beragama adalah 
- Orang yang selalu segar dan menikmati hidup, karena mereka senantiasa memperoleh energi dari Tuhan.

- Mereka tak pernah berputus asa, karena keyakinan bahwa dalam masalah sesulit apa pun Tuhan selalu ada bersama mereka.

- Tak takut pada kematian, karena mereka percaya kematian bukanlah akhir, justru merupakan awal dari kehidupan baru.

- Senantiasa memiliki kerinduan akan Tuhan, sesuatu yang bisa mereka rasakan tetapi tak dapat mereka lihat. Kenikmatan tertinggi di surga berbeda dengan kenikmatan fisik kita di dunia. Kenikmatan tertinggi justru akan didapatkan ketika kita bertemu dengan kekasih kita, yaitu Tuhan.

(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, ringkasan hal. 129-138, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)