Ada bermacam bentuk doa. Ada doa permohonan, doa syukur, doa vokal dengan melafal rumus doa tertentu, doa mental dengan menggunakan pikiran untuk merenung-renung atau menggunakan imajinasi untuk merenungkan misteri tertentu, doa devotif yang ditujukan kepada pribadi Allah atau kepada orang kudus, dan ada doa hening.
Doa hening berbeda dengan semua bentuk doa yang disebutkan sebelumnya. Yang dimaksud doa hening di sini adalah menyadari gerak batin dan tubuh dengan batin yang hening. Kata, permohonan, ucapan syukur, perenungan, imajinasi, dan daya-daya mental yang lain tidak dipakai.
Meditasi tanpa objek adalah sebuah bentuk doa hening. Yang dilakukan pemeditasi adalah menyadari gerak batin dan tubuh dari saat ke saat. Dengan menyadarinya, batin melampaui keterbatasan dirinya. Ketika diri atau si aku berhenti, muncul "sesuatu yang lain."
Dalam doa hening, "sesuatu yang lain" itu tidak dikejar secara sadar, tidak dicapai dengan daya upaya, tidak diraih dengan teknik atau metode tertentu. Datangnya "sesuatu yang lain" itu sepenuhnya merupakan rahmat yang datang tanpa diantisipasi, tanpa diduga, tanpa diinginkan sebelumnya. Rahmat tersebut datang ketika diri atau si aku lenyap.
(Dari: Buku Titik Hening - Meditasi Tanpa Objek hal. 17-18, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2012)
Cari Blog Ini
Minggu, 11 November 2012
Sabtu, 10 November 2012
Dua Kali Diselamatkan
![]() |
| Fleming dan Churchill |
Putra tukang kebun melompat masuk dan menolong anak itu. Orangtua anak yang nyaris tenggelam menanyakan kepada tukang kebun apa yang dapat mereka lakukan sebagai tanda terima kasih kepada pahlawan kecil itu. Tukang kebun berkata, anaknya ingin jadi dokter. Keluarga kaya itu menyatakan kesediaan mereka membiayai anak tukang kebun tersebut.
Beberapa tahun kemudian, perdana menteri Inggris saat itu Winston Churchill menderita radang paru-paru. Raja Inggris yang prihatin akan kondisinya meminta Churchill berobat ke dokter terbaik, Alexander Fleming, penemu penisilin.
Setelah Churchill sembuh, ia berkata kepada Fleming, "Jarang terjadi, seseorang diselamatkan dua kali oleh orang yang sama." Fleming adalah anak tukang kebun yang menyelamatkan Churchill kecil di kolam renang.
(Dari: Buku 1500 Cerita Bermakna jilid ke-3, karya Frank Mihalic, SVD. Penerbit Obor, 2008)
Kamis, 08 November 2012
Berhenti Bergosip
Dulu, saya bekerja di sebuah kantor yang punya "budaya" bergosip. Yang digosipkan adalah teman-teman sendiri yang sedang tidak ada di tempat. Saya tahu bergosip itu buruk. Tetapi, bergosip itu mengasyikkan dan kadang juga bisa menghilangkan stres dalam pekerjaan.
Walau bertahun-tahun belajar mengenai keburukan bergosip, saya masih suka gosip, minimal ikut mendengarkan - meski tidak berkontribusi dengan menambah cerita apa pun.
Suatu hari, saya sedang berada di luar kota untuk jangka waktu cukup lama. Seorang kawan baik di kantor menelepon saya dan mengatakan bahwa orang-orang di kantor sedang menggosipkan saya. Mereka membongkar habis kelemahan-kelemahan saya. Bukan hanya bergosip, mereka bahkan menambahkan informasi-informasi menyesatkan tentang saya.
Kejadian itu benar-benar membuat saya terpukul. Berhari-hari saya memikirkan hal ini. Saya merasa dikhianati oleh rekan-rekan sendiri. Tetapi kejadian menyakitkan ini benar-benar membuat saya berubah. Mulai saat itu, saya berhenti menggosipkan orang lain.
