Cari Blog Ini

Senin, 06 Juni 2011

Tak Ada yang Istimewa

Kata-kata canggih tidak berbobot, 
yang berbobot tidak canggih.
Mereka yang membela diri tidak paham, 
mereka yang paham tidak perlu membela diri.

Orang bijak, dengan mengosongkan keyakinan, 
bergerak selaras dengan keberadaan segalanya. 
Ketimbang mengisi dengan kerumitan, orang bijak mengosongkannya; ketimbang mengingat, orang bijak melupakan.

Demikianlah orang yang akhirnya merasa dirinya penuh, menemukan dirinya kosong. Kalau kosong, mereka menemukan dirinya dalam kepenuhan 
dan kesederhanaan dari hal-hal yang biasa.

Yang biasalah yang luar biasa.

(Dari: Buku Tao Kehidupan – Ajaran Lao Tzu yang Diadaptasi untuk Zaman Baru, karya Ray Grigg. Penerbit Lucky Publishers, 2002)

Minggu, 05 Juni 2011

Menanam Kentang Besar

Selama beberapa tahun, para petani Irlandia memakan semua kentang besar dan menyimpan kentang kecil untuk keperluan pembibitan. Tak lama kemudian, mereka mulai memahami hukum alam secara lebih mendalam, ketika mereka memanen kentang-kentang kecil seukuran kelereng. 

Para petani Irlandia belajar melalui pengalaman pahit itu, bahwa mereka tidak dapat menyimpan hal-hal terbaik bagi diri mereka sendiri. Hukum alam menyatakan, musim panen mencerminkan musim tanam.

Kita sering mencoba menyimpan sesuatu yang terbaik dari hidup kita untuk diri sendiri dan menanam barang yang kurang baik. Ingatlah pengalaman para petani Irlandia itu: kita tidak dapat memakan semua kentang besar dan masih tetap mendapatkannya selama bertahun-tahun. 

Tanyakanlah kepada diri sendiri: apa yang sedang saya tanam dalam hidup? Apakah panenan saya mencerminkan apa yang sudah saya tanam? Hanya ada satu hukum yang berlaku, "Engkau menuai apa yang engkau tanam."

(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna - 100 Cerita Bijak jilid ke-5, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2002)

Sabtu, 04 Juni 2011

Tidak Ada Diri di Luar Pikiran

Apa yang mucul dalam pikiran, ketika kita bertanya: apakah diri? Kebanyakan orang mengira, seolah ada entitas lain di luar pikiran, ada pemikir yang berpikir. Sesungguhnya tidak demikian. Mari kita lihat. Pikiran yang bergerak selalu menciptakan dualitas objek dan subjek, dualitas diri yang diamati dan diri yang mengamati, pikiran dan si pemikir. 


Sesungguhnya, si pemikir tidak beda dengan pikirannya, si pengamat tidak beda dengan yang diamatinya. Subjek yang mengamati atau si pengamat hanyalah ciptaan pikiran. Dengan adanya pengamatan total terhadap gerak-gerik batin, maka di sana tidak ada dualitas subjek dan objek.Ketika pikiran berhenti, tidak ada lagi subjek. Karena tidak ada subjek, maka objek yang diamati tidak perlu dinamai objek. Ia cukup disebut realitas apa adanya.

Diri tidak berbeda dari pikiran itu sendiri. Diri atau si aku ciptaan pikiran ini tidaklah nyata. Ia muncul ketika pikiran bergerak dan mengelabui pandangan terhadap realitas yang sesungguhnya. Diri atau si aku adalah nama lain dari onggokan ingatan, pengalaman, pengetahuan, kepercayaan, timbunan kesakitan, timbunan kenikmatan, keinginan, kemauan, dan seterusnya. Ia adalah seperti rumah aman yang dibangun di atas onggokan sampah ingatan, dipagari dinding-dinding pengalaman atau pengetahuan.

Melalui identifikasi diri, orang menemukan rasa aman atau rasa pasti. Aku mengidentifikasikan diri dengan pengetahuanku, pengalamanku, keinginanku, tubuhku, rumahku, uangku, pasangan hidupku, keluargaku, karyaku, kebaikanku, prestasiku, dan seterusnya. Dan bentuk identifikasi yang paling membuat aman adalah identifikasi si aku dengan Allahnya. 

Tidak ada diri di luar pikiran, di luar keinginan, di luar perasaan, di luar kehendak, di luar pengalaman, dan seterusnya. Ketika pikiran berakhir, diri juga berakhir.

(Dari: Buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2009)

Jumat, 03 Juni 2011

Membuang Semua Penilaian

Tidak ada satu pun yang lebih menggembirakan seperti penyadaran. Akankah Anda cenderung memilih tetap hidup dalam kegelapan? Apakah Anda cenderung memilih bertindak dan tidak menyadari tindakan Anda, berbicara dan tidak menyadari kata-kata yang Anda ucapkan? Apakah Anda cenderung memilih mendengarkan dan tidak menyadari apa yang Anda dengar, atau Anda melihat sesuatu dan tidak menyadari apa yang sedang Anda lihat?