Siapa guru sejati yang telah berhasil membuat saya berhenti bergosip? Orangtua, guru-guru, buku-buku yang saya baca, atau Kitab Suci?
Bukan. Benar, semua itu memberi pelajaran kepada saya, tetapi pelajaran saja tidak membawa perubahan. Yang membawa perubahan adalah pengalaman yang menyakitkan. Guru sejati saya dalam hal menghentikan kebiasaan bergosip adalah teman-teman di kantor saya itu.
Orang baik-baik memberi manfaat berupa persahabatan, cinta, dan kasih sayang; sementara orang jahat memberi manfaat dalam bentuk pelajaran-pelajaran menyakitkan yang membangun spiritualitas.
(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)
Walau bertahun-tahun belajar mengenai keburukan bergosip, saya masih suka gosip, minimal ikut mendengarkan - meski tidak berkontribusi dengan menambah cerita apa pun.
Suatu hari, saya sedang berada di luar kota untuk jangka waktu cukup lama. Seorang kawan baik di kantor menelepon saya dan mengatakan bahwa orang-orang di kantor sedang menggosipkan saya. Mereka membongkar habis kelemahan-kelemahan saya. Bukan hanya bergosip, mereka bahkan menambahkan informasi-informasi menyesatkan tentang saya.
Kejadian itu benar-benar membuat saya terpukul. Berhari-hari saya memikirkan hal ini. Saya merasa dikhianati oleh rekan-rekan sendiri. Tetapi kejadian menyakitkan ini benar-benar membuat saya berubah. Mulai saat itu, saya berhenti menggosipkan orang lain.
Siapa guru sejati yang telah berhasil membuat saya berhenti bergosip? Orangtua, guru-guru, buku-buku yang saya baca, atau Kitab Suci?
Bukan. Benar, semua itu memberi pelajaran kepada saya, tetapi pelajaran saja tidak membawa perubahan. Yang membawa perubahan adalah pengalaman yang menyakitkan. Guru sejati saya dalam hal menghentikan kebiasaan bergosip adalah teman-teman di kantor saya itu.
Orang baik-baik memberi manfaat berupa persahabatan, cinta, dan kasih sayang; sementara orang jahat memberi manfaat dalam bentuk pelajaran-pelajaran menyakitkan yang membangun spiritualitas.
(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)
Selasa, 06 November 2012
Ciri Pikiran
Pikiran dikondisikan oleh pengalaman masa lampau. Karena terkondisi, maka pikiran bekerja secara mekanis. Pikiran bereaksi terhadap tantangan dengan pola tertentu. Pikiran menamai, mengonseptualisasi, menilai, menafsir menurut keterkondisian memori. Karena memori terkondisi, maka pikiran terbatas. Karena terbatas, pikiran tidak menangkap fakta "apa adanya." Ketika pikiran bertemu pikiran, muncul konflik.
Pikiran menciptakan si aku atau diri. Diri rendah atau diri tinggi, diri palsu atau diri sejati tetaplah diri. Pikiran cenderung bergerak untuk mencari sesuatu yang lain atau sesuatu yang lebih. Pikiran dan objek-objek pikiran selalu berubah.
Pikiran yang pada hakikatnya tidak permanen ini menciptakan si aku atau si pemikir permanen untuk menstabilkan dirinya. Si aku atau si pemikir ini sesungguhnya tidak berbeda dari pikiran.
Pikiran menciptakan dualitas dalam masalah-masalah kejiwaan. Ada objek-objek datang kepada batin. Namanya kemarahan, kesedihan, ketegangan. Itu semua adalah fakta. Pikiran yang bergerak menciptakan bukan fakta. Kemarahan adalah fakta. Tidak boleh marah adalah bukan fakta. Kesedihan adalah fakta. Bebas kesedihan bukanlah fakta. Ketegangan adalah fakta. Bebas ketegangan bukanlah fakta.
Apa yang bukan fakta adalah ciptaan pikiran. Ketika pikiran disadari dan berhenti, apa yang bukan fakta itu tidak ada, dualitas tidak ada. Yang ada adalah fakta "apa adanya." Bisakah ketika melihat objek yang datang ke batin, gerak "apa yang seharusnya" itu dilihat dan dibiarkan berhenti, sehingga ada kejernihan melihat "apa adanya"?
Bisakah kita hidup, bergerak, dan ada bersama fakta? Apa saja yang datang kepada batin adalah "apa adanya." Ketika pikiran bergerak dan menciptakan "apa yang seharusnya," maka muncul dualitas. Ketika dualitas sudah muncul, konflik dan ketegangan terjadi.
Pikiran menciptakan kesadaran akan waktu psikologis. "Aku sekarang buruk, nanti aku akan menjadi baik." Upaya untuk menjadi baik atau tidak menjadi buruk membutuhkan waktu, konflik, pergulatan. Pikiran tidak bisa mengubah yang buruk menjadi baik, karena apa yang berlawanan masih mengandung lawannya. Waktu adalah pikiran dan setiap pikiran mendatangkan konflik. Perubahan yang mendasar tidak datang dari waktu, bukan dari pikiran, bukan dengan konflik.
(Dari: Buku Titik Hening - Meditasi Tanpa Objek hal. 74-75, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2012)
Pikiran menciptakan si aku atau diri. Diri rendah atau diri tinggi, diri palsu atau diri sejati tetaplah diri. Pikiran cenderung bergerak untuk mencari sesuatu yang lain atau sesuatu yang lebih. Pikiran dan objek-objek pikiran selalu berubah.
Pikiran yang pada hakikatnya tidak permanen ini menciptakan si aku atau si pemikir permanen untuk menstabilkan dirinya. Si aku atau si pemikir ini sesungguhnya tidak berbeda dari pikiran.
Pikiran menciptakan dualitas dalam masalah-masalah kejiwaan. Ada objek-objek datang kepada batin. Namanya kemarahan, kesedihan, ketegangan. Itu semua adalah fakta. Pikiran yang bergerak menciptakan bukan fakta. Kemarahan adalah fakta. Tidak boleh marah adalah bukan fakta. Kesedihan adalah fakta. Bebas kesedihan bukanlah fakta. Ketegangan adalah fakta. Bebas ketegangan bukanlah fakta.
Apa yang bukan fakta adalah ciptaan pikiran. Ketika pikiran disadari dan berhenti, apa yang bukan fakta itu tidak ada, dualitas tidak ada. Yang ada adalah fakta "apa adanya." Bisakah ketika melihat objek yang datang ke batin, gerak "apa yang seharusnya" itu dilihat dan dibiarkan berhenti, sehingga ada kejernihan melihat "apa adanya"?
Bisakah kita hidup, bergerak, dan ada bersama fakta? Apa saja yang datang kepada batin adalah "apa adanya." Ketika pikiran bergerak dan menciptakan "apa yang seharusnya," maka muncul dualitas. Ketika dualitas sudah muncul, konflik dan ketegangan terjadi.
Pikiran menciptakan kesadaran akan waktu psikologis. "Aku sekarang buruk, nanti aku akan menjadi baik." Upaya untuk menjadi baik atau tidak menjadi buruk membutuhkan waktu, konflik, pergulatan. Pikiran tidak bisa mengubah yang buruk menjadi baik, karena apa yang berlawanan masih mengandung lawannya. Waktu adalah pikiran dan setiap pikiran mendatangkan konflik. Perubahan yang mendasar tidak datang dari waktu, bukan dari pikiran, bukan dengan konflik.
(Dari: Buku Titik Hening - Meditasi Tanpa Objek hal. 74-75, karya J. Sudrijanta, S.J. Penerbit Kanisius, 2012)
Minggu, 04 November 2012
Eksekutif dan Nelayan
Seorang eksekutif tengah berlibur di sebuah desa. Suatu siang ia bertemu dengan seorang nelayan yang sedang asyik bermain dengan kedua anaknya. Eksekutif ini bertanya, kenapa si nelayan tidak bekerja lebih keras, padahal hidupnya masih berkekurangan.