Socrates mengatakan, "Hidup yang tidak disertai kesadaran tentang hidup itu sendiri, tidaklah layak dihidupi." Hal itu merupakan kebenaran yang tak perlu dibuktikan lagi. 

Banyak orang tidak hidup dalam kehidupan yang disadari penuh. Mereka hidup dalam kehidupan yang seperti mesin, dengan pikiran seperti mesin, dengan emosi seperti mesin, dengan tindakan seperti mesin, dengan reaksi seperti mesin. 

Anda ingin melihat betapa miripnya Anda dengan mesin? "Oh, indah sekali kemeja yang Anda pakai!" Anda merasa senang mendengar ungkapan itu. Karena selembar kemeja, Anda merasa bangga dengan diri Anda. Yang biasanya terjadi adalah saya menekan "tombol," Anda naik; saya menekan "tombol lain," Anda turun. Dan Anda menyukai hal itu. Berapa banyak orang yang Anda kenal tidak terpengaruh oleh pujian atau kritik?

Anda mungkin sesuai dengan selera umum, kecenderungan umum, atau mode yang sedang berlaku. Tetapi apakah itu berarti Anda sudah oke? Apakah ke-oke-an Anda tergantung pada semua itu? Apakah ke-oke-an Anda tergantung apa yang dipikirkan orang-orang di sekeliling Anda mengenai Anda?

Buanglah semua hal terkait dengan yang oke dan semua hal terkait dengan yang tidak oke. Buanglah semua penilaian. Amatilah dan telitilah saja. Penemuan ini akan mengubah Anda, tanpa perlu melakukan usaha sekecil apa pun.

(Dari: Buku Awareness - Butir-Butir Mutiara Pencerahan, karya Anthony de Mello, S.J. Penerbit Gramedia, 1999)

Kamis, 02 Juni 2011

Permulaan yang Menjanjikan

Prinsipnya sederhana: dari yang satu muncullah yang lain. Demikianlah sebelum ada penguasaan, ada kesalahan; sebelum ada pengetahuan, ada ketidaktahuan; sebelum ada pemahaman, ada kebingungan; sebelum ada hikmat, ada kebodohan.

Karena itu, orang bijak menggunakan kesalahan untuk meraih penguasaan, merangkul ketidaktahuan untuk mendapatkan pengetahuan, mengembangkan kebingungan untuk meraih pemahaman, mendekati kebodohan untuk menemukan hikmat.

Bagi orang bijak, kehilangan dipandang mendapatkan, mengosongkan dipandang mengisi. Kebingungan dan kebodohan disambut. Ketidaktahuan dan kesalahan merupakan permulaan yang menjanjikan.

(Dari: Buku Tao Kehidupan – Ajaran Lao Tzu yang Diadaptasi untuk Zaman Baru, karya Ray Grigg. Penerbit Lucky Publishers, 2002)

Rabu, 01 Juni 2011

Kehampaan Spiritual

"Penyakit saya telah membantu saya melihat bahwa apa yang hilang dalam masyarakat adalah apa yang hilang dalam diri saya, yaitu sebuah hati kecil, hati penuh persaudaraan," ungkap Lee Atwater, konsultan politik dan ahli strategi Partai Republik Amerika Serikat.

Karier politik Atwater menanjak pesat. Ia menjadi penasihat Presiden Ronald Reagan dan Presiden George H.W. Bush, serta menjabat Ketua Komite Nasional Partai Republik. Tetapi belakangan ia mengatakan, yang benar-benar berarti bukanlah kekuasaan, kekayaan, atau kehormatan.

Atwater yang menderita tumor otak, menantang seluruh bangsa, "Tahun 1980-an saya mendapatkan segalanya lebih daripada kebanyakan orang. Anda dapat memperoleh semua yang Anda inginkan, tetapi masih merasa hampa. Perlu penyakit mematikan untuk membuat saya berhadapan dengan kebenaran itu. Saya tidak tahu siapa yang akan menuntun kita melewati tahun 1990-an, tetapi mereka harus bicara tentang kehampaan spiritual yang ada di hati masyarakat Amerika, tentang tumor jiwa."

Lee Atwater meninggal pada 29 Maret 1991 di usia 40 tahun. Ia mewarisi tema kampanye yang lebih bertahan lama: bertobatlah dan berubahlah.

(Dari: Buku Rangkaian Kisah Bermakna - 100 Cerita Bijak jilid ke-4, karya Brian Cavanaugh, T.O.R. Penerbit Obor, 2002) 

Memahami dengan Jernih

Jika seseorang memahami pikirannya dengan jernih, 
ia akan bisa mencapai kemajuan tanpa banyak usaha. 
Tetapi jika ia tidak tahu apa-apa tentang pikirannya, 
semua usahanya akan sia-sia.

                                                                                   - Thich Nhat Hanh

(Dari: Buku Keajaiban Hidup Sadar, karya Thich Nhat Hanh. Penerbit Karaniya, 2010)