"Katakan, apa yang dapat saya lakukan," ujar nelayan.
"Belilah kapal yang lebih besar," kata si eksekutif, "Dengan demikian Anda bisa menangkap ikan lebih banyak."
Nelayan kembali bertanya, "Dengan tangkapan lebih banyak, apa yang dapat saya lakukan?"
"Juallah hasil tangkapan itu ke kota, Anda akan mendapat uang lebih banyak," lajut si eksekutif.
"Lantas uang itu untuk apa?" tanya nelayan lagi.
"Dengan uang itu Anda dapat membangun rumah yang bagus dan menyekolahkan anak-anak hingga jadi orang pintar."
"Lantas, kalau saya sudah punya semua itu, apa yang akan terjadi?"
"Dengan semua milik itu, Anda akan punya waktu luang yang banyak dan akan merasa bahagia," kata sang eksekutif.
Mendengar penjelasan itu, si nelayan malah tertawa terbahak-bahak. "Lantas, apa bedanya dengan saya sekarang? Sekarang pun saya punya waktu luang banyak dan sudah sangat bahagia!"
(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)
"Katakan, apa yang dapat saya lakukan," ujar nelayan.
"Belilah kapal yang lebih besar," kata si eksekutif, "Dengan demikian Anda bisa menangkap ikan lebih banyak."
Nelayan kembali bertanya, "Dengan tangkapan lebih banyak, apa yang dapat saya lakukan?"
"Juallah hasil tangkapan itu ke kota, Anda akan mendapat uang lebih banyak," lajut si eksekutif.
"Lantas uang itu untuk apa?" tanya nelayan lagi.
"Dengan uang itu Anda dapat membangun rumah yang bagus dan menyekolahkan anak-anak hingga jadi orang pintar."
"Lantas, kalau saya sudah punya semua itu, apa yang akan terjadi?"
"Dengan semua milik itu, Anda akan punya waktu luang yang banyak dan akan merasa bahagia," kata sang eksekutif.
Mendengar penjelasan itu, si nelayan malah tertawa terbahak-bahak. "Lantas, apa bedanya dengan saya sekarang? Sekarang pun saya punya waktu luang banyak dan sudah sangat bahagia!"
(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)
Rabu, 31 Oktober 2012
Tiga Pertanyaan
Leo Tolstoy (1828-1910), pengarang asal Rusia, pernah menulis sebuah cerita mengenai seorang raja yang berusaha menemukan jawaban atas tiga pertanyaan berikut:
Kapan waktu terbaik untuk melakukan setiap hal?
Siapa orang yang paling penting untuk diajak bekerja sama?
Apa yang paling penting untuk dilakukan?
Pertanyaan ini mungkin sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang sibuk dan berjuang untuk meraih berbagai hal. Tetapi jawaban yang diberikan oleh kisah ini tidak persis seperti apa yang diinginkan orang:
Waktu yang terbaik adalah sekarang.
Orang yang paling penting adalah orang yang saat ini sedang bersama dengan Anda.
Hal yang paling penting untuk dilakukan adalah membuat orang yang berada di samping Anda berbahagia.
Yang terpenting adalah sekarang. Hidup kita adalah sekarang. Dan kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh apa yang kita lakukan sekarang. Masa lalu adalah sejarah, masa depan belum tentu dapat kita jumpai. Karena itu satu-satunya yang nyata adalah masa kini.
(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)
Kapan waktu terbaik untuk melakukan setiap hal?
Siapa orang yang paling penting untuk diajak bekerja sama?
Apa yang paling penting untuk dilakukan?
Pertanyaan ini mungkin sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh seseorang yang sibuk dan berjuang untuk meraih berbagai hal. Tetapi jawaban yang diberikan oleh kisah ini tidak persis seperti apa yang diinginkan orang:
Waktu yang terbaik adalah sekarang.
Orang yang paling penting adalah orang yang saat ini sedang bersama dengan Anda.
Hal yang paling penting untuk dilakukan adalah membuat orang yang berada di samping Anda berbahagia.
Yang terpenting adalah sekarang. Hidup kita adalah sekarang. Dan kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh apa yang kita lakukan sekarang. Masa lalu adalah sejarah, masa depan belum tentu dapat kita jumpai. Karena itu satu-satunya yang nyata adalah masa kini.
(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)
Senin, 29 Oktober 2012
Hidup adalah Pilihan
Hidup akan terasa lebih indah bila ia berada di tangan kita sendiri, bukan di tangan orang lain. Coba renungkan baik-baik, siapa yang sekarang ini mengendalikan diri Anda?
Apakah Anda telah menjadi sutradara terhadap kehidupan Anda sendiri, atau Anda merasa dikendalikan dan diatur oleh orang-orang yang berada di sekitar Anda? Apa Anda melakukan banyak hal lebih karena kewajiban dan bukan karena keinginan maupun pilihan Anda sendiri?
Pertanyaan awalan itu penting untuk menemukan apakah seseorang memiliki ciri-ciri sebagai orang yang berkuasa penuh atas pilihan dalam hidupnya atau tidak. Ada dua ciri utama orang yang tidak memiliki pilihan hidup:
Pertama, mereka sering merasa terpaksa melakukan sesuatu. Mereka sering merasa tidak berdaya.
Kedua, mereka melakukan segala sesuatu sebagai kewajiban. Mereka bekerja karena diwajibkan atasan, mencari nafkah karena tuntutan keluarga atau kewajiban membiayai anak-anak. Orang-orang seperti ini mustahil bisa menikmati hidup yang indah, karena merasa kendali tidak ada dalam genggaman mereka.
Padahal, hidup hanya akan menjadi indah kalau kita menjadi tuan terhadap kehidupan sendiri, yaitu mampu menentukan dan mengendalikan segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup kita.
Itulah bedanya kita dengan hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuhan hidup secara refleks. Mereka menuruti naluri dan insting. Mereka ditentukan oleh kondisi luar. Sebaliknya, kita punya kemampuan untuk menentukan bukan hanya ditentukan.
(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)
Apakah Anda telah menjadi sutradara terhadap kehidupan Anda sendiri, atau Anda merasa dikendalikan dan diatur oleh orang-orang yang berada di sekitar Anda? Apa Anda melakukan banyak hal lebih karena kewajiban dan bukan karena keinginan maupun pilihan Anda sendiri?
Pertanyaan awalan itu penting untuk menemukan apakah seseorang memiliki ciri-ciri sebagai orang yang berkuasa penuh atas pilihan dalam hidupnya atau tidak. Ada dua ciri utama orang yang tidak memiliki pilihan hidup:
Pertama, mereka sering merasa terpaksa melakukan sesuatu. Mereka sering merasa tidak berdaya.
Kedua, mereka melakukan segala sesuatu sebagai kewajiban. Mereka bekerja karena diwajibkan atasan, mencari nafkah karena tuntutan keluarga atau kewajiban membiayai anak-anak. Orang-orang seperti ini mustahil bisa menikmati hidup yang indah, karena merasa kendali tidak ada dalam genggaman mereka.
Padahal, hidup hanya akan menjadi indah kalau kita menjadi tuan terhadap kehidupan sendiri, yaitu mampu menentukan dan mengendalikan segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup kita.
Itulah bedanya kita dengan hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuhan hidup secara refleks. Mereka menuruti naluri dan insting. Mereka ditentukan oleh kondisi luar. Sebaliknya, kita punya kemampuan untuk menentukan bukan hanya ditentukan.
(Dari: Buku Cherish Every Moment - Menikmati Hidup yang Indah Setiap Saat, karya Arvan Pradiansyah, Happiness Inspirator. Penerbit PT Elex Media Komputindo, 2011)
Langganan:
Postingan (Atom)






